TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
SALAH PAHAM


__ADS_3

Tertulis undangan online tersebut nama Erlangga  Harlan dan Miranda Kusnadi akan melangsungkan akad nikah hari minggu tanggal 2 Agustus 2020.


Dita yang sedari tadi lapar karena melihat undangan online yang ada di ponselnya itu membuatnya merasa sesak saat ini.


Apa ini sudah tiba saatnya?


Tanya Dita dalam hatinya sekarang.


Sedangkan Dita sendiri teringat beberapa hari lalu, ketika Erlangga  yang mengatakan bahwasannya dia tidak akan meninggalkan Dita.


Sedangkan ternyata Erlangga  menyimpan rahasia sebesar ini darinya. Mengapa Erlangga  takut mengatakan ini? Tanya Dita dalam hatinya sekarang.


Sedangkan Dita sendiri  dia sadar akan siapa dirinya, dia hanyalah istri dalam perjanjian kontrak yang apabila memang ketika kekasih sang ceo itu datang pernikahan mereka akan di akhiri.


Sedangkan ucapan Erlangga  malam itu tampak begitu seriusnya, apa itu hanya sebuah rayuan diatas ranjang saja?


Tanya besar di kepala Dita sekarang. Dia bertanya dengan dirinya sedangkan jawaban dari pertanyaan itu ada pada Erlangga  sendiri.


Harus senang atau sedih?


Ya! Kalau dulu dia berharap kontrak ini cepat habis dan Miranda cepat datang untuk bisa pernikahan ini berakhir dan Dita tetap mendapatkan haknya.


Namun sekarang beda cerita, dua bulan berlalu penuh lika liku penuh kenangan sakit dan tawa yang bahagia mereka sudah jalani.


Jika ingin ditukar dengan apa yang Erlangga  berikan kepada Dita itu lebih baik Dita memilih Erlangga  dibandingkan dengan pemberian Erlangga  kepada Dita.


Diantara keduanya telah tersemai cinta


Namun sang ceo masih dengan perasaan egonya yang tampak dia masih ingin menyembunyikannya.


Hari ini Erlangga  yang katanya akan menemui Tuan Bailey, dia pun mengajak sekretarisnya yaitu istrinya sendiri dengan cepat dia melajukan mobilnya ke arah Appartmen milik Rinjani Anindita itu.


Sedangkan Rinjani yang masih berada di meja makan masih lemah tak berdaya melihat undangan online tersebut. Dia tampak berpikir dan termenung jauh merenungkan nasib perasaannya akan dibawa kemana pikirnya.


Tapi, tujuan pernikahan ini memang hanya sekedar pelampiasan amarah Erlangga  terhadap Miranda, dan dia pun sudah tau pasti ini adalah ujung dari pernikahan ini.


Karena memang Miranda ada dalam isi perjanjian itu. Dan tanda tangan Dita juga ada disana menandakan dia telah setuju dengan isi dalam nota tersebut.

__ADS_1


Lama dia termenung di atas meja tersebut tiba-tiba ada suara yang mengejutkan dirinya saat ini, membuatnya kalang kabut dan bingung harus apa dia sekarang.


"Dita, kenapa kau terkejut seperti itu? Tanya Erlangga  saat ini yang tampak bingung melihat Dita seperti itu.


"Hem..tidak aku tidak apa-apa," ucapnya.


"Apa kau sedang sakit?" Tanya Erlangga  sambil memegang dahi wanita itu.


Tampak Erlangga  berubah memang, dia bahkan tidak sengaja terlihat begitu perhatian dengan istri kontraknya tersebut.


Sedangkan Dita saat ini dia sedang berpikir dan berbicara dalam hatinya sendiri, beberapa hari lalu setelah mereka terakhir bertemu baru kali ini Erlangga  menemuinya lagi dan tampak begitu pagi.


Apa mungkin ini saatnya?


Itulah pertanyaan di hati Dita saat ini. Dia merasa kedatangan Erlangga  ini akan memutuskan kontrak pernikahan mereka saat ini.


"Hei, Dita!" Erlangga  mencoba mengejutkan Dita kembali karena wanita itu kembali termenung.


"Ha, ada apa? Yasudah katakan sekarang kenapa kau datang sepagi ini?" tanya Dita dengan gugup.


"Kita mau kemana? Katakan disini saja," ucap Dita tanpa ekspresi.


