
Setelah mendengar ucapan adik ke tiga Dita itu, membuat jantung Erlangga berdebar bahkan terbesit rasa iba yang besar disana.
Dan saat ini juga Erlangga memeluk adik ketiga Dita itu membuat adiknya merasa kehangatan dari sikap Erlangga tersebut.
Erlangga adalah anak tunggal, jadi dia tidak pernah merasakan bagaimana memiliki seorang adik atau menjaga seorang adik.
Namun, dia baru tahu sekian lamanya dia menikahi Rinjani Anindita baru kali ini dia ingin ambil tahu mengenai siapa keluarga Dita tersebut.
Ternyata benar, Dita terlahir dari keluarga yang sederhana namun harmonis dan begitu hangat, teringat pertama kali dia yang memulai hubungan dengan Dita menang pernikahan itu berawal dari ketidaksengajaan yang dia lakukan.
Berpikir kalau wanita itu semua sama, bahkan walau dia tahu Dita masih perawan kala itu, dia tetap saja meremehkan Dita yang menilainya Dita gila dengan uang.
Setelah berbincang dengan adik ketiga Dita ini, dia mengetahui kalau ayah mereka tersebut memiliki penyakit yang cukup parah.
Divonis terkena penyakit Leukimia dan jantung, membuat ayah Dita harus selalu mencuci darah setiap bulannya. Membutuhkan biaya yang besar, dan sekarang dia tampak termenung mengingat semua kejadian lalu.
Apa Dita mencintaiku saat ini?
Tanya Erlangga dalam hatinya, karena sudah mengetahui kenyataan yang ada sekarang, dia yakin Dita menerima tawaran pernikahan kontrak itu pasti demi keluarganya ini, terutama pengobatan ayahnya yang memang membutuh kan perawatan tersebut.
Apalagi, sudah melihat ketiga adik Dita sudah beranjak dewasa dan memang membutuhkan biaya yang besar untuk sekolah mereka.
Dita adalah wanita kuat dan mandiri. Erlangga baru berpikir Dita adalah wanita yang berbeda dari yang lainnya. Dia bukan wanita murahan.
"Ya Tuhan..terima kasih telah membuka mata dan pikiranku," ucapnya dalam hati.
Dia termenung, adik Dita mengejutkannya kembali, karena merasa ada hal janggal yang dia rasakan saat ini.
"Bang Erlangga , apa hubungan abang dengan kak Dita hanya sebatas rekan kerja?" Tanya adik ketiga Dita itu.
Mendengar pertanyaan itu membuat lidah Erlangga seketika kelu dan kaku. Dia sangat sulit menjawab, namun tidak enak rasanya kalau dia mengungkapkan kebenaran kepada anak kecil.
__ADS_1
Erlangga mencoba menahannya, namun dia mengalihkan topik pembicaraan mereka kembali saat ini.
" Iya abang teman baik kak Dita, yasudah kita tidur yuk, abang ngantuk sekali," ucapnya kali ini.
Menganguk setuju, lambat laun malam semakin merujuk dan kedingan menusuk hingga tulang mereka.
Sayup-sayup suara jangkrik terdengar kuat karena memang rumah itu di kelilingi persawahan yang indah.
Semakin larut lagi semakin juga sejuk cuaca di kampung itu. Miranda beserta keluarga besar Erlangga juga sudah lelap dan larut dengan waktu.
Akhirnya suara ayam berkokok dan suara azan di mesjid kampung itu terdengar kuat, membuat seisi rumah itu pun bangun, kecuali Erlangga yang tampak tidurnya begitu lelap.
Adik ketiga Dita tak berani membangubkan Erlangga , dan dia berjalan perlahan ke luar kamar itu, saat ini mereka semua telah bangub untuk bersiap sholat berjamaah subuh seperti biasanya.
Termasuk juga Dita, dia yang semakin kesini semakin taat tidak meninggalkan lima waktunya lagi, tampaknya berada di kampung membuat dia semakin dengan dengan sang penciptanya.
