TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
TERKEJUT


__ADS_3

   Pergi dengan siapa, pulang dengan siapa. Entahlah takdir atau nasib buruk apa yang menimpa seorang Rinjani Anindita  saat ini.


    Mobil sport itu dikendarai dengan begitu lajunya oleh Ceo patah hati tersebut. Mulutnya yang tajam itu membuat hati Dita merasakan sakit yang cukup dalam.


    Namun, dia wanita yang kuat dan tangguh, dia tahan segalanya demi berkorban untuk keluarganya yang ada di kampung halaman.


    Siapa yang ingin nasib seperti ini? 


  Itulah yang hatinya katakan sekarang, dia hanya bisa menelan salivanya dan tangan kirinya memegang erat pegangan yang tergantung dalam mobil itu.


  Bahkan, Dita tidak ingin protes apapun sekarang, dia pasrah membiarkan apa yang ingin Ceo itu lakukan malam ini lagi, pikirnya.


   Menatap arah jalanan, malam yang tampak pekat. Namun anehnya pria itu tidak membawa Dita ke kosannya.


   Dita hanya melirik tajam dan menyiasat jauh tanpa ekspresi yang terluahkan. Kebisuan masih terjadi disana, tapi tiba-tiba si mulut tajam itu berkata kembali.


   "Malam ini kau tidak perlu pulang ke kosan kumuh itu lagi!" ucapnya tiba-tiba.


  "Apa maksudmu?" Hey malam ini aku belum menjadi istrimu! Jadi malam ini masih ada kebebasanku untuk menolak apa yang kau katakan!" Bantah Dita seketika.


   Dia takut akan terjadi hal yang seperti kemarin lagi, apa mungkin Ceo patah hati ini ingin melakukan zina itu lagi, pikir Dita sekarang.


  Kalau dibilang trauma dia cukup trauma, namun dibandingkan dengan keluarganya yang sedang membutuhkan pertolongan dirinya tersebut membuat dia menghilangkan segala rasa trauma bahkan sakitnya sendiri.


      "Oh..ingin membantahku? Baiklah serahkan cek 1 miliar yabg tadi siang aku berikan kepadamu!" ucapnya kembali dan tampak menyiasat wajah bingung Dita.


  Dita hanya diam, hatinya mengumpat "Sialan!" 


  Mana mungkin Dita bisa mengembalikan cek itu kembali, sebab cek itu telah dicairkan dan beberapa sudah dia transfer ke kampung halamannya untuk biaya Ayahnya yang sedang kritis.


  "Kenapa diam wanita murahan? Apa uang itu sudah kau habiskan? Hahaha sudah kuduga wanita seperti mu itu murah dan bisa kudapatkan dengan uang!" ucapnya lagi terus dan terus menyakitkan hati Dita.


   Andaikan dia tidak membutuhkannya, mungkin pria disampingnya ini sudah dia habisi saat ini juga. Mulut pria ini memang tidak bisa mengatakan hal baik tentang dirinya.


   Dari awal lagi, dia selalu menyebut Dita wanita murahan dan murahan. Sakit memang sakit rasanya namun apa mau dikata uang pun dia tidak bisa mengembalikannya.


     Ada tiga puluh menit berlalu kembali, setelah ucapan tajam itu berakhir dengan kebisuan diantara mereka, Dita yang lemah tersebut sulit untuk menentangnya lagi.

__ADS_1


    Mobil mewah itu memasuki kawasan apartemen  elit yang memang tidak pernah Dita kunjungi sebelumnya.


   "Ya Tuhan..bantu aku, aku tidak ingin melakukan perzinahan lagi," ucap Dita dalam hatinya berdoa.


  Entah apa yang dipikirkan oleh Sriel saat ini, dia bukan memulangkan Dita ke kosannya malah membawa Dita ke apartemen yang termasuk elit di kota Jakarta ini.


     Mobil telah pun terparkir pada tempatnya. Tertata sangat rapi disana, dan tampak yang menempati kawasan apartemen ini memang semua orang berada.


   Terlihat dari banyak mobil mewah yabg terparkir di sana, Dita akhirnya turun dari mobil yang hampir merenggut nyawanya itu, karena sedari tadi mobil sport itu sengaja Erlangga kendarai dengan laju untuk menakut-nakuti Dita.


    "Ikuti Aku!" Perintah Erlangga yang berjalan lebih awal dari Dita.


  Hanya bisa melangkah dengan lemah saat ini, entah apa yang ingin Erlangga tunjukkan lagi dengannya sekarang. 


