Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Ayuna Kabur


__ADS_3

"Ternyata aku salah menilai mu, mas. aku yang bodoh dan sudah berharap jika kamu juga menyukai ku, namun ternyata kamu masih menjalin cinta dengan Khanza. kamu tidak konsekuen dengan ucapanmu sendiri." gumam Ayuna sedih sepanjang perjalanan menuju pulang kerumah orang tuanya.


Ceklek... Ayuna membuka pintu rumah yang sudah beberapa bulan ini dia tinggalkan, namun masih terawat rapi dan bersih. karena Ayuna sengaja memperkejakan bi yam dan seorang cucunya untuk tinggal dan merawat rumah peninggalan kedua orang tuanya.


"Non Ayuna, pa kabar?" bi yam dan cucunya langsung menyambut hormat kepulangan Ayuna yang terasa tiba-tiba.


"Baik, bibi sendiri gimana?"


"Alhamdulillah, bibi dan Dio sehat-sehat juga non. Oya non Ayuna, kok nggak bilang-bilang dulu jika akan pulang? jadi bibi bisa beres-beres dan masak kesukaan non Ayuna terlebih dahulu." todong Bi Yam antusias begitu melihat kedatangan Ayuna.


"Ngak papa kok bi, Ayuna kangen suasana rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan ini, sehingga begitu ingat langsung pulang saja." balas Ayuna tersenyum ramah.


"Bibi siapin minuman dulu ya non."


"Nanti saja bi, Ayuna pengen langsung istrahat dikamar saja dulu." Ayuna berjalan menuju kamarnya. meninggalkan bi yam yang masih menatap punggungnya berjalan menuju lantai dua kamar majikannya itu.


"Mudah-mudahan, non Ayuna bahagia dengan pernikahannya." gumam bi yam, karena dia merasa jika Ayuna sedang tidak dalam keadaan baik-baik, meskipun majikannya itu, berusaha untuk menutupi dengan senyuman.


Sampai dikamarnya, Ayuna menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskan secara perlahan-lahan. mengedarkan pandangannya keseliking ruangan kamar yang tidak pernah berubah, masih nyaman dengan suasana hangat, meskipun sudah tidak ada mama dan papanya, namun Ayuna merasakan kehadiran mereka saat ini.


"Mama....papa...."


Seketika emosi dan kesedihan Ayuna menyatu, dia menghambur memeluk foto ke-dua orang tuanya sambil menagis, cukup lama Ayuna seperti itu, rasa capek dan lelah membuat gadis ABG itu, tertidur begitu saja meringkuk sambil memeluk foto keluarga.


Dalam mimpinya, Ayuna bertemu dengan ke-dua orang tuanya. suasana pagi yang indah penuh keceriaan masa-masa beberapa tahun silam kembali terulang.


Ayuna kecil berlarian dengan sang papa ditaman samping rumah, disana juga ada mama yang menyambut dirinya dengan pelukan hangat penuh kasih sayang.


"Mama...papa, aku merindukan kalian berdua." gumam Ayuna dengan mata yang masih terpejam. Ayuna senyum-senyum sendiri dalam tidurnya, meskipun kenangan indah itu terulang melalui mimpi, namun terlihat jelas, jika Ayuna menikmati momen dalam mimpinya tersebut.

__ADS_1


***


Ziko tersenyum lega, paling tidak separuh jiwanya yang sempat menghilang, kembali menyatu. saat mobil yang dikendarainya memasuki gerbang utama rumah Ayuna, dia langsung melihat motor matic kesayangan Ayuna terparkir dibagasi.


"Alhamdulillah, ternyata Ayuna benaran pulang kerumah orang tuanya. meskipun aku tidak tahu alasan nya kabur kerumah ini. paling tidak aku sudah bisa bernafas lega kembali."


Ziko segera memarkir mobilnya disebelah motor Ayuna, lalu melangkah cepat menuju pintu masuk. dia sudah tidak sabaran bertemu Ayuna dan mengetahui alasannya tiba-tiba pulang begitu saja.


"Tock....tok..." Ziko mengetuk pintu yang terkunci dari dalam.


Dio yang mendengar pintu rumah diketuk dari luar, mengintip melalui celah-celah gorden, dia segera berlari untuk membuka. begitu mengetahui jika yang datang adalah Suami dari majikannya.


"Tuan Ziko, silahkan masuk." ucap Dio, menunduk hormat.


"Mana Ayuna."


"Ada dikamarnya, tuan."


"Tuan, kamar non Ayuna ada dilantai dua sebelah kanan. sedangkan itu kamar almarhum kedua orang tuanya." terang Dio saat melihat Ziko yang hampir salah memasuki kamar.


