
Ziko yang baru rebahan di kasur, langsung melirik kearah pintu masuk kamarnya. saat mendengar langkah kaki semakin mendekat dan perlahan pintu kamarnya dibuka dari luar. namun hal ini tidak membuat Ziko bersemangat, karena semula dia berfikir jika itu papa yang ingin tidur bareng dengan nya.
Dugaan Ziko salah, ternyata Ayuna yang melangkah masuk dan menutup pintu kamarnya kembali dengan sangat perlahan, mungkin gadis itu berfikir jika Ziko pasti sudah tidur.
"Mas Ziko, kenapa belum tidur juga?" tanya Ayuna begitu mengetahui jika Ziko menatap kearahnya.
"Aku belum ngantuk, ngapain kamu kesini Ayuna. apa kamu sekarang sudah mulai ketagihan untuk tidur bareng aku yang sangat tampan ini." Ziko mulai kegeeran dan kembali ingin menggoda Ayuna.
"Tidak sama sekali, mas. tapi mama yang memintaku untuk tidur dikamarmu malam ini."
"Terus, mama menyuruhmu apa lagi?"
"Maksud, mas."
"Maksudku, apa mama tidak memintamu untuk memijidku yang masih kecapean pulang kerja seharian." Ziko mulai melancarkan jurus akal-akalan nya.
"Tidak, mas aku sudah ngantuk banget. aku langsung tidur saja ya."
Ayuna merebahkan tubuhnya disamping Ziko, tidak lupa dia membentengi dengan guling ditengah-tengah mereka sehingga Ziko tidak bisa macam-macam.
"Ayuna, aku masih ingin ngobrol. kamu tidak adil giliran dengan mama dan papa saja kamu ada waktu, pas denganku kamu langsung tidur." protes Ziko.
"Mas, tadi kamu bilang masih capek dan ngantuk. sekarang pengen ngobrol-ngobrol. gimana sih."
"Ya, semua ini gara-gara kamu, yang tiba-tiba masuk kekamarku dan menggangu tidurku sehingga membuat rasa ngantukku sudah hilang, dan mataku kembali melek." alasan Ziko.
Ayuna yang sudah ngantuk berat, tidak menghiraukan Ziko lagi. tidak butuh lama dia sudah tertidur pulas. disamping Ziko yang tidak bisa memejamkan matanya.
Perlahan Ziko menarik selimut yang menutupi tubuh Ayuna, namun Ayuna yang tiba-tiba terbangun langsung menahan selimut tersebut, sehingga refleks Ziko ikut tertarik dan jatuh ditubuh sang istri yang tercium wangi parfumnya.
Pandangan mereka kembali bertemu, Ziko merasa posisi seperti ini sangat nyaman, sehingga dia tidak ingin beranjak dari tubuh hangat dan sangat wangi itu. namun tidak dengan Ayuna, yang merasa berat dan berusaha mendorong tubuh Ziko hingga terlentang disamping nya.
__ADS_1
"Mas Ziko apa-apaan sih, berat tau."
"Aku nggak bermaksud apa-apa, cuma mau berbagi selimut dengan mu. tapi kamu malah Menarik tubuhku." Ziko mencari alasan agar tidak terlalu malu jika dia sebenarnya ingin tidur sambil memeluk tubuh Ayuna.
"Ingat kesepakatan kita, mas. dan sudah ada guling yang menjadi pembatas kita."
"Iya, aku tidak melupakan hal itu."
Ziko akhirnya memilih tidur dengan guling yang sudah menjadi pemisah mereka, Ayuna sekarang memebekanginya, membuat Ziko tidak nyaman. bahkan memejamkan matanya sekalipun. posisi mereka barusan membuat gairah Ziko kembali membara.
Meskipun Ziko sudah berusaha untuk memejamkan mata, namun tetap tidak bisa. bayangan kehangatan tubuh Ayuna dan kelembutan bibir nya yang kenyal. membuat Ziko berfantasi liar dengan khayalan tingkat tinggi nya.
Semakin ditahan, malah membuat bagian sensitif Ziko bertambah memegang. dia kembali melirik Ayuna dengan dengkuran halus keluar dari sudut bibirnya. menandakan jika gadis itu sudah tertidur pulas.
"Aaagggh, aku harus menuntaskan ini."
