
"Dita! ucapnya tanpa pikir panjang menjawab panggilan itu.
Dita terpikir dengan ucapan Erkan tadi, yang mengatakan pak ceo mencari dirinya pagi ini. Entah apa yang diinginkan Erlangga namun Dita yang masih berstatus sebagai istri itu mencoba bertanggung jawab dengan statusnya sekarang.
Dia keluar dari ruangan dimana ayahnya di rawat. Dan tampak gugup ingin berbicara dengan suaminya sendiri.
"Dita, kau dimana sekarang?" Tanya Erlangga dengan nada khawatir.
Mendengar suara Erlangga seperti itu membuat Dita sedikit aneh. Tampaknya Erlangga benar-benar mencari dirinya karena terdengar suara yang khawatir disana.
"Maaf Erlang, aku baru menghubungimu, aku berada di kampung sekarang, ada urusan yang harus kuselesaikan," jelas Dita yang saat ini masih menyembunyikan kesusahannya dari suaminya tersebut.
Bahkan Erlangga sebagai suami dari Rinjani Anindita itu tidak di beritahukan mengenai sakitnya ayah mertuanya sendiri. Bagi Dita pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang bisa di ketahui oleh pihak keluarga apalagi khalayak ramai.
"Dita, beritahu aku dimana alamat kampungmu!" Ucap Erlangga tegas saat ini.
"Untuk apa Erlang?" Tanya Dita heran karena memang Erlangga tidak perlu tahu mengenai dirinya atau pun keluarganya itu.
"Jangan banyak tanya, cepat kirim kan aku alamat lengkapmu!" ucap Erlangga lagi sekarang.
Karena sudah terdengar nada perintah dari sang ceo itu, sulit untuk Dita menolaknya. Namun untuk apa Erlangga meminta alamatnya Dita masih penuh tanda tanya.
Pasalnya Erlangga adalah pria yang memang tidak ingin ambil tahu mengenai keluarga istrinya itu. Karena memang pernikahan mereka tersembunyi hanya mereka dan Tuhan saja yang tahu.
Panggilan itu sudah pun diakhiri oleh Erlangga, dia menunggu pesan dari istrinya untuk mengirimkan alamat lengkap kampungnya tersebut.
Satu sisi lagi dia yang masih berbaring di kasur empuk saksi percintaan dirinya dan Dita itu, kini suara ponselnya berdering kembali ada panggilan masuk nama Erkan disana.
"Erkan, mau apa dia!" umpat Erlangga kesal melihat nama sepupunya sendiri.
Mau tidak mahu dia pun mengangkat panggilan itu, dia berpikir ada hal penting yang Erkan tanyakan kepada dirinya itu.
"Iya Erkan ada apa?" Tanyanya sedikit sinis.
"Erlang, Dita sudah menghubungiku, dia minta cuti satu minggu karena ada urusan di kampungnya," jelas Erkan membertahukan hal itu kepada Erlangga.
__ADS_1
Erkan sengaja menghubungi Erlangga, karena Erkan tidak ingin Dita di marahi oleh Erlangga tersebut. Hal itu lah membuat Arian dengan cepat mengabari pria itu karena Erkan tahu baru saja Dita tidak masuk Erlangga tampak ingin memarahi Dita.
Padahal yang sebenar terjadi bukan itu, namun Erkan yang memang tidak tahu mengenai pernikahan mereka dia tetap melindungi Dita dari kemarahan sepupunya tersebut.
"Oh ok," ucapnya lalu langsung menutup panggilan itu.
"Sialan! Kenapa Dita menelpon Erkan deluan dari padaku!" Umpatnya kesal lalu membanting ponselnya di kasur.
Dia tampak marah sekarang, karena Erkan yang di hubungi Dita terlebih dahulu dibandingkan dirinya. Tampak panas disana, mengapa sikap Erlangga demikian?
Apa itu yang dinamakan cemburu buta?
"Lihat saja kau Dita! Kalau aku menemuimu aku akan menghukummu!" Umpatnya kesal dan terbesit rindu disana.
Saat ini memang pernikahannya dekat sudah dengan Miranda, dia yang meminta alamat lengkap sang istri kontraknya itu akhirnya dengan berat hati dan penuh tanda tanya alamat itu pun sudah masuk di notifikasinya.