Dita masih beranggapan kalau Erlangga  datang akan mengakhiri pernikahan ini. Sedangkan Erlangga  sama sekali belum terpikir melepaskan Dita, bahkan sebelum dia keluar kamar dia berkata akan tetap mempertahankan seorang Rinjani Anindita ini.


Tampaknya Dita salah paham, Erlangga  kesini ingin mengajaknya jalan-jalan pagi dan sambil menemui Tuan Bailey. Dita wajahnya masih tegang, namun dia mencoba menerima apapun yang akan terjadi nantinya.


"Maksudmu katakan apa?" tanya Erlangga  bingung.


"Sudah lah Erlangga , jangan berpura-pura lagi, aku sudah tahu dan paham saat ini, tidak perlu mengajakku kesuatu tempat jika hanya kau ingin mengakhiri pernikahan ini," ucap Dita menjelaskan panjang lebar.


"Apa? Kapan aku bilang akan mengakhiri pernikahan kita? Tanya Erlangga  kembali bingung.


"Sudahlah jangan pura-pura bingung, aku akan terima jika memang ini waktunya," ucap Dita kembali.


"Hei, jangan mendebatku! Aku tidak mengatakan apapun! Bentak Erlangga  kuat tampaknya pria arogan ini kembali ke suhu normalnya seperti dulu.


Dita menjadi takut sekarang, dia bahkan terdiam seketika. Yang awalnya nada suaranya tinggi sekarang dia bahkan tak berucap sepatah kata lagi.

__ADS_1


"Kenapa diam? Cepat tukar pakaianmu dan kita akan pergi sekarang!" Perintah Erlangga  kembali dengan tegasnya.


Dita hanya bisa membalasnya dengan tatapannya saja, karena memang masih bergelar istri dari Erlangga  Harlan  ini, dan segala hak hanya Erlangga  yang punya maka Dita wajib mengikuti perintahnya.


Dita bahkan belum menyantap sarapannya yang ada di meja itu, berjalan dengan lemahnya dia menukar pakaian dikamarnya tersebut.


Sedangkan Erlangga  masih berpangku dengan kedua tangannya yang diletakkan diatas meja makan itu. Merasa geram dengan sikap Dita pagi ini yang menyambutnya dengan sinis tersebut membuat kemarahan Ceo patah hati itu memuncak seperti dulu.


Dia sangat tidak suka di bentak, apalagi Dita yang membentaknya seperti itu. Saat ini Erlangga  tiba-tiba menatap meja makan yang masih ada makanan disana.


"Makanan ini masih utuh?" Tanya Erlangga  dalam hatinya.


Apa dia tidak memakan ini?


Ngapain aja dia dari tadi?


Pertanyaan itu dia tanyakan kepada dirinya sendiri, Erlangga  yang arogan itu tiba-tiba merasa iba dengan Dita yang tampak ketakutan tadi ketika dia bentak.


"Ada apa dengan Dita?" Tanya Erlangga  dalam hatinya kembali.


Dahulu dia memang tidak ingin tahu tentang perasaan yang Dita alami apapun itu juga. Namun sekarang entah mengapa setiap apapun yang Dita kerjakan atau alami dia ingin mengetahui segalanya.


Apa ini yang dibilang cinta?


Sudah sampai di depan lemari nya tersebut, pikirannya hanya satu dan itu tentang kekhawatirannya akan di akhiri pernikahan ini, dan dia mau dibawa kemana pagi ini, pikir Dita kembali.


Melihat baju yang cocok dengan hari weekend tersebut. Tidak ingin memakai pakaian yang menurutnya ribet dia memakai dres motif bunga-bunga yang panjangnya selutut saja.


Dengan dipasangkan cardigan yang terbuat dari bahan rajutan itu, saat ini rambutnya yang panjangnya  sebahu itu dia sisir dan rapikan serta tak lupa swdikit polesan wajah yang masih terlihat natural itu.


Ya, tetap cantik dan tetap terlihat anggun, walau dia merasa ini dandanan sederhana namun ketika dia keluar dan menuju dimana Erlangga  berada sekarang mata jantan Erlangga  tidak berkedip sedikitpun.


Apakah Erlangga  akan berubah pikiran saat ini?


Atau Erlangga  akan tetap bertahan dengan keputusannya beberapa jam lalu?


***

__ADS_1


__ADS_2