
Tiga bulan yang sudah berlalu banyak hal yang sudah terjadi termasuk pernikahan kontrak antara Erlangga dan Dita.
Saat ini Miranda yang katanya tidak ingin menikah dengan cepat itu memiliki alasan yang cukup kuat untuk karirnya di Prancis.
Namun bukan itu saja, Miranda juga sudah diketahui berselingkuh dengan pria prancis yang Erlangga kenal namun Erlangga memang tidak menyukai pria itu.
Walau sudah ketahuan selingkuh, tetap saja saat ini Miranda masih ada di hatinya. Hari-hari berlalu begitu cepat, dan mereka yang sudah kembali dari Pattaya itu kini masing-masing berada di tempat yang berbeda.
Erlangga pulang ke rumahnya, sedangkan Dita pulang ke Apartemen yang diberikan Erlangga kepadanya waktu itu. Dia melihat dalam Apartemen itu sudah tersusun rapi pakaian dari tempat kosannya yang lama.
Ingin terkejut, namun dia sudah paham ini ulah sang Ceo yang selain arogan dan galau itu, ceo satu ini tinggal perintah saja apa yang ingin dia lakukan.
Setelah itu Hari-hari berlalu, Dita yang telah cuti beberapa hari tidak terlihat di kantor tersebut, pagi ini dia tampak fresh dan kembali duduk di kursinya tersebut.
Ada seseorang yang sudah mengetuk pintu ruangan Dita tersebut. Siapa lagi kalau bukan seorang yang beberapa hari ini memang merindukan seorang Rinjani Anindita itu.
Erkan Harlan, dia yang tahu dari receptionist di lantai bawah tadi, begitu mendengar nama Rinjani Anindita yang sudah masuk kerja hari ini membuat dia dengan cepat naik ke lantai atas dimana Dita berada saat ini.
Tok..tok..
Masuk!
Dengan senyuman hangat dan sapaan lembut dari pria yang berpikir matang itu, membuat Dita tidak enak hati menghadapinya.
"Selamat pagi nona Jani," ucap Erkan yang penuh semangat tersebut.
Dia menyahutinya juga, namun Dita sedikit gelisah karena memang dia takut Erkan menyiasatinya dengan banyak pertanyaan kemana dirinya beberapa hari ini tidak masuk ke kantor tersebut.
"Apa mau sarapan denganku?" Tanya Erkan dengan senyuman hangatnya.
"Ehmm..boleh juga, lagian aku gak sibuk kok," jawab Dita sedikit ragu.
Baru saja Dita menerima tawaran ajakan sarapan pagi itu, tiba-tiba deringan ponsel Dita terdengar kuat bunyinya.
Pagi seperti ini ponsel itu sudah diriuhkan dengan nama sang Ceo disana. Tampaknya pagi ini sang Ceo juga sudah sampai di kantor tersebut.
"Sebentar ya Erkan, pak ceo menelponku," ucap Dita.
__ADS_1
Erkan hanya mengangkat kedua alisnya dengan senyum terpaksa. Tampaknya Erkan begitu kesal, baru saja ingin mengambil kesempatan ini sudah ada pengganggu kembali, pikir Erkan lagi.
"Keruanganku sekarang!" Nada perintah itu terdengar dari talian telepon tersebut.
Rinjani Anindita hanya bisa menelan salivanya saat ini, ada rasa kesal di hatinya kembali. Ingin menjawab nanti pasti akan ada ancaman yang keluar dari mulut ceo yang arogan itu.
"Erkan aku minta maaf, sepertinya kita tidak bisa sarapan bersama, pak ceo menyuruhku keruangannya," ucap Dita sedikit lemah.
"Astaga, tumben dia sudah sampai sepagi ini," ucap Erkan dengan nada lemah.
"Entahlah, tapi dari suaranya tampang penting, maaf aku tinggal kamu dulu," ucap Dita kembali sambil bangkit dari kursinya tersebut.
Ingin protes dan marah Erkan juga tidak ada hak apapun saat ini. Dan dia hanya bisa pasrah kembali melepaskan Rinjani Anindita itu pergi menemui sang Ceo yaitu sepupunya juga.