"Oh..Sumatera Barata," ucapnya membaca alamat itu.
"Hmmm pantas saja dia suka naso padang, ternyata dia asli orang Minang," ucap Erlangga lagi.
Satu sisi lagi dimana mamanya sudah sadar dari sakitnya itu, dan hari ini katanya sudah diperbolehkan pulang. Lagi pula dia tidak ingin berlama-lama disana.
Dan saat ini juga Miranda yang datang ke rumah sakit itu untuk bertemu Erlangga, namun nyatanya dia tidak melihat sosok Erlangga disana.
"Erlangga kok belum sampai juga kesini Pa," ucap mamanya Erlangga.
"Mungkin Erlangga lelah Ma, biErkan dia istirahat di rumah, ayo kita pulang sekarang," ucap suaminya.
"Iya Ma, biarlah Erlangga di rumah nanti Miranda ke kamar Erlangga saja membahas pernikahan kami," ucap Miranda pula.
"Iya sayang, kamu tenang saja walaupun dinnernya gagal tapi pernikahan kalian akan tetap di laksakan," ucap mama Erlangga membuat Miranda senang.
Akhirnya Mamanya itu di bawa pulang ke rumah oleh Miranda dan Papa Erlangga tersebut. Miranda tersenyum puas sekarang dia tidak lama lagi akan sah bergelar istri ceo.
Mereka bertiga berpikir Erlangga berada di rumah sekarang. Karena memang dia sudah memberitahukan kepada Papanya itu dia pulang sebentar.
__ADS_1
Dan saat ini juga mobil itu sudah keluar dari parkiran rumah sakit menuju kediaman mewah milik keluarga Harlan tersebut.
Erlangga yang memang tampak lelah dan merindukan Dita tersebut, haruman Dita yang berada di kamar itu membuatnya terlena dan terbuai akhirnya dia tertidur siang ini.
Kemarahannya membuatnya lelah, dia jengkel karena Dita tidak menghubungi dirinya terlebih dahulu.
Sedangkan Dita saat ini yang melihat pesannya hanya dibaca tanpa mendapat balasan itu, membuat dia mengulum bibirnya kembali dan masuk ke dalam ruangan dimana ayahnya di rawat.
Dia sudah biasa mendapat perlakuan sebegini oleh Erlangga yang tampak bertanya lalu hilang seketika. Dia paham siapa statusnya dalam hubungan pernikahan itu.
Erlangga yang terlelap, Dita dan keluarganya yang masih berkumpul hangat di dalam ruangan perawatan itu. Sedangkan Erkan maaih sibuk meeting yang di temani oleh staf bagian keuangannya saat ini yang memang mengincar dirinya juga.
Satu sisi lagi mobil mewah milik keluarga Harlan sudah pun sampai di halaman rumah mewah milik mereka itu. Tidak lama untuk sampai dengan cepat.
Miranda membantu Papa Erlangga memapah Mama Erlangga tersebut untuk masuk kedalam rumah mewah dan megah itu.
Akhirnya Mama Erlangga sudah di istirahatkan di dalam kamar sekarang. Miranda pula meminta izin untuk masuk menemui Erlangga di kamarnya.
Dia masih berpikir positif Erlangga berada di kamar itu, padahal mereka tidak memperhatikan kalau mobil Erlangga saja tidak terlihat di garasi rumah tersebut.
Dengan tersenyum puas, dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar Erlangga dan saat ini Miranda telah pun membuka pintu kamar yang tak terkunci itu.
Cekrek…
"Kemana Erlangga? Kamar ini kosong!" umpatnya kesal.
Dia masuk kedalam kamar itu namun tidak dia dapati Erlangga disana. Dan sekarang ini pula dia mencoba melihat-lihat isi dalam kamar Erlangga tersebut mumpung orangnya tidak ada.
Dia pun berjalan menuju Almari Erlangga, awalnya dia ingin melihat apakah Erlangga masih menyimpan baju-baju couple kenangan mereka ketika di prancis, dia pun membuka Almari itu karena memang Almari tersebut kuncinya tergantung di sana.
"Map apa ini?" Tanya Miranda dalam hatinya saat ini dia menemukan map kuning yang berada di bawah lipatan baju Erlangga.
****
__ADS_1