
"Mas Ziko, sengaja pindah malam-malam kekamarku, ya kan?"
"Masak sih, bukannya semalam kamu yang teriak-teriak ketakutan. seperti habis mimpi buruk lagi. makanya aku temani karena nggak tega melihatmu yang terlihat sangat ketakutan."
"Alasan, aku masih ingat mimpiku semalam. dan sangat indah, jadi tidak mungkin aku ketakutan sampai berteriak." sanggah Ayuna kesal.
"Ya udah, jika kamu ngak percaya."
Ziko kembali merebahkan tubuhnya, dia ingin melanjutkan tidurnya.
"Iiihh...mas Ziko sana, aku mau mandi dan siap-siap untuk berangkat sekolah."
"Kamu mandi saja, emang aku ada melarangmu untuk mandi."
"Tidak, tapi jika mas Ziko masih disini. bagaimana bisa aku berpakaian." Ayuna yakin Ziko sekarang sudah berbeda, mulutnya hilang tidak suka, namun dibalik itu, dia terlihat sangat ingin selalu berada didekat Ayuna.
"Ayo mas, baguuuun."
Ziko tidak menggubris perkataan Ayuna, dia sengaja mendengkur agak keras, seperti orang yang sudah benar-benar tertidur pulas.
"Ah, mas Ziko ngesalin."
Ayuna akirnya pergi menuju kamar mandi, dengan membawa sekalian baju ganti masuk kedalam. tidak butuh waktu lama bagi Ayuna jika mandi pagi, karena dia merasa kedinginan.
Setelah mengenakan pakaian sekolahnya, Ayuna keluar dari kamar mandi. menuju meja rias. Ayuna merapikan pakaiannya. mengoles wajah dengan bedak tipis, tidak lupa menyemprotkan parfum. Ziko memperhatikan semua gerak-gerik Ayuna dari balik selimut.
Ayuna mematut pantulan wajahnya di cermin beberapa saat, dan lanjut menyusun buku-buku sekolah sesuai mata pelajaran nya hari ini.
Saat hendak keluar kamar, Ayuna melirik Ziko yang kembali pura-pura tidur.
"Mas....mas Ziko, ngak kerja ya hari ini?"
"Ngak, badanku tiba-tiba jadi nggak enak gini."
"Apa mas sakit."
"Entahlah Ayuna, tapi tubuhku terasa panas."
"Masa sih?"
"Ngak percaya, coba saja kamu raba keningku."
Ziko sebenarnya ingin merasakan sentuhan tangan Ayuna, bahkan wangi yang tercium dari tubuh Ayuna yang sudah segar. membuat nya ingin selalu bersama didekat gadis ini. tapi Ziko masih memiliki gengsi yang tinggi untuk mengakui perasaannya.
Meski agak ragu, Ayuna mendekat lalu meletakkan punggung tangannya di jidat Ziko.
__ADS_1
"Biasa saja mas, tidak panas."
"Kamu meriksa nya kayak ngak ikhlas gitu, coba lebih mendekat lagi."
Ayuna mengalah, dia duduk disisi ranjang. dan kembali meraba tubuh Ziko. namun belum sempat tangannya terangkat tiba-tiba Ziko langsung duduk, sehingga dia berhasil mencium pipi sebelah kanan Ayuna. hal ini sukses membuat pipi Ayuna memerah.
"Uuups sorry Ayuna, mas ngak sengaja. ini refleks begitu saja." ucap Ziko mencoba bersikap biasa-biasa saja, padahal hatinya saat ini tengah bersorak kegirangan dan sangat bahagia sekali, karena berhasil mencium pipi Ayuna yang wangi khas bedak bayi.
"Ya udah, aku siapin sarapan kopi dan roti saja ya mas. mengingat stok bahan -bahan makanan kita sudah pada habis, aku belum sempat belanja."
"Emang semalam, kamu belanja apa banyak banget."
"Itu kebutuhan pribadiku, mas."
"Kalau gitu, sepulang sekolah. kita belanja bareng ya." ajak Ziko.
"Katanya sakit."
"Sebenarnya iya sih, tapi aku akan tiduran di kamarmu ini sampai kamu pulang sekolah. dengan begitu kondisi ku akan semakin membaik."
"Terserahlah mas, Ayuna berangkat dulu ya."
Ayuna berdiri hendak pergi, namun kembali dipanggil Ziko.
"Apalagi sih, mas."
Ziko tersenyum, sambil mengulurkan tangan kanannya kearah Ayuna.
