
Tampaknya saat ini yang menghubungi dirinya adalah Papa Erlangga tersebut.
"Iya Om ada apa?" Tanya Erkan.
"Erkan, kamu mungkin sudah baca berita kan? Tolong kamu urus itu semua dan suruh semuanya hapus jangan ada berita hoax tentang keluarga kita, apalagi tentang pernikahan yang gagal," ucapnya.
Erkan pun meng iyakan ucapan Omnya itu, sedangkan dalam keadaan darurat begini pun Miranda menuntut keadilan dia pagi-pagi yang melihat berita hoax tersebar banyak tidak terima dan melapor kepada Papa Erlangga agar semua berita itu di hapuskan.
Dan dengan cepat perintah Miranda itu sudah pu dilakukan Papa Erlangga . Melihat itu Erlangga sangat muak dengan wanita pengatur tersebut. Ternyata bukan dirinya saja yang Miranda atur seenaknya bahkan tidak melihat kondisi Miranda juga mengatur Papa Erlangga yang tampak selalu mengikuti kemauan wanita itu.
***
Setelah Erkan menghubungi para media yang terkait membuat berita hoax pagi ini, dia pun langsung menghubungi kedua orang tuanya agar segera ke rumah sakit untuk melihat kondisi Mama Erlangga yang tak lain tak bukan adalah kakak ipar dari mama Erkan tersebut.
Mendengar berita duka itu membuat kedua orang tuanya cepat pergi menuju rumah sakit saat ini.
Setelah segala urusan Erkan selesai namun dia masih tidak menemukan sosok Dita lagi, dan sekarang dia mencoba bertanya pada bagian receptionist yang berada di lantai paling bawah itu.
Karena beberapa hari sudah sulit untuk bertemu dengan Dita dia pun segera menanyakan kabar Dita tersebut. Sedangkan pagi ini Erlangga tampak sibuk mengurus keperluan di rumah sakit untuk mamanya yang masih belum sadar itu.
"Erlang, kamu pergi turun sarapan dulu, gantian dengan Papa," ucap Papanya itu.
"Tapi Pa, Erlangga tidak lapar," jawabnya merasa sedikit bersalah karena memang mamanya terkena serangan jantung dadakan itu karena ulahnya yang tampak menentang kedua orang tuanya malam itu.
"Sudah lah nak, kamu sarapan dulu nanti baru lanjut lagi tungguin mama disini," ucap paoanya lagi.
Akhirnya Erlangga akur juga dengan ucapan Papanya tersebut. Dia sejak malam itu memang tidak ada menyantap apapun juga.
Pagi ini dia yang merasa bersalah tampak tidak ingin meninggalkan mamanya tersebut. Dan sekarang karena papanya yang memintanya lagi dia pun akur dan telah menuruni anak tangga itu.
Saat ini kelelahan Erlangga tampak terbesit ingatannya dengan seseorang yang selalu ingin dia datangi.
Siapa lagi kalau bukan Rinjani Anindita, sang istri dalam kontrak tersebut saat ini dia baru teringat dan tampak rindu pula.
__ADS_1
Sekarang Erlangga telah pun sampai di restoran bawah rumah sakit itu. Kebetulan disana ada restoran nasi padang yang memang makanan ini makanan favorit istrinya tersebut.
Lagi-lagi semuanya tentang Dita yang hanya dia ingat. Tentang Miranda hanya ada kebosanan dan dilema disana.
Pernikahan yang hampir terjadi sebentar lagi, sulit untuk dibatalkannya karena memang ini kemauan kedua orang tuanya juga.
Dia pun sudah memesan makanan yang ingin dia makan saat ini. Nasi padang ayam sambal ijo sudah menjadi favoritenya juga.
Semenjak dengan Dita dia menjadi pria yang lebih peramah dan tampak sederhana. Tidak sebelum ini dia yang menunjukkan segala kepunyaannya di khalayak ramai namun Ceo Galau ini sekarang menjadi pria yang bijak dan dewasa.
Mengingat tentang Dita, dia pun mengambil ponselnya dari saku celana jeans yang memang dari sejak malam itu dia masih memakainya.
Nomor ponsel Dita pun sudah berada di layar depan ponsel milik Erlangga itu dan saat nomor itu cepat dia hubungi, namun baru saja dia menghubungi nomor tersebut hanya mendapatkan sahutan dari operator.
