TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
SATU MOBIL DENGAN ISTRI DAN KEKASIH


__ADS_3

  Bailey adalah pria kelahiran Prancis yang memang memiliki usaha di bidang tekstil. Bailey memiliki usia yang cukup jauh dengan Erlangga. Perbedaannya sepuluh tahun jauhnya.


   Bailey masuk kepala empat saat ini, dan memang dia dan Erlangga sangat mengenal baik, bahkan Bailey ini termasuk berjasa dengan Erlangga dan Miranda saat mereka berada di negara Prancis.


    Namun mengapa Miranda tampak panik seketika Erlangga menyebut nama Bailey?


  Ada rahasia dibalik ekspresi yang ditunjukkan Miranda saat ini.


  Ketika Erlangga dan Erkan bertanya bersamaan seperti itu, membuat Miranda semakin gugup lagi untuk memberikan  jawabannya.


   "Tidak, aku tidak apa-apa, hanya saja sedikit lelah. Erlang, bolehkah kau antar aku pulang sekarang?" Tanya Miranda sambil memegang kepalanya.


   "Oh..baiklah, ayo kita pulang sekarang," ucap Erlangga sambil matanya menatap Dita yang masih menunduk itu.


  Kedua tangan Erlangga memang memegang Miranda berdiri, namun kedua bola matanya menatap Dita yang tak bisa membalas tatapan Erlangga itu.


    "Erkan, kami duluan ya," ucap Miranda dengan sengaja membuat nada lesu.


  "Iya Mir, hati-hati kalian dijalan," jawab Erkan.


   Rencana makan berempat gagal malam ini. Jantung Dita berdetak kuat, antara takut dan gelisah akan kemarahan suaminya, yang dia juga paham tatapan itu begitu tajam.


    Tiba-tiba masih beberapa langkah Erlangga meninggalkan meja itu, dada Erlangga yang bergejolak amarah itu berbalik kembali saat ini dan Miranda dia biArkan berdiri disana dengan memegangi kepalanya.


   "Dita! Kau juga ikut denganku, karena kau sekretarisku bukan!" ucap Erlangga dengan tegas dan menahan  giginya itu.


  "Tapi Erlang, ini kan bukan jam kerja Jani?" Protes Erkan saat ini.


  "Walau bukan jam kerja, tapi ini perintah!" ucap Erlangga yang tampak tidak mengalah.


   Baru saja Erkan ingin menyahut kembali, Dita menghentikan perdebatan mereka. Dita tahu Erlangga saat ini sengaja mengatakan demikian, karena memang sebelumnya Erlangga sudah pernah memberitahukan kepada Dita bahwasannya dia  tidak suka Dita pergi dengan Erkan.


    Namun, malam ini Dita berpikir Erlangga tidak akan peduli akan hal itu, karena memang sudah ada Miranda di dekatnya.


  Bahkan Dita sudah berjabat tangan dengan seorang Miranda yang akan memutuskan tali pernikahan kontrak dia dan Erlangga.


  "Pak Erkan Sudah lah, Pak ceo benar, saya hanyalah sekretarisnya, dan dia berhak memerintahkan saya mau di jam kerja ataupun tidak," ucap Dita menyelah keduanya.

__ADS_1


    Erkan sudah tidak bisa bicara apapun juga saat ini. Seketika hatinya melemah, Erlangga membawa kedua wanita itu bersamanya.


   "Kalau begitu, ayo cepat ikut denganku!" ucap Erlangga.


   Miranda seketika bingung melihat kejadian itu, mengapa Erlangga membawa sekretarisnya bersama mereka dalam satu mobil, pikir Miranda.


    "Erlang, apa dia harus ikut juga malam ini?" Tanya Miranda yang saat ini sudah kembali mendekap Erlangga.


   "Mir, dia ini sekretarisku, maka dia juga wajib ikut menemui klien itu," jelas Erlangga.


   Rasa sesak di nafas Dita saat ini, melihat suami yang dia sudah miliki rasa terhadapnya di dekap oleh orang yang pria itu cintai.


   Hanya bisa menarik nafas panjang, menurutnya Erlangga begitu kejam terhadapnya, di depan dirinya Erlangga membuat kemesraan dengan Miranda.


  Hati istri mana yang tahan seperti ini, Dita menahan isak tangisnya. Kalau dulu memang dia tidak peduli, tidak cinta, bahkan tidak ada rasa sayang sedikitpun, itu dulu cerita sekarang tidak seperti itu.


