
Melihat siapanyang menghubunginya, Erkan girang dan tersenyum lebar saat ini. Tanpa berpikir panjang dia dengan cepat menjawab panggilan dari pujaan hatinya itu.
"Jani..kamu dimana?" Tanya Erkan yang tampak senang sekarang bahkan dia tidak menunggu Dita mengatakan halo padanya.
"Erkan, aku sedang berada di kampungku," ucap Dita.
"Di kampung? Kenapa kau tidak memmberitahukan ku? Apa ada masalaah di kampung?" Tanya Erkan lagi.
"Iya ada sedikit urusan yabg harus aku selesaikan disini, tolong berikan aku izin untuk cuti satu minggu," ucap Dita kembali.
"Baiklah kalau begitu, aku sekarng lega kamu ada kabar lagi, kalau kamu bhtuh apapun jangan sungkan hubungi aku," ucap Erkan kembali.
"Iya terima kasih, aku tutup dulu ya," ucap Dita ibgin cepat mengakhiri panggilan itu karena tidak enak berbicara ada orang yang terus melihat dirinya.
"Jani..tunggu, ada yang mau aku tanya," ucap Erkan menghentikan Dita menutup panggilan itu.
Baru saja Dita ingin menutup panggilan itu, karena memang dia tidak enak hati karena sang dokter tampak sedari tadi mencoba mencari tahu siapa yang menghubungi Dita tersebut.
"Tanya apa Erkan?" Tanya Dita balik seolah ingin cepat saja mengakhiri panggilan itu.
"Kau ada membuat masalah dengan pak ceo?" Tanya Erkan menyiasat.
"Tidak, memangnya kenapa?" Tanya Dita terkejut saat ini dadanya gemetar mendengar pak ceo yang di tanyakan oleh Erkan.
"Tadi barusan dia kesini, dan mencarimu," ucap Erkan.
Dita tidak berpikir sampai kesitu. Karena dia pikir pak ceo tidak akan peduli kemana pun dirinya akan pergi. Karena memang yang dia tahu pernikahan Erlangga dan Miranda hanya tinggal dua hari saja.
Tidak mungkin rasanya sosok Erlangga mencari dirinya yang hanya berstatus istri kontrak itu. Namun mendengar pertanyaan dan ucapan Erkan itu membuat jantungnya berdebar.
Apa Erlangga marah padaku?
Tanyanya dalam hati saat ini. Karena memang dalam iso perjanjian itu juga segala apapun itu selagi masih berstatus istri kontrak tersebut Dita tidak boleh dengan pria mana pun.
"Maaf Erkan, aku tutup dulu," ucap Dita tiba-tiba langsung menutup panggilan itu.
Erkan terdiam, bahkan dia yang sudah rindu dengan wanita pujaannya itu kini harus menanggung keresahan dan plrasa penasaran yang tinggi saat ini.
__ADS_1
Dia jelas melihat sokap Erlangga yang begitu marah ketika mencari Dita. Dan dengan sikap Dita pula seketika dibahas mengenai sang ceo itu dia tampak menjadi gugup bahkan Erkan belum meneruskan ucapannya pun Dita sudah mematikan panggilan tersebut.
Saat ini pula Erlangga yang dari tadi menuju Appartmen itu sudah pun sampai dan berbaring di kasur empuk tersebut. Dita juga tidak ada disana.
Sedikit frustasi karena sosok istri kontrak yang akhir-akhir ini tampak tidak bisa dia lupakan walau sejenak itu menghilang tiba-tiba.
"Apa dia melarikan diri?" Tanya Erlangga dalam hatinya.
Erlangga pun bangkit dari kasur itu mencoba berjalan menuju almari dia ingin mengecek apakah pakaian dan barang-barang Dita masih tersimpan disana.
Cekrek..
Almari terbuka lebar, tampak masih banyak pakaian mahal dan brended tergantung di dalam almari itu. Dan Erlangga mencoba membuka laci demi laci yang ada dalam almari itu.
Dia menemukan satu kotak yang unik di pandangannya saat ini. Mencoba ingin membuka kotak itu karena memang dia orang nya penasaran.
"Tapi..ini kan bukan punyaku," ucap hatinya tampak tidak ingin menyentuh barang milik istrinya itu.
