
Malam ini membuat gelisah seorang Rinjani semakin memuncak. Bagaimana tidak, besok adalah hari pernikahannya dengan seorang Ceo patah hati yang arogan bahkan angkuh.
Entah mengapa takdir begitu kejam dia rasakan saat ini. Setiap orang bahagia akan pernikahan mereka, namun tidak dengan Rinjani Anindita.
Dia tidak bisa tidur, tidak tenang memikirkan besok takdirnya berubah 180 derajat.
"Oh..Tuhan..selamatkan aku dalam masalah dunia yang rumit ini," ucapnya yang sedari tadi mondar mandir di dalam kamar tersebut.
Sedangkan Erlangga, dia pun telah menyiapkan semuanya. Hanya dengan ponselnya saja dan orang suruhannya tempat dan waktu pernikahan kontraknya sudah pun beres.
Malam itu dia tersenyum puas, merasa dirinya telah menang dari yang namanya seorang wanita.
"Hem…lihat saja wanita sombong dan angkuh yang berani memakiku siang tadi, sebentar lagi akan tamat hari-hari bahagianya!" ucapnya sambil melajukan mobil ke arah restoran favoritnya.
Dia tidak tampak murung malam ini, siulan demi siulan keluar dari mulutnya itu dan tampak begitu bahagia.
Apakah seorang Erlangga bahagia atas penderitaan seorang wanita yang bahkan tidak bersalah itu?
Itulah manusia, bisa berubah dengan sekelip mata saja. Yang dulunya sikapnya baik terhadap siapapun menjadi jahat ketika dia dikhianati dan disakiti.
Restoran bernuansa Italia itu tampak begitu digemari rakyat Jakarta, termasuk Erlangga Harlan. Saat ini dia hanya memakai setelan santai saja baju kaos berwarna abu-abu dan memakai jeans berwarna biru kegemarannya.
Rambutnya yang sudah tampak rapi kebelakang itu, membuat wanita yang nongkrong di restoran tersebut melirik ke arahnya saja.
Tanpa perlu memanggil pelayan disana, mereka langsung menyapa anak konglomerat yang cukup terkenal ini.
"Selamat malam Tuan Erlangga," sapa pelayan wanita yang memang mengenali Erlangga tersebut.
"Selamat malam Dehria," ucapnya tersenyum manis.
Pelayan itu tampak bingung, biasanya pria arogan ini jika disapa wanita dia hanya menunjukkan ekspresi datarnya.
Namun malam ini, tampak segar dan senyum yang mengembang. Wanita itu seolah berpikir dia menarik didepan Erlangga sang pewaris tunggal PT.Jaya Abadi itu.
"Mm..anda sangat tampan malam ini, baru kali ini saya melihat senyum menawan anda," ucap wanita itu mencoba membuka topik menggoda Erlangga.
"Terima kasih, jangan banyak bicara ambilkan makanan dan minuman kesukaan saya, sekarang!" ucap Erlangga yang tampaknya kembali ke suhu normalnya.
Wanita itu menelan salivanya, melihat tatapan ramah berubah menjadi sinis itu, membuat dia bergidik merinding.
__ADS_1
"Huh…tadi senyum melebar bikin deg-degkan, sekarang kembali galak!" umpat pelayan itu berlalu dengan cepat.
"Dasar wanita murahan! Hm..dia pikir dengan suara mendayu seperti itu aku tertarik!" umpatnya kesal.
Entahlah, mood seorang Ceo patah hati ini tampaknya memang cepat berubah drastis. Masih saja mengecap semua wanita itu sama di matanya bersalah.
Trauma yang berlebihan itu membuat dia dipandang arogan dan bahkan banyak wanita takut mendekatinya.
Saat ini juga pesanan yang dia pesan itu tidak lama datang, namun yang mengantArkannya itu seorang pria yang juga mengenal Erlangga cukup baik.
"Selamat makan Tuan," ucapnya.
Hanya menaikkan satu alisnya saja, tanpa berbicara apapun saat ini. Pelayan Pria itu sudah biasa dengan sikap seorang Erlangga tersebut.
Dia pun beranjak dari meja itu, tampak lahap Erlangga memakan makanannya saat ini. Memang sejak tadi dia lapar, dan menu yang dia pesan itu memang menu kesukaannya.
Satu sisi dimana saat ini Dita yang tampak bingung dan bimbang itu, tiba-tiba deringan ponselnya membuat dia terkejut.
