TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
BERITA BURUK


__ADS_3

Dita saat ini yang masih menatap layar ponsel itu dan masih memegangi ponsel Erlangga tersebut, tiba-tiba Erlangga keluar dari toilet dan menatap wajah Dita yang tampak gugup.


"Dita, kenapa kau memegang ponselku?" Tanya Erlangga.


"A..aku, aku ingin memberitahumu tadi, kalau Miranda baru saja menelponmu," jawab Dita sedikit gugup.


Dia takut Erlangga akan marah padanya, sebab dia berani memegang ponselnya tersebut, sedangkan didalam isi perjanjian itu Dita tidak berhak tahu apapun tentang hal pribadi Erlangga tersebut.


Erlangga menatap datàr sekarang, Dita hanya tertunduk takut namun saat ini ponsel itu telah diambil Erlangga dari tangan Dita.


"Lain kali, siapa pun itu yang menelpon jika aku bersamamu jangan pernah kau angkat, termasuk wanita itu!" Tegas Erlangga di telinga Dita yang saat ini wajahnya tertunduk.


Erlangga yang melihat Dita gugup dan takut itu, seketika merasa iba dan dia tampak mendekatkan tubuh kekarnya itu dengan tubuh Dita.


"Hey…jangan takut, aku tidak marah padamu," bisik Erlangga ditelinga Dita sambil memeluk tubuh mungil wanita itu.


Air mata haru itu menitis, mengapa disaat akhir-akhir begini sikap Erlangga berubah drastis, menjadi lembut dan romantis.


Andaikan aku boleh mengatakan jangan tinggalkan aku, mungkin aku akan meminta itu, ucap Dita dalam hatinya.


Erlangga membuka pelukannya, dada bidang itu yang sedari tadi hanya berlilitkan handuk saja, terasa basah kembali padahal dia merasa sudah mengeringkan tubuhya tadi.


Wajah DITA dia pegang dengan kedua tangannya. Tampak wajah dan hidungnya memerah, matanya sedikit sembab.


"Dita, jangan menangis, dengar sini aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" ucap Erlangga seketika membuat Dita terkejut mendengarnya.


"Erlangga…apa kau mencintaiku?" Tanya Dita berterus terang karena beberapa hari ini mendengar ucapan yang sama itu membuat dadanya sesak.


Dia bilang tidak akan meninggalkan Dita, namun isi kontrak itu berbeda dengan ucapan Erlangga saat ini.


Erlangga yang di tanya oleh Dita seperti itu tiba-tiba kaku dan diam sejenak. Bahkan kedua tangannya yang memegang pipi sang istri terlepas begitu saja.


Erlangga yang masih ada ego itu masih tidak menyadari bahwa ucapannya tadi memang berasal dari hati nuraninya yang terdalam.


Melihat bibir  Erlangga kelu, dan mulitnya kaku hingga dia membuang pandangannya ke bawah, Dita merasa Erlangga tidak mencintainya mungkin  saja ucapan tadi hanya untuk penenang semata, pikir Dita.

__ADS_1


Karena masih tidak ada jawaban dari pertanyaan itu, Dita pun menguatkan hatinya seolah dia tahu diri dan dia mulai membuka suara kembali.


"Erlangga..maafkan pertanyaanku tadi, aku tidak bermaksud apapun juga."


"Sekarang, berhentilah bersikap baik denganku seperti ini, dan jangan katakan hal yang tidak bisa kau penuhi untukku," ucap Dita kembali.


Erlangga merasa serba salah, dia sendiri bahkan tidak tahu dengan dirinya apalagi dengan perasaannya sekarang.


"Erlang…aku tidak apa-apa kalau memang kontrak kita akan berakhir, lagi pula  dari awal aku sudah setuju dengan kontrak itu," jelas Dita lagi membuat Erlangga dilema.


Erlangga yang masih tak bersuara itu, tidak tahu ingin memberikan jawaban apa, sedangkan dirinya memang sebentar lagi melangsungkan pernikahan yang sah menurut agama dan negara.


Keheningan kamar itu tiba-tiba dikejutkan kembali dengan suara ponsel Erlangga lagi. Namun kali ini bukan Miranda yang menghubungi  Erlangga, melainkan nama Papanya disana.


"Halo Pa," ucap Erlangga dengan nada malas.


