
Jika aku perhatikan, Ayuna sebenarnya sangat cantik. meskipun dia masih ABG, aku yakin jika sifat dan pendirian nya juga masih labil. bahkan aku mulai nyaman dan merasa pernikahanku ini tidaklah buruk untuk aku jalani kedepannya, karena selain memenuhi permintaan orang tua kami, semenjak tinggal bareng Ayuna, aku merasa hidup ku mulai berwarna. meskipun terkadang kami tidak akur.
Sedangkan untuk Khanza, perasaanku mulai berubah, aku jenuh dengan sikap manja dan egoisnya. bahkan dia berani untuk menyakiti orang lain, seperti pernah mencelakai Ayuna dan Rara. tapi aku tidak bisa mencampakkan Khanza begitu saja, selain dia sangat cantik, aku juga harus mempunyai alasan dan waktu yang tepat untuk memutuskan hubungan kami. Ziko terus perang bathin dengan perasaan nya sendiri, hingga dia tidak sadar jika tindakan nya seperti ini sudah diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
"Ziko, kamu kenapa?"
"Aaaagghhh ngak kenapa-napa kok ma."
Mama mendekati Ziko dan berbisik di telinga anak semata wayangnya itu.
"Awas ya Ziko, kalau kamu berani macam-macam terhadap Ayuna, ingat dia gadis baik-baik dan jangan pernah samakan dengan Khanza kekasihmu yang tidak jelas itu." bisik mama seperti memberikan ancaman keras terhadap Ziko.
"Mama dikasih apa sih sama Ayuna, sehingga begitu sayangnya pada gadis itu." balas Ziko melongos kesal.
"Jelaslah mama lebih menyayangi Ayuna, karena dia sudah mama anggap sebagai anak perempuan sendiri. ayo cepat kemeja makan. Ayuna dan papa sudah menunggumu untuk makan malam."
Ziko mengikuti langkah mama Menuju meja makan, dimana Ayuna dan papa sudah menunggu kedatangan nya untuk makan malam bersama.
"Mama senang sekali, keluarga kita bisa berkumpul seperti ini. apalagi adanya suara gelak tawa dan tangisan anak-anak. mungkin rumah kita bakal terasa ramai dan lebih hangat ya pa." sindir mama menyenggol lengan suami nya, mama memang sengaja mencoba mencaritahu sejauh mana hubungan anak dan menantunya.
"Iya ma, papa juga berharap seperti itu. tapi jika bisa setelah Ayuna menyelesaikan pendidikannya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi." balas papa
Ayuna menundukan wajah, sedangkan Ziko langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan orang tuanya barusan.
"Mas, kamu minum dulu."
Ayuna segera menyodorkan air putih ketangan Ziko, saat mengambil gelas, tanpa sengaja kedua tangan mereka saling bersentuhan, Ziko tersenyum saat pandangannya dengan Ayuna bertemu. melihat kemesraan mereka, kedua orang tua Ziko tersenyum bahagia.
"Ternyata tidak salah ya pa, kita menjodohkan Ziko dengan perempuan yang tepat dan tentunya jauh lebih baik." bisik mama kesuaminya.
Selesai makan, Ayuna berdiri hendak ikut membantu membereskan piring-piring kotor. namun langsung dicegat oleh mama.
__ADS_1
"Ayuna, kamu nggak usah kerja biar bi Darti atau mama yang bantu beres-beres ini nantinya. mama tahu kalian berdua pasti masih capek, sebaiknya kalian masuk kekamar untuk istrahat."
"Tapi ma,"
"Ngak ada tapi- tapian, ayo taruh piring-piring kotor itu kembali." ucap mama tegas. Ayuna tidak ingin berdebat lagi, dia menaruh piring tersebut sehingga membuat mama mertua nya bisa tersenyum kembali.
"Ya udah, Ayuna pamit kekamar dulu ya, ma."
"Ya sayang, met istrahat moga mimpi indah ya, nak."
Ayuna mengangguk tersenyum manis, melangkah meninggalkan ruang makan, sementara Ziko masih ternganga dengan perlakuan manis mamanya terhadap Ayuna, sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan mama kepada kekasihnya Khanza yang juga sudah sudah payah berusaha mengambil hati sang mama selama ini, namun apapun yang dilakukan Khanza selalu salah dimatanya orang tuanya.
"Astaga Ziko, kamu kenapa masih duduk disini. ayo cepat sana temani istri mu dikamar, kalau kamu lemot gini kapan kami bakal mendapatkan seorang cucu." bentak mama menyadarkan lamunan Ziko.
