
Jakarta-Padang memakan waktu satu jam empat puluh lima menit lamanya. Akhirnya dia yang berangkat sekitar jam dua siang itu sampai juga di kota Padang jam empat sore.
Dan sampai di bandara tersebut tidak ada yang dia kenal, namun dia memberitahukan kepada seorang supir taksi yang memang banyak parkir di area bandara tersebut dengan menunjukkan alamat rumah Rinjani Anindita itu.
"Oh..ini sekitar 3 jam lebih pak hampir empat jam ke desa ini," ucap sang supir ketika membaca alamat yang Erlangga tunjukkan itu.
"Oh..baik pak, segera antar saya ke alamat itu," ucap Erlangga penuh keyakinan.
Ternyata Erlangga yang baru saja menikahi Miranda itu dia malah pergi ke kampung halaman Dita saat ini. Perjalanan yang lumayan memakan waktu yang cukup lama juga.
Namun tekad Erlangga yang sudah bulat dia memang ingin menemui keluarga Dita di kampung itu. Namun faktor utamanya adalah rindu yang tampak sulit Erlangga elakkan dari sosok seorang Rinjani Anindita itu.
Entah ini yang namanya cinta namun memang begitulah tampaknya, rasa sunyi tak bertemu dengan sang istri membuatnya sanggup menyusul ke kampung halaman Dita padahal dia baru saja menikahi kekasih pertamanya.
Walau jauh jarak yang ditempuh oleh Erlangga itu dia tetap sanggup dan tanpa memberikan kabar kepada sang istri dirinya saat ini sudah setengah perjalanan ke desa sang istri tersebut.
Apa yang akan di lakukan Dita jika Erlangga sampai?
Sedangkan keluarganya disana menganggap Dita masih wanita single yang asik dalam berkarir dan membantu keluarganya.
Akankah Erlangga mengungkapkan pernikahan mereka?
Matahari hampir terbenam di kota Jakarta, namun saat ini Miranda dan Mamanya yang sejak siang tadi pergi shoping baru pulang dan mendapati kabar kalau perusahaan mereka di demo oleh karyawannya sendiri.
Bagaimana tidak, banyak karyawan yang ternyata tidak digaji tiga bulan belakangan ini oleh Papa Miranda itu. Berita di televisi dan media-media sudah bermunculan namun nomor ponsel Papanya masih tak terhubung.
"Ma, ini bagaimana kalau stafnya papa nyerang ke rumah kita?" Tanya Miranda begitu khawatir.
"Iya sayang, itu yang mama takutkan juga, Papa mu juga kenapa gak ada kabar sampai sore begini, kemana dia?" Tanya mamanya pula.
"Ma, mendingan mama ikut Mir ke rumah Erlangga aja deh biar aman dulu," ucapnya lagi memberikan saran.
__ADS_1
"Ide yang bagus juga itu sayang, semiga keluarga mertuamu bisa membantu perusahaan papamu ya," ucap mamanya mencoba berharap kepada keluarga besannya itu.
Mulai berangkat kembali dan menuju kediaman mewah milik keluarga Harlan, karena memang mereka takut masa akan menyerang kekediamannya itu.
Papanya Miranda bukan hanya mematikan ponselnya sejak siang itu namun sudah sore hari pun masih saja ponselnya itu tidak dia aktifkan.
Walau perusahaannya sedang di demo dan dikabarkan akan tutup bulan ini, namun dia masih saja memulai perselingkuhannya dengan sang sekretaris yang saat ini dia ajak ke puncak bogor bersama.
Mereka memang sudah lama menjalin kedekatan sebagai staf dan boss, namun kali ini kedekatannya berbeda cerita. Wanita itu rela menjalin cinta terlarangnya tersebut.
Kamar hotel sudah pun di pesan saat ini, kedua insan yang baru saja mengesahkan hubungannya itu sebagai sepasang kekasih yang terlarang tersebut tampak happy bergandengan masuk ke dalam kamar.
