
Sorenya, Ziko kembali mengajak Ayuna untuk pulang ke apartemen mereka. meskipun kedua orang tua Ziko terlihat masih ingin ngobrol-ngobrol bareng Ayuna yang hangat dan ceria, beda jika saat berduan saja dengan Ziko.
"Ziko, Ayuna. kalian berdua sering-sering ya pulang kerumah ini, kehadiran kalian berdua membuat mama dan papa merasa bahagia sekali, kekuarga kita terasa lengkap." ucap mama mengelus Sayang rambut Ayuna.
"Tentu ma, kami pasti bakal sering pulang kesini." balas Ziko.
"Ayuna, pesan mama. jika Ziko berani macam-macam sama kamu, segera lapor kekami. ya nak."
"Ya ma."
Setelah pamit pada kedua orang tuanya, Ziko melajukan mobilnya Menuju apartemen. sepanjang perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka, meskipun Ziko seringkali mencuri pandang kearah Ayuna, suara dering panggilan masuk dari hp Ayuna, menyadarkan lamunan gadis itu, yang segera menggeser layar monitor untuk menjawab panggilan dari sahabatnya Rara.
"Hallo ada apa Ra?"
"Ayuna, bagaimana dengan tugas kita kemaren. apa kamu sudah mendapatkan beberapa buku referensi buat panduan kita nantinya."
"Ya ampun, Ra. aku lupa." Ayuna langsung memukul jidatnya.
"Terus gimana dong, besok kita sudah harus mendapatkan buku tersebut. sedangkan aku masih dirumah nenek dan tidak bisa untuk menemanimu mencarinya di toko buku."
"Ngak papa kok, Ra. aku coba minta mas Ziko buat nemani aku."
"Terimakasih ya Ayuna, atas pengertiannya."
Setelah menutup panggilan mereka, Ayuna terdiam sesaat. dan melirik Ziko yang terlihat masih fokus nyetir seolah-olah tidak terganggu dengan obrolan mereka barusan.
"Mas Ziko, aku bisa minta tolong ngak?"
"Minta tolong untuk apa Ayuna."
"Aku dan Rara ada tugas kelompok, dan dari kemaren kami belum juga menemukan buku-buku untuk referensi materi belajar kami, mas bisa kan nganterin aku ketoko buku terlebih dahulu."
"Baiklah, Ayuna."
__ADS_1
Ziko kembali memutar arah jalan mobil nya, menuju pusat perbelanjaan dan toko buku yang menyediakan berbagai macam buku-buku berkualitas untuk semua tingkat pendidikan.
"Turunlah Ayuna, kita sudah sampai." Ziko turun terlebih dahulu.
"Wah besar sekali toko bukunya, mas."
"Ya, disini sangat lengkap. kamu bisa pilih-pilih buku yang kamu inginkan."
Ayuna mengikuti langkah kaki Ziko, memasuki toko buku yang sudah tersusun rapi buku-buku. yang seolah-olah membuat pengunjung sedang berada perpustakaan, saking banyaknya. ruangannya juga bersih dan rapi, serta deretan sofa yang sangat nyaman untuk diduduki untuk membaca buku atau sekedar lihat-lihat. tanpa sadar tangan Ayuna membibing tangan Ziko. sepanjang mereka masih berputar mencari-cari buku.
"Ayuna, aku angkat telpon dulu. kamu lanjutkan mencari bukunya."
"Oke, mas."'
"Ayuna, ternyata kamu disini juga." ucap Reno dengan wajah berbinar-binar bahagia, mengingat sebelum nya dia tengah memikirkan gadis yang sudah menarik perhatian nya, semenjak pertemuan pertama mereka disekolah.
"Iii..iya, aku lagi nyari buku."
Ayuna terlihat gugup, dia merasa risih dengan tatapan Reno, ditambah lagi Ziko yang sudah mendekat berjalan kearahnya.
"Ayuna, aku sudah mendapatkan beberapa buku. aku rasa sangat sesuai dan cocok sekali sebagai bahan referensi tugas mu." Reno memberikan beberapa buku langsung ketangan Ayuna.
Semula Ayuna ingin menolak, namun buku-buku yang disodorkan Reno benar-benar sesuai dengan buku yang sudah beberapa hari ini dia cari dengan Rara, mau tidak mau dia akhirnya menerima buku tersebut sambil tersenyum.
"Reno terimakasih ya."