"Iya..iya ma, Ziko segera pergi ke kamar dulu."
"Nah gitu dong, jadi anak laki ngak ada agresif nya, ngak seperti papamu ini, belum apa-apa udah main nyosor duluan."
"Kok jadi papa yang ikut-ikutan dibawa sih." papa yang semula tersenyum, jadi manyun.
"Oke, karena mama yang mengatakannya. sekarang papa akan buktikan perkataan mama itu." papa berdiri dan menarik tangan istri Nya menuju kamar.
"Papa, apa-apaan sih. malu tau dilihat anak menantu kita nantinya." tolak mama Menarik tangannya kembali.
"Mereka tidak akan melihat kita, karena tengah asyik bermesraan. sekarang giliran kita. aku ingin cucu kita nantinya terlahir hampir berbarengan dengan adiknya Ziko, biar kekuarga kita makin rame, dan cucu kita bisa main bareng dengan pamanya."
"Ya ampun papa, bukannya mikir bagaimana kita segera mendapatkan cucu, ini malah ingin ikut-ikutan mikirin adik buat Ziko, gimana sih papa."
"Pokoknya, mana harus membuktikan ucapannya mama, dihadapan anak kita barusan."
"Ucapan yang mana sih, pa. mama lupa."
__ADS_1
"Alasan mama, papa sudah hafal."
Papa kembali menarik tangan istri nya, setelah menutup pintu kamar dengan rapat. papa kembali menunjukkan keperkasaannya kepada mama, meskipun umur mereka tidak muda lagi, tapi gairah pasangan ini tidak pernah berubah.
***
Dikamar, Ayuna segera masuk kedalam kamar mandi. mencuci wajah dan gosok Gigi. cukup lama Ayuna mengurung diri didalam. meskipun dia sudah selesai sikat gigi. tapi detak jantungnya terus degh....degh gan.... mengingat malam ini dia dan Ziko kembali tidur satu kamar.
"Tok....tok...Ayuna, kamu kenapa? kenapa lama sekali didalam?" teriak Ziko karena dia juga kebelet.
Ceklek..... pintu terbuka perlahan, Ayuna berusaha bersikap cuek. untuk menyingkirkan kegundahan dan rasa groginya.
Ziko masuk kedalam kamar mandi, sementara Ayuna sudah mengganti pakaian tidur dengan ukuran baju dan celana panjang, bagaimana pun dia benar-benar belum siap untuk menjalani kewajibannya sebagai istri Ziko.
"Mudah-mudahan, mas Ziko tidak melupakan kesepakatan diantara kami." gumam Ayuna sambil merebahkan tubuhnya di ranjang, membatasi dengan dua buah guling yang diletakkan Ayuna ditengah-tengah sebagai benteng pertahanan untuk mereka.
Begitu mendengar langkah Ziko mendekat, Ayuna langsung berpura-pura tidur. dengan menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam selimut tebal. melihat tingkah Ayuna, Ziko mengulum senyum, dia tahu apa yang tengah dipikiran oleh Ayuna sekarang. niat untuk mengerjai istri kecil seketika muncul.
"Ayuna, tolong pijitin aku ya."
"Apa, pijitin kamu, mas." ucap Ayuna membuka selimut yang semula menutup wajahnya.
"Iya, kenapa ekspresi mu seperti itu, memangnya salah jika seorang suami meminta istri nya untuk memijit tubuhnya yang lelah pulang mencari nafkah?" ucap Ziko sambil membuka bajunya, dan langsung ikut merebahkan tubuhnya disebelah Ayuna.
"Baiklah, aku akan memijit mu, mas."
Tangan Ayuna bergetar, tidak dapat dipungkiri jika dia sesungguhnya mulai tertarik melihat tubuh indah Ziko. yang benar-benar terlihat gagah dan jantan, sehingga begitu banyak wanita cantik yang tergila-gila selama ini pada pesona seorang Ziko.
"Ayuna, tanganmu dingin. apa kamu merasa grogi atau terpesona dengan bentuk tubuhku yang sispek." goda Ziko sambil menyembunyikan senyumnya.
"Tidak.... bagiku tubuhmu biasa-biasa saja mas, dan aku tidak tertarik. aku memijidmu cuma karena status istri yang kamu sebutkan barusan, tidak lebih." ucap Ayuna.
__ADS_1
Tiba-tiba Ziko menarik tangan Ayuna, hingga gadis itu jatuh kedalam pelukannya.
"Tatap mataku Ayuna, dan katakan benarkah kamu tidak tertarik dengan ku. " ucap Ziko sambil menarik sebelah alisnya keatas.