TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
DITA GELISAH


__ADS_3

Erlangga melipat kedua tangannya menatap tajam ke arah sang dokter yang seolah sedang memperbaiki mobilnya itu, melihat gelagat sang dokter yang tampak merencanakan sesuatu membuat Erlangga terpaksa turun tangan.


"Boleh saya cek mobilnya?" Tanya Erlangga saat ini mencoba mengikuti permainan sang dokter.


Sang dokter hanya bosa menelan salivanya, karena dia berpikir Erlangga ini adalah orang yang biasa saja, ternyata Erlangga bisa memperbaiki mobil nya.


"Sialan! Kenapa dia mau sok-sokan membantuku!" umpatnya kesal.


Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan Erlangga itu, dan sekarang Erlangga tanpa perlu mendapat jawabannya dia langsung saja melihat kondisi mobil yang katanya ada masalah itu.


Membuka bagian depan mobil tersebut, Erlangga hanya tersenyum licik saat ini melihat kondisi mobil itu, dan sambil menurunkan nafasnya dengan benar agar dia bisa menahan emosinya.


"Sialan, benar kataku mobil ini tidak ada masalahnya," ucapnya dalam hati.


"Maaf pak dokter mana kunci mobilnya?" Tanya Erlangga sambil mencoba mengembangkan senyum terpaksa ramahnya itu.


"Ada di dalam," jawabnya singkat dan tampak wajah ketakutan.


Tentu saja dia ketakutan, karena takut kebohongannya dibongkar oleh Erlangga . Erlangga mulai masuk ke dalam mobil sang dokter, wajah sang dokter yang tampak tegang itu membuat Dita menaruh curiga kepadanya.


Kunci mulai diputar dan suara mesin mobil itu pun terdengar, bahkan Erlangga memutarkan mobil itu mengarah ke jalan luar, tampaknya dia sengaja melakukan hal demikian agar sang dokter cepat pulang dan hilang dari pandangannya tersebut.


"Benar-benar sialan! Awas kau kali ini kau menang, minggu depan ku yakin aku yang menang!" Ucapnya dalam hati.


Erlangga pun mulai turun dari mobil mewah itu, dan saat ini dia berjalan begitu santainya, memegang kunci yang seolah mengolok sang dokter.


"Pak dokter, ini kunci mobil anda, semoga selamat sampai tujuan," ucapnya mengembangkan senyum.


Wajah sinis dokter itu tampak menahan geram karena rencananya untuk menginap di rumah keluarga Dita itu gagal, dan mobil yang sudah bertukar arah itu pun semakin menambah dia kesal bahkan malu terhadap Dita dan ayahnya tersebut.


"Oke terima kasih, kalau begitu sekali lagi saya pamit pulang," ucapbya lagi.

__ADS_1


"Iya nak hati-hati di jalan," jawab Ayah Dita.


Akhirnya sang dokter pun pulang dengan raut wajah penuh kemarahan terhadap Erlangga . Ingin rasanya dia menyiasat lebih jauh lagi mengenai siapa Erlangga tersebut yang tampak rela datang jauh-jauh dari kota ke desa yang cukup jauh ini, pikir sang dokter.


Karena memang Erlangga baru pun sampai malam ini, Dita masih belum banyak bicara maupun bertanya, ada apa dengan Erlangga sampai dia bisa ke sini.


Satu sisi lagi, malam yang semakin larut, mama Erlangga yang sudah menghubungi Erkan sejak tadi bertanya dimana keberadaan Erlangga saat ini, namun mamanya pun tidak mendapat jawabannya.


Bahkan Erkan yang di hubungi itu berpikir Erlangga pasti bersama Miranda, karena memang mereka adalah pengantin baru tentu saja mereka akan menghabiskan banyak waktu bersama.


Sedangkan Mama Erlangga berkata Miranda di rumah bersama mamanya yang sengaja di bawa karena takut di serang para pendemo yang akan datang ke kediaman mereka.


"Astaga kemana Erlangga ya Pa, bahkan nomor ponselnya tidak aktif sama sekali, masak pengantin baru menghilang begini," umpat mamanya kesal.


"Papa juga bingung dengan Erlangga yang sekarang Ma," jawab suaminya itu.


