TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
TEGANG


__ADS_3

Malam ini keluarga Erlangga juga berkumpul makan malam bersama Miranda dan mamanya yang memang di ungsikan di rumah Erlangga tersebut.


Mereka sedari tadi menghubungi Erlangga namun tidak ada jawaban sama sekali dari ponselnya itu. Sedangkan suasana malam ini begitu tegang.


"Mir, memangnya Erlangga tidak memberitahumu sama sekali dia kemana hari ini?" Tanya mama Erlangga itu lagi.


"Tidak ma, Mama tahu sendiri kan, lagi pula pagi tadi Erlangga lebih awal bangun dibandingkan Mir," jawabnya.


"Lalu, kemana Erlangga perginya ya, padahal ini sudah malam loh, dia pergi pagi sekali, pa yang Erlangga lakukan di luar ini," ucap mamanya lagi.


"Entah lah Ma, mungkin dia suntuk atau bosan di rumah, mungkin saja dia ke rumah Erkan," ucap Miranda lagi.


Padahal Miranda sudah bisa menebak kalau Erlangga pasti menemui istri kontraknya itu. Miranda berpikir palingan Erlangga masih di area Jakarta saja, namun tidak ada yang tahu satupun Erlangga telah menyusul istrinya ke kampung halamannya.


"Oh..bisa jadi dia dengan Erkan sekarang, sebentar mama telpon Erkan ya," ucapnya sambil melahap sedikit daging.


"Ma, sudah nanti saja, makan saja dulu," ucap suaminya pula.


"Mama nggak enak Pa sama besan kita, masa baru sehari pernikahan Erlangga hilang begini," ucapnya.


"Gak apa-apa kok jeng, saya paham saja, Erlangga kan ceo pasti dia banyak kesibukan walaupun malam hari begini," sahut mama Miranda pula.


"Tuh..Mama Miranda saja pengertian Ma dan paham dengan kondisi Erlangga ," sahut papanya pula.


"Iya Pa, bersyukur kita punya mantu dan besan sebaik mereka ini, kalau besan lain pasti sudah tidak menyukai anak kita," sahutnya kembali.


"Iya yasudah ayo kita lanjut makan saja," ucap Papa nya lagi.


Sama halnya dengan Papa Miranda itu, nomor ponselnya juga di luar jangkauan, entah kemana pria yang kabur dari amukan pendemo itu, pikir Miranda dan mamanya.


Namun mereka berdua yang suka foya-foya itu tidak ingin memikirkan hal tersebut. Karena memang mereka sudah mendengar langsung dari mulut Papa Erlangga tersebut kalau beliau akan membantu semaksimal mungkin untuk perusahaan Papa Miranda tersebut.


Mereka sangat puas mendengar hal itu, membuat Mama Miranda semakin saja mendekati besannya tersebut. Miranda tampak tersenyum licik sekarang.


"Ini belum saatnya Erlangga ," ucapnya dalam hati.


Antara geram dan kesal sebenarnya dia, karena walaupun mereka telah menikah secara sah dimata agama dan negara namun tampak dirinya tidak diakui oleh Erlangga tersebut.


Dia menganggap Erlangga memang tidak bisa memaafkan kesalahannya. Namun bukan berarti Erlangga harus membuatnya seperti ini.


Di goda saja Erlangga bahkan menepis Miranda di hari pertama mereka menikah dan ingin melakukan hubungan layaknya suami dan istri itu.


Apa gairah Erlangga hanya untuk Rinjani Anindita?


Mungkin saja begitu, karena saat ini Erlangga bahkan rela menyusul ke kampung Dita yang jauh di mata itu demi mengobati kegelisahannya beberapa hari ini.


Apalagi malam ini, istrinya telah dilamar di depan mata kepalanya sendiri, oleh pria yang bergelar dokter itu.


Dia tampak panas, namun masih ditahan juga mengenai pernikahannya yang dari awal tersembunyi.


Jam semakin larut saja, sekarang menunjukan pukul sembilan lebih, Erkan yang saat ini duduk di balkon kamarnya masih menatap bintang dan bulan yang hanya menjadi peneman setiap gundah gulana Erkan.


