
Erlangga Harlan terus saja mengejar dengan cepat menuju rumah sakit dimana saat ini dihatinya berkecamuk amarah, dendam bahkan dia sangat cemburu terhadap dokter yang telah berani mendekati istri kontraknya itu.
Namun tidak ada yang tahu bagaimana takdir akan dimulai setelah nanti dia bisa sampai dirumah sakit bertemu dan bahkan bertatap langsung dengan sang istri yang selama ini selalu dia sembunyikan dari khalayak ramai jangankan khalayak ramai bahkan keluarga besarnya sendiri pun tidak pernah tahu bahwasanya Airlangga Harlan telah menikah dengan seorang stafnya sendiri.
Perjalanan begitu kalut membuat dia semakin menggebu untuk segera sampai di rumah sakit dia tidak ingin ketinggalan informasi mengenai kesehatan ayah Dita tersebut karena memang sedikit banyaknya dialah penyebab dari kambuhnya penyakit ayah Dita itu.
"Akh...tenang Erlang! tenang..." ucapnya mencoba menenangkan dirinya dalam mobil tersebut agar dia bisa mengendalikan emosinya ketika nanti bertatapan langsung dengan sang dokter yang beraninya mendekati istri kontraknya tersebut.
Sedangkan saat ini di rumah sakit Dita dan keluarganya yaitu adik-adik Dita tersebut sudah berlinang air mata mereka masih menunggu bagaimana pemeriksaan lanjutan ayah mereka yang masih terbaring lemah di dalam ruangan ICU itu.
Serangan jantung dadakan itu membuat ayah Dita melemah bahkan dia tidak sempat mengucap sepatah kata apapun ketika mendengar ucapan dari Airlangga Herlan yaitu sang menantu yang tidak pernah meminta Restu kepadanya namun telah menjadikan anak gadisnya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tersebut bisa menyembunyikan pernikahan di antara keduanya.
Karena memang ayah Dita itu kondisinya sangatlah kritis, dia dibawa ke rumah sakit besar yang ada di kota. Saat ini Erlangga dengan cepat sampai di area parkiran rumah sakit itu, dia tidak ingin menunda lama lagi untuk segera masuk kesana.
Langsung menuju dimana dia bisa bertanya dan menyebutkan nama Ayah Dita yang sedang dirawat di ruangan ICU saat ini. Dia langsung diarahkan dimana letak ruangan tersebut.
Karena ruangan itu berada dilantai atas, dengan menaiki tangga darurat karena lift di rumah sakit itu sedang tidak bisa di pakai, dia dengan cepat berlari menuju kesana.
Erlangga terdiam, melihat Dita dan adik-adiknya tersebut hanya bisa duduk dilantai menunggu dan menanti kesadaran ayah mereka.
Dita saat ini pula sedang berbaring di paha dokter Yogi, karena saat ini kondisi Dita tampak tidak terlalu kuat untuk berdiri karena memang Dita pun ada riwayat jantung yang selama ini masih belum diketahui Erlangga.
Karena memang ini bukan tempat praktek dokter Yogi, jadi dia hanya bisa menenangkan keluarga Dita diluar saja sambil memberi dukungan kepada Dita.
Dia memberikan pahanya untuk Dita berbaring disana, sambil menunggu sang ayah sadar di dalam.
Melihat adegan itu jantung Erlangga seperti terhenti, dia bahkan tampak wajahnya memerah seketika dan langkahnya terhenti namun amarahnya melaju sedemikian rupa.
__ADS_1
"Dita!" Teriak Erlangga sontak membuat semuanya terkejut dan bangkit.
Dita dengan tubuh yang tidak terlalu kuat itu, mencoba duduk seketika, bahkan adik-adiknya yang sempat duduk di lantai pun ikut berdiri karena terkejut kehadiran Erlangga membuat mereka menatap tak kunjung kedip.
Saat ini Dita mulai bangkit dari tempat duduknya, dia berdiri tepat dihadapan wajah tampan yang selalu dia rindukan itu.
