TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

  "Huh…akhirnya dia pulang juga," ucap Dita lega.


    Rinjani Anindita, wanita yang sebentar lagi akan bergelar menjadi istri Ceo patah hati itu tak menyangka belum menikah saja sudah dihadiahi apartemen semahal ini.


    Dan saat ini Dita dia tampak tidak senang namun yang ada gelisah dan takut. Tinggal di apartemen semewah ini, namun sendirian.


    Melihat jam dinding tampaknya sudah sangat larut, disana ada tiga kamar, dia memasuki kamar yang tampak di dekorasi memang begitu indah bahkan tampak kasur dengan sprei berwarna merah menyala itu.


     Dia membuka lemari yang kata Erlangga sudah banyak baju disiapkan di dalam lemari itu. Dita mencoba membukanya perlahan, memang benar disana terlihat baju bagus dengan merk ternama.


   Mau diikutkan kerja bertahun-tahun pun dia tidak akan bisa membeli baju merk ternama ini. Dia tampak biasa saja, tidak ingin bersenang-senang karena memang Erlangga bukan pria yang dia cintai namun terpaksa harus menerima untuk dinikahi.


    Melihat seisi lemari, tiba-tiba ponselnya berdering, membuatnya terkejut masuk notifikasi pesan disana.


   Dengan cepat Dita melihatnya tampak mata Dita menyiasat ke arah lemari rias bernuansa emas itu.


    "Dia menyiapkan gaun pengantin ini juga?" tanya Dita dalam hatinya.


    Ternyata yang mengirimnya pesan adalah Erlangga, dia menyuruh Dita melihat ke arah meja rias itu, dengan cepat Dita berjalan ke arah sana tampak gaun pengantin yang indah bernuansa putih itu.


     Kembali notif pesan masuk di ponsel Rinjani Anindita itu.


   "Tidur sekarang, karena besok acaranya pukul 08.00 dan besok tim make up akan datang ke apartemenmu pagi-pagi sekali," tulisnya disana.


     Tidak menyangka pria arogan itu menyiapkan segalanya untuk Rinjani Anindita, padahal terlihat dia yang dingin mulutnya yang tajam setajam pedang itu ternyata menyiapkan hal ini di pernikahan kontrak mereka.


   "Oke!" hanya itu balasan yang ditulis Dita.


    Dita malas berpanjang lebar dan saat ini Erlangga yang sudah sampai di kawasan rumah mewah milik keluarga Harlan itu, menatap layar ponselnya dengan geram, sebab Dita yang terlihat membalas singkat untuk pesannya yang panjang.


   "Dasar wanita sombong!" umpatnya kesal.


     Lagi-lagi kembali kepada Erkan yang sejak tadi telah sampai di Apartemennya itu. Menatap keindahan langit membuatnya tenang. Yang tadinya dia menahan amarah bahkan kekesalannya terhadap Erlangga yang sudah menghancurkan rencananya malam ini.

__ADS_1


   Dia tidak jadi mengungkapkan perasaannya kepada sang wanita pujaannya itu. Semua gagal dikarenakan sang Ceo patah hati yang memiliki hak veto penuh terhadap sekretarisnya tersebut.


    Erkan hanya menghela nafas panjang dan menghempaskannya di udara malam  yang dingin ini, sambil ditemani secangkir kopi pahit sepahit jalan percintaannya  yang sulit terluahkan.


     Rinjani Anindita, sudah diberi panjar uang sebesar 1 milyar, sudah juga di hadiahkan apartemen mewah lengkap dengan segala fasilitasnya.


   Namun malam ini matanya benar-benar sulit untuk terpejam, meskipun kamarnya begitu nyaman namun tetap saja pikirannya melayang dan memikirkan apa yang belum terjadi.


   "Ishhh… tidak, tidak!" ucapnya sendiri sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


   "Bagaimana mungkin aku bisa melayani dia dengan keadaan sadar?" Tanya Dita lagi dalam hatinya.


   Dia berpikir begitu jauh, dia teringat ketika malam itu terjadi Erlangga yang mabuk berat itu tidak sadar dengan apa yang dia lakukan kepada Dita, namun nanti setelah menikah Dita memikirkan Erlangga akan menyentuhnya dengan keadaan yang benar-benar sadar.


