
Jam sekarang hampir menunjukkan pukul jam 19.00 tepat. Karena sebentar lagi dinner Erlangga dan Miranda akan berlangsung semua pelayan yang ada di rumah mewah itu dengan cepat mempersiapkan segalanya.
Sedangkan saat ini, Erlangga sendiri masih tertidur dengan lelapnya, karena memang dia yang lelah itu dari sore sudah bergulat dengan sang istri lalu karena mendapatkan kabar Miranda kecelakaan dia pun percaya begitu saja ternyata hanya sebuah prank keluarganya.
Malas dengan dinner malam ini, seolah ingin melupakan dinner itu dan rasa lelah yang memuncak membuat Erlangga tidur dengan begitu nyaman diatas kasur empuknya itu.
Miranda pula masih berkutit dengan make upnya. Bahkan saat ini dia bukan make up sendiri melainkan ada tim make up yang telah di sediakan mama Erlangga untuk dirinya itu.
"Wah…anak mama cantik sekali," ucap Mama miranda yanag saat ini masuk ke dalam kamar anak gadisnya itu.
"Iya dong Ma, malam ini Mir akan buat Erlangga tidak bisa melupakan Mir," ucapnya.
"Sayang, kamu tenang saja, Erlangga kan sebentar lagi menjadi suamimu, jadi jangan khawatir," jelasnya mamanya lagi.
"Iya Ma, tapi akhir-akhir ini Erlangga itu lebih mentingin pekerjaannya dibandingkan Mir Ma, Erlangga berubah total tidak seperti dulu," ucapnya.
Dan sekarang ini mereka masih berbincang hangat membicarakan sikap Erlangga akhir-akhir ini. Orang tua Miranda ibi memang kenal baik dengan orang tua Erlangga, namun mereka semua tidak tahu masalah pribadi Erlangga dan Miranda yang memang pernah ketahuan selingkuh.
Mereka hanya pernah mendengar, Erlangga dan Miranda sempat putus sejenak, ketika Miranda tidak ingin diajak menikah oleh Erlangga.
Namun kedua keluarga itu tidak mempermasalahkan hal tersebut, apalagi orang tua Erlangga yang mengetahui ketika pulang dari negara Prancis tersebut anaknya menjadi galau karena seorang Miranda.
Dan itu lah mengapa ketika Miranda pulang dan tiba-tiba memutuskan ingin menikah bersama Erlangga kedua orang tua Erlangga menyambutnya dengan senang hati.
Karena mereka sudah merasa cocok dengan Miranda, dan mereka juga merasa Erlangga sangat mencintai wanita itu, mungkin karena kedua orang tua Erlangga tidak pernah melihat ada wanita lain setelah Erlangga putus hubungan dengan Miranda tersebut.
Ya! Memang Erlangga tidak pernah berencana secepat itu mendapatkan pengganti Miranda dihatinya. Berbulan-bulqn dia menjadi ceo yang galau.
Dia hanya menyimpan sakit hatinya sendiri. Bahkan sekarang ini dia pula sudah terjebak dalam pernikahan kontraknya itu.
Benar kata orang, cinta itu tidak pernah tahu datang nya kapan, dan dimana dia ingin berlabuh, makanya setiap ada perasaan apapun jangan pernah berlebihan termasuk mencintai atau pun membenci.
Seperti hal nya Erlangga, dia yang trauma dan membenci setiap wanita menganggap kaum itu sama, akhirnya Tuhan mempertemukannya dengan orang yabg berbeda.
Malam itu terjadi begitu saja, dia tahu Dita masih suci bahkan saat di nodainya masih ada bercak darah tertinggal disana.
__ADS_1
Sedangkan malam ini yang hampir menunjukkan pukul delapan, sedari tadi para pembantu bergantian mengetuk pintu kamar pria itu, namun masih tidak ada sahutan disana.
Akhirnya Nyonya besar turun tangan untuk anak semata wayangnya itu. Karena memang Erlangga akan tunduk dengan Mama atau Papanya Saja.
Karena pintu dikunci, mamanya memiliki kunci serap pintu kamar Erlangga itu. Dengan cepat dia membukanya, dan memang terlihat anak lelakinya itu masih terlelap tak sadarkan diri.
"Hem…gimana anak bujang mama ini, masih saja terlelap, apa pekerjaanmu sangat melelahkan," ucap Mamanya sendiri.
