TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
SAH


__ADS_3

      Bagaimana saksi?


  


   Tanya penghulu tersebut kepada para saksi yang menghadiri akad nikah di rumah mewah milik keluarga Harlan itu.


   Hanya kerabat dekat saja yang diundang saat ini. Resepsi belum diadakan oleh keluarga konglomerat tersebut.


  Semalam sempat dilema hingga hari ini, Erlangga tiga kali salah dalam penyebutan, karena dia gugup dan tampak hati dan pikirannya tidak sejalan.


  Sedangkan keluarga besar Miranda dan Keluarganya itu tampak begitu senang antara mereka sudah terikat dengan kuat. Miranda tersenyum puas saat ini karena dia telah sah dimata agama dan negara.


   Erlangga Harlan hanya terdiam kaku menatap statusnya saat ini menjadi seorang suami dengan dua istri. Dia pikir statusnya ini hanya dia yang tahu, padahal istri yang baru dinikahinya ini menyimpan map perjanjian antara Dita dan dirinya.


  Apa yang akan dilakukan seorang Miranda dengan map tersebut?


  Siang ini para kerabat kedua mempelai itu menyantap menu makanan yang lezat disana, tak lupa juga Erkan sebagai seorang sepupu mengucapkan selamat kepada sang ceo yaitu sepupunya sendiri.


   "Hem..mumpung ada Erkan, aku akan memulai ini," ucap Miranda dalam hatinya.


  "Mir, selamat ya kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Harlan," ucap Erkan sambil memeluk wanita itu.


  Erkan dan Erlangga memang sudah lama mengenal dekat seorang Miranda. Bahkan mereka bertiga adalah teman kecil dan teman bermain bersama.


  Saat ini Erkan pikir keinginan sepupunya itu telah pun terwujud karena sudah menikahi wanita yang dia cintai sejak lama. Mereka berdua terkenal memiliki cinta sehidup semati.


  Namun, mengapa raut wajah Erlangga hanya datar saja, tidak seperti Miranda yang tampak bahagia dan bersinar.


  "Terima kasih Erkan, kemana pasanganmu yang waktu itu?" Tanya Miranda seolah memulai bumerang.


 "Siapa maksudmu Mir?" Tanya Erkan sedikit bingung.


"Kamu lupa, yang kita bertemu di restauran waktu pertama kali itu, gadis bergaun hijau," ucapnya lagi sambil matanya melirik ke arah Erlangga.


   "Oh..Jani maksudmu," ucap Erkan.


  "Iya dia sekretaris Erlangga kan?" Tanya Miranda lagi masih membicarakan Dita.


  "Haha, dia itu belum sah menjadi milikku Mir, sangat sulit mendapatkannya," ucap Erkan kembali membuat Erlangga semakin panas.


   Erlangga yang mendengar perbincangan antara Miranda dan Erkan itu membuat telinganya panas. Wajahnya yang sedari tadi datar kini tampak memerah karena panas mendengar istrinya ingin di gebet oleh sepupunya sendiri.

__ADS_1


  Miranda yang melihat wajah Erlangga telH berubah itu dia semakin suka dengan perbincangan ini, karena itu memang yang diharapkan ingin melihat reaksi seorang Erlangga Harlan tersebut.


   "Kamu pepet terus Erkan, cewek memang begitu malu-malu kucing, aku lihat Rinjani itu menyukaimu juga loh," ucap Miranda sengaja.


  "Ah kamu Mir bisa aja, tapi apa benar ya semua wanita begitu?" Tanya Erkan seolah mendapat celah untuk sharing.


 "Ehm!" Suara deheman yang keluar dari mulut sang ceo membuat keduanya terkejut terutama Erkan.


 "Kenapa Erlang?" Tanya Erkan saat ini.


 "Kalau kalian ingin berbincang pergi duduk berdua saja," ucapnya saat ini sambil meninggalkan mereka berdua disana.


  Erkan mengernyitkan dahinya, dia berpikir Erlangga sedang cemburu saat ini, karena Miranda sedari tadi berbincang dengan Erkan.


 "Erlang, dia sudah menjadi milikmu, oke Mir nanti lain kali aku ingin meminta pendapatmu sebagai seorang wanita," ucap Erkan lalu berlalu pergi.


  Erlangga yang melangkah barusan itu tidak terlalu jauh jaraknya dengan mereka berdua tadi. Hingga akhirnya Miranda mengejar Erlangga dan mendekap lengan suaminya itu.


