
Tepat diambang pintu mereka disambut oleh kedua orang tua Miranda, yang sedang bersantai di teras rumahnya tersebut.
"Erlangga, kenapa dengan Miranda?" tanya mama Miranda saat ini.
"Miranda bilang dia sedikit pusing Ma, dan minta diantar ke kamarnya," jelas Erlangga.
"Oh..yasudah nak, kamu bawa saja Miranda ke kamarnya," ucap kedua orang tuanya Miranda.
Dita menyaksikan itu semua dengan jelas, memang tampaknya antara orang tua Miranda dan Erlangga sudah begitu akrabnya.
Setelah itu mereka berdua menaiki anak tangga menuju kamar Miranda yang memang letaknya di lantai atas tersebut dan Erlangga masih dengan sabar memapah tubuh ramping itu menuju kamarnya.
Cekrek…
Pintu terbuka lebar saat ini, Miranda dengan keahlian menggodanya dan kali ini dia yang pura-pura sakit itu mencoba menggoda Erlangga kembali.
Setelah beberapa hari telah bertemu dengan Erlangga baru kali ini ada kesempatan Miranda berdua di kamar dengan Erlangga. Beberapa hari lalu ketika kepulangan Miranda ke Indonesia ini, keluarga Erlangga dan Miranda mengadakan makan malam bersama.
Dan mereka semua tampak membicarakan rencana pernikahan keduanya yang akan dilaksanakan tidak lama lagi.
Namun, Erlangga yang beberapa hari lalu dilema membuatnya tidak karuan, dan saat ini pula hatinya masih ada gejolak marah karena melihat istri kontraknya pergi dengan sepupunya sendiri.
"Mir, lepaskan aku!" ucap Erlangga yang mencoba melepaskan dekapan Miranda yang saat ini berada di bawah Erlangga.
"Erlangga….apa kau tidak ingin mencobanya?" Goda Miranda membuat bulu kuduk Erlangga merinding sejenak.
Miranda melihat Erlangga berkeringat ketika bibir Miranda sampai di leher Erlangga sekarang. Sempat Erlangga ingin terbuai dengan godaan wanita ini, namun tiba-tiba Erlangga memberontak.
"Miranda cukup!"
Erlangga menghentikan aksi Miranda dan dengan keras tubuh Miranda dia hempaskan di kasur itu, lalu Erlangga membuang pandangannya dan dia pun tanpa mengatakan sepatah kata apapun juga saat ini, dia dengan cepat menutup pintu kamar Miranda.
"Ah sialan! Erlangga, kau sama seperti dulu, sok suci!" umpat Miranda geram karena gagal menggoda Erlangga.
Erlangga memang tidak pernah menyentuh Miranda walau mereka sudah lama menjadi sepasang kekasih. Awalnya tadi Erlangga hampir bergairah, namun tiba-tiba dia terbayang dengan Miranda yang telah ditiduri oleh pria yang dia tidak sukai waktu di Prancis itu.
Entah ini rasa trauma atau apa, namun gairah ceo galau ini memang tidak muncul di hadapan seorang Miranda yang dia cintai.
__ADS_1
Akankah Erlangga bisa menikahi Miranda?
Hampir lima belas menit berlalu sekarang, Dita yang sedari tadi menunggu dalam mobil itu sudah pun meneteskan air matanya, dan melihat Erlangga keluar dari rumah itu, dengan cepat dia mengatur nafasnya kembali.
Prak!
Mobil ditutup saat ini dengan kuat, entah apa yang membuat Erlangga marah besar hingga menutup pintu mobil itu dengan kuatnya membuat Dita terkejut seketika, dan tetap diam karena takut dan tahu Dita salah malam ini.
"Ah, semua wanita sama saja!" umpatnya kesal.
Dia melajukan mobilnya dengan cepat dan saat ini bahkan dia tidak bicara dengan Dita sedikit pun sekarang. Dita juga tampak takut, karena Erlangga melajukan mobil itu entah kemana arahnya.
Kelajuan mobil itu semakin bertambah lagi, Dita masih tidak berani membuka mulutnya ingin protes dengan Erlangga takut kemarahan pria itu semakin bertambah, Dita hanya berpegangan kuat saat ini.
Shit…..
