
"Erlang! Lepaskan aku! Kau ini apa-apaan!" Ucap Erkan sambil menarik kerah bajunya.
"Aku takkan lepaskan kau sebelum kau menjawab pertanyaanku! Dimana wanita itu bersembunyi!" ucapnya lagi dengan semakin kuat pegangan itu.
Erlangga seperti orang kerasukan setan saja. Bahkan dia masuk tak ketuk pintu dan langsung menyerang serta menuduh sepupunya seperti itu.
Sedangkan Erkan pula masih tidak mengerti mengapa sikap pria satu ini seperti orang yang tampak begitu marah.
Apa Dita membuat kesalahan?
Dan apa Dita tidak masuk beberapa hari ini karena ada sesuatu?
Tanya Erkan dalam benaknya sekarang. Namun dia mencoba menjelaskan kepada Erlangga kalau dia memang tidak tahu dimana sekretaris pribadinya itu saat ini.
"Erlang, aku pun sedang mencari Dita! Dia gak kelihatan dari tadi," ucap Erkan pula dengan kuat.
"Apa? Dita gak masuk? Tanya Erlangga sambil tangannya mulai melemah dan melepaskan kerah baju sepupunya itu.
Erkan merasa geram juga dengan sikap Erlangga yang tampak menuduh sembarangan itu. Untuk apa dia menyembunyikan Dita, pikir Erkan saat ini.
"Kemana Dia?" Tanya Erlangga lagi.
"Aku juga tidak tahu Erlang, baru saja aku turun ke bawah bertanya ke awah apa Dita ada terlihat tadi," ucap Erkan lagi menjelaskan.
"Jadi apa katanya?" Tanya Erlangga kembali.
"Receipsionis bilang Dita memang tidak terlihat pagi ini, padahal pagi ini aku ada meeting di outdoor," ucap Erkan.
"Kemana dia?" Tanya Erlangga sedikit gundah.
"Kau ada masalah apa dengan Dita, sehingga semarah ini mencarinya?" Tanya Erkan mencoba menenangkan Erlangga juga.
Mendengar pertanyaan Erkan itu membuat Erlangga terdiam dan dia terduduk sejenak. Sedangkan memang Dita dan dia tidak memiliki masalah apapun namun mereka memiliki rahasia yang belum terungkap oleh siapapa pun.
"Tidak ada," jawab Erlangga singkat.
"Lalu, mengapa kau mencari Dita sampai begitu?" Tanya Erkan lagi mencoba menyiasat lebih dalam.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!"
Setelah mengatakan hal itu, ceo arogan tersebut pun langsung keluar dari ruangan tersebut tanpa meminta maaf kepada sepupunya itu.
Erkan hanya bergeleng kepala saja, merasa ada yang aneh dengan sikap Erlangga tersebut. Dan dia juga takut Dita terkena maslaah besar saat ini.
Erkan masih bertanya dalam hatinya, mengapa Erlangga mencari Dita dengan begitu marahnya. Dan Dita pula tidak masuk kerja tanpa ada menitipkan kabar apapun kepada rakan di kantor itu.
Erlangga saja sebagai suami tidak dia beritahukan, karena memang dia yang panik dan kalang kabut mendengar berita ayahnya di kampung kembali kritis.
Sedangkan dia menerima pernkkahan ini karena untuk berkorban demi kesembuhan sang ayah dan berkorban untuk menyekolahkan ketiga adiknya itu.
Jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang sekarang. Erlangga yang tadinya sempat ke kantor dan sempat kembali ke rumahnya sejenak untuk bertukar pakaian kini dia tanpa pikir panjang ingin mencari Dita ke Appartmen yang telahcdia berikan kepada Dita itu.
"Lihat saja nanti kalau kau ketemu aku memberimu pelajaran!" Umpat mnya dengan kesal dan mobil itu sangat laju dia kendarai.
Karena sudah siang, dan memang adik-adik Dita yang tidak pernah meninggalkan ayah mereka tersebut di ruangan biasa saat ini mereka berkumpul.
Sang dokter membawakan mereka makanan. Dita tampak tidak enak hati saja karena prilaku sang dokter yang terlalu baik dinilainya.
Jika nanti sang dokter minta balasan atas perbuatannya ini, mungkin Dita tidak bisa membalas apa yang dia minta.
