TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
MENAHAN AMARAH


__ADS_3

"Hem..aku Sudah siap," ucap Dita menyadarkan Erlangga yang tampak terpesona sekejap itu.


"Oke, ayo kita jalan sekarang," jawab Erlangga masih santai.


Mereka berdua keluar dari Appartmen  mewah itu, memasuki lift disana masih dalam kebisuan. Biasanya antara Erlangga dan Rinjani selalunya mereka adu argument ataupun Erlangga menjahili istrinya ini.


Lama mereka bersama membuat keduanya sudah terbiasa menjalani hubungan pernikahan tersebut. Namun hari ini tampak mood wanita satu ini tidak begitu baik.


Erlangga sendiri masih bingung apa penyebab istri kontraknya ini seperti ini, padahal jika dia datang kepada Dita wanita ini selalu hangat menyambutnya.


Sekarang sudah sampai di parkiran, bahkan Erlangga membukakan pintu mobilnya untuk Dita saat ini.


Ini bukan hal yang luar biasa, jika di awal pernikahan dulu perlakuan Erlangga kasar namun beberapa bulan bersama Erlangga sedikit demi sedikit tampak menghargai wanita  itu.


Keluar dari area Appartmen itu, Erlangga saat ini mencoba menyiasat mengapa sikap Dita tampak dingin pagi ini.


"Dita, kau ada masalah?" Tanya Erlangga mencoba ingin tahu.


"Tidak ada," ucapnya cuek.


"Lalu, kau kenapa cuek denganku?" Tanya Erlangga lagi.


"Aku tidak apa-apa," jawab Dita singkat kembali.


"Huh…semua wanita sama saja, asal ditanya pasti jawabnya tidak apa-apa! Padahal jelas wajahmu sikapmu menunjukkan kau itu marah padaku!" Jelas Erlangga dengan sedikit gusar dan nada di tekan.


"Erlangga, kau mau membawaku kemana?" Tanya Dita.


"Ke pantai!" ucap Erlangga singkat.


Erlangga tampak seperti ingin menyeimbangi kecuekan Dita tersebut. Karena memang dia masih sulit untuk menjadi pria yang penyabar.


Erlangga pun menatap jalanan saja sekarang tanpa menoleh ke arah Dita lagi yang tampak memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Entah untuk apa Erlangga mengajaknya ke pantai sepagi ini, walau pandangan Dita ke arah jalanan  itu namun pikirannya sekarang berada kepada Miranda.


Apa mungkin Erlangga mau memutuskan pernikahan mereka dan memberitahukan Miranda tentang ini?


Itu lah yang Dita takutkan sekarang, namun dia mencoba tenang dengan situasi yang menurutnya menegangkan ini.

__ADS_1


Tinggal berapa hari saja pernikahan Erlangga akan berlangsung, mustahil pikir Dita pernikahan mereka akan berlanjut ke jenjang yang lama lagi, sedangkan yang diinginkan Erlangga akan terlaksana sebentar lagi.


Hampir tiga puluh menit berlalu, keduanya masing-masing berpikir kearah yang berbeda. Erlangga berpikir Dita memikirkan Erkan, sedangkan Dita pula berpikir Erlangga akan mengakhiri pernikahan mereka.


Sampai di parkiran pantai sekarang ini, mobil itu sudah berhenti, Erlangga membuka pintu mobilnya sendiri, begitu juga dengan Dita.


Dia turun tanpa bicara sepatah katapun dengan Erlangga sekarang ini. Sedangkan di pantai itu tampak sudah ada yang menunggu mereka.


Erlangga dengan membawa beberapa dokumen di tangannya. Dita masih berpikir sejenak dokumen apa yang Erlangga bawa itu.


Karena memang sejak awal Erlangga mengajak Dita pergi pagi ini, dia tidak diberitahu akan berjumpa dengan Klien baru yang memang Erlangga dan Miranda saja yang mengenalnya.


Hanya saja Miranda tidak ingin menemui pria bule satu ini, karena takut kedoknya kembali terbongkar mungkin saja kemarahan Erlangga akan memuncak kembali seperti dulu pikir Miranda.


Sedangkan sekarang Miranda berpikir Erlangga telah memberinya sepenuh maaf dan melupakan kejadian dikamar hotel Prancis dulu, padahal sampai sekarang Erlangga tidak akan lupa akan hal itu.


"Apa Erlangga ingin membuat perjanjian baru?" tanya Dita dalam hatinya.