Ziko masuk kedalam kamar mandi, sebagai laki-laki dewasa yang normal. tentu dia beraksi dan sangat menginginkan dan sangat terangsang, melihat lawan jenis, apalagi Ziko sudah pernah mencumbui tubuh Ayuna secara diam-diam. namun untuk kali ini dia lebih memilih menuntaskan gairahnya sendiri. karena benar-benar tidak mampu lagi untuk mengendalikan nya.
Meskipun tidur, akan tetapi Ayuna mengetahui pergerakan Ziko, jika dia pergi ke dalam kamar mandi, bahkan cukup lama suaminya itu belum juga keluar.
***
Pagi yang cerah, setelah membersihkan tubuhnya dan terlihat rapi. Ayuna keluar dari kamar Ziko, menuju dapur, pagi ini dia ingin membuat saparan pagi untuk mertua dan suaminya Ziko.
Saat sampai didapur, Ayuna sudah melihat mama mertuanya sudah selesai menyiapkan menu sarapan untuk mereka. bahkan dia lebih dulu bangun tidur dibandingkan Ayuna.
"Eh Ayuna udah bangun, gimana tidurnya semalam?" todong mama sambil tersenyum, dia yakin anaknya Ziko pasti senang banget. karena bisa tidur berduan dengan Ayuna.
"Pulas baget, ma. sehingga Ayuna ketiduran. dan lebih duluan mama yang bagun dan nyiapin sarapan untuk kita." Ayuna merasa sungkan terhadap mertuanya yang sangat baik.
"Ngak papa sayang, mana Ziko. apa dia masih tidur."
__ADS_1
"Iya ma."
Ayuna ikut membantu mama mertua ya menata makanan, tidak begitu lama Ziko dan papa. yang sudah rapi ikut bergabung sarapan.
"Coba kalian tinggal bareng mama saja, tentunya kita bisa setiap hari sarapan dan berkumpul seperti ini." mama merasa bahagia berkumpul dengan anak menantunya.
"Ma, bagaimanapun kita harus menghargai niat Ziko dan Ayuna, mereka berdua ingin hidup mandiri." bujuk papa.
"Iya ma, untuk sementara waktu. biar Ayuna dan Ziko mandiri dulu ya." balas Ziko yang paham dengan perasaan mamanya.
Selesai sarapan, mama dan papa Ziko pamit dan bersiap untuk kembali pulang kerumah mereka.
"Ayuna, kamu baik-baik ya sayang. jika Ziko macam-macam segera lapor kami."
"Iya ma,"
"Sini pelukan sama mama dulu."
"Ayuna pasti sangat merindukan mama."
"Sama Sayang, mama juga merindukanmu."
Ziko dan papa, mengulum senyum melihat tingkah mama dan Ayuna, seperti seseorang yang ingin berpisah jauh. padahal jarak rumah mama dan apartemen mereka cuma dua puluh menit saja sudah sampai.
"Nanti, jika kalian mau pulang kerumah mama. jangan lupa beritahu dulu. karena mama ingin memasak kesukaan Ayuna."
"Mama begitu perhatian pada Ayuna, padahal mana tidak pernah seperti ini pada Ziko."
"Kamu jangan iri ya, pada menantu kesayangan mama." mama menepuk lengan Ziko yang protes.
Setelah kepergian mertuanya, Ayuna merasa kesepian. mengingat mereka kembali berduan tinggal diapartemen ini. Ayuna duduk diruang tengah menyalakan televisi berukuran besar, sedangkan Ziko sibuk memeriksa laporan kerja yang dikirim olah asisten nya berusan.
__ADS_1
Meskipun sibuk, Ziko sesekali mencuri pandang menatap Ayuna.
"Degh.... astaga, kenapa dengan jantungku. sepertinya tidak pernah normal lagi semenjak menikah dengan Ayuna. aku harus periksakan diri ke dokter, takutnya aku mulai serangan jantung. mengingat selama ini, jantungku belum pernah berdetak seperti ini terhadap perempuan lain, bahkan Khanza sekalipun." gumam Ziko ikut tersenyum ketika Ayuna tertawa lepas terlihat sangat cantik, istri imutnya itu fokus menyaksikan acara televisi dan tidak menyadari jika Ziko terus memperhatikan tingkah nya yang menurutnya sangat mengemas kan.