Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Kedatangan mama dan papa


__ADS_3

"Kita, masak bareng yuk"


"Boleh, mas."


Ayuna mengikat tinggi dan secara asal rambut bergelombang nya, memperlihatkan leher jenjang putih bersih. Ziko mengambil celemek lalu memasangkannya ke Ayuna.


"Pakai ini, agar bajumu ngak kotor."


"Terimakasih, mas."


Ayuna mengiris bawang merah, namun baru dua butir matanya sudah perih. lalu mengeluarkan air matanya. melihat hal itu. Ziko segera mengambil tissue mengelap sambil meniup-niup mata Ayuna dengan pelan.


"Apa masih perih?"


"Ngak lagi mas."


"Sini, biar aku saja yang mengerjakannya." Ziko mengambil alih sendok, lalu mulai menumis bawang.


"Wangi banget, ternyata mas bisa masak juga ya."


"Sebelumnya, aku tidak pernah melakukan hal ini, tapi karena sekarang aku sudah memiliki istri yang masih ABG, mau tidak mau aku harus bisa mengayomi dan membantunya, apapun yang bisa aku lakukan. maka akan aku lakukan untuk dirinya." ucapan Ziko mengalir begitu saja. membuat Ayuna terkesima. tidak percaya dengan ucapan suaminya itu.


"Akirnya, menu makan kita siap juga." Ayuna ikut menata dimeja makan. dan ikut makan bareng Ziko, namun baru beberapa suap saja. terdengar bunyi ketukan pintu.


"Biar aku saja yang pergi untuk membukakan pintu."


Ziko berjalan menuju pintu, sedangkan Ayuna kembali melanjutkan makanya.


"Mama, papa."


Ziko kedatangan tamu, kedua orang tuanya yang sengaja berkunjung ke unit apartemen mereka berdua, malam ini.


"Kenapa kamu terlihat kaget seperti ini, apa kedatangan kami ini mengganggumu dan Ayuna?" ucap mama.


"Mana mungkin mama dan papa menggangu, justru kami sangat senang dengan kedatangan mama dan papa." sanggah Ziko, laku mengajak mereka menuju meja makan. dimana Ayuna tengah asyik mencicipi masakan Ziko yang sangat cocok dengan seleranya.


"Eh mama dan papa."


Ayuna menghentikan makannya, menyalami kedua orang tua Ziko bergantian.


"Mama, senang banget melihat kalian berdua akur seperti ini. ya kan, pa."


"Iya ma, persis seperti kita. sewaktu awal-awal pernikahan dulu." balas papa tersenyum senang.


"Ma, pa. silahkan sekalian ikut makan."


Ayuna mengambilkan makanan, meletakkan dimeja makan. kedua mertuanya ikut bergabung makan bersama.

__ADS_1


"Enak sekali, Ayuna ternyata pintar sekali masak." puji mama.


"Tapi ini, mas Ziko yang masak, ma."


"Apa?"


Mama hampir kesekek, tidak percaya dengan pendengaran nya sendiri. namun dia kembali tersenyum, merasa bangga melihat perubahan besar anaknya.


"Benar kamu yang masak makanan ini, Ziko."


"Benar ma."


"Ternyata kehadiran Ayuna, membawa pengaruh yang sangat berarti dalam hidupmu, nak. mama bangga melihat semua ini." ucap mama tersenyum melirik kearah Ziko, dia tidak menyangka tubuh Ziko juga terlihat berisi akhir-akhir ini.


"Apa kamu masih sering makan diluaran?"


"Tidak, ma. Ayuna selalu memasak untuk kami. terkadang aku ikut membantunya." terang Ziko.


"Ayuna, terimakasih ya, nak. kamu merawat Ziko dengan sangat baik. coba saja perempuan yang bernama Khanza itu yang menikah dengan Ziko, mungkin dia tidak akan seperti ini."


"Mama, sudahlah. kita tidak boleh membandingkan seseorang seperti ini."


"Kenapa Ziko, kamu ngak suka ya. jika mama menjelek-jelekkan kekasihmu yang ngak jelas itu."


"Maksud Ziko bukan seperti itu, ma. lebih baik kita nggak usah bahas tentang dia. karena hanya akan merusak suasana makan kita." ucap Ziko.


Mereka makan, dengan suasana penuh dengan kehangatan dalam sebuah keluarga. Ayuna merasa bersyukur. paling tidak dia bisa merasakan kembali kehangatan keluarga yang sudah lama tidak dia rasakan, semenjak kedua orang tuanya meninggal Dunia, pergi untuk selamanya meninggalkan Ayuna sendiran.


