TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
AJAKAN MAKAN MALAM ERKAN


__ADS_3

     Hari-hari berlalu dengan cepat, mereka tampak terbiasa sudah menjadi suami dan istri dalam kontrak. Begitu juga dengan Dita yang pernikahan mereka saat ini sudah memasuki dua bulan dan hubungannya dengan Erlangga masih dalam status yang sama.


   Namun beberapa hari ini Erlangga tidak terlihat di Apartemen  milik Dita itu. Sejak tadi Dita menantikan deringan telponnya tersebut. 


    Entah mengapa dua bulan berlalu dengan cepat, dan saat ini ada rindu tersirat disana entah dengan belaian setiap malam Erlangga yang ketika gairahnya datang dia pun selalu bermalam di Apartemen yang diberikan kepada Dita itu.


   "Huh…terima nasib saja diriku ini, mungkin pernikahan kontrak ini sudah tidak lama lagi," ucap Dita sendiri pada dirinya yang sambil memegang novel di tangannya itu. 


   Berjalannya waktu dua bulan sempat mereka menghabiskan bulan madu ke Jepang untuk menyenangkan hati dan pikiran mereka berdua.


  Ya walaupun tidak lama namun cukup berkesan bagi keduanya. Waktu berlalu begitu cepat, namun malam pun tiba, dua bulan lalu Erlangga cukup ramah selalu mengunjungi Dita di apartemen  menghabiskan malam bersama.


  Namun malam ini, lagi-lagi kesunyian melanda Dita. Tampaknya Erlangga tak pulang malam ini.


  Suasana sunyi senyap itu, membuat deringan ponsel tersebut ramai terdengar. DITA yang sedari tadi hanyut dalam bacaannya terkejut seketika, dia pun terus berlari menuju kamarnya.


        Dita sampai di kamarnya dan langsung meraih ponselnya, Dita sempat tersenyum, dia seolah berharap yang menelponnya malam ini adalah suaminya sendiri.


      Melihat layar ponsel dengan nama yang tidak diharapkan tersebut, Dita berdengus lemah. Entah lah pikirnya, mengapa dia menunggu suami yang tak mengharapkan dirinya.


     Berat hatinya menjawab panggilan telepon yang tertulis nama Erkan disana. Memang masih pukul setengah sembilan, wajar saja Erkan menelponnya.


      "Hallo Erkan," ucap Dita lemah.


     "Hallo Jani.. aku mau ngajakin kamu diner, bisa gak??" tanya Erkan begitu mesra.


           Erkan memanggil Dita dengan sebutan Jani. Panggilan itu terasa malas di dengar di telinga Rinjani Anindita, namun bagaimana lagi, ingin protes tidak mungkin.


       Erkan cukup baik kepada dirinya, Erkan lah yang banyak membantu Dita  dari mulai dia masih magang di perusahaan milik Erlangga tersebut.


      Hingga sekarang mereka masih berteman baik, dan tidak pernah ada masalah di antara mereka berdua. Erkan  memang sudah lama menyimpan hatinya untuk Dita , namun gadis berkulit putih bersih ini tidak ingin memberikan hatinya kepada Erkan.


      Apalagi sekarang, dia telah menjadi istri dari Erlangga Harlan itu, walaupun tidak ada yang tahu selain mereka berdua dan Tuhan.


       "Hallo..Jani, kenapa kamu diam??" tanya Erkan mengejutkan Dita.       "Ha..tidak, aku hanya sedikit lelah," ucap Dita  mencari alasan.


      "Jika kau sakit, tidak apa-apa aku pergi dinner sendiri saja," ucap Erkan mengalah.


     "Tidak kok, yasudah jemput aku  pukul sembilan nanti," ucap Dita dengan lemah.


    "Serius?? kamu mau Jani??" tanya Erkan begitu semangat.


    "Iya, aku serius."


        Panggilan itu pun sudah berakhir. Erkan seperti mendapatkan kesempatan emas, tiba-tiba saja Dita ingin pergi dinner malam ini bersama dirinya.


       Sudah lama Dita  tidak keluar makan malam bersama Erkan. Tepatnya dua bulan lamanya. Ya! mana mungkin Dita pergi dengan Erkan, karena ada Erlangga  yang selalu mendekap malamnya.

__ADS_1


Dua bulan yang lalu memang terasa sesak jika diingat dan di bayangkan lagi. Betapa indahnya rayuan Erlangga  di atas ranjang, dan mereka saling penuh kenikmatan dan kehangatan.


      DITA  melihat baju di lemari putihnya itu, dia bingung harus memakai gaun yang mana untuk dinner bersama Erkan malam ini. Dia ingin memujuk hatinya sendiri, agar bisa melupakan seorang Erlangga  Harlan .


       Walau masih ada waktu lagi untuk mereka bersama, sebelum datangnya sang kekasih yang Erlangga tunggu dan cintai itu, Dita hanya bisa berpasrah saja jika nanti memang waktu itu akan tiba.


     .


     Semua sudah tertulis jelas perjanjian mereka di atas nota tersebut. DITA  yang tidak pernah ingin tahu tentang hal itu, hanya mengikut saja demi keluarganya.


       "Pakai ini sajalah," ucap Dita  lemah.


