TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
PERTEMUAN PERTAMA DENGAN MERTUA


__ADS_3

Tentu saja tampak bingung sekarang adik ketiga dari Rinjani Anindita itu, karena wajah ini memang sama sekali belum pernah dia lihat.


"Apa benar ini rumah Rinjani Anindita?" Tanya Erlangga saat ini dengan sopan.


" Iya benar bang, abang ini siapa?" Tanya adik ketiga itu.


"Saya temannya," jawabnya singkat.


"Oh..silahkan masuk bang."


Akhirnya Erlangga disuruh masuk ke dalam rumah sederhana itu. Keramahan adik Dita itu membuat hatinya sejuk, tidak seperti anak di kota kelahirannya yang jarang sekali memiliki tata krama seperti ini.


"Silahkan duduk dulu bang, saya panggilkan kak Dita," ucap adiknya itu.


Hanya di balas anggukan, Erlangga menatap ke sekeliling ruangan tamu yang sederhana itu, berjejer gambar lawas di dinding dengan cat berwarna kuning yang hampir pudar ditelan masa.


Menunggu Dita untuk melihatnya datang, entah mengapa jantung Erlangga berdetak tampak kencang sekarang, apa yang akan dia katakan nanti kepada Dita, namun saat ini rindunya mendorong diri Erlangga menjadi nekad.


Adik ketiga itu menuju ruangan dimana Dita dan ayahnya yang duduk di kursi roda tersebut berada. Dia menghampiri Dita yang saat ini mengobrol santai sambil menunggu makanan datang dihidangkan oleh ketiga adiknya itu.


"Kak Dita, ada tamu yang mencari kakak," ucapnya mengejutkan Dita yang asik bercengkrama manja dengan Ayahnya itu.


"Siapa Dik?" Tanyanya heran.


Sedangkan saat ini ayahnya hanya tersenyum lebar, dia pikir yang datang malam ini adalah dokter Yogi yang memang tampak minat dengan seorang Dita.


"Tidak tahu kak, katanya teman kakak," jawabnya begitu polos.


Mendengar ucapan adiknya itu yang ternyata bukan Dokter Yogi, ayah Dita pun menjadi penasaran, pasalnya sudah lama mereka tidak kedatangan tamu selain dokter Yogi yang memang baru-baru ini sering mengunjungi setiap warga yang sakit keras seperti ayah Dita ini.


Dita pula tampak bingung, teman yang mana dia pikir sekarang, sedangkan memang di kampung ini dia adalah termasuk anak rumahan.


Karena penasaran mereka berdua langsung kedepan diantar oleh adiknya yang membukakan pintu tadi.


Dita mendorong ayahnya itu ikut bersamanya, dan karena memang rumah itu sederhana jadi dengan cepat enam pasang mata menatap ke arah pria yang tampak gugup itu.


"Astaga Erlangga !" ucap Dita pelan namun jantungnya berdetak kuat.

__ADS_1


Erlangga mengulum bibirnya sendiri, ketika menatap mata Dita yang tampak berkaca-kaca dan menatap seorang pria paruh baya yang duduk di kursi roda didorong oleh Dita itu Siapa lagi kalau bukan ayah dari istri kontraknya tersebut.


"Nak, apa kamu mengenalnya?" Tanya ayahnya mengejutkan Dita yang tampak tidak singkron kakinya menapak kali ini.


Apa aku sedang bermimpi?


Itulah tanya Dita dalam hatinya saat ini, karena dia sudah berkata mustahil akan bisa bertemu dengan Erlangga karena memang ini adalah hari pernikahannya dengan Miranda.


"Dita? Ayahnya lagi mengejutkan.


"Hem..Iya Yah, dia teman Dita di kantor," jawab Dita kelagapan.


Ayah nya tersenyum lebar saat ini menyambut Erlangga dengan hangat karena memang dia berpikir positif saja.


"Silahkan duduk kembali nak," ucap Ayah Dita itu.


Lalu Erlangga menuju pria paruh baya itu dan mengecup tangannya, Dita tampak terharu saat ini, tak pernah menyangka seorang ceo galau yang arogan dan pemarah itu bisa berperilaku sopan di depan ayahnya.


Dita hanya bisa menelan salivanya saat ini, dia dan Erlangga begitu sangat gugup. Saat ini tanpa di suruh adik ketiganya itu mulai ke dapur dan menyuruh kakak nya yang di dapur saat ini untuk melebihkan piring untuk makan malam bersama karena ada tamu.


