
Mas, apa kamu ngak gerah seperti ini. bahkan kamu memelukku erat banget, aku ngak bakalan kabur kok mas. bahkan kunci kamar saja kamu sembunyikan semua." Ayuna berusaha untuk lepas dari pelukan hangat Ziko, yang seolah-olah ingin mengunci pergerakannya.
"Kalau kamu merasa gerah, gimana jika malam ini kita mandi bareng. dengan keadaan sama-sama polos. aku yakin kamu ngak bakalan merasa gerah lagi." Ziko sangat terhibur melihat ekspresi istri kecilnya. bahkan dia bisa mendengar detak jantung Ayuna yang sudah tidak beraturan lagi.
"Mas, semakin hari kamu bertambah mesum ya."
"Ngak masalah jika itu pada istri sendiri." jawab Ziko.
"Sayang sudah beberapa kali kita tidur bareng, masih saja seperti ini. tapi sikapmu ini juga yang membuat aku semakin jatuh cinta kepada mu." bisik Ziko mencium kening Ayuna yang lebih memilih untuk berpura-pura tidur saat mendengar ide gila suaminya itu, hingga akhirnya dia benar-benar tertidur dengan pulasnya, begitu juga dengan Ziko, mengingat besok dia juga harus bekerja, memimpin ribuan karyawan yang menggantung kan hidup dengan bekerja di perusahaan nya.
Pagi ini suasana sangat cerah, wajah Ziko terlihat berseri-seri melangkah memasuki ruangan kerjanya yang terasa nyaman. mengingat suasana hatinya yang begitu membaik, setelah semalam tidur sambil berpelukan kembali dengan Ayuna, dimana gadis ABG itu masih malu-malu dan terlihat sangat gugup. meskipun semalam bukan kali pertamanya mereka tidur satu kamar.
Sekretaris Tia masuk sambil membawa berkas penting yang harus diperiksa oleh Ziko, pagi ini.
"Selamat pagi pak Ziko." sapa Tia kala melihat Ziko yang tengah mengulum senyum.
"Pagi juga Tia."
Jawab Ziko terlihat santai sambil memeriksa beberapa berkas dihadapannya, sedangkan Tia dengan sabar duduk manis menunggu. sambil sesekali memperhatikan Ziko.
"Sepertinya, pak Ziko terlihat sangat bahagia pagi ini." goda Tia, memecah kesunyian.
"Iya Tia, aku seperti ini karena Ayuna."
"Sudah aku duga, semoga hubungan pak Ziko dan Ayuna tetap langgeng dan terus bahagia." jawab Tia ikut tersenyum senang.
"Amiiin, Oya Tia. bagaimana menurutmu tentang keputusanku untuk memutuskan hubungan dengan Khanza?" ucap Ziko yang menghentikan sejenak pekerjaannya.
"Menurutku, itu pilihan yang tepat, tapi akan lebih baik jika bapak benar-benar sudah yakin dengan keputusan itu, agar tidak ada penyesalan dan akan ada hati lagi yang akan terluka setelah nya." terang Tia yang lebih mendukung hubungan Ziko dan Ayuna.
"Aku sudah yakin dengan perasaanku yang lebih memilih, Ayuna."
"Syukurlah,"
Tia mengambil berkas yang baru saja diperiksa dan siap ditandatangani oleh Ziko, dan kembali meninggakan ruangan kerja CEO tampan tersebut. sambil memberitahukan beberapa agenda jadwal pertemuan penting Ziko yang lumayan padat hari ini, bahkan mengharuskan dia untuk terjun kelokasi proyek pembangunan cabang perusahaan mereka secara langsung.
__ADS_1
***
"Sudah sangat malam, kenapa mas Ziko belum kembali pulang, apa dia kembali lembur ya malam ini?"
Ayuna sudah selesai ujian sekarang, sehingga dia lebih memilih bersantai diruang tengah, menunggu Ziko pulang kerja. satu jam menunggu hingga membuatnya ketiduran. Ziko belum juga pulang.
"Rasanya sepi sekali, jika aku seorang diri diapartemen luas ini." tiba-tiba Ayuna merasa ketakutan apalagi saat mendengar suara petir yang menyambar, sehingga dia akhirnya memilih untuk mengurung diri dalam kamar.
Derasnya hujan dan suasana yang berubah menjadi lebih dingin, membuat Ayuna langsung tertidur pulas dibalik balutan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga batas leher.
sedangkan Ziko, yang baru keluar dari ruangan rapat lokasi proyek, langsung berjalan cepat menuju mobilnya.
