
Meeting itu selesai dengan cepat, disana ada juga jamuan makan malam untuk para penanam saham tersebut. Mengingat memang sudah waktunya makan malam akhirnya para staf hotel yang terkenal di Pattaya itu telah menyediakan berbagai khas makanan Thailand.
Banyak makanan yang tersedia, salah satunya yaitu Tomyam Seafood. Aroma dan rasanya tidak diragukan lagi. Baru pertama kali ini Rinjani Anindita merasakan masakan itu.
Walaupun baru pertama kali, namun di lidahnya sangat pas dan tampaknya menu ini akan menjadi menu favoritnya nanti.
Ketika makan malam itu berlangsung, seseorang yang sedari tadi menatap Dita, tampaknya dia ingin mengenal Dita lebih jauh lagi.
Bahkan sekarang dia memanggil asisten pribadinya, makan malam yang sudah berlangsung sejak tadi hampir selesai.
Asisten pribadinya itu kini membawakan sebuah kotak biru agak memanjang, dan wajah pria yang tampak genit itu tersenyum sangat manis ke arah Rinjani Anindita yang saat ini hampir bangkit dari kursinya.
"Aku sudah ngantuk, ayo kita pulang!" Bisik Erlangga di telinga Dita.
"Iya pak, saya juga sudah selesai kok makannya," jawab Dita.
Baru saja mereka berdua ingin berpamitan dan meninggalkan meja makan yang cukup panjang itu, langkah kaki mereka berdua terhenti sejenak.
"Maaf Nona, ini khusus untuk anda," ucap pria itu.
Dita terkejut bukan main, ketika pria itu dengan beraninya memberikan hadiah di depan bossnya tersebut, yang saat ini sudah bergelar suami walaupun dalam kontrak saja.
Erlangga yang melihat itu seolah cuek, dan membiarkan Dita mengambil hadiah tersebut, dia tersenyum lebar entah apa arti dari senyumannya itu.
"Oh..terima kasih banyak Tuan Ong, anda begitu murah hati," ucap Erlangga menyela.
"Tak masalah Tuan Erlangga, hadiah itu pantas untuk gadis secantik nona Dita ini," puji pria itu yang membuat Erlangga merasa malas mendengarnya.
"Oh..iya kalau begitu kami harus pergi dulu Tuan Ong, karena memang masih banyak urusan yang menunggu di Indinesia," jelas Erlangga yang sedari dari merapatkan giginya.
"Malam ini juga kalian terbang?" tanya pria itu lagi seolah ingin menahan keduanya.
"Ya benar," ucap Erlangga singkat.
Dita yang diberi hadiah itu pun masih belum mengucapkan sepatah kata apapun dari mulut mungilnya itu. Tampaknya Erlangga ingin cepat-cepat meninggalkan pria yang sedari tadi mengincar istri kontraknya tersebut.
"Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi kami undur diri," ucap Erlangga kembali dan saat ini melirik tajam ke arah Dita.
__ADS_1
Dita mengerti dengan tatapan itu, dia pun hanya menundukkan kepalanya mengatakan terima kasih dari bahasa tubuhnya itu.
Dengan cepat juga Dita mengikuti langkah Erlangga yang saat ini berjalan lebih dulu daripada dirinya tersebut.
"Cepat masuk!" Perintah Erlangga yang cukup kuat membuat Dita terkejut.
Dita hanya mengikuti arahannya saja, baru saja terlihat Erlangga begitu ramah, namun ketika membuka pintu ini dia tampak marah, ada apa lagi dengan Ceo satu ini, pikir Dita.
"Hadiah apa yang orang itu berikan kepadamu?" Tanya Erlangga mencoba menyiasat.
"Saya tidak tahu pak," ucap Dita pelan.
"Mana hadiahnya?" tanya Erlangga mencoba meminta hadiah itu.
Dita hanya bisa menyerahkan kotak berwarna biru itu kepada Erlangga dengan pasrahnya saat ini.
Erlangga mulai membuka kotak itu, wajahnya tampak tanpa ekspresi saat ini. Entah mengapa moodnya menjadi berubah drastis kembali.
