TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
DEG-DEGKAN


__ADS_3

    Dua bulan telah berlalu, Erkan awalnya bingung melihat banyak perubahan dengan Rinjani Anindita itu. Mulai dari Apartemen, hingga mobil mewah berlambang "W" tersebut kini telah dimiliki oleh Rinjani Anindita.


      Sebulan lalu sempat Erkan menanyakan hal ini kepada Dita, namun wanita itu menjawab semua yang dia miliki tersebut masih kredit dan itu dia dapatkan ketika projek di Thailand berkembang pesat pak ceo memberinya bonus besar.


    Erkan pun percaya saja ucapan wanita itu, hingga memasuki dua bulan  berlalu lamanya. Erkan dan Dita sudah tidak pernah makan bersama lagi, karena memang ada Erlangga di antara mera saat ini.


   Yang Erkan tahu hanya parkiran area Apartemen itu, namun di lantai berapa Apartemen Dita berada dia tidak pernah mengetahuinya.


     Dan saat ini Erkan telah berhasil membawa Dita makan malam bersama di restoran yang sering mereka kunjungi ketika meeting di luar kantor dulu.


   Namun malam ini menjadi malam yang canggung, ada empat pasang mata yang menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda.


   Dua bola mata indah itu melihat Erkan dan Dita sebagai pasangan yang serasi. Namun yang kedua bola mata satu lagi menatap Erkan dan Dita dengan tatapan yang sangat tajam.


   Bahkan orang itu tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun terhadap Dita yang saat ini sedikit gemetar ingin menghadap keduanya.


    Ya! Siapa lagi kalau bukan Erlangga  dan Miranda. Ternyata beberapa hari tidak datang ke Apartemen  Dita tersebut inilah jawabannya.


   Walau Dita belum pernah melihat sosok Miranda ini, namun Dita sudah bisa menebaknya kalau ini adalah Miranda yang telah menjadikan Erlangga tidak  pulang beberapa hari ini.


    Sebagai seorang istri kontrak dia tidak bisa marah dengan suaminya sendiri, apalagi memarahi wanita yang sedang bersama dengan suaminya ini.


   Karena memang wanita ini ada dalam isi kontrak perjanjian mereka yang ke 7 yaitu setelah pulangnya Miranda  ini bisa jadi Erlangga akan menceraikan Rinjani Anindita.


   Akankah itu terjadi malam ini?


  Namun kalau memang itu akan terjadi mengapa Erlangga menatap Dita dan Erkan dengan tatapan  penuh amarah saat ini.


           "Hey Erkan..." panggil seorang wanita ke arah Erkan yang sedang membetulkan kursi untuk Dita.


         "Hey MIRANDA !!" teriak Erkan terkejut dan langsung menghampiri ke meja nomor sepuluh.


        "Erkan...kau apa kabar??" tanya MIRANDA   begitu antusiasnya.


        "Seperti yang kau lihat! ucap Erkan sambil mengembangkan kedua tangannya.


         "Dia siapa??" tunjuk MIRANDA   ke arah Dita.


        "Oh iya, kenalkan dia Dita," ucap Erkan.


       "Dita sini.." panggil Erkan kepada Dita.


       Dita berjalan sangat lemah, kali ini kakinya seperti tidak mampu untuk di langkahkan lagi. Jantung gemetar dengan hebatnya dan bahkan dia tidak sanggup melihat sepasang mata yang sedang menatapnya tajam saat ini.

__ADS_1


         "Hey pak ceo, pantas lah kau tidak masuk kantor beberapa hari ini," ucap Erkan lagi menyapa Erlangga yang duduk berhadapan dengan MIRANDA .


       "Ya, kalian berdua ngapain kesini??" tanya Erlangga dengan nada sinis.


       "Sayang...kenapa bertanya seperti itu, tentulah mereka sedang dinner. Ya kan Erkan!!" ucap MIRANDA   mencoba menjawabnya.


      "Begitu lah," ucap Erkan malu-malu dan melirik ke arah Dita yang diam terpaku.


     "Kalian duduk sini aja," ajak MIRANDA  .


     "Oh..baiklah," ucap Erkan.


         Erkan yang ingin duduk di sebelah MIRANDA   tiba-tiba Erlangga  menukar tempatnya. Sekarang posisi Erlangga  berhadapan dengan Dita saat ini.


        Mata tajam itu tetap lekat memandangi tubuh istrinya yang memakai gaun berwarna merah tersebut. Walaupun riasan wajah Dita tidak begitu tebal, namun dia tetap tak kalah cantik dengan MIRANDA  .