Menggantikan Erlangga untuk beberapa hari ini, membuatnya senang awalnya bukan karena jabatan ceo itu, namun karena dia berharap bisa bekerja dan berdekatan selaku dengan Dita.


Namun nyatanya, Dita mengambil cuti yang cukup panjang. Mahu tidak mahu Erkan menyetujui hal itu, yang Erkan tahu memang Dita bekerja untuk menghidupi keluarganya tersebut.


Erkan seorang yang puitis juga, meskipun dia lelaki namun caranya meluahkan kegalauan tidak sama dengan Erlangga yang mabuk-mabukan menghabiskan waktunya di luar Erkan pula dia lebih senang menulis bait-bait indah sambil menatap kekuasaan Tuhan itu.


Karena dia galau beberapa hari ini, Dita tidak dia temui untuk waktu yang cukup lama baginya itu, ditemani secangkir cappucino hangat dan buku diari serta pena itu sudah pun mulai bergerak.


Aku hanya deretan bintang yang menantimu di kejauhan


Aku menanti tanpa tahu kapan kau menatapku


Kita berdekatan, namun kau masih saja menutup cahayamu untukku


Padahal kau penebar cahaya pada kegelapanku


Jika Aku redup, menatapmu dari jauh sudah membuat aku berkelip kembali


Banyak hujan yang mengganggu kita


Ada juga matahari yang menjadi penjeda kita bertemu


Aku ini bisa apa?

__ADS_1


Hanya kejora yang tak tahu kapan kau sapa.


Sepenggal puisi dari Erkan telah kembali tercipta, hanya itu yang dia mampu luahkan dalam perasaannya yang selama ini mencintai dalam diam.


Padahal ada wanita yang selalu menunggu Erkan juga, wanita itu diam-diam menyimpan cintanya untuk Erkan layaknya Erkan ke Rinjani Anindita.


Begitu lah tentang cinta, sulit di cerna dan dijamah oleh mata yang terbuka. Ada orang yang kita cinta namun tak berani kita luahkan, dan ternyata kita pun ada yang mencintai namun sama halnya tak berani mengungkapkan.


Apakah sakit hanya mencintai sebelah pihak saja?


Namun devinisi cinta sejati adalah, Dia yang mencintai dengan rela tersakiti namun enggan beranjak pergi.


Apakah cinta adalah sebuah egoisme yang dibalut dengan sejumlah kata indah?


Orang bilang adanya cinta membuat setiap insan bahagia, layaknya kebun bunga akan mekar selalu.


Namun apa jadinya kalau cinta yang tumbuh hanya bertepuk sebelah tangan, apa itu yang dikatakan bahagia?


Kata orang juga, kita harus bisa menerima setiap takdir kita atas kehendaknya. Ya itu memang benar, setiap kata orang itu sangat mudah diucapkan namun bagi yang terkena akan sulit menjalaninya.


Banyak orang banyak bisa berbicara sabar, mengatakan ikhlas dan banyak juga yang bilang nikmati saja.


Mungkin kalimat ini sangat positif bagi dia yang belum merasakan hal sakit sesungguhnya, beda halnya dengan yang menjalankan namun sulit untuk meluahkan.


Erkan menghirup kembali cappucino nya itu, membaca ulang-ulang yang dia tuliskan dan terbesit lagi rasa rindu kepada wanita yang dia simpan di relung hatinya itu.


Ponselnya yang sedari tadi bersebelahan dengan cappucino nya itu, kini dia raih dan menatap layar ponselnya mencari nama seorang Jani yang dia panggil tersebut.


Tut…


"Ha..aktif?" ucapnya terkejut dan jantung pun berdebar sekarang.


Beberapa hari ini memang sulit Dita dihubungi, namun tak sengaja menekan nomor itu kini ada talian yang menunjukkan ponsel Dita telah aktif.


Sedangkan Dita saat ini sedang tegang-tegangnya berbincang dengan Ayahnya dan suaminya serta seorang yang sedang melamarnya.


Suara ponsel Dita memecahkan ketegangan itu. Kini Dita melihatnya namun semakin bergetar lagi hati Dita karena takut dia melihat Erkan yang menelponnya.


Erlangga menatap wajah Dita dengan tatapan yang cukup aneh, karena tampak Dita saat ini gugup ingin menjawab panggilan dari Erkan itu.


