
"Ini tips untuk kamu," ucap Erlangga memberikan tips kepada pengantar makanan tersebut.
"Terima kasih Tuan," jawabnya lalu berlalu dengan cepat.
Haruman dari makanan tersebut membuat perut Erlangga semakin lapar saja, sudah ada segelas jus jeruk di tangannya dan saat ini dia kembali ke dapur dan membuatkan segelas lagi.
Membawa masuk makanan itu ke dalam kamar, dan saat ini masih tersenyum menatap sang istri yang tampak hanya bertutup selimut tebal mereka disana.
"Dita…bangun," ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Dita yang tampak lelap itu.
"Hey…bangun, coba cium ini aroma apa ini…" ucapnya lagi sambil mendekatkan burger cheese kesukaan Dita tersebut.
Selama bulan-bulan ini kedekatan mereka yang hangat mampu membuat Erlangga mengetahui makanan favorite Dita, begitu juga dengan Dita dia tahu makanan kesukaan Erlangga, karena memang mereka yang selalu makan diluar itu memesan makanan yang selalu itu-itu saja.
"Ehm.."
Hanya itu yang keluar dari mulut Dita yang memang tampak kelelahan dan ngantuk itu.
"Ehm…."
"Uh..Erlangga!" Umpat Dita kesal.
"Haha, jangan marah, aku ada sesuatu untukmu," ucap Erlangga sambil menunjukkan burger yang ada di tangannya itu.
Pipi Dita dicubit Erlangga dengan gemasnya. Mereka memang suami istri dalam kontrak, namun berapa bulan ini membuat mereka berdua hangat karena memang tampak sikap Erlangga yang suka menjahili Dita itu.
Dan sekarang Dita sudah mulai membuka matanya perlahan, dia yang memang hanya sedikit melahap nasi goreng yang sempat mereka singgah di restoran pinggir jalan itu, dan kini melihat burger dengan aroma cheese yang kuat itu membuat Dita tidak bisa menolak.
"Eits…mau burger ini? Ada harga yang harus kamu bayar," ucap Erlangga yang menjauhkan burger itu ketika tangan Dita ingin mengambilnya dari tangan Erlangga.
"Huh…Erlangga! Kau ini berniat atau tidak memberiku burger!" Ucapnya kesa.
"Haha…semakin kau marah semakin kusuka," jawab Erlangga di telinga Dita sekarang.
"Jangan berbisik seperti setan!" Umpat Dita kesal.
"Haha…lagi pula harga untuk satu burger ini tidak mahal kok," ucap Erlangga lagi.
"Apa mau mu? Cepatlah aku lapar," ucap Dita lagi kesal.
__ADS_1
"Ini dan ini..," jawab Erlangga sambil menunjukkan pipi dan mulutnya.
Dita menatapnya begitu lucu, dasar orang aneh pikir Dita. Baru pagi tadi rasanya mereka berdebat dan bertengkar, namun sekarang tampak hangat dan mesra pula.
"Hmm..oke baiklah," ucap Dita saat ini sambil mengecup pipi dan bibir suaminya itu.
Seperti janji Erlangga, dia pun langsung memberikan burger cheese kesukaan istrinya itu, Dita yang lapar tampak dengan cepat melahapnya, Erlangga pula baru membuka makanannya, yaitu spageti carbonara.
"Wah, kau lapar juga ternyata," ucap Dita kembali yang melihat Erlangga makan dengan lahap.
"Pasti lah aku lapar, karena tadi kau sangat hebat," jawabnya sambil mengedipkan mata.
"Ih….dasar lelaki menggelikan!" Umpat Dita kesal.
Entah mengapa Dita sangat merasa geli kalau melihat ekspresi nakal yang di tunjukkan Erlangga seperti itu, sebenarnya Erlangga suka menjahilinya, karena dia tahu tidak tidak menyukai itu maka Erlangga sengaja mengulangi perbuatannya terus menerus.
Semakin dekat pernikahan Erlangga dan Miranda semakin hangat pula hubungan suami istri kontrak ini. Dita yang melupakan sejenak tentang pernikahan itu, kini dia sudah menghabiskan burgernya tersebut.
Dita bangkit dari tempat tidurnya itu, dan tiba-tiba Erlangga menghentikan langkah Dita yang tampak ingin mengambil baju yang berserakan di lantai tersebut.
"Mau kemana?" Tanya Erlangga saat ini sambil menarik pinggang ramping istrinya itu.
"Aku mau minum Erlangga! Lepaskan aku, aku haus!" Umpatnya kesal seolah seperti tahanan saja.
"Tapi aku haus, hanya sebentar saja," ucap Dita lagi.