  "Sayang…kamu cemburu untukku atau untuk Dita?" Ucap Miranda sengaja.


  Ekspresi Erlangga berubah menjadi terkejut saat ini, pertanyaan Miranda itu sampai menusuk relung hatinya. Apa dia cemburu?


  "Apa maksudmu Mir?" Tanya Erlangga seolah menutupi perasaanya.


 "Tidak, tidak apa-apa, maksudku apa kamu cemburu Erkan mendekati Rinjani Anindita?" Tanya Miranda sekali lagi menegaskan.


"Tidak! Dia hanya stafku!" ucapnya dengan tegas lalu tangan Miranda dia lepas.


"Erlang, kamu mau kemana?" Tanya Miranda sedikit kuat.


   Tanpa memberikan jawaban kepada wanita itu, Miranda tahu persis saat ini ekspresi Erlangga yang berubah drastis dia sudah bisa menebaknya kalau Erlangga tampak telah memiliki perasaan dengan istri kontraknya itu.


   Erlangga dengan langkah kaki jenjangnya itu berjalan menuju toilet, dia membasahi wajahnya dengan sedikit air.


  Bercermin sambil melihat dirinya sendiri. Mencoba meyakinkan ucapan seorang Miranda yang membuat hatinya panas seketika.


  "Apa aku cemburu?" Tanyanya dalam cermin itu.


  "Huh…dia hanya istri kontrak Erlang!" ucap Erlangga lagi sambil berbicara menatap cermin itu.


   Erlangga Harlan masih saja menyimpan ego yang tinggi. Jika memang dia cemburu berarti antara dirinya dan Dita telah ada sebuah ikatan cinta.

__ADS_1


  Apa itu sebabnya Erlangga sampai saat ini belum bisa melepaskan Dita?


  Tampaknya itu lah jawabannya, sedangkan pernikahan  yang sudah lama dia impikan  bersanding dengan Miranda ini telah pun terlaksana, namun perasaannya hanya ada dilema saja.


  Rasa tidak bahagia tampak disana. Namun, apakah hanya Dita sekarang satu-satunya pemilik hati sang ceo yang galau itu?


   Saat ini para kerabat jauh sudah pun mulai pulang, sedangkan kedua belah keluarga itu asik berbincang di ruang keluarga.


   Erlangga setengah jam lebih tak terlihat disana, hanya ada Miranda yang tampak berkumpul dengan keluarga itu.


  Miranda tahu, Ari dilema dengan hatinya sendiri, namun Miranda  telah memiliki rencana jitu untuk menjadi satu-satunya istri sah dari sang ceo tersebut.


   "Hem…lihat saja kamu Erlangga, disinu aku akan memulai lagi," ucap Miranda dalama hatinya.


  Disana ada Erkan juga dan ada kedua orang tua Erkan juga. Tampak om dan tantenya itu menjodohkan Erkan dengan Rinjani Anindita yang memang sebelum ini Dita adalah sekretaris dari papa Aroel tersebut.


  Perbincangan ini sangat seru pikir Miranda kalau ada Erlangga disini, mungkin saja Erlangga akan semakin terbakar cemburu, ucap Miranda dalam hatinya.


   


 "Erlang..Erlang! Wanita itu gak pantas jadi istri kamu, dan aku akan buat dia menderita karena sudah berani merebutmu dari diriku," ucap Miranda lagi dalam hatinya.


  Setengah jam berlalu, sosok Erlangga yang gagah perkasa itu pun muncul di tengah hangatnya perbincangan keluarga ini.


  "Erlang, dari mana saja kamu nak?" Tanya mamanya.


"Toilet Ma," jawabnya singkat.


"Apa kami baik-baik saja?" Tanya Mamanya lagi.


"Erlangga lelah Ma, apa boleh Erlangga masuk kamar sekarang," tanya Erlangga lagi yang acuh tak acuh.


"Astaga Erlang…apa kamu tidak sabaran ya belah duren?" Sahut Papanya pula membuat semua menjadi gelak tawa.


"Apaan sih Pa, Erlangga lelah, mau istirahat dulu ya," ucapnya berjalan meninggalkan ruangan keluarga itu.


"Mir, kamu juga naik sana, itu kode loh.." ucap Mama Erlangga pula.


 Miranda mengangguk dan tersenyum puas sekarang, akhirnya dia semakin bebas memasuki kamar sang ceo.


  Apa yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2