"Iya Dita jawab saja," ucap Erlangga pula seolah penasaran siapa yang menghubungi istrinya malam-malam begini.


Dia yang sedari tadi panas mendengArkan pak dokter melamar istrinya kini tambah panas lagi ada panggilan telepon namun Dita tampak takut menjawabnya.


"Huh…"


Hempasan nafas yang sulit di definisikan, namun karena banyak paksaan dari orang sekitarnya yang harus mengangkat panggilan itu kini Dita menatap Erlangga seolah meminta izin dengan bahasa matanya.


"Iya angkat lah, mana tahu itu penting dari teman kantor kita kah?" Tanya Erlangga seolah penasarannya yang tinggi namun dia tutupi dengan mengontrol emosinya.


Hanya di balas anggukan saja oleh Dita itu saat ini. Mendengar ucapan sang suami yang telah memberikan izin itu, kini panggilan Erkan telahpun terhubung.


"Hallo assalamualaikum," ucap Dita mendahului.


"Waalaikumsalam Jani," jawabnya begitu antusias saat ini karena mendengar suara wanita pujaan hatinya itu.


"Iya Pak Erkan, ada apa menghubungi saya malam begini?" Tanya Dita yang tampak formal menyebut nama Erkan dengan sebutan Pak.


Raut wajah Erlangga semakin geram saja, bisa-bisa Erkan menghubungi Dita selarut ini, apalagi Dita kan telah memberitahukan kepadanya kalau dia di kampung ada urusan, rasanya tidak mungkin saja malam begini Erkan ingin membicarakan perihal kerjaan kepada istrinya itu.


"Jani, apa kamu baik-baik saja? Ini kan bukan di kantor, jangan seformal ini, aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja," ucapnya sedikit heran.


"Iya saya baik-baik saja, apa ada hal lain yang ingin dibicarakan?" Tanya Dita lagi seolah ingin cepat mengakhiri panggilan itu.


Karena memang mata Erlangga sangat menahan amarah besar menatap istrinya tersebut, makanya dia ingin cepat mematikan panggilan itu, namun tampak Erkan ingin lebih lanjut lagi berbincang karena sudah berapa hari menahan rindu yang dalam.


"Dita, apa keluargamu sehat disana?" Tanya Erkan lagi.


"Alhamdulillah semua sehat disini," jawab Dita serba salah.


Ingin cepat mengakhiri namun Erkan terus saja mencari topik pembicaraan agar panggilan mereka tetap terhubung.


Bukan hanya wajah Erlangga saja yang menatap marah sekarang, wajah sang dokter yang baru saja melamar Dita di hadapan suaminya itu pun kini menatap dengan tatapan cemburu.


"Hem…Dita, itu Erkan bukan, sini ponselmu biar aku yang bicara," ucap Erlangga pula.

__ADS_1


Erlangga tiba-tiba angkat suaranya kali ini, tampaknya sang ceo galau sudah tak sanggup mendengar istrinya berbincang dengan Erkan tersebut.


Jantung Dita berdetak dengan kuat saat ini, dia takut Erkan akan mencurigai dirinya kalau sampai Erlangga berbicara dengan Erkan.


Sedangkan yang Dita tahu ini hari adalah hari pernikahan Erlangga , namun entah mengapa pria itu bisa sampai malam ini ke rumahnya itu.


Dita belum sempat bertanya apapun, karena memang begitu Erlangga sampai dia langsung di ajak berbincang oleh ayahnya dan mereka makan bersama.


Namun dia tahu siapa suaminya itu, jika dia sudah mengatakan ingin berbicara maka tidak ada penolakan baginya.


Dita mulai melemah, dia memberikan ponselnya perlahan kepada Erlangga yang saat ini jaraknya tidak begitu terlalu jauh dengan Dita itu.


"Hallo..Erkan!"


Tut..tut…


"Hallo Jani..halo!" Teriak Erkan pula yang heran dan menatap layar itu.


"Ah sialan, terputus!" umpat Erkan kesal.


Baru saja Erlangga ingin angkat bicara, tak tahu apa yang akan dia luahkan dengan Erkan, namun ketika dia ingin berbicara dengan sepupunya itu, tiba-tiba ponsel sang istri mendadak mati.