Seolah tidak tahu malu saja, sedangkan satu sisi Papa Miranda itu memang pun telah beristri dan saat ini pula sekretaris itu menyambut hal yang tampak bisa menguntungkannya nanti.
"Hemm aku temani dia sekarang, karena ku yakin dia tidak akan bangkrut," ucap Desi dalam hatinya.
Gairah sang ceo tua itu semakin muncul karena melihat kemolekan tubuh sang sekretaris yang tampak mencoba melucuti pakaiannya.
Cuaca yang dingin dan malam mulai merujuk, sedangkan Erlangga pula saat ini sudah hampir sampai ke rumah sang istri kontrak.
Dan saat ini pula sang istri yang ingin bersiap-siap melakukan sholat maghrib bersama keluarganya itu.
Sudah lama Dita jauh dari Tuhan rasanya, dia saat ini tampak menikmati suasana kampung dan rasa keharmonisan keluarga.
Yang menjadi imam sholat itu adalah adik ketiganya yang saat ini sudah bersekolah menengah atas. Karena ayah mereka yang saat ini berada di kursi roda dan belum bisa banyak bergerak masih dalam tahap pemulihan.
Tiga rakaat mereka kerjakan berjamaah, dan rutinitas di kampung ini setelah ibadah mahgrib pasti mereka melakukan makan malam bersama tampak memang suasana yang nyaman dan damai walau hanya di kampung jauh dari kata kemewahan.
Keluarga Dita masih mengira dia mengekos seperti dulu-dulu juga. Dita masih banyak menyimpan rahasia tentang kehidupan pribadinya sendiri.
__ADS_1
Dia takut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di hidupnya yang saat ini dirinya telahpun bergelar sebagai istri dalam kontrak pernikahan.
Biarlah dia dia pikir pernikahan itu pun sebentar lagi akan berakhir, jadi tidak perlu rasanya mengungkap semuanya biarkan dia simpan aibnya ini.
Dan setelah mereka semua berdoa bersama sholat pun berakhir, saling memberi pelukan dan memang mereka seperti biasa bersiap untuk menyiapkan makan malam.
"Kak Dita, kaka disini saja bersama ayah, biar kami yang membantu kak Rosmita di dapur menyediakan makan malam," ucap adik keduanya itu.
Walau pun mereka laki-laki namun mereka tidak pernah malu membantu kakak nya itu dalam mengerjakan hal rumah maupun dapur.
"Yasudah, kaka dan ayah akan menunggu di depan saja, kalian cepat siapkan makanan, ayah tidak boleh telat minum obatnya," ucap kakaknya itu.
Hanya di balas anggukan dan langsung berlalu ke dapur. Sedangkan Dita tampak mendorong ayahnya ke ruangan makan yang tampak sederhana itu.
Baru saja mereka semua beranjak dari ruangan sholat tersebut, tiba-tiba suara ketukan pintu membuat adik-adik mereka terkejut.
"Kak Ros, biar aku aja yang bukain," ucap adik ketiga yang saat ini dia masih di jenjang sekolah menengah pertama.
"Yasudah cepat dik buka, Mungkin itu bang Yogi," ucap kakaknya itu.
Yogi sang dokter itu memang akhir-akhir ini semakin sering berkunjung ke rumah sederhana ini, apalagi sudah ada Dita yang menarik hatinya beberapa hari di sini.
Dan Ayah Dita pula tampak dia memberikan sinyal untuk Yogi mendekati anak pertamanya itu. Tidak ingin membuang kesempatan sang dokter pasti selalu menyempatkan diri untuk ke rumah keluarga Dita ini.
Berpikir itu dokter Yogi, sang adik dengan depat melangkah dan pintu pun mulai terbuka lebar saat ini.
Cekrek…
Pintu terbuka namun yang datang masih tersenyum lebar dengan wajah tanpa masalah itu.
"Maaf, abang ini siapa?" Tanya adik ketiga dari Rinjani Anindita itu yang tampak bingung.
__ADS_1
****