Keringat mengguyur di dahi wanita berkulit putih itu. Dia dengan cepat saat ini melihat ponselnya.
"Erkan? Kenapa dia menelponku malam begini?" tanya Dita dalam hatinya.
"Assalamualaikum Jani…" ucap Erkan yang tampak antusias panggilannya bersambut.
"Waalaikumsalam Erkan, ada apa malam begini menelponku?" tanya Dita saat ini.
"Aku di depan kosanmu," ucap Erkan dengan nada senang.
"Apa? Di depan kosanku? Aduh..kamu ngapain kesini?" tanya Dita kalang kabut.
"Jani…aku khawatir karena kau tidak masuk ke kantor hari ini, makanya aku inisiatif ke kosanmu, Ayo keluar kita makan malam!" Ajak Erkan dengan nada tegas.
Ingin menolak, namun ini Erkan. Rekan kerja sekaligus sahabat baiknya di kantor itu. Mereka berdua sudah lama bekerja sama di perusahaan tersebut. Bahkan sebelum kehadiran si Ceo patah hati itu Erkan dan Dita sudah 7 tahun bersama memajukan perusahaan tersebut.
"Hm..oke tunggu sebentar," jawab Dita sedikit melemah.
"Oke…baiklah tuan putri Rinjani," balas Erkan dengan senang.
Pria tampan yang sopan dan baik hati itu tampak tersenyum riang saat ini. Akhirnya Rinjani Anindita terdengar suaranya juga, bahkan malam ini mereka akan pergi bersama-sama.
__ADS_1
"Aku sudah lama memendam perasaan ini, 7 tahun lamanya perasaan ini kusimpan rapat-rapat, mungkin malam ini saatnya dia terluahkan," ucap Erkan dalam hatinya.
Dia tidak sabar melihat Rinjani keluar dari kosan itu. Tampaknya Erkan berulang kali membenahi kemeja kotak-kotak berwarna biru itu dan kaos putih didalamnya serta celana jeans yang senada.
Pria ini tampan, tidak kalah tampannya dengan Erlangga, hanya saja Kharisma Erlangga lebih kuat dibandingkan dengan Erkan.
"Aduh..mau pakai baju apa lagi ini, adalah besok hari yang paling membingungkan, malam ini juga si Erkan pake acara ngajak dinner," ucapnya mengeluh melihat lemari pakaiannya.
Begitulah seorang wanita, banyak pakaian dalam almarinya, namun tetap saja dibilang tidak ada pakaian.
"Oke, pakai ini saja," ucapnya mengambil dress berwarna hijau panjang selutut itu.
Apapun yang dikenakan oleh Dita sangatlah menawan. Karena memang kulitnya yang putih bersih itu serta tubuhnya yang pas dengan tingginya tersebut membuat dia memakai dress hijau daun polos tak lupa anting bunga melekat di telinganya.
Tampak begitu sederhana namun terlihat indah, lipstik yang dia pakai juga soft dan tidak berlebihan.
Mencoba mempoles wajahnya dengan make up, agar mata yang bengkak karena seharian menangis itu tertutupi sedikit.
Perutnya memang lapar saat ini, dia terakhir makan di restoran nasi padang tadi siang. Selebihnya belum ada menyantap apapun lagi.
Tak lupa juga memakai pansus yang senada, kulit putihnya bersihnya itu benar-benar membuat banyak wanita kos yang lainnya memandang dia iri malam ini.
Erkan berulang kali melihat jam di tangannya tersebut, masih pukul delapan lewat lima menit saja, dan ini masih awal, pikir Erkan.
Asik memperhatikan jam tangan dia dikejutkan dengan kemunculan Dita yang dia panggil Jani itu.
"Pak Erkan Harlan!" ucap Dita mengejutkan Erkan.
Mata pria itu terbelalak, melihat penampilan sederhana namun indah tersebut.
"Jani…maaf aku tidak memperhatikanmu sampai disini," ucapnya tergagap.
"Haha, iya iyalah kamu dari tadi ngeliatnya jam tangan mulu!" ucap Jani.
"Maaf, ya sudah silahkan masuk Tuan putri hijau…" ucap Erkan sambil tangannya membukakan pintu untuk Rinjani Anindita.
Akankah Erkan berani mengutarakan perasaannya?
***
__ADS_1