"Sudah lah Ma Pa, Mir gak apa-apa, kalau malam ini Erlangga belum pulang juga biar Mir tidur sendirian aja, atau nemenin mama Mir tidur," jawab Miranda pula.


" Iya bener itu Jeng, mungkin saja Erlangga masih shok atau terkejut karena kan statusnya sudah menjadi suami," ucap Mama Miranda pula.


"Gak apa-apa jeng, ini biasa kok terjadi jangan khawatir kami berdua maklum saja dengan pria seperti Erlangga ," jawabnya dengan senyum mengembang.


"Terima kasih banyak kalian sudah pengertian," ucapnya.


"Ma, Pa kalau begitu Mir masuk ke kamar dulu ya, capek banget soalnya hari ini," ucapnya meminta izin.


"Iya saya juga mau izin istirahat," sahut mama Miranda itu.


Akhirnya keduanya pun sama-sama memutuskan untuk tidur bersama. Miranda tahu malam ini Erlangga tidak akan pulang ke rumah itu.


Kemarin di hari pernikahannya dan malam pertama mereka Miranda bahkan paginya ditinggal Erlangga sendirian di ranjang tersebut, dan untuk malam ini juga Erlangga meninggalkannya lagi.

__ADS_1


Tampak kecewa dan marah, bahkan sudah terbesit dendam disana, membuat perencanaan yang matang untuk dia jalankan sekarang.


Sedangkan satu sisi lagi keluarga Dita yang masih menyambut hangat kedatangan Erlangga itu mereka pun telah masuk ke kamar masing-masing saat ini.


Erlangga pula tidur berdua dengan adik ketiga Dita yang memang sesama pria. Ayahnya tidur bersama adik kedua Dita karena mengingat kondisi ayah Dita yang tidak berapa sehat itu harus ada penjagaan yang kuat.


Malam semakin larut saja, semua masing-masing larut dengan pikiran mereka, larut dengan harapan-harapan mereka yang saat ini mencoba do hilangkan semuanya.


Namun tidak dengan Erkan yang masih saja ada rindu di sana, namun mendengar suara Dita sebentar tadi membuat rindu itu sedikit terobati.


Dita masih penasaran, rasanya dia tidak sabar untuk hari esok agar bisa berbicara empat mata dengan Erlangga , ingin bertanya apa tujuannya yang sebenarnya ke rumah Dita itu.


Sedangkan dirinya pun tidak diberitahukan sama sekali atas kedatangan Erlangga itu. Dita sangat lelah namun dia sulit tidur karena memikirkan hal itu terus menerus, masih belum terjawab hingga hari esok yang mungkin akan memberikan jawaban tersebut.


"Kak, kenapa kakak gelisah?" Tanya Rosmita yang!sedari tadi melihat Dita berbaring namun gelisah.


"Ha..ehm, tidak dik rasanya malam ini cukup panas," jawabnya asal-asalan.


Rosmita hanya mengernyitkan dahinya, mana pernah kampungnya ini kalau malam hari terasa panas, karena memang ini area yang terbilang sejuk kalau malam hari, namun entah mengapa Dita gelisah dan mengatakan hal demikian.


"Apa kakak sedang sakit?" Tanya Rosmita lagi.


"Enggak kok dik, yasudah kamu tidur gih, kakak masih belum bisa tidur," ucapnya.


Erlangga juga sama dengan Dita dia gelisah, namun kegelisahaannya bisa dia tutupi sambil berbincang hangat dengan adik ke tiga Dita ini.


Tampaknya obrolan mereka juga tak kalah serunya, Erlangga menceritakan dunia kecilnya saat itu.


"Wah..enak ya jadi abang, karena bisa main sama ibu dan ayah abang," ucap Adik ketiga Dita itu.


"Kamu pasti waktu kecilnya sama juga kan, ibu kamu pasti selalu menjadi pembela nomor satu kalau ayah kamu sedang marahi kamu kan?" Tanya Erlangga sambil bercanda.

__ADS_1


"Enggak bang, ibu meninggal sejak aku dilahirkan," ucap adik ketiga itu membuat pembicaraan mereka hening seketika.


****


__ADS_2