
Suara deringan ponsel bergema kuat di dalam kamar hotel yang begitu nyaman dengan nuansa pengantin baru yang tampak kelelahan.
Gairah Ceo patah hati itu benar-benar dia luahkan tadi. Tubuh mungil istrinya yang awalnya dia papah ke atas ranjang kenikmatan itu akhirnya saat ini Rinjani Anindita merasa lelah dan dia begitu terlelap.
Awalnya tubuhnya menolak hebat, rasa ketakutan dan trauma bercampur disana. Namun, ketika Erlangga memulai permainannya dari mulai cumbuan bibir hingga ke rongga-rongga yang tak bisa disebutkan lagi.
Ini bisa dibilang permainan pertama mereka dengan keadaan sadar. Bahkan Erlangga melupakan Miranda diatas ranjang tadi.
Saat itu berlangsung mulut Erlangga tak kunjung menyebut Miranda melainkan dia memanggil sayang kepada Dita.
Deringan ponsel yang kuat membuat Erlangga terkejut, karena memang posisi ponselnya tak jauh dari telinganya itu.
"Astaga, ini sudah pukul Delapan?" ucap Erlangga terbelalak.
Tak lain tak bukan, yang menghubunginya saat ini adalah manager hotel yang sedari tadi menunggu Erlangga dan Dita untuk menghadiri meeting penting ini.
Semuanya telah berkumpul hanya menunggu mereka saja sekarang. Erlangga tampak kalang kabut dengan hal itu, lalu dia mengguncang tubuh Dita dengan kuat.
"Heh! DITA!" bentaknya.
Baru saja dia memanggil sayang diatas ranjang itu, ketika kenikmatan itu memunculkan gairahnya sebutan sayang begitu lembut di telinga Dita beberapa jam lalu, namun kesadaran kali ini membuat Erlangga kembali ke suhu normalnya.
Yaitu menjadi pria arogan dan pria yang tampak ingin memarahi Dita kembali. Wanita mungil itu seketika samar-samar memandang wajah Erlangga yang saat ini sudah berhadapan dengannya.
"Ada apa?" tanya Dita lemah.
"Hey, apa kau lupa tujuan kita kesini?" Tanya Erlangga dengan wajah marah.
Padahal dia yang menghanyutkan Dita, namun saat ini seolah yang salah adalah Dita. Pria itu masih bergelut dengan gengsinya, padahal tadi dia tidak melepaskan dekapannya untuk Dita walau sekejap.
"Cepat, bereskan tubuhmu lalu kita pergi ke pertemuan yang sudah menunggu kita!" Perintah Erlangga yang cukup menyadarkan Dita saat ini.
"Astaga..apa ini sudah malam?" Tanya Dita yang saat ini menarik selimutnya itu.
__ADS_1
Dia masih tidak berbusana, hanya berbalut selimut saja di tubuh bersihnya itu. Dan sekarang ini dia kalang kabut juga sama seperti Erlangga yang tadi mendapat panggilan dari manager hotel itu.
Dita masuk ke toilet dengan menyeret selimut itu, dia merasa malu jika berlari di depan Erlangga yang tampak menatapnya tajam itu.
Tidak memperdulikan tatapan Erlangga terus saja dia membersihkan tubuhnya dengan cepat, saat ini dia pun sedikit merasa lega dan tubuhnya agak lebih fresh kembali setelah beberapa menit berlalu.
Erlangga pula sekarang telah membasuh tubuhnya juga, kesempatan ini dengan cepat Dita ambil dan Dita sekarang telah memakai pakain yang formal karena memang dia sudah mengingat tujuannya kesini untuk meeting.
Memakai skirt yang panjangnya selutut, dan memakai setelan kemeja biru dalemannya putih, tak lupa juga sepatunya yang sedikit tinggi dan rambutnya dia biarkan terurai.
Walaupun tampak sederhana namun dia tetaplah cantik dan indah dipandang. Dia sudah siap dengan cepat, Erlangga terheran melihat wanita itu begitu cepat dandanannya.
Kebanyakan wanita di dunia ini, prialah yang menunggu mereka, namun tidak dengan Rinjani Anindita itu, tampaknya dia wanita yang tidak bertele-tele dan membuang waktunya.
