TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
ERLANG MARAH


__ADS_3

   "Kita mau makan dimana?" Tanya Dita membuka kebisuan itu.


  Erkan sedari tadi tampak gugup, entah mengapa dia yang sudah berniat untuk mengutarakan perasaannya saat ini, namun semenjak Dita masuk kedalam mobilnya itu Erkan hanya sanggup curi curi pandang ke arah Dita.


   Pria tampan ini, tampaknya memang merasa  gugup. Jantungnya sedari tadi berdetak kencang, entah mengapa melihat Dita memakai pakaian dress hijau itu membuat jantungnya semakin tak berhenti berdegup.


  "Erkan, apa kau sehat?" tanya Dita lagi yang melihat dahi Erkan berkeringat.


 "Hm..iya Jani, aku sehat aja kok, oh oya kamu maunya kita makan dimana?" Mencoba Erkan mengimbangi percakapan santai itu meskipun saat ini dia gelisah.


  "Kan kamu yang ngajak, terserah kamu saja," jawab Dita tersenyum.


 "Oke, ke restoran yang dulu pernah kita kunjungi saat meeting mau?" Tanya Erkan kepada Dita.


"Restoran dengan nuansa western itu?" Tanya Dita.


"Iya Restoran Italia itu, apa kamu mau?" tanya Erkan kembali.


"Boleh juga," jawabnya.


  Mobil Pun ditujukan ke arah sana, jalanan malam ini cukup santai mereka lewati. Walaupun keduanya memiliki kegelisahan mendalam namun keduanya mencoba tenang menyembunyikan segala kegelisahan mereka.


   Ya, Dita gelisah karena besok dia akan menikah diatas kontrak perjanjian. Sedangkan Erkan dia gelisah bahkan bingung bagaimana mengutarakan perasaannya malam ini.


      Tiga puluh menit berlalu dengan begitu saja. Mobil pun telah terparkir di area parkir restoran ternama itu. Mereka memang pernah meeting bersama pihak investor disini, jadi untuk keduanya restoran ini tidak asing. 


       "Silahkan keluar Tuan putri…" ucap Erkan membukakan pintu untuk Dita yang dia panggil dengan sebutan Jani itu.


    "Erkan, jangan memanggilku seperti itu," balasnya sambil tersenyum dan turun dari mobil sport mewah  milik Erkan.


     Mereka berdua pun telah memasuki kawasan restoran, ada bagian room private ada juga yang bagian umum disana.


    Tampaknya mereka mengambil bagian yang umum saja. Duduk berdua bak pasangan serasi, jujur saja jika disandingkan dengan Erkan pun Dita tetap layak menjadi pasangan bagi siapapun, termasuk Erkan Harlan sepupu dari Erlangga Harlan itu.


     Namun, jika dikata dengan takdir Tuhan, siapapun tidak bisa menepis sebuah takdir yang Tuhan telah ciptakan.


     Seorang pelayan telah pun mendekati mereka saat ini, jam telah menunjukkan pukul sembilan tepat. Suasana yang syahdu dan romantis, ada alunan biola khas eropa di sana dimainkan.


   Semakin jelas keringat di dahi Erkan membasahi untuk tanda sebuah  kegelisahan, padahal restoran ini terbilang dingin.


     "Kamu mau pesan apa?" tanya Erkan kepada Dita dengan hangatnya.


    "Pesan yang ini, dan minumnya yang ini," jawab Dita sambil menunjukkan menu yang ada di meja itu.

__ADS_1


   Pelayan itu mengangguk mengerti dan Erkan juga mengikut menu yang  sama dengan apa yang Dita makan. Tampaknya pria itu benar-benar ingin menunjukkan ketertarikannya kepada Rinjani Anindita.


    "Aku itu khawatir banget hari ini sama kamu," ucap Erkana mencoba memulai topik pembicaraan sambil menunggu pesanan mereka datang.


  "Jangan khawatir, tadi siang aku sedikit tidak enak badan," jawab Dita.


  "Oh..iya, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu," ucap Erkan kembali yang membuat Dita menaikkan satu alisnya.


   "Tentang apa?" tanya Dita  kembali.


   "Tadi siang pak Ceo ke ruanganku meminta alamat kosan mu, apa dia telah sampai menemuimu?" Siasat Erkan kepada Dita saat ini.


   Baru saja ingin menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar suara deheman seorang pria yang tak asing di telinga mereka.


    "Ehem..!


  Empat pasang mata itu melirik ke arah suara tersebut. Bukan main terkejutnya Dita saat ini, melihat pria yang begitu dia benci berdiri di hadapannya.


   "Katanya tadi siang sakit, katanya mintak cuti kembali, katanya badannya lemah, malam-malam begini bisa-bisanya keluar pacaran!" umpatnya tanpa menyapa Erkan terlebih dahulu.


  "Erlangga? Kamu disini juga?" Tanya Erkan mencoba menengahi.


  "Erkan, kamu bisa diam sebentar? Aku mau bertanya dengan sekretaris penuh drama ini," ucapnya sinis ke arah Dita.


  "Erlangga! Kamu duduklah dulu, jangan seperti kekanakan," ucap Erkan lagi.


