
Dita mencoba menghentikan Erlangga saat ini, dia mengatakan dirinya sangat lapar karena memang dari Appartmen hingga kantor dia belum melahap makanan apapun.
Gairah yang sudah naik tadi, seketika turun karena tindakan Dita tersebut. Erlangga ingin marah, namun dia yang memang masih ada prikemanusiaan itu mencoba menyeimbangkan logika dan hatinya kembali.
"Oke, kita sarapan disini saja!" ucap Erlangga tampak tegas.
"Hmmm kenapa gak di luar saja?" Protes Dita.
"Hei, cukup mencari alasan, atau kau mau melihat kemarahanku yang sebenarnya?" Tanya Erlangga dengan nada ancaman.
Dita hanya bisa diam, saat ini Erlangga mencoba menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar saja.
Dita yang sedari tadi mencoba mencari celah agar pagi ini tidak terjadi apapun diantara mereka. Namun tampaknya Gairah Erlangga terhadap Dita cukup besar.
Katanya tidak cinta, namun gairah dan nafsu itu terus saja melanda jiwa Erlangga. Apa memang Dita hanya sebagai pelampiasan nafsunya semata?
Tapi ketika di hotel Pattaya beberapa waktu lalu, mereka berdua yang melakukan kegiatan suami istri dengan keadaan sadar tersebut, Erlangga sama sekali tidak mengingat Miranda di pikirannya.
Apakah Rinjani Anindita telah menyihir pikiran seorang Erlangga?
Entahlah, tapi saat ini Erlangga memang ketagihan dengan tubuh indah milik istrinya tersebut. Dia tidak bisa meninggalkan Dita lama-lama, jika mengingat kembali adegan-adegan sebelumnya bersama Dita gairah Erlangga terus saja memuncak.
Tidak menunggu lama, makanan yang di pesan oleh Erlangga sudah pun sampai saat ini. Bahkan pintu kamar itu Erlangga sendiri yang membukanya, dia sengaja membiarkan Dita tetap di ranjang agar Dita tidak mencari cara lagi kabur dari dirinya tersebut.
Sudah berbagai macam cara Dita pikirkan, namun untuk menghindari Erlangga yang sangat bergairah itu sudah tidak bisa lagi. Saat ini hanya bisa pasrah saja, lagi pula ini bukanlah perzinahan, namun memang waktunya saja yang kurang pas.
"Cepat makan! Dan kau…akan aku makan!" ucap Erlangga dengan senyum liciknya.
Ucapan itu membuat Dita bergidik merinding, namun dia yang dipaksa dengan cepat melahap makanan itu akhirnya perlahan membuka mulutnya dan melahap nasi goreng yang ada di hadapannya tersebut.
Dita merasa tidak enak saat ini, Erlangga menatapnya tajam. Entah apa yang dipikirkan pria ini terhadapnya.
__ADS_1
Tidak mau menatap wajah suami kontraknya itu, dia mencoba menenangkan perasaannya dan tetap melahap makanan itu dengan hati yang cukup gelisah.
"Hmmm ternyata dia cantik juga," gumam Erlangga dalam hatinya.
Matanya menatap tajam, namun hatinya ternyata manatap sendu dan tampak terpukau. Baru menyadari kalau sekretaris sekaligus istri kontraknya itu benar-benar cantik.
Erlangga yang masih gengsi tersebut tetap menunjukkan kearoganannya terhadap Dita. Sedangkan Dita saat ini telah pun menghabiskan makanannya dengan cepat.
Satu sisi lagi Arkan yang mencoba mencari Dita di ruangannya kembali saat ini mendapatkan kekecewaan lagi dan lagi. Karena memang Dita tidak ada diruangan tersebut.
"Ah sial! Kemana Jani dibawa sama Erlangga sepagi ini? Padahal setahuku tidak ada jadwal meeting hari ini," ucap Erkan dengan nada kesalnya.
"Hem..sudah siapkah?" Tanya Erlangga kembali dan mendekatkan matanya ke arah Dita yang saat ini masih mengelap mulutnya dengan tissu.
Dita hanya melirik ke arahnya dan menelan salivanya kembali. Walaupun ini bukan yang pertama lagi, namun tetap saja Dita masih belum bisa sepenuhnya percaya diri untuk melakukan hubungan suami istri dengan keadaan sadar begini.