Erlangga yang hanya memakai handuk di pinggangnya itu mencoba memberikan isyarat kepada Dita yang tampak sudah siap ingin berangkat.
Dita bingung dengan tatapan berisyarat Erlangga itu, pasalnya dia sulit mengartikan kemauan sang Ceo patah hati satu ini.
"Aduh..tadi dia yang mau cepat-cepat, ini kenapa pake kode-kode segala!" umpat Dita begitu kesal.
"Maaf Pak Ceo, apa yang anda inginkan?" Tanya Dita sopan.
"Kau ini istriku, jadi ambilkan pakaianku, dan pakaikan di badanku!" Perintahnya lagi membuat Dita terbelalak.
Sengaja dia dengan cepat berpakaian agar terhindar dari tatapan pria satu ini, namun tampaknya pria ini tak habis-habisnya mengerjai Dita.
Hanya bisa menelan salivanya saja sekarang, namun dia adalah istri sah Erlangga. Mau tidak dilaksanakan takut menjadi istri durhaka, dia pun memaksakan dirinya dan memberanikan dirinya untuk memakaikan pakaian suami kontraknya itu.
Mulai dari yang bawah hingga atasan semua Dita yang memasangkannya. Seolah menjadi bayi kolot saja Erlangga saat ini.
Dia sengaja melakukan itu, karena memang dia ingin membuat Dita kesal dan marah kepadanya. Namun tampaknya Dita mengumpulkan berjuta kesabaran untuk melakukan apapun yang diperintahkan oleh Erlangga kepadanya itu.
Erlangga memperhatikan terus raut wajah Dita yang tampak tanpa ekspresi itu. Namun entah mengapa dia tidak memikirkan Miranda sedikitpun saat inim
__ADS_1
"Ehm!" Dehem Erlangga ketika Dita memakaikannya dasi.
Dita hanya bisa meliriknya, tatapan mata mereka beradu saat ini, namun dia tetap melanjutkan pemasangan dasi itu.
"Auh!" Kau ini bisa pasang dasi atau tidak?" Bentak Erlangga lalu mundur dari Dita.
"M..maaf pak, saya tidak sengaja," ucap Dita yang masih merendah.
Sebenarnya Dita sengaja, menarik dasi itu sedikit kuat, karena dia tidak suka Erlangga menatapnya seperti itu, namun dengan trik begitu Erlangga memasang dasi itu sendiri.
Ponsel kembali berdering, akhirnya kemarahan Erlangga berakhir disana, dan dia dengan cepat memerintahkan Dita untuk bersiap keluar bersama untuk meeting penting itu.
Sudah ada supir yang menunggu mereka di depan hotel tersebut, Erlangga memakai jas hitam dengan setelan yang sesuai untuknya. Ketampanannya memang tidak berkurang sedikit pun.
Kharisma seorang Erlangga Harlan sangat terlihat malam ini, karena memang tempat pertemuan itu tidak jauh dari hotel yang Erlangga dan Dita beristirahat tadi, hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja akhirnya mereka telah sampai.
Disambut hangat dengan para penanam saham disana, karena memang pihak Erlangga lah yang cukup besar sahamnya menjadikan dia tamu yang penting dan yang sangat di tunggu disini.
Hanya ada senyuman dari mereka semua, namun tampak beberapa orang lelaki yang tampaknya pihak investor Thailand juga, dia menatap Dita dengan tatapan yang nakal.
Dita merasa risih dengan tatapan pria seperti itu, namun tetap saja dia mencoba profesional dengan mengembangkan senyuman.
Mereka duduk berdekatan dengan pria itu, tampak pria yang mau memasuki paruh baya itu mencoba mendekati Dita.
Bahkan yang dia sapa terlebih dulu Dota bukan Erlangga. Membuat Erlangga menatap tajam kepada Dita dan pria bermata keranjang tersebut.
"Dita, kau disini dan aku disitu!" ucap Erlangga saat ini menahan giginya rapat.
Mereka bertukar posisi sekarang, Erlangga tak menghiraukan tatapan orang-orang disana, namun entah mengapa dia tidak menyukai jika orang lain memandang miliknya seperti itu.
Apakah permainan panas tadi sore membuat Erlangga ada rasa dengan Rinjani Anindita?
Atau itu hanya sebuah trauma?
__ADS_1
***