
Jam sudah hampir setengah satu, Miranda yang sedari tadi menunggu Erlangga di rumahnya tersebut hampir bosan mendengarkan cerita dari calon mertuanya itu.
Lama memang mereka tidak bertemu, namun Miranda saat ini ada misi lain untuk menikah dengan Erlangga Harlan tersebut. Dan saat ini pula Erlangga telah sampai di parkiran rumahnya.
Mendengar suara mobil tersebut mama Erlangga langsung tersenyum lebar ke arah Miranda yang sedari tadi terlihat kesal karena Erlangga tak kunjung sampai.
Yang ditunggu-tunggu telah di depan mata, baru saja Erlangga keluar dari mobilnya tersebut Miranda sudah menyambutnya dengan kedua tangannya di pinggang.
"Sayang! Kenapa kau terlambat!" ucapnya kesal.
"Maaf Mir, macet di jalan," alasannya masuk akal pikir Miranda.
"Sudah sayang jangan marah lagi, cepat kalian berangkat," ucap mama Erlangga pula sambil tersenyum.
"Baik lah Ma, Erlangga pamit dulu," ucap anak laki-laki semata wayangnya tersebut.
Hanya dibalas anggukan dan senyum bahagia yang terpancar dari raut wajah mama Erlangga tersebut. Pasalnya memang mama Erlangga ini sudah tidak sabar ingin menimang cucu.
Erlangga bukan pria muda lagi, dia yang sudah memasuki kepala tiga itu memang sudah pantas rasanya untuk menikah. Segalanya mereka sudah ada, hanya penerus Erlangga saja yang masih belum ada, pikir mamanya saat ini.
Tiga hari lagi, segalanya akan berubah termasuklah status Miranda pasti akan menjadi istri sah menurut negara dan agama untuk sang CEO.
Sedangkan Erlangga statusnya memang sudah berubah sejak beberapa bulan lalu, walaupun status sebagai suami tersembunyi itu, namun Erlangga tampak menghargai pernikahannya akhir-akhir ini.
Miranda sudah masuk kedalam mobil itu, dengan tingkah manjanya yang tak pernah berubah, semakin kesini dia semakin manja pula. Namun entah mengapa Erlangga tampak bersikap datar saja.
Tidak dengan istrinya, ingin sekali rasanya dia selalu berdekatan dengan Dita, melihat wanita itu baring di pahanya seperti bulan-bulan terlewati.
Walau kadang memang, ketika mereka bertemu pasti selalu ada perdebatan, pertengkaran namun ujungnya berakhir di pergulatan ranjang.
"Sayang! Kenapa kamu diam terus?" Tanya Miranda saat ini yang sedari tadi memperhatikan Erlangga hanya menatap jalanan.
Erlangga memegangi alisnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya memegang stir bulat itu, dan matanya hanya ke jalanan, sedangkan pikirannya kepada istri kontraknya tersebut.
Berulang kali Miranda mencoba menyapa Erlangga namun pria itu hanya merespon cuek dan datar saja. Miranda kesal, namun dia berpikir Erlangga yang sekarang bukan yang dulu lagi, dia sekarang sudah menjadi ceo dan tanggung jawabnya banyak, mungkin saja pekerjaannya akhir-akhir ini cukup berat, pikir Miranda.
Satu sisi lagi, Miranda yang mencoba mencairkan suasana itu dia hanya mencoba terus-terusan menggoda Erlangga , mulai tangannya kemana-mana sekarang.
__ADS_1
Kalau malam itu, ketika Erlangga mengantarkannya pulang hingga ke kamarnya tersebut dan dia mencoba menggoda pria itu, namun tidak berhasil kali ini dia ingin mencobanya lagi.
Tangannya menyapu perlahan paha Erlangga , kepalanya direbahkan di pundak pria itu, serta matanya terus menatap Erlangga .
Pria itu sesikit risih, dan tangan nakal Miranda mencoba mencapai keperkasaan pria tersebut, yang sama sekali tidak menyambut tangan Miranda itu.
"Mir! Kau ini apa-apaan!" ucap Erlangga sedikit di tekan dan membuat Miranda terkejut.
"Erlangga ? Apa kau masih se naif ini?" tanya Miranda lagi.
"Aku bukan naif, hanya saja aku tidak mau melakukan itu sebelum kita menikah!" Tegas Erlangga kembali.
