TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
PERNIKAHAN YANG DIPERCEPAT


__ADS_3

    Jam telahpun menunjukkan sore hari sekarang. Setelah dari kamar Erlangga itu Miranda sangat begitu terkejut karena melihat isi dalam map kuning yang dia temukan dalam lipatan baju itu.


    Sepanjang jalan pulangnya ke rumah dia mengumpat Erlangga dengan penuh cacian dan makian yang banyak. 


   Saat ini dia masih tidak bisa memejamkan matanya map itu nasih dia pegang erat dan dia perhatikan dengan seksama.


   Sekarang dia yang sudah dari tadi berada dalam kamarnya sedang berpikir keras apa yang akan dia lakukan dengan map kuning itu.


   "Sialan! Ternyata ini yang membuat Erlangga akhir-akhir ini berubah, bisa-bisa mereka berdua telah menikah dan satu orang pun tidak mengetahui ini!" Umpatnya kesal.


  "Pria munafik, berlagak tidak ingin menyentuh ku ternyata dia lebih rendah dari aku, bisa-bisa dia menikahi seorang stafnya!" Umpatnya lagi sambil berbaring menghadap pelapon kamarnya yang bernuansa awan itu.


   "Hem..aku akan membuat kalian berdua menyesal! Terutama wanita sok alim itu, dia tampak baik di depan ku, namun ternyata dia licik, pasti dia menerima tawaran ini karena Erlangga seorang ceo dan pewaris tunggal!"


 "Aku gak akan biarkan dia merebut Erlangga dariku, aku harus secepatnya melaksanakan pernikahan ku ini dengan mulus," ucap Miranda lagi sambil tersenyum licik.


  Sangat jelas dalam isi perjanjian itu sudah tertulis jika nanti dia pulang maka pernikahan itu pun selesai. Kontraknya pun akan habis begitu saja, kisah rumah tangga Erlangga dan Dita berakhir tanpa cinta terluah, pikir Miranda.


  "Ini belum terlambat," ucapnya lagi.


  Dia tampak merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Dita. Beranggapan wanita itu adalah wanita yang gila uang seperti dirinya tersebut.


  Padahal disebalik persetujuan tersebut Dita hanya lah mengorbankan dirinya untuk keluarga tercinta yang membutuhkan tanggung jawabnya sebagai seorang anak pertama.


   Banyak orang bilang, menjadi anak pertama itu menyenangkan. Mungkin saja menyenangkan bagi anak-anak yang terlahir dari keluarga yang mampu.


  Tapi dengan Dita, dia semenjak adik-adiknya lahir dan dia mulai beranjak umurnya dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas sampailah ke jenjang kuliah dia membiayai hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri.


  Dulu, dia membantu ibunya berjualan keliling hanya untuk sekolah dan setelah itu bekerja menjadi penjaja koran sampai tingkat sekolah pertama hingga pelayan restoran paruh waktu untuk sekolah menengah.


  Sampailah harus merantau jauh dari kampung halaman ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya yang akhirnya dia mendapatkan beasiswa dan magang di perusahan Erlangga tersebut.


  Hingga waktu terus berjalan dengan begitu cepat dia banyak pengalaman dan pembelajaran dari hidup. Hingga akhirnya Tuhan memberikan karir sebagai seorang sekretaris dari Papanya Erlangga.

__ADS_1


   Mulai terus mengirimi kampung halamanya, ibunya yang telah lama tiada membuat dirinya awalnya down, namun dia masih ada seorang ayah. 


  Sayangnya pula sewaktu dia kuliah dan sambil bekerja ayahnya di vonis terkena leukimia dan jantung. Semakin naik karirnya semakin banyak tanggungan hidupnya.


   Tetap dia tabah akan segala beban yang sudah Tuhan titipkan di bahunya sebaga8 anak pertama itu. Hingga bertahun-tahun kerja dia hanya bisa mengekos dan mungkin takdir Tuhan memulai dengan penderitaan ditemukannya Erlangga dan Dita.


  Sebuah pemerkosaan yang tanpa di sengaja itu, membuat mereka terikat menjadi sepasang suami istri dalam kontrak yang memang Erlangga lah pemutus kontrak itu.