"Rakam pesan anda.tekan 1," ucap operator dari talian tersebut.
Merasa kesal dan tercari, padahal ini jam kerja pikir Erlangga . Mengapa bisa-bisanya Dita tidak mengaktifkan ponselnya.
Merasa ada yang aneh di hatinya tersebut, dia terpikir sejenak dengan Erkan yang pagi ini sudah pasti menggantikan dirinya menjadi ceo tersebut.
"Jangan…jangan Erkan dan Dita sedang berduaan!" ucap Erlangga lagi.
Ingin membuang apa yang ada dipikirannya saat ini, dia pula mencoba menghubungi nomor Erkan dengan cepat dan tampak menahan amarahnya.
Panggilan itu masuk namun tak terjawab. Karena memang Erkan meninggalkan ponselnya di meja kerjanya itu. Dia yang turun ke bawah ingin bertanya kepada receipsionis mengenai kehadiran Dita hari ini.
"Sial! Pasti ucapanku ini benar! Dasar wanita tak tahu diri! Pantang diberi kesempatan lenggang pasti dia mencari peluang!" ucap Erlangga tampak marah kembali.
Karena dia curiga dan menahan amarahnya itu, sarapan yang tampak menyelerakan tersebut membuat dia berhenti bahkan telah membayar makanan itu.
Entah kemana saat ini langkah kakinya, dia menuju parkiran rumah sakit. Dimana mobil mewahnya terparkir di sana.
Baru saja memasuki mobil mewah itu, papanya menghubunginya, dengan berat hati dia menjawab sejenak panggilan itu dan tampak mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Erlang, mama sudah sadErkan diri," ucap Papanya tanpa jeda dan tanpa Erlangga bertanya sebelumnya.
"Oh..syukurlah Pa, oh iya Erlangga pulang sebentar ke rumah ada yang mau Erlangga ambil, sarapan untuk Papa sudah Erlangga titipkan ke pelayan restoran nanti dia antErkan," jelasnya dengan cepat.
"Baik Erlang, kamu cepat kembali kesini lagi ya," ucap papanya.
Erlangga sengaja berbohong karena jika mengatakan dia ke kantor pagi ini pasti banyak keributan dan pertanyaan.
Karena memang dia sudah disuruh untuk cuti beberapa waktu ini karena mengingat pernikahannya sudah tinggal menghitung hari saja.
Entah karena cemburu atau apa namun terlihat jelas ceo itu wajahnya menahan amarah yang besar dan sekarang mobil sport itu tampak sengaja dia lajukan agar segera sampai.
"Kalian pasti tertangkap basah!" Ucapnya yang membuat alibi sendiri di kepalanya.
Dan saat ini juga dengan cepat mobil itu pun sudah sampai di parkiran bawah kantor milik keluarga Harlanitu.
Sedangkan Erkan yang masih bertanya di bawah tersebut masih belum mendapatkan jawabannya mengapa Dita tidak hadir ke kantor hari ini.
Erlangga pula dengan nafas yang menggebu tersebut membanting pintu mobilnya sendiri, dia pula dengan cepat berjalan menuju ruangan ceo miliknya yang saat ini dia ketahui Erkan menduduki kursinya tersebut.
"Selamat pagi pak Erlangga !" Sapa receipsionis yang tampak melihat sosok Erlangga masuk ke dalam.
Namun tanpa ada sahutan Erlangga pula tidak seperti biasa pakaiannya. Walau pub para staf sudah melihat berita pagi tadi yang sempat beredar namun sudah hilang seketika karena Erkan mengurusnya.
Sudah biasa dengan sikap angkuh ceo tersebut, dia dengan cepat masuk ke lift. Sedangkan Erkan yang baru saja dari bawah tersebut saat ini sudah duduk di kursi ceo tersebut dan mengambil ponselnya.
"Erlangga menelpon?" Tanya Erkan tampak terkejut dengan suara yang tiba-tiba pintu itu di tolak kuat.
Pintunya tersebut memang tidak di kunci, melihat Erlangga berdiri diambang pintu itu, dan dia hanya tersenyum menyapa Erlangga .
"Erkan! Mana Dita?" Siasat Erlangga dengan wajah marah dan memegang kerah baju Erkan.
Akankah Erlangga menghajar Erkan?
__ADS_1
***