     Memasuki kawasan lift tampak Erlangga menekan tombol lantai 10 tampaknya memang Apartemen  ini menjulang brgitu tinggi.


     Hati Dita tetap memanjatkan doa, dia wanita yang baik dan benar-benar menjaga marwah dirinya, namun kedatangan Erlangga di hidupnya membuat segala harga diri yang dia selalu jaga hancur sekejap mata.


   Card itu tampak membuka salah satu Apartemen yang sudah berada tepat di depan  mereka saat ini. Dita sedikit kagum dengan isi dalamnya, sangat indah dan nyaman, jauh dari kosannya yang kumuh, namun biar begitu Dita tetap ada rasa was-was dihatinya.


     "Duduk!" ucap Erlangga memerintahkan Dita untuk duduk di sofa ruangan tamu tersebut.


    Dia hanya bisa menelan salivanya dan tertunduk lemah dengan hati yang begitu gelisah.


     Jantung Dita semakin berdebar, terdengar langkah Erlangga yang saat ini mulai memasuki ruang tamu itu kembali.


   "Ya Tuhan…apa yang ingin dia lakukan lagi kepadaku?" tanya Dita dalam hatinya.


    "Minum ini!" ucap Erlangga menyodorkan segelas jus jeruk dan tangannya memegang sebilah pisau kecil membuat Dita merinding.


  Dita memundurkan wajahnya, Erlangga mendekati wajah mungil putih bersih itu, tampak berkeringat ketakutan.


   "Kau…mau a..apa?" tanya Dita tergagap.


  "Aku mau memotong!" ucapnya sambil mengarahkan pisau kecil itu ke arah wajah Dita.


  "Ya Allah  apa dia psikopat?" Tanya Dita dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


"Hahaha…aku mau memotong Apel ini!" ucapnya lagi mundur dan mengambil buah apel yang terletak di meja itu.


"Huh…dasar lelaki stres!" umpat Dita pelan.


    "Minum lah jus jeruk itu, kau wanita yang beruntung karena aku tidak pernah membuatkan jus untuk siapapun, apalagi menghidangkannya," ucapnya sambil memotong buah tersebut.


   Dita menatap takut ke arah gelas itu, pikirannya melayang jauh, dia takut ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam minuman berwarna oren itu.


  "Kenapa hanya diam? Kau kan belum ada minum apapun sedari tadi, apa kau berpikir negatif tentang minuman ini?" Siasat Erlangga kepadanya.


 "Aku tidak haus," Dita mencoba menyanggahnya, padahal sedari tadi dia memang menahan dahaga.


  "Aku tahu, kau berpikir buruk tentangku kan…baiklah lihat ini!" Erlangga meneguk jus itu sedikit dan memperlihatkan kepada Dita.


   "Aman bukan?" Tanya Erlangga lagi.


   Dita baru percaya setelah pria itu meneguknya sedikit, dia pun dengan cepat meminum jus itu.


   "Makan buah ini juga, dan kalau kau lapar kau bisa masak apa saja di dapur itu, di ulkas juga banyak makanan, aku akan pulang sebentar lagi," ucap Erlangga dengan nada yang santai kali ini.


   "Kau meninggalkan aku sendiri disini?" Tanya Dita sedikit takut.


   "Jadi, kau ingin kutemani?" Goda Erlangga.


  "Hm..tidak, tapi pakaianku tidak ada disini," ucap Dita.


  "Pakaian mu akan menyusul, tapi di kamar itu sudah tersedia pakaian yang banyak untuk mu, nanti yang di rumah kosan kumuh itu besok orang suruhanku membereskannya," ucap Erlangga menjelaskan.


"Ini apartemen milikmu?" Siasat Dita lagi.


 "Bukan! ini bukan milikku, tapi ini milikmu!" ucap Erlangga menegaskan.


  Semakin terkejut Dita saat ini, tak menyangka Ceo patah hati dan arogan serta tampak seperti psikopat ini ternyata orangnya penuh kejutan.


   "Hei..jangan bangga dulu, aku memberikannya bukan karena aku menyukaimu, tapi aku tidak mau saja istriku kumuh meskipun ya..istri kontrak saja maksudku menempati kosan kumuh, aku mau kau terlihat setara denganku, dan ini kuberikan agar aku nyaman jika kapanpun aku datang kesini kau siap melayani gairahku!" Jelasnya lagi membuat Dita bergedik merinding.


  ****

__ADS_1


  


__ADS_2