Entah mengapa Erlangga semakin manja saja saat ini, tampak seolah tidak bisa berjauhan dengan istrinya itu, bahkan dia sangat lembut memperlakukan Dita sekarang.
"Tidak perlu ke dapur, ini minumanmu nona," ucapnya sambil terkekeh kecil.
Dita mengkerutkan dahinya, merasa tak percaya lagi sekarang. Ya dulu memang pernah juga Erlangga membuatkan minuman untuknya, itu kali pertama dia datang ke Appartmen ini.
Kalau diingat rasanya begitu lucu, karena memang dia sempat berpikir Erlangga akan mengulangi perbuatannya lagi. Namun dia salah sangka, setelah pria itu membuatkan minuman untuknya dia pun dengan cepat memotongkan buah juga untuk Dita makan dan berlalu pergi.
Mau dibilang pria ini pria jahat, namun tidak seperti penjahat umumnya, mau dibilang pria ini pria yang baik, namun menurut Dita karena pria ini lah dia terjebak di keadaan cinta yang mengambang seperti ini.
Ingin rasanya memiliki suami seorang diri, tidak ingin berbagi kasih dengan siapapun, namun hakikatnya pernikahan mereka memang dari awal Dita sudah berbagi kasih dengan kekasih Erlangga yaitu Miranda.
Melihat perlakuan Erlangga yang seperti ini, Dita menjadi terpikir, bagaimana jika Erlangga benar-benar membuangnya dan melupakannya.
__ADS_1
Apakah semudah itu?
Tanya Dita dalam hatinya yang saat ini dia termenung sambil menatap pria itu menyantap makanannya tersebut.
Erlangga merasa bingung, karena melihat ekspresi Dita yang kosong itu. Tampaknya Dita memikirkan sesuatu lagi, pikir Erlangga.
"Hey, jangan melamun, nanti kesurupan kemasukan setan!" ucap Erlangga mengejutkan Dita.
"Erlangga!" Bentak Dita terkejut.
"Kau memikirkan apa?" Tanya Erlangga lagi.
"Aku..ehm.." Dita merasa bingung dia ingin angkat bicara takutnya mereka berujung dengan debat dan bertengkar dan menjadikan suasana hangat ini menjadi hilang seketika nantinya.
Sedangkan Dita masih ingin berlama-lama dengan situasi seperti ini, namun hatinya juga penasaran mengapa Erlangga saat ini bisa kembali bersamanya, dan kemana Miranda?
Itulah yang dilamunkan Dita sedari tadi, namun dia berpikir berulang kali untuk menanyakan hal itu kepada Erlangga.
Terlihat jam dinding pula sudah hampir menunjukkan sore hari, berbicara tentang Miranda wanita itu sudah pun selesai menunjukkan baju yang akan dia pakai, harusnya setelah mereka melihat katalog itu, pemilik WO itu akan membawa Erlangga dan Miranda fitting baju pengantin mereka.
Namun Erlangga yang katanya sibuk tersebut akhirnya terpaksa Miranda hanya fitting baju sendirian hari ini. Setelah semuanya selesai, karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Miranda yang perginya diantar oleh Erlangga dia pun pulangnya ingin di jemput oleh pria itu.
"Huh…kemana Erlangga saat ini!" Umpat Miranda dengan kesalnya.
Erlangga yang sedari tadi menghabiskan waktunya bersama Dita, setelah selesai makan Erlangga ingin membersihkan tubuhnya. Sekarang dia berada dalam toilet tersebut.
Sedangkan Dita pula saat ini dia masih berselimut diatas ranjangnya itu. Menunggu Erlangga mandi dia pun mengambil buku novelnya yang saat ini letaknya tak jauh dari Dita tersebut.
Masih novel dengan judul yang sama dia baca, teringat isi novel itu tampaknya sekarang sejiwa telah tumbuh juga di pernikahan mereka, namun entah ini bertahan lama atau sementara Dita pun tak tahu kapan bila masanya berakhir.
Membuka lembaran demi lembaran, kini membuatnya hanyut dengan bacaannya. Dan tiba-tiba dia di kejutkan dengan deringan ponsel yang kuat, karena kamar itu hening membuat Dita terkejut.
"Ponsel Erlangga?" Tanyanya dalam hati.
Dita mengambil ponsel itu, melihat nama yang tertulis disana, siapa lagi kalau bukan penyekat hubungan antara dia dan suaminya tersebut.
Miranda?
Jantung Dita berdebar kuat, ingin rasanya menjawab panggilan itu, namun seperti yang tertulis si perjanjian mereka, Dita tidak ada hak apapun untuk mencampuri urusan pribadi Erlangga, apalagi ini mengenai Miranda.
__ADS_1
Akan kah Dita menjawab panggilan itu?
****