   Rinjani Anindita mengakui benar tentang perasaannya saat ini. Tapi dia tidak pernah meluahkannya, karena memang dia tidak berhak mencintai Erlangga atau pun memiliki Erlangga, karena memang sudah terikat perjanjian antara mereka berdua.


    Dita berjalan di belakang keduanya dengan kaki yang gemetar dan lemah. Jujur saja saat ini dia memang sedang lapar, karena belum ada makan apapun.


   Sedangkan Dita sendiri dia duduk di belakang dan membuka pintu itu sendiri, rasa sesak tertahan di sana.


  "Siapa lah aku ini, hanya istri dalam kontrak saja," ucap Dita  dalam hatinya.


   Suasana sunyi senyap sekarang, didalam mobil itu Dita  membuang pandangannya ke arah jendela saja, dia malas menatap Erlangga dan Miranda yang berada di depannya dengan adegan yang menyakitkan itu.


   "Mir, duduk lah yang benar, jangan begini!" ucap Erlangga sedikit marah.


"Sayang, memangnya kenapa? Kepalaku sedang sakit," ucap Miranda kembali.


  "Aku tahu kau sedang sakit, cuma ini aku sedang nyetir, tolong duduk yang benar!" sahut Erlangga kembali.


   Miranda sedikit kesal, dia memonyongkan bibirnya dan melipat kedua tangannya. Saat ini bahkan Miranda hanya diam saja dan suasana didalam mobil itu penuh kebisuan, sedangkan di dada Erlangga penuh kerusuhan dan pertanyaan untuk Dita.


  Mata Erlangga tak pernah fokus menyetir, dia mencuri pandang lewat kaca depannya, melirik kearah Dita yang seolah tidak ingin melihat mereka berdua disana.


  "Sialan! Apa benar dia bisa setenang itu?" tanya Erlangga dalam hatinya.

__ADS_1


  Dia marah dengan sikap Dita yang cuek terhadapnya dan Miranda. Seolah memang Dita tidak memiliki perasaan dan hati sedikitpun tentangnya.


    Sedangkan dia ketika melihat Dita dan Erkan tampak memang tidak bisa mengendalikan emosinya, seperti tadi dia bahkan mengajak Dita ikut bersamanya.


   Setengah jam berlalu dengan cepat, Miranda yang minta diantar pulang itu akhirnya telah sampai tepat di depan rumahnya.


  Terlihat rumah dua lantai itu hanya dijaga dengan 2 orang sekuriti disana, yang memang Erlangga cukup mengenal baik mereka juga.


  Karena memang hubungan Erlangga dan Miranda ini terbilang lama, mereka seolah memiliki cinta yang kuat, bahkan kenyataan Erlangga yang sudah di selingkuhi di depan matanya itu tetap saja melayan Miranda seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.


   "Sayang, antar aku sampai ke kamar," ucap Miranda dengan nada manja yang membuat hati Dita  sakit.


"Iya, baiklah," jawab Aril lembut.


  "Dita, kau tunggu disini saja, jangan kemana-mana," ucap Erlangga tegas.


   Hanya dibalas anggukan saja oleh Dita yang tampak menahan air matanya yang ingin tumpah sedari tadi, melihat sang suami dipanggil sayang oleh wanita lain, bahkan Erlangga yang tidak pulang beberapa hari ini, mungkin saja Erlangga telah menghabiskan malamnya bersama Miranda, pikir Dita sejauh itu.


    Erlangga dan Miranda pun keluar dari mobil itu, Erlangga memapah Miranda yang berpura-pura sakit tersebut.


   Tepat diambang pintu mereka disambut oleh kedua orang tua Miranda, yang sedang bersantai di teras rumahnya tersebut.


   "Erlangga, kenapa dengan Miranda?" tanya mama Miranda saat ini.


  "Miranda bilang dia sedikit pusing Ma, dan minta diantar ke kamarnya," jelas Erlangga.


 "Oh..yasudah nak, kamu bawa saja Miranda ke kamarnya," ucap kedua orang tuanya Miranda.


   Dita menyaksikan itu semua dengan jelas, memang tampaknya antara orang tua Miranda dan Erlangga sudah begitu akrabnya.


    Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Rinjani Anindita?


  


  Akankah Erlangga memberikan pelajaran kepada Dita, karena sudah pergi dengan Erkan?


****

__ADS_1


__ADS_2