
"Sialan Erlangga! Tadi malam dia bersama Jani, hari ini dia juga membawa Jani!" umpatnya kesal sambil mengobrak abrik rambutnya.
Erlangga seolah menjadi dinding pemisah antara Erkan dan Dita saat ini. Kekesalan Erkan itu sulit dia luahkan, karena memang jabatannya tak setinggi seorang Erlangga Soeseno.
Satu sisi lagi, dimana para tamu undangan bayaran itu serta pak penghulu telah pun berangsur hilang dari villa terpencil itu.
Sekarang hanya ada beberapa penjaga disana, dan beberapa orang pelayan wanita yang sudah sedari tadi berada di dapur villa itu.
Erlangga mengajak Dita masuk ke kamar tersebut, jantung Dita berdegup kuat saat ini.
"Habislah kau Dita!" ucap Dita dalam hatinya.
"Hei! Kenapa kau masih berdiri disana? Cepat ganti pakaianmu!" Nada perintah itu terdengar kuat dan menakutkan di telinga Dita.
"Apa! ganti pakaian ku? Sekarang?" Tanya Dita yang tampak terbelalak.
"Apa perlu aku lemparkan map kuning isi perjanjian kita?" balas Erlangga.
"Ehm…tunggu sebentar, aku bersihkan wajahku dahulu," ucap Dita mengundurkan waktu dan dia mengalihkan pandangannya.
"Oke!" Jawabnya singkat.
Saat Dita duduk di depan meja rias itu, jantungnya deg-degkan dan dia saat ini tampak gemetar, hal ini tak pernah terpikir sama sekali. Erlangga pula membuka pakaiannya di belakang Dita dengan sengaja.
Dia memejamkan matanya, sambil membersihkan wajahnya dengan tisu basah.
"Astagfirullah, pria brengsek ini tampak sengaja!" umpatnya kesal.
Erlangga menatap wajah Dita memerah malu, dia memang sengaja membuat hal itu di depan Dita.
Saat ini Erlangga hanya memakai boxer polos saja dan bajunya sudah pun dia buka di hadapan Dita, sementara wanita itu masih takut memandang ke arahnya saat ini.
"Hey…jangan alihkan pandanganmu! Layani aku sekarang!"
Pipi Dita dicengkram dengan kuat, dan saat ini juga badan Dita gemetar hebat dia merasa takut juga ada trauma. Hanya Bisa menahan nafasnya dalam-dalam ingin membuang pandangan dari wajah arogan Erlangga sudah tidak bisa sekarang.
Tiba-tiba…
"Huh…siapa yang menelpon!" umpat Erlangga kesal dan melepaskan cengkramannya.
__ADS_1
Ponselnya berdering kuat, berulang kali membuatnya kesal dan dengan cepat dia menuju ponselnya yang tergeletak di atas ranjang berwarna merah menyala itu.
"Papa! Aduh..ada apalagi ini papa," umpatnya kesal.
Mau tidak mau dia menjawab dari panggilan papanya itu, mencoba mengeluArkan nada yang santai saat ini.
"Hallo Pa, ada apa?" tanya Erlangga.
"Erlangga, kamu lagi di kantor saat ini?" tanya Papanya kembali.
"Tidak Pa, aku sedang keluar kota bertemu klien kita," jawabnya.
"Tugas-tugas disini biar Erkan yang mengatur, Papa mau sekarang juga kamu terbang ke Thailand!" ucap Papanya tiba-tiba.
"Thailand? untuk apa Pa?" tanya Erlangga kembali.
"Disana ada saham kita 60 persen, dan nanti malam akan diadakan meeting bersama, atas pencapaian hotel yang ada di Pataya Thailand," jelas Papanya.
"Pa, kenapa bukan Papa saja?" Protes Erlangga kembali merasa waktunya terganggu.
"Tidak, Papa ingin kamu mengetahui segalanya tentang perusahaan kita ini, didalam negeri maupun yang di luar negri, berangkat sekarang atau jabatanmu Papa gantikan dengan Erkan!" ancam Papanya kembali.
"Tidak masalah, Dita kan sudah menjadi sekretarismu sekarang," ucap papanya yang sama sekali tidak keberatan itu.