Hidung Erlangga mendekati leher putih milik istri kontraknya itu. Dita merasa merinding bulu kuduknya sekarang. Dan saat ini Gairah Ceo Galau itu semakin naik lagi.
Baru mencium haruman leher Dita saja si jojo milik Erlangga sudah tegak menghadap langit. Dia pun terus berjalan menuju yang dia inginkan.
Dita menjadi terlena sekarang, mencoba mengikuti irama nafas Erlangga yang tampak bergejolak.
"Sayang…aku mau yang ini," ucap Erlangga dengan lembut sambil tangannya mencapai dua benda kembar milik ostrinya itu.
Ucapan sayang ini hanya berlaku diatas ranjang saja, entah itu untuk menambah hasrat gilanya atau memang itu racauan jujur yang keluar dari lubuk hati yang seperti batu itu.
Terbuai Rinjani Anindita dengan racauan Erlangga dan tangan Erlangga yang saat ini sudah memainkan dua benda kembar milik istrinya itu.
Rinjani Anindita tidak bisa berkata sepatah apapun, tangannya pun refleks memeluk erat tubuh Erlangga saat ini. Entah mengapa Dita tidak ingin melepaskan dekapan Erlangga, terasa hangat dan tampak Dita menyukai kecupan Erlangga di area kembar itu.
Dita mengeluarkan suaranya yang hampir tidak terdengar itu. Suara angin surga itu terdengar dan membuat gairah Erlangga semakin kuat lagi.
Saat ini sambil tangan itu memutar keduanya, mulut Erlangga pula geram dengan bibir mungil milik Dita tersebut.
Telah lenyap saat ini antara mereka berdua tampak sangat menikmati pagi sejuk didalam kamar hotel tersebut.
__ADS_1
Yang awalnya Dita menolak itu namun tubuhnya pula tampak tidak ingin melepaskan hal ini dan Dita tampak semakin mengikuti gairah suaminya tersebut.
"Hm..jangn berhenti," tiba-tiba Dita juga meracau ucapan itu.
Tersenyum puas Erlangga saat ini, bukan dirinya saja ternyata yang merasa nikmat sendiri, namun dia sudah berhasil membuat Dita terbuai sekarang.
Dan saat ini keduanya mencoba mengikuti irama yang sama, tampak Erlangga sudah tidak bisa menahan apa yang ingin dia keluarkan sekarang.
Bersamaan mereka berdua saat ini melepaskan apa yang ingin lepas diantara keduanya. Melepas kenikmatan untuk sebuah kepuasan yang akan mereka ingat nanti.
Peluh sudah membasahi kasur putih tersebut, mereka berdua berpacu dengan cepat, Dita hanya bisa mengikuti alunan Erlangga.
"Oh..sayang!" Teriak Erlangga kuat sekarang.
Dita menahan itu, namun tumpah juga Erlangga bersama kenikmatannya dan tubuhnya melemas setelah kuat memeluk erat Dita yang pisisinya berada dibawahnya tersebut.
Hanya bisa pasrah, Dita berkeringat hebat begitu juga suaminnya itu, yang saat ini Erlangga terbaring lemah dengan tangan di rentangkan di kasur, dan matanya terpejam dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Sedangkan Dita masih menutupi dirinya dengan selimut tebal itu, dia sesikit malu. Namun ada rasa puas juga karena melihat Erlangga yang tampak puas dengannya tersebut.
Dita masih belum bergerak dari kasur itu, dia juga masih menatap Erlangga yang lelah tersebut. Tiba-tiba pria yang menutup matanya itu mengeluarkan suaranya kembali.
"Cepat bersihkan tubuhmu, dan jangan lupa menelan obat agar kau tidak hamil!" ucap pria arogan tersebut.
Inilah nasib dari Rinjani Anindita, dia melemah seketika dan sadar diri akan siapa dia saat ini. Dia hanyalah istri yang dibutuhkan diatas ranjang saja, namun dirinya memang tampak tidak diinginkan oleh Erlangga.
Akankah Erlangga mencintai Dita?
Atau Erlangga tetap menunggu Miranda?
****
__ADS_1