Dan sekarang ini juga mereka semua sudah bersiap, adik medua yang sekolah menengah atas itu yang menjadi imam sholat tersebut.
Mereka sudah melaksanakan sholat sunnah dua rakaat sebelum sholat wajib itu di lakukan, karena memang dua rakaat sebelum subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.
Erlangga pula merasa ingin buang air kecil, karena cuaca subuh yang begjtu dingun membuatnya tidak tahan ingin buang air kecil.
Meraba ke sampingnya, ternyata tidak ada adik kedua Dita disana. Membuat Erlangga bertanya, kemana adik Dita sepagi ini?
Karena sudah tidak tahan dia menahan rasa buang air kecilnya itu, dia dengan cepat bangkit menuju kamar mandi, dan tak sengaja terdengar suara bacaan sholat yang merdu dari balik sebuah ruangan kecil yang tidak jauh dari kamar mandi itu.
Dia ke kamar mandi dengan cepat setelah itu dia berhenti sejenak melihat keluarga itu ternyata sangat mengedepankan agamanya. Melihat mereka membuat hati Erlangga semakin sejuk dan ingin rasanya meluahkan semua kejujuran di hatinya saat ini.
Apa ini yang dinamakan hidayah?
Itu lah yang terbesit di hati Erlangga sekarang. Selama hidupnya dia tidak pernah melakukan ibadah sholat, padahal di identitasnya dia memiliki agama islam, namun hanya sekedar identitas saja dan sekarang ini dia menatap mereka semua dengan tatapan yang sendu.
Sekarang mereka hampir sudah selesai, Erlangga kalang kabut melihat mereka hampir selesai dia pun dengan cepat berjalan menuju kamar kembali.
__ADS_1
Karena malu dia yang tidak terbiasa akan hal itu, akhirnya dia langsung saja masuk ke dalam kamar lagi dan kembali narik selimut agar dia tidak ketahuan yang sedari tadi telah memperhatikan mereka sholat berjamaah.
Adik ketiga itu masuk kembali ke kamar untuk bertukar pakaian, biasanya pagi seperti ini banyak kegiatan yang mereka lakukan, karena ini hari libur dia pun dengan cepat bertukar pakaian ingin memberikan makan ikan lelenya yang letaknya tak jauh dari rumahnya tersebut.
Begitu juga Dita dan adik perempuannya yaitu Rosmita mereka berdua tampak bersama membereskan piring-piring untuk sarapan pagi ini.
Erlangga yang berpura-pura tidur itu melihat adik ketiga bertukar pakaian dia pun dengan sengaja membuka matanya perlahan, lalu dengan sengaja batuk agar di ketahui adik ketiga kalau dia sudah pun bangun.
"Bang Erlangga sudah bangun?" Tanya Adik Dita itu.
"Iya dik, disini dingin banget abang mau ke toilet," ucapnya.
"Oh..yasudah bang, abang ke toilet dulu aja bentar lagi sarapan bersama," ucapnya.
"Kamu mau kemana Dik?" Tanya Erlangga penasaran.
"Oh..saya mahu memberi makan ikan lele dulu bang," jawabnya.
"Wah..seru tuh kayaknya, apa abang boleh ikut juga?" Tanya Erlangga .
"Wah, kalau abang mau ikut boleh saja kok," jawabnya.
Sedikit perbincangan itu, tiba-tiba adik ketiga itu masuk kedalam kamar untuk memanggil adik kedua karena memang mereka berdua selalu melakukan aktifitas bersama.
"Eh bang Erlangga udah bangub juga, kalau masih lelah istirahat saja dulu bang," ucap adik kedua itu.
"Gak apa-apa kok dik, abang mau ikut kasih makan ikan lele," jawabnya.
"Wah..serius bang, boleh kok yasudah ayo kita kasih makan ikan lele sama ayam," ucapnya.
"Iya benar bang, setelah itu kita sarapan," ucap adik ketiga pula.
Mereka bertiga pun tampak dengan cepat bangkit bersama-sama menuju lokasi dimana kolam ikan dan ternak ayam milik adik Dita itu berada.
__ADS_1
***