Namun hati dan pikiran tidak sejalan, pikirannya lebih menunjukkan rasa penasaran yang tinggi apa isi kotak yang berukuran sedang itu.
Akhirnya dia pun membukanya perlahan. Dan disana dia mengernyitkan dahinya karena bingung kotaknya unik namun isinya hanya sebuah buku diare.
Dia memang tidak banyak tahu mengenai istrinya itu, namun bagaimanapun rasa penasaran yang tinggi membuatnya terdorong ingin membuka dan mengetahui isinya tersebut.
Barangkali dia pikir ada keterangan atau jawaban dimana Dita berada sekarang pikir Erlangga.
Karena selama mereka menjalin hubungan suami istri tersebut baru kali ini Dita menghilang tanpa ada kabar sedikit pun.
Buku diari itu pun mulai dia buka. Halaman pertama dia melihat buku tabungan milik istrinya tersimpan rapi disana.
"Kenapa dia menyimpan di dalam buku?" Tanya Erlangga kembali.
Dia pun melihat isi buku tabungan itu, dan betapa terkejutnya Erlangga saat ini, cek yang pertama dia berikan kepada Dita yang jumlahnya fantastis itu saat ini sisanya masih tampak banyak.
Bahkan setengah dari cek itu tidak tersentuh. Semakin penasaran lagi Erlangga dengan isi bukunya itu.
Dia dulu berpikir cek itu telah Dita habiskan. Padahal wanita itu hanya memakai seperlunya saja dan hanya dia transfer 100 juta untuk pengobatan Ayahnya waktu itu.
__ADS_1
Erlangga yang terkejut dan penasaran dan semakin kagum, ternyata Dita bukan wanita yang ada di pikrannya selama ini.
Dia yang menganggap Dita gila akan uang kini dia tertegun membuka halaman kedua dari buku diari tersebut.
Foto keluarga Dita, namun tidak terlihat seorang ibu disana. Hanya ada tuga orang adik dan seorang ayah yang tampak sudah paruh baya memeluk keempat anaknya.
Isi buku itu membuat Erlangga merasa bersalah dengan ucapannya selama ini kepada Dita.
"Dear ayah, ini anak pertamamu yang sudah dewasa dan siap menanggung beban. Apapun itu Dita akan lakukan demi kesembuhan ayah dan membiayai adik-adik hingga jenjang yang tinggi.
Ayah, lihat anakmu hingga sukses, maaf kan Dita yang tidak bisa menggantikan sosok ibu dirumah, karena Dita harus melawan badai yang ada di luar demi keluarga kita dan kesembuhan Ayah.
Hari ini atau pun nanti, Dita tidak akan pernah menyesal menjadi sosok anak pertama yang pertama ayah lihat dan cintai. Dita berterima kasih karena selama ini ayah berjuang untuk kami.
Ayah, lihat anakmu menjadi sukses dan berguna."
Itu lah isi halaman kedua dari buku diari itu, membuat sang ceo terduduk di atas kasur empuk itu. Ternyata dia sudah salah menilah seorang Rinjani Anindita.
Dia termenung jauh sekarang, membuat dirinya yang sering memaki dan memarahi Dita itu kini terdiam dan melamun jauh.
"Lalu, kemana Dita sekarang? Apa dia pulang kampung?" Tanya Erlangga dalam hatinya.
"Kalau memang benar seperti itu, setidaknya aku sebagai menantu menjenguk ayah Dita," ucapnya lagi sendiri.
Dan dia terus saja berdialog dengan dirinya sendiri sekarang. Dan saat ini pula dia yang melamun jauh itu dikejutkan oleh deringan ponselnya yang tampak membuat dia sedikit lega.
"Dita! ucapnya tanpa pikir panjang menjawab panggilan itu.
Dita terpikir dengan ucapan Erkan tadi, yang mengatakan pak ceo mencari dirinya pagi ini. Entah apa yang diinginkan Erlangga namun Dita yang masih berstatus sebagai istri itu mencoba bertanggung jawab dengan statusnya sekarang.
Dia keluar dari ruangan dimana ayahnya di rawat. Dan tampak gugup ingin berbicara dengan suaminya sendiri.
"Dita, kau dimana sekarang?" Tanya Erlangga dengan nada khawatir.
Akankah Dita memberitahukannya?
****
__ADS_1