
Ziko sengaja menemui keluarga Rara, termasuk mengajak serta Ayuna. meskipun semula ada perdebatan antara Rara, Khanza dan papa Rara sendiri yang tidak terima perbuatan Khanza yang sengaja.
"Maafkan aku om, aku benar-benar tidak sengaja. om bisa pegang kata-kataku. bahkan jika aku sungguh-sungguh ingin berbuat jahat, mungkin Ayuna dan Rara tidak ada disini."
"Aku mau berdamai denganmu bukan karena kasihan, tapi karena Ziko dan juga Ayuna yang sudah terlebih dahulu memberikanmu maaf, tapi ingat. aku tidak akan mentolerir jika kamu berniat jahat atau hal ini sempat terulang lagi, kamu belum tahu siapa saya sesungguhnya."
"Iya, om saya berjanji."
Setelah Khanza berjanji, termasuk jaminan dari Ziko sendiri. sehingga melihat hal ini, mau tidak mau keluarga Rara dan Ayuna sendiri mau berdamai. setelah Khanza berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, termasuk merendahkan diri dengan meminta maaf kepada Ayuna dan juga Rara.
"Ayuna, saat ini kamu bisa tersenyum. melihatku yang menjatuhkan harga diriku sendiri dihadapan kalian, dengan meminta maaf seperti ini. tapi aku bisa pastikan Ziko akan kembali seperti dulu, aku tidak akan pernah menyerah Ayuna, karena Ziko hanya milikku." gumam Khanza berbicara dalam hatinya.
***
"Aku harus masak makan malam, untuk Ayuna. sepertinya dia kurang menyukai masakan siap saji atau yang dibeli diluaran."
Ziko pergi ke dapur, mengeluarkan bahan-bahan masakan. dia ingin memasak capcay untuk mereka berdua.
Cukup lama Ziko berkutad didapur, CEO tampan idaman setiap wanita itu sukses dengan masakan kedua nya setelah makanan yang dibuatkan nya untuk Ayuna sebelumnya. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan oleh Ziko selama ini. kali ini Ziko kembali mengandalkan resep dan petunjuk melalui YouTube.
“Terlihat enak dan menggugah selera,” tersenyum sambil menyiapkan dimeja makan.
“Aku harus membangunkan Ayuna, sudah malam. Pasti dia juga kelaparan sekarang.”
Ziko mengetuk pintu kamar, karena merasa tidak enak hati jika langsung masuk kedalam, sapa tahu Ayuna baru selesai mandi atau belum siap.
“Tok....tok... Ayuna... Yuna....”
Ziko kembali mengulangi, dan masih berdiri didepan pintu masuk. Namun tidak ada jawaban dari dalam, sehingga dia berinisiatif untuk langsung masuk saja, karena Kawatir jika terjadi sesuatu pada Ayuna yang belum sembuh total.
__ADS_1
Ceklek.... pintu terbuka, Ziko mengintip dari balik pintu sambil memangil Ayuna, yang ternyata masih tidur meringkuk dibalik selimut tebalnya.
"Ternyata dia masih tidur."
Ziko berbalik untuk menutup pintu kembali, namun langkah nya terhenti ketika mendengar suara Ayuna yang seperti menangis.
"Papa... mama....jangan tinggalkan Ayuna." gadis imut itu, terlihat sedang mimpi buruk, keringat dingin membasahi wajahnya, Ayuna menangis dalam tidur nya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti tidak terima.
Dalam mimpinya, Ayuna bertemu ke-dua orang tua yang sangat dirindukannya selama ini, tapi dia tidak bisa menggapai dan memeluk mereka berdua. sehingga Ayuna hanya bisa menagis, dan menggelengkan kepalanya karena tidak ingin ditinggalkan lagi.
Ayuna menangis dan kembali memanggil-manggil. "mama....papa... jangan tinggalkan Ayuna sendiran, Ayuna tidak punya siapa-siapa lagi, aku mohon jangan pergi hu...hu...”
Keringat dingin membasahi wajah cantik Ayuna, sambil terus meronta. Ziko merasa terenyuh, dia langsung mendekati, berusaha membangunkan Ayuna.
“Ayuna... Ayuna bangun.”
Ayuna yang masih terbawa suasana sedih dan rindu. tanpa sadar menghambur kepelukan Ziko. menumpahkan segala tangis dan kesedihannya di dada kekar laki-laki tampan tersebut.
“Aku merindukan....mama dan papaku, mereka meninggalkan aku sendiri.” Ucap Ayuna disela-sela isak tangisan.
“Tenangkan dirimu Ayuna, kamu tidak akan pernah sendiran, karena aku akan selalu ada untuk melindungi mu. sekarang dan untuk selamanya.” Ucap Ziko mengusap punggung Ayuna perlahan, perasaan iba seketika menyelimuti hatinya, pelukan hangat Ziko mampu membuat Ayuna sedikit banyak merasakan ketenangan dan menimbulkan rasa yang sangat nyaman. Isakan tangisnya pun sudah tidak sekencang semula.
