
"Ayuna, kenapa kamu gugup dan terdiam. ayo jawab pertanyaanku, benar kamu tidak tertarik terhadapku?" Ziko mengulangi lagi pertanyaan nya.
"Untuk apa mas, bukan kah kamu sudah memiliki wanita yang kamu cintai, Khanza yang segalanya jauh lebih dariku."
"Kamu cemburu ya pada Khanza, jangan kawathir Khanza masih diluar negeri."
"Bukan masalah itu mas, tapi aku akan menjawab semuanya. setelah hubunganmu dengan Khanza ada kejelasannya."
Ayuna pindah posisi dan kembali masuk kedalam selimut, tidur sambil membelakangi Ziko. sikap Ziko yang akhir-akhir ini mulai membaik, tidak membuat Ayuna akan percaya begitu saja. dia takut Ziko hanya memanfaatkan dirinya disaat dia kesepian ditinggal pergi Khanza, setelah kekasihnya itu kembali Ziko nanti akan mencampakkan lalu melupakan dirinya. sehingga saat ini, Ayuna lebih memilih untuk membentengi hati dan pikirannya terlebih dahulu, antisipasi sebelum itu terjadi.
Ziko yang semula sudah mengatur rencana, jika malam ini dia akan memeluk Ayuna, jadi tidak berani mendekatinya. mengingat sikap dan perkataan istri nya barusan, Ziko juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. dia mencintai Khanza namun disisi lain tanpa disadarinya, Ziko mulai merasakan nyaman dekat dan berada disisi Ayuna.
Rasa ngantuk tiba-tiba menyerang Ziko yang semula masih menatap punggung Ayuna yang tidur sambil membelakangi nya. dia kembali menguap seiring dengan matanya yang mulai terpejam menyokong mimpi indahnya bersama Ayuna.
Pagi harinya, Ayuna terbangun terlebih dahulu. diliriknya Ziko yang masih tertidur pulas. perlahan Ayuna bangkit menuju kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya dan berpakaian rapi. Ayuna turun kebawah, dia ingin membantu mama mertua untuk menyiapkan sarapan.
"Pagi mama."
"Eh Ayuna udah bangun, gimana rasanya semalam tidur dirumah mama ini?" mencoba untuk memancing Ayuna.
"Enak dan nyaman sekali ma." balas Ayuna.
"Wah syukurlah, nak."
"Ayuna, bantuin apa ma?"
"Sayang, kamu ngotot baget sih pengen bantuin mama. ya udah potong-potong sayur saja ya. " mama memberikan sayuran segar untuk dipotong Ayuna. sambil ngobrol-ngobrol ringan sesekali mereka tertawa lepas.
Setelah menyiapkan dan menata makanan dimeja makan, Ayuna naik keatas dia ingin membangun Ziko untuk sarapan.
Dikamar Ziko membuka matanya, saat tangannya meraba jika disisi sebelah kanannya sudah kosong. tidak ada lagi Ayuna.
"Mana dia, istri kecilku?" gumam Ziko hendak turun dari ranjang, namun dia kembali berpura-pura tidur ketika mengengar suara langkah kaki mendekat.
"Pasti itu Ayuna, yang ingin membangun kan aku "
Ceklek..... pintu terbuka, Ayuna melangkah mendekati Ziko dan duduk disisi ranjang.
__ADS_1
"Mas Ziko, bangun mas sudah pagi. apa hari ini mas ngak kerja."
Aaaagghhh....Ziko menggeliat pelan, dan kembali menguap menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya.
"Ayuna, emang ini hari apa?"
Sebelum menjawab pertanyaan Ziko, gadis itu terlihat berfikir sambil tersenyum.
"Sekarang hari Minggu mas."
"Itu makanya, mas ingin menikmati hari libur dengan bersantai saja, mengingat punggung dan tubuh mas ini masih tesa pegal-pegal." Ziko mencari-cati alasan agar kembali bisa merasakan sentuhan tangan Ayuna yang lembut menyentuh kulitnya.
"Tapi semalamkan udah aku pijitin, mas."
"Ayuna, kamu mijititin cuma beberapa menit saja, sehingga tidak membawa pengaruh apa-apa."
"Gimana jika panggil tukang pijat saja, mas."
"Tidak Ayuna, aku tidak biasa tubuhku disentuh sembarangan orang. aku sudah nyaman dan menyukai pijatan tanganmu semalam, aku ingin kamu mengulangi nya lagi." Ziko menatap Ayuna penuh harap.