"Sama-sama Ayuna, buat gadis secantik kamu apasih yang ngak." goda Reno.
"Hhhmmm..."
Suara deheman Ziko yang sedikit keras, mengagetkan keduanya.
"Mas Ziko, aku udah menemukan bukunya. gimana jika kita langsung pulang." ajak Ayuna ketika melihat tatapan tidak bersahabat yang terpancar dari mata elang Ziko yang tertuju pada Reno.
__ADS_1
"Oiya mas, kenalkan ini Reno. teman sekelas ku. kami bertemu disini tanpa sengaja."
"Iya, om. perkenalkan namaku Reno." mengulurkan tangannya kearah Ziko. yang memilih mengabaikan tangan Reno, lalu mengajak Ayuna pergi meninggalkan toko buku.
"Sombong baget deh om-om itu, tapi dia siapanya Ayuna ya? tidak mungkin gadis secantik Ayuna mau menjadi kekasih dari laki-laki yang sudah terlihat dewasa. aku yakin umur mereka juga sudah terpaut jauh." gumam Reno yang masih menatap punggung Ayuna yang sudah berlalu pergi.
"Ayuna, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu. apalagi jika harus menjadi saingan dari om-om itu, meski dia lumayan tampan. namun terlihat arogan, aku yakin Ayuna tidak akan mampu bertahan lama dengan nya." Reno tiba-tiba tersenyum penuh arti, dia begitu yakin bisa mendapatkan Ayuna.
***
"Mas, kamu marah ya. sebenarnya kami tidak sengaja bertemu."
"Tidak, untuk apa aku harus marah padamu. cuma aku tidak suka saja. jika ada yang melihat kamu ngobrol dengan laki-laki lain, sementara mereka mengetahui status mu yang menjadi istriku."
"Mas, pernikahan kita tertutup. dan aku rasa tidak ada yang tahu, lagian kami cuma ngobrol saja, karena dia teman sekelas ku. itu saja. " terang Ayuna.
"Cukup Ayuna, ingat papamu sudah memintaku untuk menjagamu. jadi aku harap kamu patuhi perkataan ku. apa perlu kamu aku pindahkan sekolah ketempat lain."
"Tidak....jangan mas, baiklah aku akan menurut perkataan mu." jawab Ayuna pasrah, meski dia mulai kesal melihat sikap Ziko yang egois.
"Apa sih maunya mas Ziko, padahal selama ini, aku tidak pernah ikut campur urusannya dengan Khanza. tapi jika dia melihat aku ngobrol dengan teman laki-laki ku, dia langsung marah besar dan ngancam segala. mana mungkin aku pindah karena disana banyak teman-temanku yang sangat baik, terutama Rara. rasanya berat untuk berpisah dengan mereka. lagian sekarang aku sudah kelas tiga, sebentar lagi akan tamat.
Setelah mereka sampai di unit apartemen milik Ziko, Ayuna langsung masuk menuju kamarnya. untuk membersihkan tubuh yang terasa gerah, selepas itu Ayuna mulai mengerjakan PR, mengingat besok hari Senin. dan kembali belajar seperti biasanya.
"Akirnya, Pr ku selesai juga."
Ayuna menyimpan bukunya kedalam tas, setelah itu dia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dan sangat lelah. Ayuna membaringkan tubuhnya di ranjang, tidak butuh waktu lama dia sudah tertidur pulas sambil memeluk bantal guling.
Ziko yang baru selesai mandi, langsung menuju dapur. dia sudah membayangkan, jika Ayuna sudah selesai menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. entah kenapa, Ziko mulai ketagihan dengan masakan Ayuna yang sederhana.
"Ahhh kosong, tidak ada makanan apapun yang dimasak Ayuna, apa dia marah atas kejadian tadi."
Ziko membuka pintu kamar Ayuna, nampak gadis itu sudah tertidur pulas sambil menekuk guling. Ziko kesusahan menarik saliva nya sendiri. melihat cara berpakaian Ayuna saat ini."
__ADS_1
"Sangat montok dan masih terlihat segar, istri ku. aku sudah tidak sabar menunggu waktunya. dimana kita menjadi pasangan suami-istri yang sebenarnya." ucap Ziko kembali menutup pintu secara perlahan-lahan, agar Ayuna tidak terbangun.
"Sebaiknya aku pesan makanan untuk malam ini." Ziko mengeluarkan ponselnya dan memesan untuk dua porsi makanan.