
"Ayuna, bagaimana dengan kondisi kesehatanmu pasca pulang dari rumah sakit?"
"Aku ngak papa kok Ra, bahkan aku berusaha memaksakan diri untuk berjalan. kebetulan Mas Ziko membawakan tukang urut kedalam apartemen kami, setelah diurut kakiku jauh tesa lebih ringan, Kalau kamu sendiri bagaimana Ra?"
"Sama seperti dirimu, aku barusan juga habis dipijit oleh asisten art kami yang kebetulan bisa memijid."
"Syukurlah Ra."
"Ayuna, barusan papaku menyelidiki kasus kecelakaan kita. papa juga sudah mendapatkan rekaman cctv nya, dan kamu tahu siapa dalang dibalik semua ini!?"
"Aku tidak tahu Rara, bahkan aku berfikir jika ini cuma kecelakaan yang tanpa disengaja."
"Tidak sama sekali Ayuna, ini adalah perbuatan Tante yang merupakan selingkuhan Suami mu itu."
"Apa maksudmu, Khanza."
"Benar sekali Ayuna. aku akan mengirimkan bukti rekaman cctv itu ke kamu sekarang, biar kamu melihat dan mengetahui secara langsung perbuatan bejad selingkuhan suamimu itu."
"Tidak begitu lama, sebuah notifikasi pesan masuk dari Rara, yang merupakan hasil rekaman cctv yang dimaksud nya barusan.
Dengan tangan bergetar Ayuna memperhatikan dengan seksama.
"Astagfirullah, Khanza kenapa kamu begitu jahat terhadapku. bahkan aku tidak pernah mengusik hubungan kalian berdua, aku juga tidak pernah menceritakan hubungan kalian. pada mama dan papa mas Ziko, tapi kamu masih saja mengusikku. meskipun mas Ziko sudah menjelaskan padamu tentang hubungan kami yang sesungguhnya." gumam Ayuna seakan tidak percaya.
"Bagaimana Ayuna, sekarang kamu sudah mengetahui kenyataan nya Khan?" ucap Rara kembali menghubungi Ayuna.
" Iya Ra, aku yakin Khanza berfikir jika aku berusaha untuk merebut mas Ziko darinya, sehingga dia ingin mencelakakan aku, Ra."
"Kamu tidak perlu kawathir lagi Ra, papaku sudah mengusut semuanya. bahkan sekarang Khanza jadi buronan polisi."
"Apa, jangan Ra. aku takut mas Ziko bakal marah."
"Untuk apa kamu mikirin Ziko, lagian ini juga demi keamanan dan keselamatan kita Ra. ini sudah termasuk kasus kriminal yang harus ditangani pihak berwajib, biar untuk kedepanya Khanza juga tidak berani macam-macam terhadap kita lagi. pokoknya kamu tidak perlu takut, biar aku dan papa yang menyelesaikan masalah ini. karena Khanza bukan saja mencalekai kamu saja, tapi termasuk aku, Ayuna."
Setelah menutup panggilan dengan Rara, Ziko tiba-tiba masuk kedalam kamar Ayuna. membawakan bubur yang terlihat masih hangat serta obat yang harus diminum Ayuna.
"Makanlah bubur ini, setelah itu minum obatmu."
__ADS_1
" Terimakasih ya mas,"
Ayuna mulai menyuap bubur itu dengan pelan-pelan karena masih panas, setelah itu dilanjutkan minum obat, sedangkan Ziko. perlahan tangannya mengambil salep lalu mengolesi kekaki dan jidat Ayuna yang masih terlihat lembam akibat terbentur aspal jalanan yang keras.
Ayuna sebenarnya ingin memberitahu pada Ziko tentang keterlibatan Khanza, namun melihat perlakuan manis laki-laki itu. bibir Ayuna tiba-tiba Kelu dia hanya bisa diam menikmati elusan lembut tangan Ziko.
Ponsel Ziko berdenging, sehingga terdengar nyaring diruang kamar Ayuna, Ziko tahu jika ini panggilan masuk dari kekasihnya Khanza. dia mulai tidak enak hati menganggakat panggilan tersebut dihadapan Khanza, apa lagi istri kecilnya itu dalam keadaan sakit.
Ayuna pura-pura tidak terusik dengan suara panggilan tersebut, namun ini sudah panggilan ke-tiga, Ziko masih mengabaikan, sehingga Ayuna pun mulai penasaran dan bertanya.
"Mas, kenapa tidak diangkat. sapa tahu saja ini penting."
"Ini dari Khanza, dia ngotot minta ketemuan meskipun aku sudah berulang kali menjelaskan jika aku tidak bisa menemuinya, tidak mungkin aku meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini, Ayuna."
"Mas, aku ngak papa kok. lagian aku masih bisa jalan pelan-pelan."
"Baiklah, aku akan temui Khanza dulu, aku perginya tidak akan lama. jadi kamu nggak usah kawathir."
"Ya mas, hati-hati ya."
***
Begitu sampai, Ziko disuguhi dengan sikap aneh Khanza. yang terlihat pucat, cemas dan ketakutan. bahkan Khanza langsung memeluk Ziko dengan eratnya sambil menangis.