Tatapan tajam yang dia keluarkan ini, mendekatkan kedua bola mata yang sudah tidak mengalirkan air mata lagi, hanya ada kantung mata yang terlihat bengkak saja.
"Pergi kau!" Teriak Dita seketika.
Semuanya hanya bisa terdiam, semuanya tidak bisa ikut campur akan hal ini, hanya bisa melihat kedua suami istri itu seolah menunjukkan kebencian didepan semua orang.
"Dita..!" Erlangga coba menangkap lengan Dita.
Ketika tindakan Erlangga seperti itu Dita langsung menepisnya dan kembali berteriak hal yang sama, namun kali ini Dita pingsan mendadak membuat semua semakin panik lagi.
"Lepaskan tubuh kakak saya!" teriak salah seorang adik Dita saat ini.
Melemah seketika tangan Erlangga mendengar hal demikian, dia tidak menyangka bahkan adik-adik Dita yang baru saja membuatnya betah tinggal disana tampak membenci dirinya.
"Saya ini suaminya," ucapnya lemah.
Yang lain tampak membawa Dita keruangan agar di periksa, sedang adik ke dua Dita itu mencoba berargumen oleh Abang ipar yang baru saja dia ketahui tersebut.
"Saya tidak tahu! Dan itu belum tentu sah dan benar!" tegasnya lalu pergi meninggalkan Erlangga disana.
Erlangga terpaku dengan ucapan tegas yang keluar dari wanita kecil tersebut namun apa yang dikatakan oleh adik Dita itu jugalah bukan salah dari mulutnya, saat ini Erlangga terduduk lemas di kursi di mana sempat dia melihat istri kontraknya tersebut berbaring di atas paha dokter Yogi yang membuatnya tadi seketika marah dan memanas dan sempat juga berteriak ke arah Dita.
__ADS_1
bukan Dita takut dengan teriakan itu namun malahan Dia menyuruh suami kontraknya tersebut untuk pergi dari hadapannya dan seketika pula Dita yang memang kondisinya dari tadi lemah akhirnya dia pingsan juga.
saat ini Erlangga mulai bimbang dan dia mulai meratapi setiap kesalahan yang telah dia lakukan oleh Dita dan keluarganya. dia merasa perbuatannya ini begitu gegabah sekali karena memang tidak sepantasnya memberitahukan hal demikian kepada seorang yang memiliki penyakit jantung dan bahkan dia juga sudah melihat langsung kondisi ayah Dita itu berada di atas kursi roda.
Namun yang namanya cinta tidak bisa dibendungnya karena cinta yang tampak begitu sudah terpupuk di hati Erlangga menimbulkan rasa cemburu yang besar seketika itu membuatnya melampiaskan dan mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya di hadapan keluarga Dita.
Dalam lamunan yang seketika membuyarkan Erlangga tersebut tiba-tiba ponselnya berdering dengan kuat dan saat ini siapa lagi yang menghubunginya kalau bukan istrinya juga yang baru saja dia nikahi.
memang malas rasanya Dia mengangkat panggilan itu namun karena itu adalah panggilan yang entah ke berapa kalinya membuat dia juga terpaksa mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanyanya lemah.
"Pulang sekarang, atau jabatan kamu akan segera di copot!" ucap wanita itu.
Erlangga merasa terkejut dengan ucapan istri yang baru saja dia nikahi tersebut namun semakin bingung lagi saat ini dia ingin menebus segala kesalahannya dengan Dita itu dan satu sisi lagi jabatannya menjadi CEO tiba-tiba ingin dicopot oleh istri yang baru saja dinikahinya.
"Hei, kau siapa berani berbicara itu!" Bentak Erlangga seketika itu.
Mendengar dirinya dibentak seperti itu Erlangga kembali tampak mengeluarkan amarahnya yang begitu besar suaranya berteriak cukup kuat saat ini namun wanita dibalik talian telepon itu tidak kalah argumennya oleh suara Erlangga.
Ada apa selanjutnya?
Akankah Erlangga pulang?
Atau dia bertahan di kampung Dita?
Maaf semuanya kalian sudah menunggu lama, doakan saya selalu sehat ya.
__ADS_1