
Ayuna tercekat mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Ziko, sambil berusaha mencari alasan yang tepat.
"Mas Ziko, tapi aku ini masih anak kecil. dan belum mempunyai pengalaman dalam hal itu, apa tidak sebaiknya kita tunda dahulu." ungkap Ayuna, berharap Ziko nanti sependapat dengan dirinya.
"Tidak masalah bagiku, semua akan mengalir secara Natural, tanpa perlu kamu pelajari. dan saat waktunya tiba. kamu tidak mempunyai kesempatan untuk menolak lagi."
"Iya..iya mas." jawab Ayuna gugup, ternyata Ziko masih bersikukuh dengan pendiriannya.
Ayuna kembali memilih untuk lajut belajar, sedangkan Ziko pergi menuju kamarnya sendiri. saat melihat di layar ponselnya terdapat begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Khanza.
"Kenapa aku jadi malas untuk menghubungi Khanza lagi, aku juga tidak boleh menggantungkan hubungan yang tidak jelas ini. tapi apa alasanku untuk memutuskannya. jika masalah aku menikahi Ayuna, Khanza pasti tidak akan terima dengan mudah. aku harus bisa menemukan alasan yang tepat, sehingga Khanza bisa menerima dan tidak mengganggu hubungan pernikahanku dengan Ayuna lagi nantinya."
Ziko menghubungi asisten pribadinya, berharap Rey bisa membantu menyelidiki kecurigaan nya tentang Khanza, sapa tahu ini bisa menjadi alasan baginya untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Hallo ada apa bos?"
"Rey, aku butuh bantuanmu untuk pergi keluar negeri dalam beberapa hari ini?"
"Apa yang bisa saja lakukan disana, bos." Jawab Rey penasaran, karena tidak biasa nya sang bos besar memberikan nya tugas seperti ini.
"Aku ingin kamu mengawasi Khanza, aku yakin pasti dia berhubungan dengan laki-laki lain disana. untuk melancarkan karir nya, meskipun ini hanya perasaanku saja, tapi aku ingin kamu pergi ke sana dan menyelidiki nya secara langsung. jika perlu ambil beberapa bukti seperti foto tentang kedekatan mereka berdua." terang Ziko.
"Baiklah, bos. besok pagi saya akan kesana dengan penerbangan pertama."
"Bagus, Rey. saya akan segera mengirimkan alamat hotel tempat dia menginap." terang Ziko seraya memutus panggilan mereka.
__ADS_1
***
Hari ini mood Khansa sangat memburuk sekali, dia membanting kesal ponsel. mengingat Ziko yang sudah mengabaikan dirinya, termasuk beberapa kartu kredit pemberian Ziko yang sudah dibekukan oleh laki-laki itu tanpa ada alasan yang jelas, sehingga Khanza tidak bisa berbelanja dan berfoya-foya sesuka hati mengunakan uang Ziko lagi.
"Aku bisa gila jika terus memikirkanmu Ziko, mendingan aku bersenang-senang malam ini, besok aku akan pikirkan lagi bagaimana cara merebut hatimu, Ziko. termasuk uangmu yang biasanya bebas aku gunakan kapanpun."
Khanza yang masih frustasi, menghabiskan waktu dengan melajukan terus mobilnya tanpa arah dan tujuan pasti. hingga malam menjelang, gadis itu pun memutuskan memasuki sebuah club malam terbesar di negara ini.
Khanza berjalan angkuh, tanpa memperdulikan lagi penampilan nya. Dia memesan minuman dan menyalakan rokok. Menghisap dalam dan memperhatikan gumpalan asap rokok itu, hal itu dia lakukan berkali-kali. Sampai minuman pesanan nya datang.
Khanza mulai meneguk minuman, dan melanjutkan menghisap rokoknya, tanpa dia ketahui seseorang telah memperhatikan tingkah laku nya tersebut. Ya dia adalah Aldo, laki-laki yang sudah pernah menjadi selingkuhannya, tanpa diketahui Ziko. namun Khanza akhirnya memutuskan hubungan dengan Aldo dan lebih memilih Ziko. mengingat Ziko yang lebih banyak memiliki kelebihan dibandingkan Aldo.
