
"Dada... sampai jumpa lagi ya."
Rara masih melambaikan tangannya, saat mobil mereka sudah pergi meninggalkan lokasi pantai. nampak dari kejauhan Arya masih melambaikan tangan.
"Ayuna hari ini hatiku senaaang.... banget, rasanya aku ingin didekat Arya terus." ucap Rara yang mulai berbunga-bunga.
"Sebaiknya, kamu tahan dulu perasaan mu ini Ra, kita baru mengenal Arya. dan belum mengetahui siapa dia lebih jauh." balas Ayuna.
"Iya juga sih, tapi aku merasa jika Arya itu orang baik." pandangan Rara kembali menerawang membayangkan wajah tampan Arya.
"Kita langsung pulang sekarang, Ra."
"Apa kita ngak singgah dipusat perbelanjaan dulu, sekedar cuci mata. lihat-lihat barang baru." ajak Rara.
"Ngak deh, aku udah capek seharian ini jalan-jalan. dan aku sudah merasa puas." tolak Ayuna yang ingin istrahat dikamar sambil memikirkan Ziko.
"Ra, aku kok sekarang mulai deg..deg dan kawathir ya."
"Kawathir napa?"
"Setelah mas Ziko kembali dari luar negeri nantinya, aku tidak mempunyai alasan lagi untuk menolaknya. bahkan tidak menutup kemungkinan aku akan hamil anak nya setelah itu." ucap Ayuna memijid pelipisnya yang tidak sakit.
"Wah, pasti seru banget ya. kamu yang bakal belah duren, tapi kenapa justru aku yang merasa deg...deg deg.. ya?" ucap Rara.
"Kamu pengen juga?"
"Tentu Ayuna, apalagi Ziko body nya mantap gitu. pasti hot banget ya?" Rara langsung membayangkan.
"Enak aja lho ngomong kayak gitu, mas Ziko itu suamiku tau." Ayuna tiba-tiba merasa tidak suka jika sahabat nya Rara tertarik juga pada Ziko.
"Emangnya siapa juga yang mau ngambil milik sahabat sendiri, mendingan mas Arya yang jelas-jelas tampan dan masih single." ralat Rara.
Keayikan ngobrol-ngobrol, dua gadis ini sudah sampai depan pintu rumah Ayuna yang terlihat nyaman dan asri.
"Turun dulu yuk, Ra?"
__ADS_1
"Ngak usah deh Ayuna, aku langsung pulang saja ya."
"Kalo gitu hati-hati dijalan ya, da...da..." Ayuna melambaikan tangannya, dan menatap mobil Rara hingga sudah tidak terlihat lagi. baru dia masuk kedalam rumah.
***
Ayuna tersenyum bangga dengan hasil nilai ujian nya, bahkan dia lulus dengan nilai-nilai terbaik.
"Mama...papa.... Alhamdulillah, akhirnya Ayuna lulus dengan nilai terbaik, Ayuna bangga sekali Karena sudah mengabulkan harapan mama dan papa, dan semua ini juga tidak terlepas dari dukungan mas Ziko." Ayuna berbicara dalam hatinya sambil sesekali tersenyum memperhatikan kembali nilai-nilai hasil ujian nya.
Beda dengan ekspresi yang ditujukan Rara, sahabatnya itu terlihat sedikit murung karena sempat diomeli oleh kedua orang tuanya, yang menaruh harapan besar terhadap Rara yang merupakan anak mereka satu-satunya. mengingat nilai-nilai Rara yang tertera hanya batas minimal kelulusan saja. meskipun begitu dia masih bersyukur bisa lulus ujian, mengingat dia sempat berfikir jika tidak bakal bisa lulus karena tidak mampu menjawab sebagian soal-soal ujian nya.
"Ayuna, selamat ya. nilai kamu tertinggi lho dikelas kita."
"Terimakasih, Ra."
"Ayuna, selepas ini kamu bakal kuliah dimana?"
"Mas Ziko, udah menyediakan universitas terbaik untuk aku kuliah nantinya." balas Ayuna.
"Apa dengan nilai ku yang dibawah standar ini, bisa kuliah ditempat yang sama dengan mu ngak, Ayuna." Rara tiba-tiba menyesal karena tidak pernah belajar dengan baik.
"Mudah-mudahan." balas Rara berharap.
***
Ayuna menyimpan pakaian sekolah dan buku-buku nya diruangan khusus, dia menatap lama seragam sekolah yang menyimpan begitu banyak kenangan. setelah menutup pintu ruangan, dia kembali menuju kamarnya, yang nantinya sudah menjadi kamarnya berdua dengan Ziko.