        Sekarang mereka berdua telah duduk saling berhadapan, MIRANDA   tampak tersenyum ketika Erlangga melakukan itu. MIRANDA   berpikir, Erlangga  menukar posisi duduknya karena cemburu dengan Erkan yang ingin duduk di sebelah MIRANDA  .


      Meja empat segi itu menjadi saksi sekarang, debaran jantung keduanya semakin terasa. Namun MIRANDA   maupun Erkan tidak tahu apa yang sedang berlaku di depan .


    "Jani...kamu hanya minum??" tanya Erkan begitu lembut.


   "Iya aku sudah kenyang Erkan," ucap Ditasingkat.


      Erlangga  yang diam seperti kayu tidak menyahut apapun saat ini, mata Erlangga  terlihat merah sekali. Dia menyimpan amarahnya, pandangannya kepada Dita tidak beralih sedikit pun.


       "Jani..kamu tidak ingin makan??" tanya Erkan pula.


       "Tidak," jawab Dita singkat.


         "Yasudah, aku juga tidak ingin makan, pesankan aku minuman yang sama seperti Jani," ucap Erkan tersenyum kepada MIRANDA . 


        MIRANDA   pun mulai menekan tombol yang ada di meja restoran tersebut. Dan pelayan pun langsung mendatangi meja mereka.


     MIRANDA   mulai menyebutkan menu tambahan untuk meja nomor sepuluh yang mereka duduki tersebut. Tidak perlu pelayan datang dengan repot-repot ke arah meja itu.


     Hanya tinggal menunggu menu yang mereka sampai saja saat ini. MIRANDA   begitu tersenyum hangat kepada Dita yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.


        "Dita, kamu kerja dimana??" tanya MIRANDA   basa-basi.


      "Ha..oh, aku kerja di perusahaan yang sama dengan Erkan," ucap Dita Mengarah wajah Erkan.


    "Iya Mir. Dita ini adalah sekretaris 

__ADS_1


Erlangga, yang sebelumnya Dita sekretaris Om Hendrik  juga, Dia juga kesayangan om Hendrik loh," tambah Erkan lagi.


    "Wah...apa Dita ini yang diceritakan mama Erlangga  kepadaku, untuk di jodohkan kepadamu Erkan," ucap MIRANDA   langsung di depan ketiga orang itu.


   "Serius? tante mau jodohin aku sama Dita??" tanya Erkan dengan wajah yang begitu ceria.


      Tiba-tiba pelayan datang dengan nampan yang berisi penuh mengantar makanan mereka semua. Erlangga yang diam terus saja menyambut pelayan tersebut untuk segera menyantap makanan itu.


        "MIRANDA  , ayo cepat makan," ucap Erlangga  singkat.


        "Sayang, sabar lah makanannya juga baru sampai," ucap MIRANDA .


       "Tidak sangka ya, kita bisa dinner berempat malam ini," ucap MIRANDA   lagi.


     "Iya, benar itu," tambah Erkan.


     "Eh gimana tadi MIRANDA , cerita perjodohan tadi??" tanya Erkan seolah mengulang.


    "MIRANDA , jangan banyak cerita. Sebentar lagi aku ada kerja lain dan bertemu dengan relasi bisnisku," ucap Erlangga  mencelah.


    Padahal ini sudah malam, namun Erlangga tampaknya ingin cepat pulang saja dan dia sangat terlihat tidak nyaman saat ini melihat kedekatan istrinya dengan Erkan kembali.


     "Memangnya klien yang mana Erlang?" tanya Erkan pula merasa bingung.


   "Ada teman lamaku baru saja dia sampai di Indonesia beberapa hari lalu, dan dia mau membuka cabang perusahaannya disini," jelas Erlangga yang tampak cuek.


   "Baru sampai di Indonesia? Apa dia orang luar negri?" Tanya Miranda penasaran.


"Ya tentu, dan kau juga mengenalnya," jawab Erlangga singkat.


 "Siapa?" tanya Miranda kembali.


"Tuan Bailey," jawab Erlangga singkat.


 Uhuk…!


 


   Tiba-tiba Miranda tersedak mendengar ucapan Erlangga tersebut, dan seketika wajahnya sedikit panik saat ini.


   "Mir, kau tidak apa-apa?" Tanya Erkan dan Erlangga bersamaan.


 ****

__ADS_1


   


__ADS_2