"Oh..hanya kalung giok biasa," ucap Erlangga membuka kotak itu dan saat ini menutupnya kembali dengan kuat.
"Iya itu kalung yang bagus," ucap Dita.
"Hm..ini murahan, dan kau tidak berhak menerima hadiah apapun dari orang lain, selain Aku!" ucap Erlangga dan langsung membuang kotak beserta isinya itu.
"Astaga Pak!" Dita ingin menyanggahnya.
"Kenapa? Kau ingin melawan? Apa kau menyukai pria itu tadi?" Pertanyaan itu bertubi-tubi Erlangga layangkan kepada istri kontraknya itu.
"Bukan begitu, aku hanya menghargai pemberian orang itu saja, dan memangnya kenapa dengan kalung itu?" Tanya Dita yang tampak masih protes.
"Jangan mendebatku, kau tidak ada hak membantah, apa perlu aku lemparkan map kuning perjanjian kita?" Tanya Erlangga seolah memberikan ancaman kepada Dita.
Hanya bisa menelan salivanya, dia tidak memiliki kuasa apapun, jika sudah Erlangga menyebutkan mengenai map kuning berisikan 7 perjanjian itu, memang Dita tidak akan bisa menang apapun dari pria ini.
Dan saat ini Dita hanya bisa membuang pandangannya ke jalan yang cukup gemerlap tersebut. Memang benar kata orang-orang yang sudah pernah ke negara ini, khususnya Pattaya thailand, banyak hal yang bisa dilihat disini.
Karena Erlangga merasa malas berada di negara ini lama-lama, dia merasa jika berlama-lama disini akan membuang waktu saja yang tidak penting pikirnya.
__ADS_1
Dia pun malam ini mengarahkan para asisten pribadinya untuk menyiapkan kepulangannya ke Indonesia.
Karena memang apapun yang diperintahkan anak konglomerat ini dengan cepat para asisten serta ajudannya bergerak, dan mobil yang membawa mereka itu tak terasa sampai juga dimana jet pribadi milik Erlangga sudah terparkir tersebut.
Setelah itu tidak ingin menunda lama, dia yang sedari tadi muak dengan pria-pria yang tampak memperhatikan istri kontraknya tersebut sudah sedikit lega karena mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Hey, kenapa kau diam membisu?" Tanya Erlangga kepada Dita yang saat ini tampak murung.
"Aku hanya lelah," jawab Dita singkat.
"Kau lelah atau kau marah denganku?" Tanya Erlangga kembali.
"Tidak ada hakku untuk memarahimu, kau yang selalu benar," ucap Dita.
"Ya itu memang benar, dan kau sekarang sudah paham posisimu bukan…!" ucap Arie lagi.
Dita malas menyahutinya, karena memang dia masih tidak mengerti dengan sikap Ceo patah hati ini, bahkan diantara mereka tidak ada cinta sama sekali, tidak mungkin saja Erlangga cemburu dengan pria yang tadi memberikan hadiah kepada Dita.
Entah apa yang membuat dia seperti itu Dita pun malas untuk menyiasat lebih lanjut lagi, dia biarkan saja takdir Tuhan ini berjalan semestinya.
"Hey Dita, jangan pejamkan matamu!" ucap Erlangga yang tampak sedari tadi mengusik ketengan Dita.
"Memangnya ada apa lagi??" Tanya Dita sedikit kesal.
"Aku haus, ambilkan minuman untukku!" Ucapnya lagi kepada Dita.
Dita hanya bisa memutar kedua bola matanya, dia pun bangkit dari tempat duduknya itu, mulai berjalan kearah dapur dan saat ini Dita mencoba tetap sabar menghadapi perangai Erlangga yang membuatnya menahan amarahnya itu.
Akankah ada cinta diantara mereka nantinya?
Dan mengapa Erlangga yang tidak memiliki rasa itu menjadi sangat marah kepada Dita ketika dia diberi hadiah seperti itu dengan pria lain.
Apakah Ceo patah hati sudah menyimpan perasaannya untuk seorang Rinjani Anindita?
Atau itu hanya sebuah keegoisannya semata, untuk membuat Dita tidak bahagia?
***
__ADS_1