Semakin ditahan, gairah Ziko semakin naik. dia mulai gelisah sendiri dengan pikiran liarnya yang mulai membayangkan sesuatu yang nikmat terjadi diantara mereka berdua.
"Mas, kamu kenapa senyum-senyum dan gelisah seperti ini?"
Pertanyaan Ayuna, membuat Ziko tersadar dari fantasi liar yang membuat nya terbang melayang dan kembali terhempas.
"Sudah cukup, jangan dipijitin lagi. aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." ucap Ziko spontan.
"Ngak tahan apa maksudmu, mas."
"Aku kebelet."
Ziko langsung turun dari ranjang, berjalan cepat menuju kamar mandi, dan langsung menutup rapat dari dalam. Ziko kesusahan mengatur pernafasannya yang memburu, kepalanya pusing. sesuatu yang mendesak ingin keluar harus segera dia tuntaskan meskipun harus bermain solo.
Ayuna mengusap kembali wajahnya, dia masih tidak percaya dengan penglihatan nya barusan. sesuatu yang mulai berdiri dibagikan bawah Ziko membuat nya kaget, meskipun itu tidak terlihat secara langsung, namun Ayuna bergidik juga membayangkan benda itu.
"Benda itu besar sekali?"
__ADS_1
"Astagfirullah, pikiranku ikut melayang kemana-mana." Ayuna mengusap dadanya sambil beristighfar dan kembali turun kebawah.
"Ayuna, kok turun sendiri. mana suamimu?"
"Masih mandi ma."
"Mama yakin, pasti Ziko semalam nyenyak kali tidur nya ya, ngomong-ngomong kalian bertempur nya berapa ronde semalam." tanpa sadar, kata-kata itu meluncur dengan mulus dibibir mama, yang kemudian langsung disenggol oleh suaminya.
"Mama apa-apaan sih, lihat tuh Ayuna jadi malu." ucap papa yang melihat Ayuna menundukan wajah dengan muka memerah.
" Ngak papa kok ma, Ayuna orangnya santai kok." balas Ayuna mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kata-kata tersebut, meskipun dia sesungguhnya malu dan belum terbayangkan dipikiranya yang polos untuk melakukan hal itu dengan Ziko. diumurnya yang masih sangat muda, Ayuna madih ingin belajar dan menggapai cita-cita nya.
"Kayaknya Ziko kelamaan deh, mendingan kita sarapan duluan saja." papa mulai mengambil piringnya.
"Ah... papa selalu begitu, tidak sabaran mulu. tuh Ziko udah melangkah turun kebawah." jawab mama melirik suaminya.
"Pagi ma, pa dan istri ku tersayang." jawab Ziko terlihat sangat segar habis mandi, dia ikut duduk disebelah Ayuna. sambil berbisik.
"Ingat Ayuna, kita harus terlihat romantis dihadapan mama dan papa." ucapan Ziko langsung dibalas senyuman termanis Ayuna, yang kali ini sangat ampuh lelehkan hati Ziko.
"Duh...anak mama ternyata romantis juga ya." goda mama.
"Tentu dong ma."
"Ya udah, kita mulai lagi sarapannya."
Ayuna mengambil kan makanan kepiring Ziko, sama dengan apa yang dilakukan oleh mama mertuanya pada suaminya.
Ziko mulai jail, dia mengelus lembut kaki dibawah meja, betis Ayuna dengan kakinya, sambil senyum-senyum menyuap makanan nya.
"Kenapa Ayuna tidak peka ya, padahal jika Khanza pasti udah kayak cacing kepanasan jika aku perlakuan seperti ini." gumam Ziko sambil melirik Ayuna yang fokus makan. seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi tidak dengan mamanya, mama terlihat senyum-senyum sendiri sambil melirik papa yang juga fokus makan. Ziko perlahan mengintip kebawah meja.
"Astagfirullah," teriak Ziko refleks, membuat semua mata tertuju melirik kearahnya dengan tatapan bingung. tapi tidak dengan mama, dia yakin jika itu ternyata perbuatan Ziko. dia langsung berdiri dan menjewer telinga anak kesayangannya.
"Ngak anak, ngak ayah sama-sama jail. dan mempunyai otak ngeres. ini rasain makanya lain kali liat-liat dulu." ucap mama kesal sedangkan papa tertawa lepas, Ayuna. menatap mereka bergantian bingung dengan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1