Karena memang dokumen yang dipegang Erlangga itu bukan map yang biasa dijadikan ancaman untuk Dita selalu.


Dita menelan salivanya namun sekarang dia hanya mengikuti langkah Erlangga menuju dimana Tuan Bailey sudah menunggu mereka namun Dita memang tidak tahu itu.


Mata pria itu awalnya mengarah kepada Erlangga, namun ketika Dita mulai menghampiri mereka juga pria bule itu mengalihkan pandangannya.


"Wow, extraordinary," ucapnya yang saat ini Erlangga mendengar jelas ucapan itu.


"Ehm, morning Tuan Bailey," ucap Erlangga mengalihkan pandangan Tuan Bailey kepada Dita.


Dita  semakin bingung, untuk apa mereka kesini dan bertemu siapa ini, pikir Dita sekarang.


"Morning juga Erlangga, dan nona ini siapa?" tanya Bailey yang tampak tertarik melihat kearah Dita terus menerus.


"Kenalkan dia Rinjani Anindita, my secretary," jelas Erlangga.


"Hai nona Rinjani, senang bertemu denganmu," ucapnya lagi mengulurkan tangan ke arah Dita.


Dita sedikit sungkan dan tidak enak karena terlihat jelas gelagat pria yang sudah memasuki kepala empat ini tampaknya memang pria yang sedikit nakal terlihat dari pandangannya.


Dita  mencoba menyambut uluran tangan itu, dan sekarang ini Tuan Bailey tampak sengaja berlama-lama melepaskan tangan Dita tersebut membuat wajah sang suami yabg saat ini berada di sebelah Dita mukanya memerah seketika.

__ADS_1


"Ehm! Tuan Bailey ini dokumen perjanjian kita untuk tanah yang akan Tuan sewa," ucapnya.


"Oh..iya Erlangga, kau ini mengacaukan perkenalanku saja, kita kan bisa bersantai untuk meeting weekend ini," ucap Tuan Bailey yang mencoba memulai topik nakalnya.


"Maaf Tuan Bailey, tapi aku tidak cukup waktu hari ini, karena nanti siang ada pekerjaan yang lain akan aku kerjakan!" jelas Erlangga dengan wajah datarnya.


"Oh..begitu kah Erlangga, tapi hanya kau kan siang nanti yang sibuk, apa sekretaris mu ini juga sibuk?" Tanya Tuan Bailey kembali kepada Erlangga sekarang namun wajahnya mengarah ke arah Dita.


"Tuan Bailey! Cepat lah tanda tangani ini!" Sekarang nada suara Erlangga berubah total membuat Tuan Bailey sedikit aneh.


"Hem..oke baiklah, yang mana saja harus saya tanda tangani?" Tanya Bailey kembali.


"Yang ini dan ini," tunjuk Erlangga sekarang.


Tuan Bailey merasa bingung, Erlangga membawa sekretarisnya bersamanya namun pekerjaan ini saja semua Erlangga yang mengambil alih, bahkan Dita tidak ada bicara sepatah katapun.


Ya! Dita memang tidak tahu menahu akan hal ini, bahkan dia berpikir negatif sedari tadi, ternyata Erlangga mengajaknya kesini  untuk menemui klien.


"Oke selesai!" ucap Bailey namun senyumnya ke arah Dita.


Erlangga yang sedari tadi melihat ke arah mata nakal Bailey itu membuatnya kepanasan dan sedikit geram. Seandainya Bailey tidak dia kenal menatap istrinya seperti itu pasti Erlangga sudah menghabisi pria ini.


"Dita, ada pekerjaan lain yang harus kita urus sekarang!"ucap Erlangga dengan cepat memerintahkan Dita.


Dita hanya mengangguk saja dan dia segera bangkit dari tempat duduknya, bahkan mereka yang baru sampai itu belum ada melahap apapun disana.


"Hei Erlangga, mengapa terburu-buru?" Tanya Tuan Bailey.


"Maaf Tuan Bailey sudah kukatakan hari ini jadwal kami padat," ucapnya dingin.


"Baiklah kalau begitu, apa aku boleh meminta nomor ponsel sekretarismu?" Tanya Tuan Bailey kembali.


Erlangga semakin tampak menahan geramnya dia ingin rasanya mengatakan kalau DITA ini bukan hanya sekedar sekretaris saja.


Dita semakin takut dengan situasi sekarang dia mencoba menyelah agar semuanya tidak terungkap sekarang.


Apa yang akan dikatakan Dita?


*****

__ADS_1


__ADS_2