     Dita merasa jijik sendiri, karena memang dia tidak mencintai pria itu sama sekali. Tak pernah terpikir olehnya akan jadi seperti ini, jam terus saja bergulir dia pula belum habis dibayang-bayangi keadaan setelah menikah dengan seorang Ceo patah hati.


     Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, semuanya telah larut sendiri, mata yang sulit terpejam akhirnya mengikut arahan alam untuk berdamai dengan malam kala ini.


    Semua insan itu terlelap dengan waktunya masing-masing. Setiap manusia memiliki masalah yang berbeda-beda setiap harinya bahkan setiap menitnya.


    Ini bukan perkampungan hingga fajar hampir datang, tidak ada suara ayam jantan berkokok di bandar kota Jakarta yang terkenal kota metropolitan ini.


    Mendengar deringan alarm di sudut meja kamar itu, membuat Rinjani Anindita  terbangun. Jam menunjukkan pukul 06.00 tepat.


   Tampaknya alarm ini juga telah disiapkan oleh sang ceo agar mengingatkan Dita tentang waktu.


   Dia pun terbangun membiArkan rambutnya yang panjang sebahu itu tergerai dengan mata yang tampak masih samar-samar memandang.


     "Auh…cepatnya waktu berlalu," ucapnya sambil merentangkan tangan.


   Dia cepat bangkit masuk ke kamar mandi yang sudah tersedia dalam kamarnya sendiri itu. Seperti tadi malam yang sudah dia baca pesan dari calon suaminya bahwa akan ada beberapa orang tim make up akan sampai di awal pagi untuk mendandani  Dita.


    Langkah malas itu benar terlihat, namun ini adalah kewajibannya sebagai pihak kedua yang telah menandatangani kontrak perjanjian menikah itu.

__ADS_1


   Panjar sudah diterima, cek juga sudah dicairkan, rasanya kewajibannya begitu  berat untuk dijalankan.


   Mulai setiap inci tubuhnya menikmati dinginnya air yang keluar dari shower itu, sengaja dia tidak menghidupkan air hangatnya, karena dia ingin merasakan sensasi dari air dingin yang jatuh ke tubuhnya.


    Berlama-lama dia di bawah sana, membersihkan kulit putihnya itu, sambil memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Setengah jam berlalu tiba-tiba suara bel berbunyi berulang kali.


   "Ha..astaga, berapa lama aku sudah dibawah shower ini?" tanya Dita sendiri pada dirinya.


  Terkejut dia bell itu tidak berhenti berbunyi, Dita kalang kabut dengan cepat dia mengakhiri proses mandi sambil berpikir itu.


   "Aduh..pasti tim make up itu sudah sampai," ucap Dita memakai pakaian mandi yang telah tergantung di sana.


    Berlari kecil menuju pintu, dan benar saja tiga orang wanita berpakaian rapi dan terlihat semuanya anggun serta memberikan senyuman yang lebar kepada Dita saat ini.


   "Maaf sedikit lama membuka pintu," ucap Dita dengan sopannya.


 "Tidak mengapa nona, kami bisa mengerti," jawab salah seorang dari mereka.


  "Silahkan masuk," sahut Dita kembali.


  Mereka bertiga masuk tidak perlu basa-basi lagi Dita langsung di dudukkan di depan meja riasnya itu. Tiga orang ini sepertinya memang tim make up handal mereka memiliki fungsi masing-masing.


   Rambut Dita mulai ditata dengan rapi, diikuti dengan polesan-polesan wajahnya bahkan Dita tidak bisa berkutik lagi.


     Hampir satu jam berlalu untuk proses make up itu, baju pengantin mulai terpasang begitu indahnya di badan seorang Rinjani Anindita.


   "Huh…apa benar ini aku?" tanya Dita menatap ke arah cermin itu dan ketiga wanita itu tersenyum puas dengan hasilnya.


  "Nona, pakai mahkota ini," salah seorang memakaikan mahkota yang telah disiapkan.


  Ya! Siapa sangka dia bak seorang putri raja sekarang, terlihat drastis perubahannya. Namun secantik apapun dirinya dia yakin pria yang akan menikahinya tidak akan menatapnya tetap saja kedua calon mempelai ini menyimpan kebencian.


     Penasaran acara pernikahannya Dita dan Erlangga? Jangan lupa komen ya gais.

__ADS_1


    


     


__ADS_2