Selesai makan bersama, Ayuna membereskan peralatan bekas makan mereka, dibantu mama mertua yang sangat perhatian padanya.


"Ma, biar Ayuna saja yang membereskan semuanya. mama istrahat saja diruang tengah bareng papa dan mas Ziko." ucap Ayuna merasa sungkan karena mama mertua nya ikut membantu nya.


"Ngak papa Ayuna, kamu ngak usaha kaku gini sama mama. bagaimana pun kamu sudah mama anggap sebagai putri kandung mama sendiri."


"Iya ma, Ayuna tahu. sehingga Ayuna merasa begitu beruntung dipertemukan dengan keluarga mama yang begitu baik dan juga sangat menyayangi, Ayuna."


Mereka ngobrol-ngobrol diruang tengah, sambil sesekali tertawa. Ayuna begitu senang mendengar kisah tentang masa-masa kedua mertuanya yang juga dijodohkan oleh kedua orang tuanya, sama seperti Ayuna dan Ziko.


Ziko melirik jam, sudah larut. namun Ayuna dan kedua orang tuanya masih asyik ngobrol, beberapa kali dia menguap menahan kantuk yang teramat sangat, tapi dia bisa apa.


"Mas Ziko, udah ngantuk ya."


"Iya."


"Kalau mas ngantuk, tidur sana. kami masih asyik ngobrol. jarang-jarang lho mama dan papa nginap disini." terang Ayuna.


"Memangnya kamu besok ngak sekolah?"

__ADS_1


"Besok tanggal merah. mas, jadi semua libur."


" Iya, aku lupa."


"Mama, papa. Ziko tidur dulu ya."


"Silahkan," jawab mama, namun saat melihat Ziko Menuju kamarnya, bukan kekamar yang ditempati Ayuna. mama kembali memanggil Ziko.


"Ziko, tunggu."


"Apa lagi sih, ma."


"Apa kalian berdua tidur dikamar terpisah?" tanya mama berjalan mendekati Ziko lalu menarik tangan anaknya, menjauh dari papa dan Ayuna yang kembali melanjutkan ngobrol.


"Iya..ma."


"Ziko, jadi selama ini kamu dan Ayuna belum melakukan itu, maksud mama ehem-ehem...."


"Belum, ma." Ziko menjawab Lesu.


"Kenapa bisa, kalau kayak gini kapan mama memperoleh seorang cucu." mama terlihat kesal.


"Ma, Ayuna itu masih terlalu muda. dia masih ingin fokus sekolah dan belajar dengan benar. bahkan saat Ziko ingin tidur dikamarnya dia selalu menolak." terang Ziko.


Setelah mengengar penjelasan Ziko, mama tersenyum lembut. dia dapat memaklumi alasan Ayuna.


"Sabar Ziko, mama rasa Ayuna sebenarnya ingin fokus menyelesaikan sekolah nya dulu. mengingat sebentar lagi dia akan mengikuti ujian akhir sekolah nya."


"Ya udah, Ziko tidur duluan ya ma."


Mama kembali bergabung dengan suami dan menantunya, Ayuna. dia mempunyai ide supaya malam ini Ayuna bisa tidur dikamar Ziko, dia kasihan melihat anaknya yang pasti sangat menginginkan tidur dipelukan istri yang sangat cantik dan masih muda dan segar.


"Ayuna, sudah malam. kamu tidurya dikamar Ziko. biar malam ini, mama dan papa tidur dikamar kamu.". terang mama sambil mengusap sayang rambut Ayuna.


"Baiklah, ma. tapi Ayuna sudah merapikan kamar yang ada disebelah kamar Ayuna. untuk mama dan papa tempati."


"Iya ma, ngapain mesti dikamar Ayuna sih." sela papa yang langsung mendapatkan plototan tajam mata mama. sehingga dia akhirnya memilih untuk diam.


"AC dikamar itu, sedang mati pa."


"Kalau begitu, Ayuna keatas dulu ya, ma."


"Iya sayang, Met malam. moga mimpi yang indah, nak." ucap mama tersenyum simpul, dia sudah membayangkan. jika malam ini Ziko pasti senang banget, karena bisa tidur bareng Ayuna.


Ayuna menapaki satu persatu anak tangga menuju kamar Ziko, dengan jantung yang mulai berdetak kencang.


"Mudah-mudahan mas Ziko ngak kegeeran, melihat ku datang kekamar nya, malam ini."

__ADS_1


__ADS_2