"Sudah jam sebelas malam lewat, aku yakin Ayuna pasti sangat kesepian. ditambah lagi hujan yang turun begitu lebat."
Ziko langsung meluncur dengan kecepatan sedang, mengingat jalanan yang basah dan licin. sehingga dia juga harus berhati-hati melewatinya, bahkan derasnya hujan mengakibatkan beberapa rumah sempat terendam banjir.
"Kasihan mereka." gumam Ziko, sehingga memerintahkan orang-orangnya untuk memberikan bantuan secara langsung, dengan ikut membantu dan menyediakan tenda untuk korban banjir. sedangkan dia langsung segera pulang.
"Rasanya aku tidak bisa berlama-lama berjauhan darimu, Ayuna." gumam Ziko tersenyum saat membayangkan wajah imut dan lucu Ayuna.
Langkah Ziko terayun mendekati kamar Ayuna, dua tersenyum melihat tidur Ayuna yang sangat pulas, sehingga gadis itu tidak terganggu oleh ciuman Ziko yang sempat mendarat di kening dan bibirnya.
Ziko yang sudah sangat kecapean, membuka sepatu. membuka beberapa kancing kemejanya, lalu ikut berbaring disebelah Ayuna. sambil memeluk hangat gadis itu, seiring dengan hujan yang belum juga berhenti membasahi ibukota.
Berhubung hari libur, sehingga alarm Ayuna yang biasa berbunyi nyaring membangunkan setiap pagi, sekarang ikut-ikutan libur. sehingga Ayuna Bagun agak kesiangan.
Perlahan dia membuka mata yang masih sangat berat, menyingkirkan tangan yang memeluk erat tubuhnya dari belakang. Ayuna tidak kaget lagi dengan hal ini, bahkan dia sudah mulai nyaman dan terbiasa dengan perlakuan Ziko.
Ayuna membalikkan posisi badannya, sehingga mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Mas, kamu sangat tampan. aku beruntung mendapatkan mu." gumam Ayuna perlahan tangannya menelusuri wajah tampan Ziko. namun terhenti seketika, saat merasakan panas.
"Astagfirullah, suhu tubuh mas Ziko panas banget."
Ayuna segera bangkit, dan kembali meraba pipi Ziko dengan cemas.
__ADS_1
"Ngak papa kok Ayuna, nanti juga bakal sembuh sendiri." balas Ziko yang mendengar ucapan Ayuna barusan.
"Ngak mas, kita harus berobat ke dokter ya." bujuk Ayuna.
"Ngak usah, mendingan kamu ambil obat penurun panas saja, yang tersimpan di kotak obat. aku sudah biasa menggunakan nya."
"Baiklah, mas."
Ayuna segera menuju lemari, mengambil kotak obat, lalu menyerahkan pada Ziko, tidak lupa dia juga membawakan segelas air putih untuk diminum.
"Ini, mas."
"Terimakasih, Ayuna."
"Mas kok bisa demam, dan tubuhnya panas banget lagi."
"Semalam mas sempat kehujanan, ikut melihat beberapa rumah warga terendam banjir, lagian ini juga efek dari kesibukan mas beberapa hari terakhir ini." terang Ziko.
"Kasihan mereka ya, mas. bahkan hujan dari semalam belum berhenti." Ayuna menatap keluar jendela pintu kamarnya, nampak hujan masih turun. meskipun sempat berhenti. namun kembali turun dengan lebatnya.
Setelah meminum obatnya, Ziko ingin melanjutkan tidurnya. tapi baru beberapa detik memejamkan mata. dia merasa tidak nyaman sehingga dia memanggil Ayuna yang hendak berjalan keluar dari kamar.
"Ayuna."
"Ya, ada apa mas." Ayuna mengentikan langkahnya.
"Tolong jangan kemana-mana, temani aku disini saja ya." ucap Ziko sambil menatap lembut kedua bola mata Ayuna.
"Tapi mas, aku ingin menyiapkan sarapan untukmu."
"Ngak usah, nanti saja. karena aku lagi ngak selera makan."
"Mas mau aku pijitin?" Ayuna berbalik dan duduk disisi ranjang.
"Ngak perlu, aku hanya ingin tidur dipelukan mu saja, Ayuna." ucap Ziko yang sangat ingin dimanja-manja sang istri.
__ADS_1
Ayuna ikut berbaring disebelah Ziko, meskipun perasaan gugup kembali membuat dada nya berdebar-debar, namun dia tetap memberanikan dirinya untuk melingkarkan tangannya di pinggang Ziko.