"Salah ya, maklum ini baru kali keduanya saya memasuki rumah ini." terang Ziko merasa lucu, mengingat dia tidak mengetahui kamar istri nya sendiri, dulu dia datang kerumah ini saat hendak menjemput Ayuna untuk pindah keapartemen nya, sedangkan Ziko hanya menunggu sampai teras depan.


Ziko menaiki satu persatu anak tangga, hingga dia sampai didepan pintu kamar yang sengaja dicat dengan nuansa cerah, disana juga terdapat nama Ayuna.


Ceklek.... pintu terbuka perlahan, nampak Ayuna yang masih tertidur pulas. perlahan Ziko mendekati istri nya yang masih mengenakan seragam abu-abu, karena Ayuna belum sempat mengganti pakaian nya.


Ziko mengambil foto keluarga yang masih dipeluk Ayuna, dia memperhatikan foto tersebut. nampak Ayuna kecil dalam pangkuan sang mama, dimana wajah mereka terlihat sangat mirip. imut dan juga cantik natural.


"Ayuna.... Ayuna, bangunlah. sekarang sudah sangat sore." ucap Ziko menguncang pelan bahunya.

__ADS_1


Ayuna terbangun dari mimpi indahnya, dengan masih menyipitkan mata dia menatap Ziko yang duduk disampingnya.


"Mas Ziko, kenapa ada disini?"


Pertanyaan Ayuna seketika membuat mood Ziko berubah menjadi kesal.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, seharusnya aku yang bertanya. kamu kenapa kabur dan pulang kerumah orang tuamu tanpa izin dan memberitahu terlebih dahulu, kamu anggap apa aku, ingat Ayuna kita sudah menikah dan aku adalah suamimu yang berhak mengetahui apapun yang kamu lakukan. dan semua itu atas izin dariku." terang Ziko.


"Maaf mas aku lupa."


Ayuna membalas singkat pertanyaan Ziko, saat ini hatinya masih sangat kesal terhadap Ziko.


"Lupa, semudah itu kamu mengatakan nya. perlu kamu tahu Ayuna, aku sangat mencemaskan dirimu, sedangkan kamu hanya santai tanpa peduli dengan apa yang aku rasakan, atau kamu memang tidak menginginkan aku sehingga berharap pernikahan kita cepat selesai."


"Tidak seperti itu, mas." terang Ayuna ingin membela diri, atau pernikahan nya. saat ini dia benar-benar dilema gara-gara Vidio yang tidak jelas kebenarannya.


"Lalu apa?" ulang Ziko memastikan.


Ayuna terdiam, pikirannya tiba-tiba menjadi buntu karena didesak seperti ini oleh Ziko. sehingga dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, rasanya Ayuna ingin menagis dan meluahkan sesak di dada yang dirasakan nya, sebisa mungkin dia menahan agar butiran bening itu tidak tumpah dikedua pipinya. Ayuna tidak ingin terlihat lemah dimata Ziko.


"Ayuna, selama ini aku cukup bersabar menunggumu. bahkan kamu selalu beralasan masih sekolah dan ujian, agar aku tidak menyentuh mu. tapi kamu selalu memancing kesabaranku dengan sikap kekanak-kanakanmu yang seperti ini."


Ziko semakin mendekat, membuat Ayuna mundur perlahan kebelakang. namun tangannya langsung ditarik oleh Ziko dan mendorong tubuh nya hingga jatuh ditempat tidur, Ziko langsung menindihnya sambil melepas satu persatu kancing seragam sekolah yang masih dikenakan Ayuna.


"Jangan seperti ini mas, aku mohon...." Ayuna berusaha menahan tubuh Ziko dengan kedua belah tangannya, namun tenaganya kalah banyak.


Ziko menciumi leher dan gundukan yang terpampang indah dihadapannya, tanpa peduli dengan teriakan dan suara tangis Ayuna. hati dan pikiran Ziko sudah dipenuhi oleh gairah nafsu, sehingga dia tidak bisa untuk berfikir secara jernih lagi.


Tangan Ziko menarik rok abu-abu Ayuna keatas, hingga membuat kedua paha putih mulus Ayuna tersingkap sempurna. sebisa mungkin Ayuna berusaha menarik selimut untuk menutupi nya, namun langsung dibuang sembarang arah oleh Ziko.

__ADS_1


"Jangan mas...hu...hu... jangan perkosa aku hu...hu...aku mohon mas Ziko." teriak Ayuna disela-sela Isak tangisannya.


__ADS_2