"Dita, ponselmu mati," ucap Erlangga menyerahkan ponsel itu kembali kepada Dita.


"Oh..mungkin baterainya lowbat tadi," ucapnya sedikit gugup namun memang ada kelegaan disana.


Bagaimana tidak lega, setidaknya kalau Erlangga tidak bicara maka akan berkurang masalahnya malam ini. Sedangkan kedatangan sang dokter ini saja pasti akan menjadi masalah besar diantara keduanya nanti.


Namun apapun itu Dita harus bisa menghadapinya. Karena sejatinya kehidupan ini adalah antonim Tuhan untuk setiap manusia.


Adakalanya kita bahagia dan ada kalanya kita berduka. Ya, hanya sebuah antonim Tuhan yang hanya bisa kita jalani saat ini.


Panggung yang telah diberikan Tuhan kepada kita sekarang hanya bisa kita perankan sebaik mungkin agar sukses hingga akhir dari drama kehidupan ini.


Erlangga mengumpat dalam hatinya, dia yang selama ini menjadi pria yang arogan dan tidak pernah sabaran itu, dirumah sederhana itu sang ceo harus bisa meredam amarahnya dan harus bisa sabar menghadapi situasi yang ada.


"Hem..apa Erlangga ini menginap disini pak?" Tanya Yogi kepada ayah Dita.


"Iya nak, karena memang nak Erlangga ini dari Jakarta, rasanya kalau ingin mencari penginapan akan jauh, maka bapak sarankan nak Erlangga menginap disini saja," ucap ayah Dita itu.


"Oh…kalau memang Erlangga mau ikut saya ke rumah untuk bermalam, saya tidak masalah pak," ucap sang dokter pula menawArkan rumahnya untuk menjadi penginapan tamu Dita itu.


"Oh…tidak perlu dokter Yogi, terima kasih banyak tawaran anda, saya menginap disini saja," sahut Erlangga langsung.


Ayah Dita memperbolehkan Erlangga menginap karena memang ada dua orang adik lelaki Dita juga di rumah ini, jadi Erlangga bisa tidur bersama mereka.


Kalau anaknya perempuan semua kemungkinan ayah Dita tidak akan mengijinkan tamu lelakinya menginap di rumah itu.


Malam semakin larut, Erkan dengan kekesalannya karena telepon itu terputus, sang dokter pula dengan kekesalannya karena Erlangga diperbolehkan menginap di rumah yang dia anggap itu adalah rumah calon jodohnya.


"Hem…aku harus cari akal nih, takutnya pria Jakarta ini mencari kesempatan kalau lengah takutnya calon istriku di apa-apainnya lagi," ucap sang dokter tampak takut meninggalkan rumah itu.


Karena malam semakin larut sudah sekarang ini, dia pun meminta undur diri alias berpamitan dengan keluarga Dita itu.


"Bapak, karena ini sudah larut juga, saya izin pulang dulu, minggu depan in sha allah saya datang dengan keluarga saya kalau Dita berkenan," ucapnya lagi sengaja mengulangi hal itu agar Erlangga undur diri kalau memang ada niatan untuk mendekati Dita pikir sang dokter.


"Baik lah nak, bapak hanya bisa doakan kamu selamat di jalan, apapun itu keputusan ada di tangan anak bapak, yaitu Rinjani Anindita," sahut bapaknya Dita itu.


Hanya di balas anggukan, saat ini mereka mengantArkan sang dokter ke halaman rumah Dita tersebut.


Erlangga hanya tersenyum kecut saja, namun dia lega karena dokter itu telah pun pulang, sedari tadi dia muak dengan ucapan sang dokter yang tampak di ulang-ulang mengingatkan hal itu, ngin saja rasanya Erlangga menonjok wajah dokter tampan itu.


Dret…


Dret..


"Kenapa mobilnya nak?" Tanya Ayah Dita.


"Tidak tahu ni pak, sepertinya mogok," ucapnya yang tampak mencari ide saat ini.


Akankah Erlangga Harlan bertindak melihat kejadian ini?


Jangan lupa komentarnya ya gais dan bintang limanya terima kasih untuk dukungan kalian.


***

__ADS_1


__ADS_2