
Karena kondisinya yang lemah, membuat Ayuna tertidur cukup lama. dia tidak menyadari jika sang mama mertua sudah duduk di sofa kamarnya, menunggu Ayuna bangun dari tidur.
Perlahan Ayuna membuka matanya, meskipun rasa pusing dan mual yang dirasakannya belum hilang seutuhnya. dia mengedarkan pandangannya, dan kaget begitu melihat mama Qanita yang tengah duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya, mama tersenyum begitu mengetahui jika Ayuna sudah bagun.
Mama bangkit, laku menghampiri Ayuna yang masih menatap heran kearah nya.
"Ayuna, kamu sudah Bagun nak.''
"Mama kapan datangnya?"
"Tadi, sebelum berangkat menuju kantor, Ziko terlebih dahulu menyemput mama kerumah." terang mama.
"Bagaimana sekarang, apa masih pusing dan mual-mual?"
"Masih ma. meski tidak seperti tadi."
"Kita kedokteran ya, setelah rapat selesai Ziko akan pulang. menjemput kita untuk periksakan dirimu kedokter."
"Tapi, ma."
"Ayuna, tidak apa-apa lagian kenapa kamu sangat takut?" bujuk mama, akirnya mau tidak mau, setelah Ziko pulang dari kantor, Ayuna dibawa juga kerumah sakit untuk periksa.
Ayuna gemetaran ketika melewati koridor, dia masih trauma apalagi teringat bagaimana selang-selang melekat di tubuh papanya, jarum yang sering disuntikkan ketubuh papa nya dulu.
"Mama dan Ayuna duduk dulu disini, biar aku ngambil no nomor antrian dan mengurus administrasi nya dulu." ucap Ziko.
"Ayo sayang, kita duduk dulu." ajak mama.
Tidak lama menunggu, terdengar panggilan atas nama Ayuna. mereka segera masuk keruangan dokter yang akan memeriksa kondisi Ayuna.
"Ibu Ayuna, apa keluhan anda?" tanya dokter.
"Akhir-akhir ini saya seringkali mual dan pusing dokter." jawab Ayuna.
"Terus apa lagi?"
"Saya sangat mudah lelah, dan tidak menyukai bau-bau yang menyengat."
"Kapan anda terakhir datang bulan?"
Ayuna terdiam, dia terlihat berfikir dan mencoba untuk mengingat, sedangkan ekspresi mana Ziko sudah sangat antusias. dia sangat berharap keinginan nya segera terkabulkan.
"Sepertinya , saya sudah telat datang bulan dari jadwal biasanya." terang Ayuna.
"Baiklah, sekarang berbaringlah."
Ayuna menurut saja, bahkan dia pasrah saja saat perutnya diolesi gel berwarna bening untuk dilakukan di USG.
__ADS_1
"Ternyata, ibu Ayuna sudah hamil. dan usia kandungannya masih sangat muda." terang dokter, sambil mengarahkan kursor pada benda yang berbentuk seperti biji kacang yang masih sangat kecil.
"Alhamdulillah." jawab mama dan Ziko berbarengan.
Ayuna meneteskan air mata haru melihat kebahagiaan mama mertua dan suaminya, Ziko.
"Ayuna, kamu hamil cucu mana nak, terimakasih sudah mewujudkan keinginan mama ini." mama Qanita mencium sayang kening Ayuna.
"Mas aku hamil." Ayuna menatap Ziko untuk memastikan pendengaran nya.
"Iya sayang, kamu sedang hamil buah cinta kita." Ziko memeluk sayang Ayuna, untuk meluapkan kebahagiaan mereka.
Dokter duduk kembali ketempat semula, sambil menulis resep yang berupa vitamin. untuk diminum Ayuna.
"Kehamilan Bu Ayuna, masih sangat muda. jadi tolong lebih hati-hati untuk menjaga nya." pesan dokter.
"Tentu dokter, terimakasih."
Sepanjang perjalanan, Ayuna melamun membayangkan jika tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ibu. berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran Ayuna.
"Sayang kamu kenapa melamun?"
"Aku cuma ngak nyangka bakal jadi seorang ibu, dan aku sangat bahagia, bahkan aku rela untuk menunda kuliahku, agar bisa fokus pada kehamilan ku ini."
