
Begitu sampai di penginapan, Ziko segera merilekskan sejenak tubuh dan pikirannya yang lelah, seketika dia teringat Ayuna yang sekarang pasti kesepian bahkan bisa jadi istri kecilnya itu tengah merindukan dirinya.
"Ahhhh... istri ku, kamu sedang apa ya sekarang?" gumam Ziko seraya mengeluarkan ponselnya.
"Tapi sekarang pasti sudah sangat malam, Ayuna juga pasti sudah tidur." Ziko yang semula ingin menghubungi Ayuna, menjadi ragu. tapi rasa rindu yang terus menguasai hati dan pikirannya. membuat Ziko tanpa sadar memangil No hp sang istri.
Tidak lama panggilan Ziko terhubung, terdengar suara Ayuna yang serak.
"Hallo mas."
"Ya, apa kamu sudah tidur?"
"Sudah, tapi aku tidak bisa tidur nyenyak malam ini, mas. sehingga aku seringkali terbangun." balas Ayuna yang sangat senang karena Ziko akhirnya menghubungi nya juga.
"Kenapa ngak bisa tidur?"
"Ngak tahu mas,"
"Kamu pasti merindukan aku, ya kan sayang?" tebak Ziko, yang membuat Ayuna tersenyum malu. karena tebakan Ziko kali ini benar.
"Iya mas, kamu jangan lama-lama ya disana." Ayuna mengusap air matanya, bahkan suaranya ikut bergetar.
"Ayuna, kamu menangis?"
"Tidak...mas." berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Untuk apa menangis, aku akan cepat pulang demi kamu."
"Aku tahu mas."
"Apa kamu meragukan aku, Ayuna?"
"Aku tidak meragukanmu, mas. tapi Khanza. dia punya banyak cara untuk menjebak dan merusak hubungan kita."
"Jangan risau Ayuna, aku sudah terbiasa menghadapi setiap permasalahan ini dengan tenang. percayalah aku tidak akan terpedaya oleh Khanza lagi. karena dihatiku sudah tidak ada cinta untuk Khanza, cuma ada kamu dihatiku sekarang dan untuk selamanya." ucap Ziko sungguh-sungguh.
"Aku bahagia mendengarnya, mas."
"Ya sudah, sekarang sudah sangat larut. sebaiknya kamu lanjutkan tidur mu ya sayang."
"Ya mas, hati-hati disana."
"Tentu, muuuach..."
__ADS_1
Setelah menutup panggilan mereka, Ayuna maupun Ziko sama-sama merasa lega. bahkan mereka bisa tidur dengan pulasnya menyongsong pagi menjelang.
Pagi harinya, Ayuna sarapan sendirian. bahkan dia terlihat tidak berselera untuk menghabiskan sarapan nya. dia sering melamun karena merindukan Ziko.
Rara yang sengaja datang berkunjung kerumahnya Ayuna, langsung menghampiri sahabatnya yang tengah duduk sendirian diruang makan.
"Tarra.."
Rara sengaja mengagetkan Ayuna dari belakang, hingga membuat sendok yang dipegang Ayuna jatuh kelantai.
"Sepertinya, ada yang sedih ni?" goda Rara.
"Ngak kok, aku aku lagi nyantai menikmati sarapan." elak Ayuna.
"Kok sarapan sendirian, mana laki Lo?"
"Mas Ziko keluar negeri, ada urusan penting yang harus dia selesai kan." jawab Ayuna berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Sudah aku duga, pasti kamu lagi rindu ya Khan..
.ayo ngaku saja." goda Rara.
"Sebenarnya iya sih, bahkan aku tidak bisa jauh dari mas Ziko, Ra." Ayuna akirnya berterus-terang pada Sabahat naiknya.
"Tumben kamu kesini tanpa memberitahu ku terlebih dahulu."
"Kejutan."
"Kamu udah sarapan?" tanya Ayuna sembari memberikan piring ketangan Rara.
"Sebenarnya sih sudah, tapi setelah melihat menu sarapan mu yang enak, aku ingin sarapan lagi."
"Makanlah, sepuasmu Ra. kamu kan dari dulu emang ngak pernah yang namanya diet."
"Yah, meskipun begitu bentuk tubuhku tetap indah dan langsing Khan." ucap Rara bangga.
"Ra, menurutmu. mas Ziko sekarang merindukan aku juga ngak sih?"