Mamanya mulai mendekati tubuh Erlangga yang saat ini menutup tubuh itu dengan selimut nyamannya.
"Sayang…bangun!" Sekarang sentuhan di bahu anaknya tersebut sedikit keras.
"Erlangga!" Panggil mamanya lagi.
"Hm…apa sih Ma," jawab nya malas.
"Kamu lihat jam deh, ini sudah mau jam delapan, sebentar lagi Miranda. Sampai dan dinner kalian akan di mulai," ucap Mamanya lagi.
"Hm…Ariwl masih nagntuk Ma," jawabnya.
"Ma, sudahlah jangan bahas itu terus," jawab Erlangga.
"Kamu jangan kecewain Mama dan Papa, kami berdua sudah mempersiapkan ini jauh hari, mama tidak mau nanti setelah menikah hubungan kalian berdua menjadi renggang karena permasalahan yang pernah kalian alami sewaktu menjadi sepasang kekasih," ucapnya.
Panjang lebar wanita paruh bayabitu menceramahi Erlangga, andaikan dia tahu kalau calon menantunya itu pernah tidur dengan pria lain, apakah mungkin dia akan se antusias ini menyuruh anak prianya tetap menikahi wanita itu?
Erlangga bukan jenis pria bermulut wanita, dia simpan sendiri rahasia dan aib sang kekasih tersebut. Sekarang karena ceramah yang panjang lebar itu membuat Erlangga bangun juga.
"Hm..yasudah mama keluar dulu deh, Erlangga mau mandi," ucapnya.
"Oke, Mama dan Papa tunggu dibawah kalau kamu belum siap-siap juga Mama dan Papa bakalan yang masuk kesini lagi!" Pungkas mamanya kembali.
"Huh..ok Ma," jawaban malas dan hembusan nafas tertekan yang keluar dari mulutnya itu.
Dan sekarang inu mamanya telah pun keluar, dengan wajah yang ceria, karena Erlangga tetap masih patuh dengan perintahnya itu.
__ADS_1
Melihat layar ponselnya sejenak, memang jam hampir menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit saja.
Sedangkan Miranda sudah dalam perjalanan menunju rumah mewah ini. Dia memakai gaun hitam yang terlihat sexy itu, lipstiknya yang menyala itu membuat bibirnya semakin menarik saja.
Dia merasa dandanannya malam ini pasti akan membuat mata seorang Erlangga Harlan tidak berkedip melihatnya.
Jalanan kota Jakarta seperti biasa sedikit macet, namun baginya yang sedang bahagia jalanan macet tidak masalah.
Sedangkan satu sisi lagi Erlangga masih menatap layar ponselnya mencari satu nomor disana.
"Hm..dia sedang apa ya?" Tanya Erlangga sambil menatap nomor itu dan menekan dalam panggilan.
Siapa lagi kalau bukan Rinjani Anindita, tampaknya baru bangub saja pria ini langsung mencari sosok istri kontraknya ini.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."
Hanya ada suara operator disana, mencoba mengirimkan pesan dari panggilan tersebut, entah kapan Dita buka pikirnya setidaknya jika nanti Dita dnegar dia akan menghubungi dirinya kembali.
"Hem…sedang apa dia? Kok tumben sekali jam segini ponselnya mati," ucap Erlangga.
Karena ponsel sang istri tidak aktif akhirnya dengan langkah malas dan raut wajah yang datar itu melangkah juga ke kamar mandi saat ini.
Dia malas mendengar ocehan mamanya kembali, itulah mengapa dengan cepat masuk dan membersihkan tubuhnya.
Tidak terlalu antusias dengan diner ini, dia pun hanya sekedar saja membersihkan tubuhnya yang memang sore itu dia sudah pun mandi.
"Hem..pakai ini saja lah," ucapnya malas memilih pakaian yang bagus.
Mengambil celana jeans dan kemeja serta baju kaos biasa dia tampak malas dan tidak menghargai dinner malam ini.
Sengaja dia bertingkah seperti itu, dia ingin melihat reaksi dari Miranda, apakah wanita itu mampu menerima dirinya dengan apa adanya, atau wanita itu seperti dulu tetap menjadi wanita pengatur dirinya tersebut.
Bagaimana reaksi Miranda?
Akankah dinner malam ini berlanjut?
__ADS_1
****