"Mas aku takut, dan kejadian ini terjadi seperti yang dipikirkan orang-orang. aku tidak sengaja melakukannya."
Ziko merenggangkan pelukan Khanza. sambil mengerutkan keningnya bingung.
"Khansa, apa maksudmu?"
"Ziko, cuma kamu harapanku satu-satunya untuk menolongku dari permasalahan ini, aku tidak mau dipenjara Ziko. aku ngak mau pisah darimu barang sedikit pun sayang."
"Iya, tapi kamu jangan seperti ini. kamu tenang dan coba jelaskan padaku dengan santai, oke."
"Ziko, aku masih sakit hati dengan ucapan teman Ayuna yang mengatakan aku ini Tante dan juga seorang pelakor, sehingga aku ingin menakut-nakuti mereka, tidak ada keinginan ku untuk mencelakakan mereka berdua. tapi kejadian itu begitu tiba-tiba dan sangat mendadak, sehingga aku kehilangan kendali lalu menabrak mereka tanpa sengaja."
"Khanza, jadi ini semua perbuatan mu?" ucap Ziko sangat marah, bahkan dia melepaskan rangkulan Khanza yang masih ingin memeluknya.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika perbuatanmu serendah ini Khanza."
"Ziko, aku sudah meminta maaf dan ini juga tidak disengaja. katamu kamu tidak mencintainya sama sekali, tapi kenapa kamu sangat membela Ayuna."
"Itu bukan urusanmu Khanza, jangan kamu jadikan itu sebagai alasan. untuk kamu bisa berbuat semaunya terhadap Ayuna, walaupun aku tidak mencintai Ayuna, namun aku tidak akan pernah menyukai dan mendukung perbuatan mu ini, ingat itu Khanza."
Khanza langsung menangis, tubuhnya melorot sambil memeluk sebelah kaki Ziko dengan erat. dia begitu takut kehilangan laki-laki yang selama ini selalu menuruti kemauan dan perkataannya, namun Ziko sekarang sudah berubah, bahkan sudah berani melawan perkataan nya.
"Ziko, tolong percaya padaku. sumpah aku aku hanya ingin mengingatkan mereka untuk tidak merendahkan aku lagi, jika aku berniat jahat, pasti mereka berdua sudah terluka cukup parah saat ini, bahkan bisa jadi kamu kehilangan Ayuna, tapi aku tidak sejahat itu, Ziko. aku minta maaf dan sadar perbuatan ku ini salah, tapi semua itu karena aku tidak ingin kehilanganmu sayang."
Ziko kali ini tidak mudah percaya dan tergoda dengan bujuk rayu Khanza, tidak seperti biasanya. Ziko yang dulu selalu klepek-klepek setiap mendengarkan bujuk rayunya.
"Ziko apa yang harus aku katakan dan lakukan lagi agar kamu bisa kembali percaya padaku."
"Entahlah Khanza, melihat sikap dan tindakan mu yang seperti ini, membuatku mulai ragu dengan hubungan kita."
"Apa maksudmu Ziko, ingat sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau melepaskan mu untuk gadis seperti Ayuna, jika perlu aku akan membeberkan hubungan kita pada kedua orang tuamu, termasuk foto-foto kemesraan kita." ancam Khanza.
"Aku tidak takut Khanza, aku rasa mereka cukup bijak menilai."
"Ziko please, jangan seperti ini padaku sayang. jika aku tertangkap dan masuk penjara. aku juga bisa menyeret mu, bukankah setelah kecelakaan kamu datang menemuiku disini dan kamu juga sempat mentransfer sejumlah uang kerekeningku, sebelum kecelakaan itu, aku bisa menjadikan itu sebagai bukti keterlibatan dirimu."
"Tidak akan ada orang yang mempercayai mu lagi Khanza."
" Ziko, aku yakin kedua orang tuamu bakal marah besar, mengingat kamu tidak bisa menjaga Ayuna dengan baik, bahkan kamu bekerjasama dengaku berusaha untuk menyingkirkan gadis itu, dan aku sangat yakin jika orang tuamu bakal berfikir seperti itu, Ziko."
Ziko terdiam, perkataan Khanza ada benarnya juga. orang tuanya pasti bakal marah besar.
"Ziko, aku hanya ingin kamu membantuku menyelesaikan permasalah ini dengan ayah dari sahabat istri mu itu, please Sayang, aku sangat mencintaimu dan semua ini Aku lakukan karena takut kehilanganmu saja, tidak lebih." bujuk Khanza semakin melunak.
"Baiklah, tapi aku ingin kamu berjanji. untuk tidak mengulangi lagi perbuatan mu ini kepada Ayuna, karena dia sesungguhnya adalah gadis yang masih polos dan juga baik."
"Iya Ziko, bahkan untuk sementara waktu kedepanya. aku ingin pergi ke Paris melanjutkan karier ku sebagai model, aku ingin sebelum kepergian ku ini aku tidak memiliki permasalahan lagi."
"Jadi kamu akan meninggalkan aku?"
"Sayang, ini tidak lama. sampai permasalahan ini reda. aku juga pasti akan kembali lagi untuk mu."
__ADS_1
"Baiklah Khanza."