Baru saja Dita ingin mengucap syukur atas kabar gembira ini, karena Erlangga ditugaskan keluar negeri, pikir Dita tadi. Namun ketika mendengar Erlangga meminta dirinya ikut juga, ternyata Tuan besar itu tidak mempermasalahkannya sama sekali.
Erlangga menatap penuh kemenangan lagi ke arah wajah Dita yang kini telah berubah menjadi ketakutan yang lebih besar lagi.
Panggilan itu pun telah berakhir, saat ini Erlangga yang ditugaskan harus segera berangkat ke negara yang dikenal dengan sebutan gajah putih tersebut kini dia kembali menghampiri Dita yang masih terpaku di depan meja rias itu.
"Hei! Jangan pura-pura tidak dengar pembicaraaanku tadi, cepat tukar pakaianmu dan kita berangkat ke Thailand sekarang!" Lagi-lagi nada perintah itu terdengar kuat di telinga Dita.
"Tapi…disini mana ada pakaianku?" Tanya Dita sambil protes juga.
"Jangan sok tau! Periksa lemari itu!" ucap Erlangga menunjuk lemari bernuansa coklat keemasan itu.
Dita melangkah malas ke arah lemari tersebut, dia pun harus mengikuti setiap arahan demi arahan yang Erlangga suruh kepadanya.
Karena sudah bergelar sah menjadi istri kontrak, dan memang sudah tertulis 7 perjanjian disana, semuanya menguntungkan Erlangga.
__ADS_1
Hak veto pun berada di tangan pria arogan itu. Sudah berada tepat di depan almari itu, Dita sedikit bingung ingin memakai baju yang mana.
Semua memang terlihat cantik dan mahal. Entahlah pikir Dita, Erlangga menyiapkan ini semuanya untuknya atau memang ini bekas orang lain yang telah dulu bersama dengan Erlangga, pikir Dita.
"Cepatlah! Mengapa kau hanya terdiam di depan lemari itu?" Bentak Erlangga kembali.
Terkejut Dita karena suara itu sangat kuat, membuat jantungnya tidak stabil, dan dia dengan cepat mengambil pakaian rancangan dari desainer prancis yang tampak sesuai di tubuhnya.
Dress merah yang menawan, Dita asal mengambil saja dia pun berlari ke kamar mandi saat ini, karena dia merasa malu jika harus bertukar pakaian di depan Erlangga.
"Hei..kamu mau kemana?" tanya Erlangga menghentikan langkah Dita.
"Aku mau tukar baju!" umpat Dita sambil mengelakkan bahunya yang saat ini sedang ditahan Erlangga.
"Ganti di depanku saja!" Perintah Erlangga yang membuat bola mata Dita terbelalak.
Erlangga tampak sengaja membuat Dita seperti itu, sedangkan Dita sendiri masih belum bisa menerima semua ini, sedangkan Erlangga dengan santainya membuka boxernya dihadapan Dita.
Saat ini Erlangga bukan dalam keadaan mabuk, dia sangat sadar dengan kelakuannya ini, dan dia sengaja membuat wajah Dita memerah serta wanita itu menutup matanya, dan kepalanya membuang pandangan dengan cepat.
"Jangan alihkan pandanganmu! Jika kau tidak ikut perintahku, maka kembalikan semua yang Aku berikan kepadamu sekarang juga!"
Lagi-lagi nada ancaman itu terdengar, membuat Dita pasrah dan perlahan membuka matanya untuk menatap kepunyaan Erlangga itu.
"Hmmm jangan hanya aku yang membuka pakaian, kau cepat buka sekarang!" perintahnya kembali.
"Huh…Erlangga..perutku tiba-tiba sakit, ijinkan aku ke toilet!" ucap Dita lalu dia pun lari tanpa Erlangga menjawab permintaannya itu.
Dita benar-benar masih belum sanggup melihat itu semua, dan dia juga belum sanggup memperlihatkan tubuhnya dengan keadaan sadar seperti ini di depan Erlangga, meskipun mereka sudah bergelar sebagai suami dan istri.
Akankah Erlangga marah besar kepada Dita nanti?
Atau kah Erlangga akan mengejar Dita masuk ke kamar mandi juga?
Namun, jelas terlihat disana, wajah Erlangga memerah dan dia tampak menyimpan amarah saat ini, Ceo patah hati itu tampaknya merasa dipermainkan oleh Rinjani Anindita.
****
__ADS_1