   Dita tampak gugup kembali, namun dia hanya bisa tertunduk saja, pria yang tepat di hadapannya ini benar-benar membuatnya tidak berkutik.


  "Kenapa hanya tertunduk?" Tanya Erlangga kembali seolah terus menyudutkan Dita.


  "M..maaf pak, tadi saya memang sakit, tapi karena pak Erkan telah sampai di kosan saya untuk mengajak dinner saya pun tidak bisa menolaknya," jawab Dita sedikit tergagap dan seolah tidak ada masalah apapun diantara mereka berdua.


   Seolah tahu sudah dengan jawaban pertanyaan Erkan sebelumnya tadi, ternyata Erlangga benar-benar menemui Dita tadi siang, pikirnya.


    "Jadi bagaimana kondisimu saat ini? Apa besok masih jadi ambil cuti?" Besok saya rapat diluar, saya mau kamu bersiap lebih awal, tidak usah ke kantor, saya akan menjemputmu di depan kosan mu!" ucapnya tajam.


  "M…mm iya baik pak," jawabnya singkat.


  "Oh..satu lagi Erkan, Dita ini kan sekretaris Aku, dan besok aku ada meeting penting dengan investor luar, dan kulihat dia kurang sehat, lebih baik dia pulang lebih awal," ucapnya mengarah kepada Erkan.


"Erlangga, aku tahu kamu Ceo di perusahaan kita, tapi hal privasi seperti ini kamu tidak berhak mengaturnya," sanggah Erkan sedikit geram.


"Dita…jika kamu besok terlambat maka ada sanksi  beratnya!" Nada itu terdengar ancaman di telinga Dita saat ini. 

__ADS_1


   Hanya bisa menelan salivanya saja, belum menjadi istrinya saja sudah menyakitkan hati seperti ini, pikir DITA.


    "Mmm baiklah, nanti selesai makan kami akan pulang!" Erkan pun menegaskan kembali.


   "Ini sudah jam sembilan lebih, tidak baik Dita yang katanya sakit, demam, pusing, berlama-lama di luar seperti ini, sudahlah biArkan Aku antar dia pulang, lagipula aku sudah selesai makan dari sini," ucap Erlangga  memerintah keduanya.


"Erlangga, Dita bahkan belum memakan atau meminum apapun, pesanan pun belum sampai!'' Erkan tampak protes dengan keputusan sepihak dari Erlangga itu.


  "sudah..pak Erkan tidak mengapa, pak Ceo benar, tadi siang saya memang mengatakan  itu kepadanya, biarlah saya pulang lebih dulu dengannya, nanti dirumah saja saya makan," jawab Dita sedikit lemah.


   Dita tidak ingin ada keributan apapun diantara kedua lelaki ini. Apalagi tatapan Erlangga yang telah menunjukkan ketidak sukaannya itu terhadap Erkan yang mengajak Dita keluar.


     "Tapi…Jani.." terhenti disitu ketika Dita telah berdiri.


   "Erkan Aku pulang dulu, kamu habiskan saja makanan itu ya," ucap Erlangga penuh kemenangan.


   Mata malas memandang sikap Erlangga itu, kalau saja mereka bukan satu keluarga mungkin saja Erkan sudah menghajar pria angkuh itu.


     "Pak Erkan, saya pulang dulu," ucap Dita masih sopan kepada Erkan.


  Jika mereka hanya berdua Dita biasanya memanggil dengan sebutan namanya saja, tapi jika ada sang Ceo ini dia pun tampak formal.


    "Silahkan…ladies first!" ucap Erlangga memberikan jalan kepada Dita untuk lebih awal.


    Dia mengikuti Dita dari belakang, hanya Erkan bisa membuang harapannya jauh-jauh saat ini. Belum makan apapun sudah suasana tidak mengenakkan ini muncul, pikir Erkan.


   Yang tadinya  berselera untuk makan, hilang seleranya karena seorang pengacau yaitu sepupunya sendiri.


   "Hm…perempuan murahan!" Suara menjengkelkan itu terdengar lagi ketika ingin memasuki arena parkir.


  Hanya bisa menatap tajam, bukan tidak bisa membalas, namun Dita malas melayan pria yang menurutnya tidak memiliki etika sama sekali.


   "Silahkan masuk wanita murahan!" Masih saja memancing kemarahan seorang Dita.


    Menahan gejolak air mata yang rasanya ingin meledak. Bukan maunya dipertemukan dengan seorang Ceo bermulut pedang samurai ini.


    "Kenapa kau diam? Bukannya siang tadi kau banyak bicara dan balas memakiku?" Tanya Erlangga kembali.


  "Aku yang waras ini lebih baik diam, daripada menyahutimu yang tidak punya hati itu!" Jawab Dita yang sedari  tadi geram.


"Ouh…mulai bersuara dia, hmm padahal besok hari pernikahan kita, bisa-bisanya kau jalan dengan pria lain, apa itu bukan wanita murahan?" ucap Erlangga lagi mencoba terus menaikkan tensi Dita.


 "Bukan mauku, aku hanya terpaksa ikut!" Jawab Dita.

__ADS_1


"Bukan maumu? Terpaksa? Haha jawaban klasik dari mulut semua wanita!" umpatnya kesal.


****


__ADS_2