     Gaun merah yang begitu anggun dikenakan oleh Dita  saat ini. Gaun itu di berikan oleh Dita saat mereka terbang ke Jepang  waktu itu.


       Erlangga sengaja membawa Dita  bulan madu ke Jepang, sebenarnya tujuannya adalah untuk membuat pikiran pusing Erlangga  hilang karena rasa kecewanya dengan Miranda yang sudah benar berselingkuh di depan matanya itu.


          Jam sudah menunjukkan pukul 08.55 menit. Ada waktu lima menit lagi untuk dia berhias, sebentar lagi  Erkan akan sampai menjemputnya untuk Dinner.


      Erkan duduk di depan meja riasnya, meja rias yang selalu menjadi saksi atas dirinya bersama dengan Erlangga Harlan. Dimana mereka juga sering bercumbu menghabiskan malam, namun malam-malam ini sudah tidak ada lagi kehangatan.


         Niat di hati memang malas untuk pergi, namun jika mengikut pikirannya sendiri, dia ingin sekali menyeret Erlangga  di pelukannya.


     Ya! Dita  begitu rindu belaian hangat dari suaminya itu. Namun ini bukanlah cinta untuknya, dia hanya wanita dalam keperluan pelampiasan Erlangga  saja.


     


      Siapa yang bisa menahan gejolak cinta??


       Siapa yang kuat menahan rindu??


      Tidak ada! aku tidak kuat seperti ini!!" bentak Dita  di depan cermin riasnya.


      Seketika dia menjadi sedih, seolah bayangan Erlangga berada di belakangnya saat ini. Perjanjian yang tertulis itu, benar-benar tidak mempunyai keadilan sedikit pun untuk dirinya tersebut.


  


        Lama dia begitu, tiba-tiba dia dikejutkan dengan deringan ponselnya yang begitu keras bergetar di sebelah ranjang. Dia lihat jam dinding sudah pun tepat angka sembilan.


       Tergesa-gesa Dita membuat riasan wajahnya, dia menutupi segala yang terlihat sembab di matanya tersebut.


        Begitu lah seorang wanita menutup segala kesedihan dirinya sendiri. Dia tidak ingin Erkan  curiga dengan mata sembabnya yang baru habis nangis tersebut.


           Dia pun turun dari apartemennya yang berada di lantai sepuluh. Apartemen itu sengaja di pilihkan Erlangga untuk Dita , agar bisa melihat keindahan kota Jakarta dari atas lantai sepuluh tersebut.


         "Hei Erkan!!" teriak Dita menyapa Erkan yang tampak bersandar di mobil mewahnya tersebut.


          "Jani ...kamu benar-benar cantik," puji Erkan dengan tulus.

__ADS_1


        "Terima kasih, maaf sudah membuatmu menunggu," ucap Dita.


       "Tidak mengapa nona cantik, silahkan masuk," ucap Erkan sambil membukakan pintu mobilnya untuk Dita.


       "Terima kasih sekali lagi," ucapnya lagi.


        Erkan tampak dengan hati yang berbunga-bunga saat ini. Namun Dita pikirannya melayang jauh saat ini.


      "Andaikan yang mengatakan itu adalah Erlangga," ucap Dita dalam hatinya.


      "Jani...kenapa kamu termenung??" tanya Erkan bingung, melihat Dita yang dipanggilnya dari tadi tidak menyahut.


     "Jani.."


     "Ha..eh iya!! ada apa??" tanya Dita baru sadar.


      "Kita mau makan di restoran mana??" tanya Erkan dengan sabar.


     "Oh...aku sih terserah kamu aja," ucap Dita .


     "Yaudah, restoran biasa kita makan saja ya," ucap Erkan lagi.


     "Iya," jawab Dita  singkat.


      Erkan pun melajukan mobilnya ke arah restoran Sushi, restaurant yang biasa mereka kunjungi dahulu. Restoran Sushi adalah restoran yang berisikan masakan Jepang dan Indonesia.


        Dita  sangat menyukai menu-menu di sana, begitu juga dengan Erkan. Malam ini perut juga terasa lapar, Dita sudah lama tidak makan nasi tiga hari ini.


      Dia hanya memakan roti dan vitamin lainnya saja. Hati dan pikirannya membuat dia tidak berselera untuk menyantap makanan apapun, namun kali ini dia tidak ingin mengikutkan hati sangat, dia ingin makan dan melupakan segalanya.


       Mereka berdua telah sampai di Restoran Sushi tersebut, keduanya memang tampak serasi juga jika mata memandang ke arah mereka berdua. 


        "Ayo nona cantik.." ucap Erkan lembut memperlakukan Dita.


      "Jangan berlebihan," ucap Dita tersenyum.


        Mereka masuk dan Erkan memilih duduk di meja no sembilan. Seperti biasanya mereka suka mengunjungi restoran ini, duduk di meja delapan membuat mereka bisa memandang seluruh keindahan restoran tersebut.


        "Silahkan duduk nona cantik," ucap Erkan lembut.


      Mereka berdua duduk, tiba-tiba ada empat pasang mata ke arah mereka, dua bola mata yang tampak tersenyum, dan dua bola mata lagi tampak menyembunyikan amarah yang besar.


         Mata dengan penuh amarah itu, tidak berkedip sedikitpun melihat Erkan dan Dita bersama saat ini.


****


     

__ADS_1


__ADS_2