TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

     Hampir seminggu ini Erlangga memang tidak pulang, dia dilema dengan kedatangan Miranda yang tiba-tiba mengejutkannya.  Hingga seminggu berlalu baru kali ini dia mengunjungi Appartmen milik Dita lagi, itu pun karena memang terpaksa.


      Dita hanya bisa pasrah sekarang Erlangga sudah pun berada diatasnya. Memang dia merindukan belaian seorang Erlangga, namun tidak dengan begini juga caranya.


   Tampak tidak ada kelembutan disana, membuat Dita mengulang kembali trauma pertamanya ketika Erlangga menyentuh dirinya malam itu.


   "Dita, kau milikku jangan ada yang menyentuhmu, siapa pun itu!" Racauan Erlangga membuat Dita terpaku.


   Kalau malam itu terjadi, Erlangga meracau nama Miranda dengan jelas didengar Dita di telinganya. Namun kali ini  tidak ada apapun yang mempengaruhi Erlangga, termasuk minuman keras bahkan selama dengan Dita Erlangga sudah tidak menyentuh minuman haram itu.


    "Mana tanganmu, tanganmu Dita!" Ucap Erlangga lagi merenggut tangan Dita.


  "Erlangga, ada apa denganmu?" tanya Dita sedikit ngos-ngosan karena tubuhnya ditimpah Erlangga.


"Aku tidak ingin ada bekas tangan Erkan di tubuhmu!" ucap Erlangga lagi saat ini langsung memberikan kecupan di setiap inci tubuh istrinya itu.


  Ada apa dengan Erlangga?


 Apa Erlangga cemburu dengan Erkan?


  Antara sedih dan terharu, mendengar ucapan Erlangga yang tampak jelas tidak menyukai seorang pun menyentuh Dita. Namun apa mau Erlangga sebenarnya?


    Sedangkan Miranda sudah pun sampai di depan matanya saat ini. Jelas wanita itu memang cantik, putih dan tinggi. Tubuhnya juga ideal, apalagi yang Erlangga  tunggu Miranda sudah menunjukkan keinginannya menikah dengan Erlangga.


     Erlangga tak hentinya bermain di area yang memang Dita tidak bisa mengelakkan rasa nikmat itu. Terpancar dari raut wajah Dita yang awalnya ingin menolak karena Erlangga yang tampak aneh memperlakukannya.


  Namun, ketika Erlangga menyebut namanya dengan pasih tadi, Dita sadar dia adalah seorang istri, dan ini kewajibannya melayani suaminya tersebut.


   Entah mengapa Gairah Ceo patah hati ini tidak muncul dengan Miranda, dia malah tergila-gila dengan Dita sekarang. Baru saja sampai di Appartmen  itu, tidak menunggu lama gairah itu bangkit dan mulai adegan guĺat malam dilakukan.


   Erlangga yang lihai tersebut tampak menyukai area kembar itu, hingga saat ini menuju tempat surganya berada, Dita pula mencoba menyeimbangkannya juga.


   Semakin memuncak kembali gairah Erlangga sekarang, bahkan tidak ada Miranda sedikit pun muncul di benak Erlangga sekarang.

__ADS_1


   Erlangga yang sedari dulu menahan gejolak gairahnya terhadap Miranda karena memang dia mencintai Miranda, makanya dia ingin menjaga wanita itu sampai halal, hingga Erlangga yang melihat Miranda tidur dengan pria lain, membuat trauma di ingatannya dan dia merasa jijik seketika tadi Miranda mencoba menggodanya.


    Lebih baik dia dengan Dita, jelas wanita itu istri sah nya, bahkan Erlangga cukup tagu mengenai kesucian Dita yang memang dia lah yang merenggutnya malam itu.


   Itu mengapa saat ini pikiran dan hati Erlangga tampak ingin sejalan kembali. Dia tidak bisa melepaskan Dita begitu saja, karena memang dia mengetahui tentang wanita yang dinikahi diatas perjanjian kontrak ini.


  Hampir setengah jam berlalu, Gairah Ceo patah hati itu masih saja memuncak belum sampai ke ujungnya saat ini. Dita sudah tampak kwalahan menyeimbangi permainan panas malam ini.


   Sampai dua bulan ini, meskipun kebersamaan mereka sudah banyak mereka lalui, namun memang Erlangga masih belum pernah bercerita apapun tentang hal pribadi dirinya dengan Miranda.