Dari raut wajah Erlangga tampak penuh kemenangan saat ini, dia bahkan tersenyum lebar penuh kemenangan sambil melihat dari ponsel yang telah dia hubungkan cctv dari ruang kerja istri kontraknya itu.
Tok..tok..
Pintu diketuk cukup kuat, membuat Erlangga terkejut saat ini, dia yang sedari tadi menatap senang layar itu karena wajah kecewa Erkan yang sangat terlihat disana.
Saat ini ketukan itu membuatnya terkejut, dan dia membetulkan posisi duduknya yang semula tadi kakinya diatas meja dengan tawa penuh kemenangan.
Langkah kaki malas itu pun masuk kedalam, beberapa hari telah berlalu dan mereka yang sempat tidak bertemu itu, akhirnya pagi ini bertemu kembali dan tampak raut wajah sang Ceo sengaja dibuat sangar kembali.
"Ada yang bisa saya kerjakan pak Ceo?" Tanya istri kontraknya tersebut mencoba memanggil sang suami dengan formal.
"Heh Dita, kita kan sedang berdua tidak perlu seformal ini," ucapnya lagi.
"Huh..ini kan bukan di rumah melainkan di kantor, aku tidak ingin ada orang lain mencurigai kita," jelas Dita mencoba membantah.
"Jangan menjawabku, ikuti saja apa yang aku bilang," ucap Erlangga kembali.
"Baiklah, jadi ada apa Aku kau panggil kesini?" Tanya Dita sedikit jutek.
Mereka berdua ini memang layaknya anjing dan kucing, sama-sama menunjukkan sikap cueknya namun ketika terjadi permainan di ranjang hotel kemarin jujur saja Erlangga sulit melupakan itu.
"Aku ingin kau sekarang!" ucap Erlangga tiba-tiba sedikit berbisik.
__ADS_1
"Astaga! Kau gila? Ini kantor bukan hotel!" Protes Dita terkejut dan matanya sedikit terbelalak mendengar ucapan gila sang Ceo itu.
"Aku memiliki hak veto atas dirimu, jangan menolakku!" ucapnya lagi.
"Erlangga, kau jangan gila kalau kita ketahuan bagaimana?" Tanya Dita yang sudah tampak takut.
Awalnya dia tadi tenang sekarang begitu panik, masih pagi dan keadaan masih sedikit sunyi di kantor ini, namun Erlangga tampak bergairah sekali menatap Dita.
"Oke, baca ini!"
Kembali Erlangga mencampakkan map kuning yang berisikan tujuh perjanjian menikah kontrak mereka disana. Dita juga tidak asing dengan map itu, membuat Dita bertambah bingung lagi ingin mencari alasan penolakan apalagi, pikir Dita saat ini.
"Erlangga, kau berpikir lagi yang benar saja, ini kantor bukan hotel!" ucapnya kembali mencoba menyadarkan sang ceo.
"Kalau begitu ayo kita ke hotel sekarang!" jawab Erlangga dengan enteng.
"Sialan pria ini!" umpat Dita dalam hatinya yang gelisah itu.
Dita sulit menolaknya karena memang jika sudah seperti itu tidak akan bisa ditolak, apalagi map kuning itu sudah Erlangga lembErkan ke arah Dita saat ini.
Erlangga yang tidak suka penolakan tersebut, sangat memaksa Dita untuk memenuhi gairahnya pagi ini.
Sah-sah saja memang mereka melakukan hal tersebut, pasalnya keduanya telah resmi menjadi suami istri meskipun masih sah dimata agama, belum di mata negara.
Erlangga bangkit dari kursinya penuh kemenangan, membetulkan jas setelan hitamnya itu, dengan tegap berdiri dan tak lupa kaca mata hitam andalannya tersebut dia pakai untuk menambah penampilannya itu.
"Hei, kenapa masih termenung disana, Ayo berangkat!" ucap Erlangga yang sudah berdiri diambang pintu itu.
"Hm..ya tunggu," ucap Dita.
Sambil mengikuti langkah sang ceo yang tampak bersemangat dan bergairah itu, Dita mencoba mencari akal dan alasan agar mereka tidak terburu-buru melakukan olahraga gulat sepagi ini.
Apakah yang akan dilakukan Rinjani Anindita?
****
__ADS_1