"Tidak tahu kak, tapi sepertinya tamu jauh," jawabnya sambil membantu mengangkat makanan ke arah ruang makan sederhana itu.


Setelah semua selesai tersaji disana, Ayah Dita yang sempat berbincang sebentar itu dengan Erlangga mendengar Rosmita mengatakan makanan telah tersedia dia pun mengajak Erlangga makan bersama.


Sedangkan Dita dari tadi lidahnya kelu kakinya terasa kaku, antara takut dan terharu disana.


Takutnya adalah kalau Erlangga memutuskan pernikahan di depan orang tuanya ini, dan orang tuanya akan shok bisa-bisa jantungnya kambuh.


Sedangkan bahagianya adalah rasa rindu yang beberapa hari dia pendam terluahkan walaupun terasa mimpi saat ini.


Erlangga berjalan mengikuti mereka, melihat di sekeliling, dan memperhatikan adik-adik Dita yang memiliki kesopanan luar biasa itu memperlakukan dirinya tersebut.


"Oh..berarti nak Erlangga ini teman dekatnya Dita ya," ucap Ayahnya sambil berbincang menuju ruang makan itu.


"Iya om, karena Dita gak masuk beberapa hari ini saya khawatir dan atasan menyuruh saya mencari Dita sampai kesini," ucapnya berbohong.


Tidak ada yang berani memulai ucapan jujur di meja makan itu, Dita maupun Erlangga masih menyembunyikan status mereka berdua, Erlangga pula tampak membawa koper kecil yang saat ini berisakan baju dan sedikit oleh-oleh kecil untuk keluarga Dota tersebut.

__ADS_1


"Ayo nak Erlangga silahkan makan, beginilah keadaan makanan kampung," ucap ayahnya.


."Tenang saja om, masakan orang minang memang kesukaan saya, Dita yang memperkenalkan masakaan seperti ini dan ini makanan kesukaan saya," ucapnya sambil mengambil sedikit rendang dan menaruhnya di piring nya itu.


Tampak kedekatan dan perbincangan yang hangat, terharu Dita saat ini dia termenung ketika itu melakukan seandainya statusnya di ketahui oleh keluarganya apakah ayahnya ini akan menerima kenyataan itu?


Rasanya tidak mungkin dia bisa terima atas perbuatan mereka berdua itu, apalagi seorang ayah Dita itu dia adalah seorang yang fanatik dalam agama.


Apa yang akan dia pikir dengan pernikahan kontrak.


Baru dua suapan mereka melahap dan saling berbincang, tiba-tiba suara pintu kembali terdengar dari luar rumah saat ini.


"Rosmita, coba kamu buka pintu siapa yang datang," perintah ayahnya itu.


"Baik ya," jawabnya akur.


Rosmita pun mulai berjalan menuju ambang pintu, tampaknya malam ini rumah sederhana keluarga Dita itu kedatangan tamu-tamu tak diundang.


Cekrek..


Pintu telahpun terbuka lebar terlihat senyum yang mengembang disana dari soerang pria yang memang tampan dan masih memakai baju dinas kerjanya.


"Bang Yogi..silahkan masuk," sambut Rosmita dengan hangat.


Karena memang rumah itu tisak terlalu besar dan suara yang sunyi senyap di area perkampungan ini membuat orang-orang yang berada di ruang makan mendengar suara Rosmita mengucapkan nama Yogi disana.


"Siapa Yogi?" Tanya Erlangga dalam hatinya saat ini.


Yogi pun masuk karena memang dia sudah biasa berkunjung kesini, tampaknya malam ini keluarga itu kedatangan banyak rezky makanan.


"Ros..ini untuk dimakan bersama," ucap Yogi sambil menyerahkan tiga kotak apam balik dan martabak.


"Terima kasih bang, oh iya ayo kita ke ruang makan, disana ada ayah dan kak Dita juga," ucap Rosmita mengajak sang dokter makan bersama juga.


Dia berjalan memasuki ruang makan sederhana itu, dan saat ini kedua bola mata menatap Yogi penuh siasat sedangkan Yogi hanya bisa menelan salivanya dan menebak-nebak siapa pria tampan yang imut makan disini.


****

__ADS_1


__ADS_2