Sedangkan Aldo, tujuannya mendekati Khanza tak lain hanya ingin memiliki apa yang dimiliki Ziko. persaingan dan rasa iri masa kecil, tertanam subur dihati dan pikirannya hingga dewasa.
“Apa kabar mantan kekasihku, boleh aku temani?” Ucap Aldo yang berdiri dengan jarak yang begitu dekat dari Khanza. saking dekatnya, tubuh Aldo sudah mendempet ditubuh Khanza yang berpakaian seksi.
“Minggir brengsek!” Khansa yang sudah mabuk mendorong pelan tubuh Aldo.
“Jangan galak gitu sayang, aku kesini cuma igin mengajakmu untuk bersenang-senang kembali, seperti yang pernah kita lakukan diam-diam dibelakang Ziko dulunya.” Aldo membisikkan kata-kata itu ditelinga Khanza.
“Apa....apa.. bersenang-senang, aku mau...” membalikkan badannya, melihat Aldo yang seolah-olah itu adalah Ziko. Segera Khanza mendorong kasar Aldo kembali.
“Ziko brengsek, jahat. Kamu telah menikah dan meninggalkan ku...hu....hu...aku tidak mahu kehilanganmu lagi, termasuk fasilitas yang pernah kamu berikan padaku.” rengek Khanza menangis sambil berusaha berdiri sempoyongan mendekati Aldo yang sempat terhenyak duduk dilantai karena doronganya barusan.
“Sayang, aku mohon kembalilah padaku. tinggal kan cewek kampung dan bodoh itu.” mengatup kedua tangannya sambil menangis pada Aldo yang ikut melonggo melihat betapa hancurnya Khanza atas pernikahan Ziko.
__ADS_1
“I...iya sayang, aku aku juga mencintaimu dan akan terus bersamamu.” Balas Aldo sambil tersenyum jahat.
"Benarkah, sayang."
Khanza langsung menghambur memeluk tubuh Aldo, kemudian memuntahkan minuman nya itu dibaju laki-laki yang selalu iri dengan kehidupan Ziko itu. Hal ini membuat Aldo jijik, namun harus bagaimana lagi.
“Baiklh Sayang, aku akan segera mengajakmu untuk terbang bersama, menikmati indahnya dunia.” Aldo membantu Khanza untuk berdiri dan memapahnya meninggalkan lokasi Club. Dan menghubungi asisten nya untuk menjemput mobil Khanza.
“Ya sayang ku, Ziko, bawalah aku terbang bersamamu.” Teriak Khanza berkali-kali. hingga akinya dia terkulai lemas dipelukan laki-laki yang suka menikung saudaranya sendiri.
Aldo membawa Clarisa menuju apartemennya, dia sudah memiliki rencana lain, dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Sudah lama aku menginginkan saat seperti ini lagi, bersama mu sayang. sekarang kamu datang sendiri. Malam ini aku akan menuntaskan rasa rindu dan Cinta ku yang pernah kamu abaikan begitu saja. Dan memilih kakak sepupuku yang brengsek itu.” Gumam Aldo tersenyum sinis.
Sampai di apartemen, Aldo langsung membawa Khanza menuju kamar dan merebahkan diranjang empuk. Keberuntungan bagi Aldo. Tidak ada yang melarang aksinya, Mengingat dia tinggal sendirian di Apartemen itu, sementara kedua orang tuanya memilih tinggal di ditambah air.
Ziko membuka pakaiannya, yang sempat terkena muntahan Khanza, dan melemparkan pakaian itu kepojok ruangan kamarnya. Lalu berjalan mendekati gadis yang sudah terbaring pasrah.
“Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, malam ini aku harus mendapatkan mu kembali, sayang.” Mulai membuka satu persatu kancing pakaian Khanza. Sehingga membuat mata Aldo membulat .
“Benar-benar pemandangan yang menakjubkan.” Menggelengkan kepalanya.
“Sebaiknya aku memberikan sedikit obat perangsang, agar permainan ini benar-benar terasa nikmat dan aku seakan mendapatkan perlawanan yang akan membawaku melayang bersama nya.”
Aldo ikut meminumkan obat itu, sambil melakukan cumbuan ringan, sampai obat itu benar-benar bekerja sempurna. tidak perlu waktu lama, Khanza mulai membalas ciuman hangat dan cumbuan Aldo.
__ADS_1