Ucapan Erlangga itu seolah menusuk relung hati Miranda, wajah wanita itu memerah dan dia sedikit malu dan takut, jika Erlangga mengatakan demikian pastilah Erlangga mengingat kejadian yang dulu, pikir Miranda.
"M..maaf kan aku," ucap Miranda gugup.
Miranda tidak ingin memperkeruh keadaan di dalam mobil yang tenang setenang air yang ada buayanya ini, karena memang Miranda takut membangkitkan ingatan Erlangga mengenai itu.
"Sudah lupakan saja," ucap Erlangga datar tanpa ekspresi.
Erlangga hanya melirik kesal ke arah Miranda, memang tanpa disuruh dan diingatkan pun Erlangga tetap ingat kejadian itu. Menikahi Miranda dalam dekat ini sebenarnya sudah bukan mau dirinya namun tetap saja dia akan memenuhi keinginan dua pihak keluarga yang memang sudah mengenal baik satu sama lain.
"Erlangga , itu disana tempat janjian aku dan owner WO kita," tunjuk Miranda ke arah cafe yang tampak bernuansa jepang itu.
"Oh..oke," jawabnya singkat.
Tak lama itu mereka telah sampai dan Erlangga pun memarkirkan mobil mewahnya tersebut. Miranda dibukakannya pintu lalu wanita itu menggenggam tangan Erlangga kuat dan mereka berjalan beriringan.
Memang sekilas pasangan yang serasi, namun perasaan keduanya sudah lah tidak sejalan lagi. Erlangga menikahi Miranda hanya karena keluarganya Miranda pula ingin menikah dengan Erlangga karena masalah pribadinya yang masih ia tutupi.
Mereka masuk dan tampak memang wanita anggun yang umurnya masuk kepala empat tersenyum ke arah mereka dan menyambut serta menyapa hangat keduanya.
"Hallo nona Miranda, Tuan Erlangga ," ucapnya mengulurkan tangan.
"Hallo juga nyonya Rista," ucap Erlangga yang tampak juga mengenal wanita ini.
Siapa yang tidak mengenali sang ceo ini, apalagi dia pewaris satu-satunya keluarga Soeseno dan wanita ini memang langganan mamanya juga.
__ADS_1
Selain memiliki WO dia juga memiliki bisnis kuliner yang mama Erlangga sukai yaitu kuliner masakan padang.
"Apa kabar kalian berdua?" Tanya wanita itu lagi.
"Seperti yang NYONYA lihat," jawab Erlangga lagi.
"Oh iya, ini katalog yang kamu minta Miranda," ucapnya kembali.
Miranda menyambutnya dengan gembira dan dia sangat antusias membuka katalog itu, namun Erlangga dia masih berpikir tentang istrinya yang saat tadi hatinya dia sakiti.
"Sayang, apa kebaya warna ini bagus?" Tanya Miranda meminta pendapat Erlangga .
"Ha..ini bagus semua," ucap Erlangga tersenyum tipis.
"Kalau yang ini?" Tanya Miranda kembali.
Erlangga yang tampak gelisah dan tidak fokus itu membuatnya saat ini mengambil keputusan tiba-tiba dan dengan tegas berkata kepada nyonya Rista itu.
"Maaf Nyonya Ris, tolong bantu Miranda memilihkan gaun yang dia suka, karena saya ada pekerjaan mendadak kembali," ucap Erlangga lagi.
"Ha..Erlangga !" Bentak Miranda kesal.
Wanita pemilik WO itu hanya ternganga menatap keduanya, bahkan Erlangga yang sudah berdiri itu saat ini dengan tanpa basa basi lagi meninggalkan keduanya.
"Erlangga , kamu bilang tadi sudah tidak sibuk!" umpat Miranda kesal.
"Mir maaf kan aku," jawabnya lalu dia pergi begitu saja.
"Sialan Erlangga ! Mau kemana dia!" Umpat Miranda sangat kesal.
Bahkan Miranda merasa dirinya dipermalukan di depan Nyonya Rista ini, pasalnya Erlangga tampak tidak antusias dengan pernikahan tersebut. Tidak seperti pasangan calon pengantin yang sesungguhnya, jika memang keduanya benar saling mencintai pastilah keduanya bahagia dalam hal-hal seperti ini, pikir owner WO itu.
Akan kah pernikahan ini berlanjut?
Mau kemana Erlangga sekarang?
*****
__ADS_1