  


   Entah Erlangga malu atau apa, dia bahkan tidak pernah memberitahukan kepada Dita, bahwasannya dirinya  belum pernah menyentuh wanita manapun selain istri kontraknya ini.


   Walaupun memang mereka menikah karena malam yang tidak disengaja itu terjadi, hingga dua bulan lamanya sudah mereka bersama menjadi sepasang suami istri dalam kontrak.


   Gaun merah yang di pakai Dita tadi, entah sudah kemana berhamburannya. Dita kelelahan tampak keringat membasahi tubuh keduanya. 


  Empat puluh lima menit berlalu, akhirnya erangan demi erangan terdengar kuat di telinga Dita, Erlangga melajukan tindakannya itu, dan saat ini pula Dita sudah terbaring lemas.


   Erlangga pun tampak begitu puas dengan permainan kali ini. Permainan penuh gairah dan hasrat juga amarah terhadap Erkan dan terhadap traumanya kepada Miranda.


  Semenjak Miranda ketahuan seperti itu, kegalauan Erlangga muncul dan baru dua bulan ini ada obatnya.


   Ya, Rinjani  Anindita adalah obat dari kegalauan tersebut. Namun, seorang Erlangga yang arogan, penuh gengsi itu masih saja menutupi kenyataan yang ada, kalau kehadiran Dita sebagai istri kontraknya tersebut sudah mengobati rasa galaunya dan traumanya selama ini.


       Dita yang masih sadar segera bangkit dari tempat tidur penuh kenikmatan itu, dia masih teringat isi perjanjian kontrak merek, selama berhubungan suami istri seperti itu, Dita diharuskan meminum obat agar tidak hamil. 


   Dia pun mengambil kepingan pakaiannya yang sudah berserakan tersebut di lantai, dan saat ini menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


   Lama dia termenung di bawah sower itu, hingga akhirnya lima belas menit berlalu dia keluar dan duduk di depan meja riasnya kembali.


   Dengan memakai balutan baju putih mandinya itu, menatap cermin di depannya dan mengambil obatnya dia segera kembali menelan obat-obatan itu lagi agar tidak hamil.

__ADS_1


  Ini lah kenyataan seorang istri dalam kontrak. Hanya mengikuti arahan demi arahan, bahkan kepedihan jati sendiri tidak ada yang tahu selain Dita dan Tuhan yang tahu tentang itu.


    "Huh….biarlah seperti ini nasibku, asalkan keluargaku di kampung semuanya sehat-sehat selalu," ucap Dita yang saat ini merenungi nasibnya itu.


   Dia yang menjadi tulang punggung keluarga tersebut hanya bisa memikirkan keluarganya, tanpa memikirkan dirinya sendiri yang tersiksa karena menahan cinta.


   Cintanya itu terhadap suaminya sendiri, tapi yang sakitnya suaminya bahkan tidak pernah mengatakan kalau dia mencintai Dita juga.


    Sekarang jam telah menunjukan pukul setengah dua belas. Dita sudah pun bersig dan bertukar pakaian tidurnya kembali saat ini.


  Rasa lelah di hati dan pikirannya berkecamuk, menatap wajah Erlangga yang tertidur pulas sekarang, membuatnya sesak.


   Apakah ini malam terakhir bagi kita?


    Ya, bisa jadi ini adalah malam terakhir bagi Dita dan Erlangga. Tanya besar di kepala Dita sekarang, karena memang baru beberapa jam lalu, Dita jelas sudah melihat Miranda di depannya dan Miranda adalah salah satu dari isi perjanjian kontrak itu.


    Menetes juga air mata itu kembali. Akankah aku rela melepaskan dia?


   


   Tanya Dita sendiri dalam hatinya sambil memandangi wajah Erlangga yang tampak terlelap itu.


    Hanya bisa menelan salivanya, tidak bisa dielakkan lagi, dua bulan bersama pria arogan ini banyak membuat Dita mengenali karakter Erlangga lebih jauh lagi.


  Dan ketika dadanya semakin sesak, dia bahkan ingin terisak kembali, Dita tidak ingin melihat wajah tampan Erlangga itu dan dia mencoba membelakangi Erlangga, namun tiba-tiba Erlangga pula membuka matanya.


    "Jangan belakangi aku," ucap Erlangga lalu tangan kekarnya meraih pinggang ramping milik istrinya itu.


   ****


  


  

__ADS_1


      


__ADS_2