Satu sisi lagi ayah Dita yang sudah sadErkan diri dan mereka dalam ruangan itu yang saat ini sudah bercanda bahkan besok katanya ayah Dita sudah di perbolehkan pulang oleh dokter muda dan tampan itu.
."Syukurlah ayah sakit begini, jadi kamu bisa pulang karena sudah lama kamu gak pulang kan nak," ucap ayahnya kembali.
"Yah, jangan bicara seperti itu, Dita tidak pulang karena memang Dita sibuk bekerja untuk ayah dan adik-adik," sahut Dita mencoba menjelaskan.
Semakin kagum saja dokter itu melihat Dita yang cantik dan juga pekerja keras tersebut. Bahkan Dita sangat menyayangi keluarganya.
"Iya nak, tapi kamu berapa hari ambil cuti kerja?" Tanya ayahnya kembali membuat Dita teringat akan satu hal.
"Astaga Yah, Dita lupa kalau Dita belum membuat surat izin kepada atasan," ucapnya yang tampak bingung sekarang.
Bagaimana dia ingat karena memang begitu mendengar kabar Ayahnya yang kritis tersebut dia langsung saja tanpa pikir panjang untuk berangkat ke kampung halamannya itu.
Bahkan untuk mengaktifkan ponselnya pun dia sekarang lupa juga. Mencari dimana ponsel itu berada, ternyata di tasnya yang kecil dan memang dari kemarin tidak dia aktifkan.
__ADS_1
Erlangga pula yang sudah sampai di Appartmen itu dan sudah masuk ke kamar yang biasa menjadi saksi bisu antara dia dan Dita.
Ya! Teringat beberapa hari lalu dia yang sempat disini, dan membuat janji ajan datang kembali.
Kamar itu masih rapi dan tampak maaih ada haruman Dita tertinggal. Membuat dia nyaman dan merebahkan tubuhnya diatas kasur itu.
"Kemana dia?" Tanya Erlangga lagi smabil kedua tangan dia atas kepalanya.
Dita sudah mengaktifkan ponselnya kembali saat ini, baru saja ponsel itu aktif bajyak notifikasi masuk bertubi-tubi. Mulai dari pesan Erlangga hingga Erkan yang masuk ke ponseljya itu.
"Yaampun pasti Erkan mencariku untuk pekerjaan," ucapnya yang memang saat ini membaca chat Erkan mengenai meeting siang ini.
Dan tampak Erkan menjelaskan kalau dirinya beberapa hari kedepan menggantikan Erlangga sebagai ceo, jadi Dota harus mendampinginya sebagai sekretarisnya juga.
Namun, saat ini bahkan dia yang ingin mengambil cuti itu belum menghubungi siapapun juga.
"Aku harus menghubungi Erkan dulu," ucapnya yang saat ini tampak mengabaikan pesan-pesan dari Erlangga.
Dengam cepat nomor ponsel Erkan telah berada di layar depan itu dan sekarang Erkan yang sejak tadi memang menunggu kabar Dita dia yang maaih melahap makan siangnya dalam ruangan tersebut terkejut dengan deringan ponselnya sendiri.
Melihat siapanyang menghubunginya, Erkan girang dan tersenyum lebar saat ini. Tanpa berpikir panjang dia dengan cepat menjawab panggilan dari pujaan hatinya itu.
"Jani..kamu dimana?" Tanya Erkan yang tampak senang sekarang bahkan dia tidak menunggu Dita mengatakan halo padanya.
"Erkan, aku sedang berada di kampungku," ucap Dita.
"Di kampung? Kenapa kau tidak memberitahukan ku? Apa ada masalaah di kampung?" Tanya Erkan lagi.
"Iya ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan disini, tolong berikan aku izin untuk cuti satu minggu," ucap Dita kembali.
"Baiklah kalau begitu, aku sekarang lega kamu ada kabar lagi, kalau kamu butuh apapun jangan sungkan hubungi aku," ucap Erkan kembali.
"Iya terima kasih, aku tutup dulu ya," ucap Dita ingin cepat mengakhiri panggilan itu karena tidak enak berbicara ada orang yang terus melihat dirinya.
"Jani..tunggu, ada yang mau aku tanya," ucap Erkan menghentikan Dita menutup panggilan itu.
****
__ADS_1
Hayo..apa ya kira-kira pertanyaan Erkan tersebut?