
"Awas kau Dita!" umpatnya kesal ketika Dita meninggalkannya begitu saja.
Saat ini Dita dengan jantung yang berdegup kuat itu, dengan cepat menukar pakaian yang dia ambil dari lemari tadi, aksinya begitu cepat menghindari amukan dari Erlangga yang tampaknya dari tadi sengaja membuat Dita merasa malu.
Erlangga telah pun bertukar pakaian, setelan jas yang cukup formal dia kenakan saat ini, Dita pula mengintip sedikit dibalik pintu toilet itu.
"Huh…Ya Allah lembutkan lah hati Ceo Galau itu," ucapnya berulang kali.
Dia mencoba membenahi rambutnya saat ini, pakaian pun telah terbalut rapi di badan seorang Rinjani Anindita itu.
Erlangga mencoba meredam kemarahannya, dia keluar dari kamar tersebut dan menunggu Dita di ruangan tamu saat ini.
Ada rencana lain lagi yang sudah dipikirkan olehnya, tampaknya Erlangga yang katanya tidak menyukai seorang Rinjani Anindita itu namun selalu merencanakan sesuatu untuk menyakiti Dita.
"Hmmm…sampai di Thailand nanti, kau akan kulahap Rinjani Anindita!" suara hatinya mengatakan seperti itu.
Dita yang sudah keluar dari toilet tersebut, mencari sosok Erlangga dalam kamar itu, namun sama sekali tidak terlihat, dia mengelus dadanya berkata "selamat aku kali ini," ucap Dita.
Berlenggok keluar memakai dress merah yang telah dia ambil itu, dengan sepatu yang senada, tampak begitu indah dipandang wanita berbadan putih bersih ini.
"Ehm.."
Hanya deheman yang bisa dia keluarkan saat ini, ketika dia mendapati Erlangga tengah duduk di ruang tamu itu.
Erlangga bangkit dari tempat duduknya, menaikkan satu alis mencoba membuat wajah seram yang sedikit menggetarkan hati seorang Dita.
"Haduh…pasti dia mau memakiku lagi!" ucap Dita dalam hatinya.
"M..mmm..maaf!" ucap Dita mencoba membuka suara tapi wajah menunduk.
Dagunya diangkat dengan jari telunjuk, dan mata tajam sang Ceo menatapnya penuh siasat, pria itu sengaja melakukan hal tersebut untuk membuat Dita gugup.
Hanya bisa menelan salivanya, namun Dita masih memejamkan matanya tidak berani memandang sang Ceo yang jarak mata mereka tidak sampai sejengkal jari itu.
Erlangga ingin tertawa melihat ekspresi istri kontraknya ini, namun dia sengaja melakukan ini agar Dita tidak semena-mena dengan dirinya.
"Bukan sekarang balasanmu, tapi tunggulah nanti," ucap Erlangga sambil melepaskan dagu Dita tersebut dan dia berjalan lebih dulu ke ambang pintu.
"Ha..pembalasan? Apa yang pria brengsek itu rencanakan lagi!" umpat Dita kesal mendengar ancaman demi ancaman keluar dari mulut pria itu.
__ADS_1
"Heh, cepat jalan! Jangan buang waktu!" Teriak Erlangga yang tampak tidak menoleh namun suaranya jelas memerintahkan Dita.
Dita hanya ikut dari belakang, saat ini supir pribadi Erlangga membawa mereka berdua ketempat dimana zet pribadi milik keluar Harlan itu terparkir.
Mereka berdua tampaknya memakai kendaraan zet pribadi saja. Kekayaan keluarga ini memang tidak diragukan lagi, siapa yang tidak kenal Tuan tanah terbesar di Indonesia ini.
Dalam perjalanan itu, Dita dan Erlangga hanya diam membisu. Mereka berdua duduk bersebelahan, dan saat ini Erlangga mencoba membuat rencana demi rencana yang akan dia lakukan nanti di negara yang bergelar gajah putih itu.
Matanya menatap arah jalanan, namun pikirannya begitu licik untuk mengerjai Dita. Sedangkan Dita sedari tadi berdoa agar dirinya selamat dari cengkraman si Ceo yang baru saja menjadi suaminya ini.
Tak lama mereka telah sampai disana, para pekerja zet pribadi milik keluarga Harlan itu mempersilahkan mereka berdua masuk kedalamm
Baru kali ini Dita masuk ke dalam Zet pribadi milik keluarga Harlan tersebut. Sebelumnya jika ada meeting hanya dalam kota saja itu pun terkadang dia pergi hanya dengan Erkan menaiki pesawat umum.