Sesuai kesepakatan mereka, setelah menyelesaikan sekolahnya. Ayuna akan menjadi istri Ziko seutuhnya. namun sekarang membayangkan nya saja sudah membuat Ayuna merasa ngeri.
"Ya Tuhan, mudah-mudahan saja mas Ziko melupakan kesepakatan kami. aku takut untuk memulainya. tapi membiarkan mas Ziko terlalu lama menunggu, aku juga ngak tega. takutnya dia mencari kebahagiaan sendiri diluar, meskipun mas Ziko tidak akan berbuat serendah itu." Ayuna yang resah akirnya merebahkan tubuhnya di ranjang. sesekali tersenyum membayangkan Ziko.
"Mas, kamu kapan pulang?" tanpa sadar, bibir Ayuna berkata.
"Aku sudah pulang sayang, aku juga merindukanmu." tiba-tiba Ziko muncul dari balik pintu, tersenyum berjalan mendekati Ayuna yang masih melonggo menatap kedatangannya.
__ADS_1
"M..mas Ziko, ini benaran kamu mas." kedua tanga Ayuna terangkat, meraba kedua pipi Ziko untuk meyakinkan dirinya, jika ini benar-benar nyata dan bukan halusinasi belaka.
"Iya sayang, aku adalah suamimu." balas Ziko menarik kedua tangan Ayuna yang masih meraba pipinya, lalu Ziko mencium hangat punggung telapak tangan Ayuna. setelah itu Ziko menarik tubuh mungil Ayuna kedalam pelukannya.
"Kenapa mas, tidak mengabariku jika akan pulang sekarang?"
"Ini kejutan, Aku merindukanmu, sayang."
"Aku juga, mas." balas Ayuna malu-malu.
"Ayuna, kamu itu Istriku. jadi jangan pernah malu-malu lagi untuk mengungkapkan perasaan dan rasa sayang mu padaku, kamu berhak atas tubuhku begitu juga sebaliknya aku." ucap Ziko kembali merapat tubuh nya.
"Bagaimana dengan nilai-nilai sekolah mu?"
"Alhamdulillah aku lulus dengan nilai-nilai terbaik, mas." Ayuna berdiri, mengambil sesuatu dari laci meja belajarnya, yang merupakan hasil nilai ujiannya, lalu menyerahkan ketangan Ziko.
Ziko mengambilnya lalu memperhatikannya, tiba-tiba senyum mengembang dibibir Ziko yang kemudian beralih menatap Ayuna yang kembali menjadi gugup saat teringat kesepakatan mereka berdua.
"Mas, kenapa kamu menatap ku seperti itu?"
"Emangnya salah jika suami menatap tubuh istrinya yang semakin hari bertambah seksi." ucap Ziko membuka satu persatu kancing kemejanya sehingga Ayuna mundur perlahan.
"Ayuna, tadi mama menghubungi ku. bahkan dia juga menanyakan..." Ziko mengantungkan ucapannya.
"Menanyakan apa, mas?"
"Mama menayangkan, tentang kamu yang belum hamil juga. lalu aku menjelaskan jika kita baru akan memulai membuat cucu untuk nya. dan aku juga meminta mama agar mendoakan kita supaya sukses melewati proses indah ini, sehingga bisa segera mengabulkan keinginan terbesar mama." ucap Ziko seraya menatap Ayuna dengan pandangan penuh gairah. bahkan dia langsung mengecup lama bibir Ayuna, Ziko bisa merasakan detak jantung Ayuna yang berpacu dan tangannya yang dingin.
"Ayuna, kamu jangan gugup seperti ini. santai saja dan anggap ini permainan yang sangat menyenangkan." bagaimana sikap Ziko dengan ke-dua tangan yang mulai menggerayangi tubuh istri Kecilnya.
"Mas aku takut."
"Aku akan melakukannya pelan-pelan, kita sama-sama baru memulai nya untuk pertama kalinya, sayang. aku tidak akan menyakitimu, percaya lah."
"Tapi mas baru balik dari luar negeri, dan tentunya masih capek. aku bantu pijitin ya." berusaha membujuk Ziko dengan mengalihkan perhatian nya.
__ADS_1
"Tidak, capekku sudah hilang saat bertemu dengan mu, sayang."
Satu persatu kancing kemeja Ziko sudah terlepas, sebelah tangan Ziko membuka pengait ikat pinggangnya nya. lalu menurunkan resleting celana yang membuat mata Ayuna tiba-tiba membulat lalu melotot.