Melihat Ayuna yang sudah berhenti menangis, perlahan Ziko meregangkan pelukannya, yang semula begitu erat, tiba-tiba senyum mengembang dibibir Ziko melihat tingkah Ayuna yang ternyata sudah tertidur kembali dalam pelukan nya.
"Lucu dan sangat menggemaskan."
Ziko membaringkan tubuh Ayuna, memperbaiki posisi tidur nya lalu menyelimuti Ayuna sampai batas dada. Ziko bangkit hendak menuju kamarnya sendiri, namun tangannya tiba-tiba ditarik Ayuna.
"Jangan pergi....jangan tinggalkan aku sendiri lagi." ucap Ayuna seperti orang yang sedang mengigau, karena dia berbicara dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan pergi. aku sudah berjanji untuk selalu ada untukmu selamanya." Ziko naik keatas ranjang, merebahkan tubuhnya disamping Ayuna yang langsung membalas memeluknya dari samping, sambil menyembunyikan kepalanya didada bidang Ziko. tidak begitu lama sudah terdengar hembusan nafas Ayuna yang lembut, sepertinya gadis itu sudah kembali tenang dan tertidur pulas, karena merasa nyaman dalam pelukan Ziko.
"Ayuna, kamu sangat wangi aroma segar buah-buahan. khas anak yang masih remaja. Ziko mencium lama rambut Ayuna, perlahan tangan Ziko melingkar dipingang Ayuna. balas menekuk gadis yang sudah sah menjadi istrinya.
Belum beberapa detik memejamkan matanya, Ziko merasa junior nya mulai beraksi, entah kenapa dengan Ayuna Ziko merasa begitu mudah terpancing.
"Tahan gairahmu, Ziko, dia anak kecil dan masih sekolah." gumam Ziko mencoba mengontrol gairah yang tiba-tiba semakin menyiksanya.
Ayuna tiba-tiba mengeliatkan tubuhnya, merubah posisi menghadap Ziko, paha Ayuna menghimpit paha Ziko, sedangkan tangan memeluk tubuh Ziko semakin erat dari samping, layaknya memeluk guling yang empuk dan nyaman.
Nafas Ziko terasa sesak, dengan detak jantung yang terus berpacu menikmati kehangatan tubuh Ayuna yang masih sangat segar, dengan persaan cinta dan sayang yang mulai tumbuh, serta ingin selalu melindungi gadis ini. dan rasa ini sangat berbeda dengan apa yang dirasakan nya pada Khanza yang selalu dipenuhi nafsu semata.
Sebagai laki-laki dewasa, Ziko sangat menginginkan Ayuna saat ini, meskipun Khanza bersedia menyerahkan dirinya sukarela. tapi Ziko tidak mau, dia ingin berpacaran dengan cara yang sehat, cumbuan Ziko tidak lebih dari ciuman dan pelukan saja.
Mata Ziko tertuju pada bibir indah mungil Ayuna yang terlihat sangat menggoda, perlahan Ziko mengecupnya, bibir Ayuna terasa begitu manis dan kenyal, ingin rasanya Ziko menikmati itu kembali, perlahan dia kembali mendekatkan bibirnya dan ******* secara perlahan-lahan takut Ayuna akan terbangun
"Aku harus segera pindah tidur, kalau tidak aku tidak bisa lagi menahan hasrat ku yang menggebu ini." perlahan Ziko menyingkirkan tangan dan kaki Ayuna yang masih memeluknya. tapi selalu gagal, sehingga dia kembali menikmati bibir mungil Ayuna yang membuat nya kecanduan.
Dalam tudurnya, Ayuna seperti hanya bermimpi. bermain dan bermanja-manja dengan seorang bocah yang sangat imut dan lucu, sehingga dia juga ingin mencium bocah tersebut.
"Bagaimana ini, dekapan Ayuna semakin erat, jika aku terus memaksa melepaskan nya, aku takut dia terbangun...." Ziko bergumam sendiri, sambil terus berusaha mengendalikan hasrat yang sudah menggebu
Tiba-tiba Cuuppp.... Ayuna balas mencium bibir Ziko.
"Ya Tuhan bagaimana ini, aku tidak tahan lagi..., benteng pertahanan Ziko sudah mulai goyah, dia mulai membalas ******* bibir Ayuna yang masih terhanyut dalam alam mimpi indahnya.
Sesuatu yang dibawah Ziko sudah meronta-ronta siap tempur, membuat nya pusing harus bagaimana untuk menenangkan nya, sementara bibir mereka masih bersatu.
"Ayuna .... aku benar-benar tersiksa."
__ADS_1