"Erlang, kamu dimana sekarang? Apa kamu tidak tahu, Miranda tadi kecelakaan?" Tanya papanya saat ini.


"Apa? Miranda kecelakaan Pa? Sekarang dia dimana?" Tanya Erlangga lagi yabg tampak terkejut.


Sekarang tanpa basa-basi pria itu memakai pakaiannya dengan cepat dan saat ini panggilan itu masih terhubung.


"Miranda sekarang di rumah kita, tadi papa suruh orang kita menjempunya di area cafe yang kalian janjian untuk fitting baju," jelas papanya lagi.


"Oh..baik Pa, Erlangga pulang sekarang," jawab Erlangga kembali.


Erlangga tidak ingin banyak pertanyaan dari mulut papanya itu, dia langsung berkata dia akan segera pulang saja sekarang.


"Dita, jaga dirimu baik-baik, nantu aku akan kesini lagi," ucapnya lalu dia pergi setelah memakai pakaian lengkapnya itu.


Dita hanya mengangguk saja sekarang, masih berselimut kesedihan Dita sekarang ini, hati siapa yang tak sedih suami sendiri mengkhawatirkan orang lain didepan matanya itu.


Mau marah tidak bisa, au memaki hanya bisa memaki diri sendiri karena menjadi makhluk yang lemah tidak memiliki hak apapun di pernikahan ini.


Erlangga dengan cepat sampai di parkiran Appartmennya itu. Padahal baru beberapa menit lalu tampak Miranda menghubungi dirinya, namun saat ini pula papanya membawa kabar Miranda kecelakaan.

__ADS_1


Kabar yang tak tahu benar atau salahnya itu, namun wajah memang terlihat khawatir. Apa memang masih ada cinta yang tersimpan untuk Miranda?


Erlangga masih tampak dilema dan tidak konsisten harus kemana dia labuhkan cintanya sekarang. Sedangkan ke Dita sendiri pun dia memang sulit membuang bayangan wanita itu.


Suasana sore itu membuat jalanan ramai, kota Jakarta yang memang terkenal kemacetannya tersebut membuat Erlangga terkena imbasnya sekarang.


Namun, dia dengan sabar menghadapi kemacetan itu, sambil pikirannya termenung dengan ucapan sang istri kontraknya beberapa menit lalu yang mereka habiskan.


"Dita…maaf kan aku," ucapnya dalam hati.


Dita yang ditinggal sendiri lagi, hanya bisa duduk berpangku kedua lututnya itu. Dan suasana hening ini membuat dia terkejut dengan deringan di ponselnya.


"Ha…Rosmita?" ucap Dita langsung menyapu wajahnya dan dengan cepat menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum dek, ada apa?" Tanya Dita saat ini.


"Waalaikumsalam kak, cepat pulang ya kak, kondisi bapak dari kemarin memburuk," ucap adiknya.


"Bapak kritis lagi? Kamu sekarang dimana?" Tanya Dita panik.


"Kami di rumah sakit  yang ada di kita kk," ucap adiknya itu.


Dita tampak sangat sedih, dia menjadi diam dan kaku, namun tidak ingin berpikir panjang lagi, tampaknya dia telah mengemasi barangnya sekarang.


"Jangan panik ya dik, semoga bapak kita tidak apa-apa," ucapnya.


"Iya kak bapak masih di ruangan icu," jawab adiknya itu.


Pernikahan kontrak ini terjadi karena ini salah satu penyebabnya Dita menandatangani kontrak tersebut. Namun itu sudah beberapa bulan berlalu, dan bapaknya dikabarkan membaik, namun hari ini kabar buruk datang kembali.


Baru saja hatinya dilanda kesedihan mendalam, karena dia merasa cintanya tidak bersambut oleh sang suami. Namun kali ini, segala pengorbanan yang dia berikan memang tujuannya untuk keluarganya, Dita mengatakan jangam panik dengan adik-adiknya namun dirinya sendiri pun sangat panik sekarang.


Tidak menunggu lama, dia booking tiket ke kampung halamannya itu, dari ponselnya tersebut. Tampaknya dia juga memesan kendaraan online.


Dita saat ini membersihkan dirinya dengan cepat, karena dia sudah mengemasi barang bawaannya yang memang tidak terlalu banyak itu, sekarang Dita pun mulai bergerak cepat membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2