Karena memang Erkan seorang pria yang sederhana tidak ingin memakai fasilitas keluarga Harlan, meskipun jika dia mau dia juga bisa menaiki fasilitas itu.
Dita menatap mewahnya di dalam jet pribadi itu. Sang Ceo tiba-tiba membuka suaranya kepada Dita yang saat ini dia ingin duduk berjauhan dari sang Ceo.
"Hei, siapa menyuruhmu duduk disana?" ucap Erlangga .
"Hm..lantas aku haru dimana?" Dita bingung memposisikan dirinya, karena Erlangga bilang pernikahan ini harus di rahasiakan.
Baru saja ingin menghindari Erlangga , namun tampak pria ini terus saja menjerat dirinya agar tidak jauh-jauh dari Erlangga .
Dita pun mendekat duduk disebelah pria pemarah itu, dan saat ini jari jemari Erlangga memberikan isyarat kepada Dita.
Dia menepuk pundaknya sendiri, namun tidak bicara apapun, Dita bingung apa yang Erlangga maksud itu.
"Apa kau tidak mengerti mauku?" tanya Erlangga .
Hanya gelengan saja yang bisa Dita tunjukkan, karena wanita ini memang tampak gugup, rasa ketakutannya terhadap perlakuan Erlangga beberapa waktu lalu membuat dia trauma.
"Aku lelah, cepat urut bahuku!" Perintahnya saat ini.
Dita menatap tajam pria itu, mengumpat dalam hatinya lagi dan lagi saat ini.
Namun, Dita tidak berani meluahkannya, dia pun mulai mengikuti arahan itu, baginya tidak masalah kalau hanya disuruh mengurut bahunya saja, asalkan jangan hal aneh yang dia suruh untukku, ucap Dita dalam hatinya saat ini.
"Hei..kau ini bisa mengurut tidak? Kau kan wanita kampung!" ucap Erlangga sengaja menyakiti hati Dita kembali.
__ADS_1
"Sabar..Dita sabar, biarkan mulut setan itu bicara apapun kepadamu," ucap hati Dita mencoba menenangkan emosinya.
Melihat Dita tanpa ekspresi atau balasan sedikitpun, Erlangga semakin saja ingin mengatakan hal-hal yang menyakitkan.
"Hm…sampai kapan kau bersabar dengan ucapanku, aku akan terus menyakitimu!" ucap hati Erlangga lagi.
"Hm…Aku haus, kau pergilah ambilkan aku minuman!" Nada perintah terdengar disana.
"Tapi..disinikan ada pramugarinya juga bukan?" ucap Dita.
"Kau membantahku?" Apa kau mau kujatuhkan dari jet pribadi ini?" Ancam Erlangga lagi.
"Hm..oke pak Ceo, tapi aku tidak tahu arah mana aku ambilkan minumanmu," ucap Dita.
"Kau punya mulutkan? Makanya jangan dipakai untuk menjawabku saja, kau tanya dengan mereka-mereka disana," ucap Erlangga sedikit kuat.
Erlangga sudah memerintahkan para pekerja jet pribadi nya ini untuk tidak melayani dirinya, karena memang dia ingin mengerjai Dita, dan dia ingin melihat sesabar apa seorang Rinjani Anindita.
Dita mulai bangkit saat ini dari tempat duduknya, agak terhuyung sedikit, dan tiba-tiba jet pribadi itu menabrak awan dan terjadilah sedikit hentakan yang membuat Dita yang berdiri terjatuh di atas Dada Erlangga yang posisinya setengah duduk dan baring itu.
"Auh..oh Tuhan!" Teriak Dita terkejut.
Erlangga melirik mata wanita itu, mengangkat bahu Dita, dan tangannya menepis tubuh ramping Dita.
"Heh, kau sengaja kan membuat adegan seperti ingin menggodaku, cepat ambilkan aku minum! Jangan drama jatuh segala!" Mencoba Erlangga menenangkan jantungnya yang ketika Dita jatuh di atas dadanya itu seketika si Jojo hampir bangun.
"Ti..tidak! Aku tidak sengaja," jawab Dita.
"Jangan menjawabku, cepat pergi ambilkan aku minum!"
Dita hanya bisa menghela nafas panjang, berjalan perlahan mencari seorang pramugari disana yang dia minta pertolongan untuk menunjukkan dimana kalau ingin mengambil minuman.
"Huh..brengsek! Kenapa wanita kampung yang sombong itu auranya kuat banget, cuma jatuh doang si Jojo hampir bangkit!" umpat Erlangga menyembunyikan kegelisahannya.
****
__ADS_1