"Ya tentu lah, karena aku sudah melihat dari mata dan cara Ziko memperlakukan mu, bahkan kemaren dia sempat panik banget dan sampai mencari-cari mu kerumahnya segala." terang Rara.
"Iya, aku sadar kesalahan ku, untuk kedepannya jika pergi kemana-mana, aku akan izin kemas Ziko dulu." terang Ayuna.
"Nah gitu dong, jika menjadi istri yang baik."
__ADS_1
***
Setelah sarapan, Ziko sengaja mengintai pergerakan Khanza dan Aldo secara diam-diam, bahkan dia sengaja menyembunyikan wajahnya dengan memakai masker dan topi agar ke-dua pasangan selingkuh ini tidak mengenali nya.
Ziko mengepalkan tangannya, dia sudah tidak sabaran untuk segera mengakhiri hubungan mereka berdua. sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman yang akan mengusik kebahagiaan pernikahan nya dengan Ayuna kedepannya.
Aldo tanpa sungkan mengandeng tangan Khanza memasuki apartemen miliknya, mereka berdua tidak menyadari jika tidak jauh dibelakang Ziko mengikuti langkah mereka.
"Ayo sayang, aku ingin kamu memuaskan aku sebelum kamu pulang keindonesia dan bertemu kakak sepupu brengsek ku itu." ucap Aldo mengingat besok paginya Khanza sudah balik lagi keindonesia.
"Baik sayang, aku juga sudah ketagihan dengan permainan kita ini." balas Khanza.
Setelah memastikan Aldo dan Khanza masuk kedalam unit apartemennya, Ziko menunggu beberapa saat. setelah mendapatkan no password apartemen Aldo, Ziko menekannya lalu masuk kedalam.
Suasana ruangan itu terlihat sepi, namun tidak dengan kamar Aldo. disana terdengar ******* yang keluar dari mulut Khanza dan Aldo yang saling berpacu.
"Sekarang, kamu tidak akan bisa mengelak lagi dariku Khanza." gumam Ziko yang sudah mengambil video mesum mereka berdua sebelum dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci dari dalam tersebut..
"Ceklek.... pintu terbuka perlahan, membuat pasangan Khanza dan Aldo yang tengah bergumul dalam posisi yang sama-sama polos itu terlonjak kaget.
"Ziko."
"Ya aku, kenapa kalian berdua kaget."
"Ziko sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat. aku dan Aldo cuma... cuma." Khanza kesulitan menjelaskan nya, mengingat dia dan Aldo sudah tertangkap basah dimata kepala Ziko sendiri.
"Cuma apa, ayo lanjutkan permainan menjijikkan ini kalian ini, nanti setelah puas kalian bisa kirimkan kembali Vidio nya ke istri ku dengan mengedit wajah kotor itu dengan wajahku." ucap Ziko.
"Jaga ucapan mu," ucap Aldo mendekati Ziko setelah selesai mengenakan pakaian nya kembali.
"Apa yang perlu aku jaga untuk bajingan seperti dirimu ini, bahkan sedari dulu kamu paling suka menikmati barang sisaku, tapi untuk istri ku Ayuna aku tidak akan pernah mengizinkan mu untuk menyentuhnya." ucap Ziko menunjuk wajah Aldo tepat dihadapan nya.
"Ziko sayang maafkan aku, aku sudah dijebak oleh Aldo. hu...huhu..."
Khanza langsung menagis sambil berusaha memeluk kedua lutut Ziko menangis sambil bersimpuh.
"Tolong singkirkan tanganmu, aku jijik disentuh perempuan murahan seperti mu, Khanza. mulai sekarang diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, kita putus." teriak Ziko kencang. membuat tangis Khanza pecah.
"Tidak.... tidak... sampai kapanpun aku tidak mahu putus dengan mu mas, aku mencintaimu hu...hu..." ucap Khanza berusaha memeluk Ziko namun Ziko yang merasa jijik mendorong tubuh Khanza hingga jatuh kepelukan Aldo.
"Pengecut kamu Ziko, berani sama perempuan, ayo hadapi aku." tantang Aldo yang sudah bersiap menghanjar Ziko.
"Kalian berdua sama di mataku. aku tidak Sudi tanganku tersentuh tubuh kotor kalian berdua." ucap Ziko bahkan dia berhasil mengelak setiap Aldo menyerang nya dengan pukulan.
__ADS_1