Mobil itu tiba-tiba mengerem dadakan, membuat Dita terhentak seketika, hanya bisa menarik nafas panjang, dia yang dari tadi menutup matanya karena takut, akhirnya mobil itu telah berhenti, tapi tidak tahu dimana.
"Turun sekarang, dan pindah kedepan," ucap Erlangga dingin.
Siapa lagi yang dia perintahkan seperti itu kalau bukan seorang Dita. Sesak rasanya suami sendiri kasar dengan istrinya. Ya memang mereka hanya suami istri dalam kontrak dan ini sudah menjadi resiko yang Dita tanggung.
Sedangkan ada seorang pria yang tulus cintanya untuk seorang Rinjani Anindita yaitu Erkan Harlan, malah Dita mengabaikannya begitu saja, padahal mereka lebih awal saling mengenal.
Erkan yang ditinggal sendirian di restoran jepang tersebut, hanya bisa mengumpat kesal terhadap Erlangga yang dianggap begitu egoisnya.
Padahal sudah lama Erkan dan Dita tidak makan bersama seperti itu, namun lagi dan lagi Erlangga yang mengacaukan segalanya.
Erkan pulang dengan sendiri malam itu, Dita yang datang bersamanya kini harus pulang bersama sepupunya yaitu Erlangga Harlan.
Erlangga yang telah menyuruh Dita pindah tempat duduk dari belakang hingga ke depan wanita satu itu hanya bisa mengikuti arahannya saja, karena jika banyak membantah dia pasti akan berdebat kembali dengan Erlangga dan jika begitu Dita akan tetap disalahkan oleh Erlangga.
Setelah Dita sudah pindah tempat duduknya tersebut, saat ini Dita mulai memasang keamanan untuk tubuhnya dia takut Erlangga kembali melajukan mobil itu.
Erlangga setelah Dita pindah tempat tersebut, masih dalam kebisuanya dan mobil itu tampak tidak ada penghuni hanya suara angin yang berada disana.
Yang katanya malam ini akan bertemu Tuan Bailey, namun arah jalan ini tampak ke arah Apartemen milik Dita. Mungkin saja apa yang dikatakan Erlangga tadi hanya akal-akalannya saja.
__ADS_1
Ya! Benar saja memang mobil ini bukan mengarah bertemu Tuan Bailey yang baru disebutkan Erlangga ketika di restoran tadi, tapi mobil ini sudah memasuki kawasan hunian mewah milik Rinjani Anindita itu.
Tak lama kemudian sampai di parkiran Apartemen tersebut, Erlangga masih diam membisu, namun ketakutan Dita memuncak semakin menjadi.
"Cepat keluar!" ucap Erlangga lagi dengan wajah datarnya.
Dita keluar dari mobil itu, dua bulan berlalu, dan mereka delalu bersama-sama hampir sikap Erlangga berubah namun malam ini tampak kembali seperti awal menikah dulu.
Apa karena Miranda?
Apa pernikahan ini akan berakhir malam ini?
Tanya besar di kepala Rinjani Anindita saat ini, entah lah jika. Memang benar begitu maka ini adalah nasib, cinta Dita yang bertepuk sebelah tangan.
Mengikuti jalan Erlangga yang memasuki lift menuju lantai 10 dimana Appartmen milik Dita itu berada saat ini.
Tak lama mereka dalam lift, walau masih dalam kebisuan diantara keduanya, dan setelah sampai di depan pintu Appartmen milik Dita itu, langsung sang ceo membukakan pintu tersebut, tiba-tiba tubuh Dita dia angkat dengan cepat.
"Auh…." Turunkan aku!" Teriak Dita sangat terkejut.
"Aku akan mengikatmu malam ini, kau tidak akan kulepaskan!" ucap Erlangga yang masih memeluk erat tubuh mungil itu menuju ranjang kenikmatan mereka.
Apa yang sang ceo ingin lakukan kepada istri kontraknya tersebut?
Mengapa Dita langsung dia hempaskan diranjang kenikmatan itu?
Apakah Miranda tidak memenuhi gairahnya?
Saat ini sang ceo mulai membuka satu persatu kancing bajunya tersebut, membuat Dita terkejut dan terpaku, mengapa dia ingin melakukan hal ini?
Apakah selama bersama dengan Miranda tadi mereka tidak ada berbuat apa-apa?
Temukan jawabannya di bab selanjutnya.
Jangan lupa komentarnya ya readers.
__ADS_1
****