"Ya, dan mama juga bakal jadi seorang nenek, dan kamu bapak." tunjuk mama pada Ziko uang membuat dia tertawa lepas.
"Tidak sia-sia aku menghajar Ayuna siang malam, sehingga sekarang sudah menunjukkan hasilnya, Twitter ku memang jagoan." gumam Ziko dalam hatinya sambil senyum-senyum sendiri.
"Mas, lihat itu?"
Ziko kaget dan segera menepikan mobilnya, dia merasa heran melihat sikap aneh sang istri.
"Sayang, ada apa sih bikin kaget aja."
"Mas lihatlah tukang cendol itu, aku pengen." ucap Ayuna merajuk.
"Apa, kamu pengen tukang cendol?" mata Ziko melotot.
"Bukan tukang cendol nya, tapi cendol yang dijualnya. terlihat enak dan segar jika dinikmati ditengah terik gini." ucap Ayuna terlihat tidak sabaran lagi.
"Iya...."
Ziko turun dan membeli sepuluh porsi, setelah membayar laku menyerahkan pada istri tercinta.
"Banyak banget, mas."
"Ngak papa, nanti kamu pengen nambah lagi. nyari-nyari tukang cendol nya juga sudah." ucap Ziko.
__ADS_1
"Nanti jika Ayuna minum kebanyakan juga repot, gimana jika dia sakit perut. kan kasihan cucu mama." mama yang begitu bahagia mendengar kehamilan Ayuna, tidak ingin terjadi sesuatu pada calon cucunya.
"Ya sudah, nanti dibagi-bagi sama pelayan saja."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, nampak Ayuna sangat menikmati cendol tersebut hingga menghabiskan tanpa sisa.
***
Malamnya, Ayuna tidur lebih cepat dari biasanya. Ziko masuk menghampiri Ayuna. ciuman lembut mendarat dibibirnya, yang membuat dia refleks terbagun.
"Mas."
"Cepat banget tidur nya?"
Ziko kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Ayuna, mencium kembali. ciuman Ziko langsung mendapat balasan Ayuna juga melingkar kan kedua belah tangannya dileher Ziko.
Ciuman Ziko semakin kebawah, membuat Ayuna mendesah menikmati permainan suaminya, kedua tangan Ziko juga mulai bakal bermain dalam piyama tidur.
"Mas, kamu lupa ya jika aku tengah hamil?"
"Iya, maaf sayang. aku terbawa suasana."
Ziko merebahkan tubuhnya di samping Ayuna, malam ini mereka pun tidur sambil berpelukan saja.
Pagi hari yang cerah, Ziko bangun terlebih dahulu dari Ayuna. dia turun kebawah membuat kopi hitam kesukaannya, tidak lupa segelas susu hamil rasa vanilla. untuk Ayuna.
Bi jah yang baru mulai menyiapkan sarapan kaget, saat melihat Ziko sudah terlebih dahulu ada didapur.
"Tuan Ziko, biar bibi saja yang mengerjakannya." ucap Bi jah merasa tidak enak hati.
"Ngak papa kok bi." jawab Ziko tersenyum, setelah siap Ziko membawa nampan menuju kamar mereka dilantai dua.
Dikamar, Ayuna terbangun ketika mendengar langkah kaki mendekat. dia kembali berpura-pura tidur begitu mengetahui jika yang datang adalah suaminya.
Sedangkan Ziko langsung mengulum senyum, melihat tingkah istri nya yang pura-pura tidur pulas.
"Pagi sayang." sambil menggelitik pelan telapak kaki Ayuna.
"Geli mas, tumben Bagun tidur nya lebih awal dariku." ucap Ayuna.
"Sekali-kali ngak papa lah aku ingin memanjakan mu, hitung-hitung sudah memberikan kebahagiaan dalam kehidupan ku dan mama."
"Bagaimana sekarang, apa kamu masih sering merasakan mual dan pusing?"
"Sudah agak mendingan mas, mungkin ini juga karena obat dan vitamin yang diberikan dokter kemaren."
"Makanya, kamu harus minum susu dan obatnya secara teratur, biar kondisi tubuhmu sehat dan calon anak kita juga sehat didalam." bujuk Ziko.
__ADS_1
"Iya suamiku sayang."
Ayuna bangun, menyibak selimut tebal yang masih menutupi tubuh polosnya.