"Sebelum berangkat, alangkah baiknya. seorang istri Salim dulu pada suaminya saat pamit." ucap Ziko.
"Ayuna berangkat dulu ya mas." sambil Salim ketangan Ziko.
"Ya, hati-hati ya. pulang sekolah langsung pulang."
"Mas Ziko semakin hari semakin aneh. tapi nggak papa lah. yang penting dia tidak judes dan berwajah masam seperti baru pertama bertemu denganku dulu." gumam Ayuna.
***
Pulang sekolah, Ayuna langsung pulang. dia tidak ingin Ziko kembali memarahinya. meskipun Reno berusaha mendekati dan mengajaknya jalan-jalan. namun Ayuna berusaha menolak dengan halus.
Sampai diapartemen, Ayuna melihat suasana yang sangat berbeda. semua sudah rapi, termasuk kamarnya.
"Siapa yang melakukan semua ini, bukankah pelayan mama datang kesini nya sekali dua hari." gumam Ayuna. mengingat dia tidak bisa mengerjakan dan membersihkan apartemen ini sendirian. selain sekolah Ayuna juga butuh istrahat dan belajar.
"Bagaimana, pasti kamu kaget karena aku sudah merapikan kamarmu." Ziko muncul tiba-tiba.
__ADS_1
"Ngak juga, biasanya juga, pagi-pagi sekali sudah aku rapikan. tapi karena mas Ziko tadi masih tidur disini, makanya aku biarin saja."
"Mas, aku mau ganti pakaian dulu."
"Oke, yang lebih rapi ya. biar kita sekalian belanja keluar."
"Mmmmhh."
Sore harinya, pasangan ini memasuki pusat perbelanjaan. Ziko memanfaatkan situasi. dia mengandeng sebelah tangan Ayuna saat masuk.
"Ayuna, sekarang kamu pilihlah apa saja kebutuhan kita. mas akan dorong troli nya dan kamu yang pilih-pilih."
"Oke."
Ayuna terlihat mulai bersemangat dan ceria, beberapa bahan makanan, termasuk yang siap saji. susu, beraneka minum segar, hingga buah-buahan, snack kesukaan Ayuna. membuat troli itu hampir penuh.
"Masih ada lagi."
"Ada mas."
Ayuna semula agak malu, namun gimana lagi. akirnya dia mengambil dua pack besar pembalut wanita. dan memasukkan nya ketroli. Ziko tersenyum memperhatikan tingkah Ayuna yang masih terlihat malu-malu.
Setelah, menyusun semua belanja mereka dibagasi mobil Ziko. dia pun kembali mengajak Ayuna masuk.
"Kita cari tempat makan dan minuman dulu ya, kamu pasti haus karena sudah mutar-mutar belanja barusan." ajak Ziko menarik tangan Ayuna menuju restoran.
"Mas tahu aja, jika aku lagi haus."
"Kamu mau pesan apa?"
Ayuna memilih beberapa menu dan minuman nya, sementara Ziko terus memperhatikan Ayuna. dia juga bingung sejak kapan dia sangat menyukai menatap wajah imut dan menggemaskan dihadapannya ini, yang jelas Ziko benar-benar merasa nyaman berada didekat Ayuna, sesuatu yang sangat berbeda jauh. dari apa yang dirasakan nya saat bersama Khanza.
Saat Ayuna mulai makan, ataupun sedang tersenyum, Ziko kembali memotret Ayuna dengan kamera ponselnya, dia berpura-pura sibuk. padahal dia merekam dan sering mengabadikan setiap momen kebersamaan mereka berdua yang terasa jauh lebih indah.
Ziko seolah sudah mendapatkan permainan baru, bahkan dengan berani Ziko menolak setiap ajakan sahabatnya. yang ingin mengajak Ziko ke klub atau pun sekedar senang-senang diluaran.
"Ayuna, apa uang bulanan mu masih ada. jika kurang kamu bilang mas ya."
"Masih ada mas, kan belanja kita yang sekarang sudah mas bayar sendiri. jadi uang bulanan Ayuna masih utuh."
"Kalau kamu pengen shopping, kesalon atau beli perhiasan. kamu beli saja. cewek-cewek khan biasanya sangat menyukai hal itu."
"Emang aku boleh sering-sering keluar, nantinya mas Ziko marah atau menuduh ku yang macam-macam."
"Boleh, asalkan itu bersama Rara saja. dan tidak ada laki-laki lain."
__ADS_1