   Hari semakin sore, bahkan saat ini matahari tampak ingin tenggelam, Erlangga yang masih terlelap diatas kasur empuk saksi bisu percintaan dirinya dan Dita itu, kini di sadarkan dengan suara deringan ponsel dari Mamanya yang sejak Miranda pulang dia terus tak berhenti menghubungi anaknya tersebut.


   Entah sudah berapa ratus kali panggilan itu di layangkannya, namun baru ini jawaban terdengar dari suara parau Erlangga karena tertidur begitu lelap.


    "Erlang! Kamu dimana?" Tanya mamanya tampak nada yang kesal.


  "Mama, Erlangga di rumah teman,"ucapnya.


  "Kamu anak macam apa sih Erlang, mama baru pulang dari rumah sakit bukannya di rumah, malah di rumah temanmu, pulang sekarang ada hal penting yang akan mama bicarakan denganmu," ucap mamanya lagi memerintahkan.


   "Oh..baiklah Ma," sahutnya singkat. 


  Sekarang Erlangga melihat jam dinding di kamar itu, dia terkejut entah berapa lama dia terlelap disana, dan melihat layar ponselnya yang tampak ratusan penggilan tak terjawab dari mamanya itu.


 Entah apa yang yang ingin dikatakan Mamanya saat ini. Namun pastinya tak lain tak bukan adalah prihal pernikahan pastinya pikirnya lagi menjadi gundah gulana.


  Saat ini dia mulai membersihkan wajahnya dan keluar dari Appartmen milik Dita yang telah di hadiahkannya itu.


  Dan saat ini mulai keluar dan menaiki lift menuju parkiran. Dengan lajunya mobil itu keluar dan menuju hunian mewah miliki keluarga Harlan itu.


    Sampai di rumahnya lewat maghrib sudah, karena jalanan yang cukup macet dia lewati tadi. Karena memang dia sudah keluar dari Appartmen itu sudah menjelang magrib.


    Melangkah dengan malasnya masuk ke dalam rumah mewah itu, akhirnya dia sudah ditunggu oleh Papa dan Mamanya saat ini di ruangan keluarga.


  "Erlang, duduk sini," ucap Papanya yang saat ini menyuruh Erlangga duduk di sebelahnya.

__ADS_1


 Dia pun melangkah menuju tempat duduk itu. Ketegangan di mulai, namun tampak ada hal baru lagi yang akan dibahas dalam ruangan keluarga ini, pikir Erlangga.


  "Ada apa sebenarnya Pa, Ma?" Tanya Erlangga.


 "Besok kamu jangan pergi kemana-mana lagi," ucap mamanya menjawab.


"Memangnya kenapa Ma? Kan pernikahannya lusa," jawabnya membantah.


"Tidak Erlang, pernikahanmu di percepat besok!" Sahut papanya pula menambahkan.


 "Apa Pa besok?" Tanya Erlangga terkejut.


 Bagaimana tidak terkejut, mereka tampak mempercepat pernikahan itu dan membuat rencana tanpa memberitahukan kepada Erlangga yang menjadi mempelai prianya.


  Ada apa sebenarnya ini?


 "Iya besok!" Jawab mamanya kembali


 "Kenapa harus besok Ma? Kan lusa sudah  undangan di sebar bukan?" Tanyanya lagi.


   "Besok itu akadnya saja Erlang, di percepat karena tadi Miranda menghubungi Mama, katanya jika tidak besok akad dilangsungkan dia mau kembali ke Prancis," ucap Mamanya lagi.


"Wanita itu mengancam mama dan Papa? Lalu kalian setuju karena takut dia pergi?" Tanya Erlangga dengan wajah kesal.


"Erlang! Dia bukan mengancam kami, hanya saja kami tidak ingin kehilangan calon mantu ideal seperti Miranda!" Ucap Mamanya lagi.


"Astaga..Ma!" Tersekat suara Erlangga disitu.


  Ingin saja rasanya dia meluahkan segala aib Miranda di depan kedua orang tuanya ini, kalau sebenarnya dulu mereka putus di karena kan  Miranda ketahuan berzinah di kamar hotel tepat di depan matanya.


  Namun, masih berpikir seribu kali, tidak mungkin seorang Erlangga yang jantan mengungkapkan aib orang yang pernah dia cintai bertahun-tahun lamanya itu.


Akankah semua terungkap?

__ADS_1


****


   


__ADS_2