
Seperti biasa, pagi ini Ziko sudah sibuk dengan pekerjaannya. namun tiba-tiba pintu dibuka dari luar, Ziko mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa yang masuk keruang kerja nya. nampak Khanza berdiri dengan senyuman termanis nya.
"Hallo mas Ziko sayang, aku merindukanmu." Khanza mendekati Ziko.
"Stop Khanza, jangan mendekatiku." ucap Ziko ketika Khanza hendak mendekati nya sambil merentangkan kedua tangannya, dengan sikap manja dan genit.
"Untuk apa kamu masih menemui ku?" tanya Ziko dingin tanpa ekspresi.
"Aku merindukanmu, mas."
"Ingat Khanza, diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Tidak mas, sampai kapanpun aku tidak ingin kita putus." rengek Khanza.
"Tapi aku yang tidak mau lagi dengan perempuan bekas sepupuku sendiri, aku tidak menyangka jika selama ini sudah tertipu dengan perempuan murahan seperti mu, Khanza."
"Tega kamu menghina ku seperti ini, mas. aku hanya dijebak oleh sepupu mu itu." elak Khanza berusaha membela dirinya.
"Tapi kamu ikut menikmatinya juga Khan?"
"Tidak mas, karena aku hanya mencintaimu."
"Khanza, sudah berapa kali aku peringatkan. diantara kita sudah berakhir, aku dan Ayuna sudah resmi menikah secara agama dan hukum. bahkan bulan depan kami akan mengadakan pesta besar pernikahan. aku harap kamu mengerti dengan pilihan dan keputusan ku ini."
"Tidak, kamu miliki ku mas." Khanza refleks menghambur memeluk Ziko, yang kaget dengan serangan tiba-tiba dari Khanza.
"Lepas Khanza." Ziko berusaha menyingkirkan wajah Khanza yang berusaha untuk mencium nya.
***
Ayuna melangkah anggun, berjalan memasuki gedung perusahaan besar yang dipimpin suaminya. meskipun begitu Ayuna merasa ada yang aneh dengan tatapan orang-orang yang berpapasan dengan nya.
"Kenapa mereka terlihat aneh ya, apa ada yang salah dengan penampilan ku." gumam Ayuna sambil memperhatikan penampilannya.
"Sudahlah, mending aku langsung keruang mas Ziko saja."
Ceklek, membuka perlahan pintu ruangan Ziko. begitu pintu dibuka, Ayuna langsung melotot melihat pemandangan dihadapannya.
"Mas? apa yang kalian lakukan?" tanya Ayuna syok.
"Minggir kamu dari tubuhku." refleks Ziko mendorong keras tubuh Khanza hingga jatuh kelantai. Khansa yang semula tersenyum senang, berubah meringis kesakitan sambil memegangi bokong nya yang sakit.
__ADS_1
"Mas Ziko, kamu kenapa berubah kasar gini, padahal sebelum kedatangan istri jelekku itu, kamu sangat menuji ku." rengek Khanza manja dan ingin mendekati Ziko.
"Stop, jangan mendekat lagi. aku tidak ingin gara-gara sikap murahanmu ini, membuat istri ku salah paham." ucap Ziko.
"Iya Tante, aku percaya pada suamiku. dia tidak mungkin berbuat serendah itu." bela Ayuna, karena dia sudah tahu siapa Khanza yang sesungguhnya.
Khansa yang tidak terima, maju ingin menghajar Ayuna. karena sekarang gadis itu sudah merebut semuanya, bahkan sudah mempermalukan dirinya dengan sebutan Tante.
"Kurang ajar kamu."
Tangan Khanza terangkat, namun hanya sampai di udara. karena tangan Ziko sudah terlebih dahulu menahan pergerakannya.
"Lepaskan tanganku mas Ziko, ini sakit." ucap Khanza dengan wajah memerah.
"Jangan coba-coba untuk menyentuh istri ku, jika kamu berani macam-macam. maka aku tidak segan-segan untuk menyakiti mu, ingat itu Khanza." ucap Ziko dengan rahang mengeras.
Khanza menarik tangannya, dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Ziko, dia terlihat sangat marah dengan penampilan nya yang juga sudah terlihat kacau.
"Awas kamu mas Ziko. kamu sudah berani menyakitiku demi perempuan ingusan itu, lihat saja apa yang bisa aku perbuat untuk menghancurkan kalian berdua." ucap Ayuna geram.
Setelah kepergian Khanza, Ziko menarik Ayuna kedalam pelukannya.
"Tumben pagi-pagi sudah berkunjung keperusahaan, kangen ya sama suami tampan mu ini?" goda Ziko.
"Kalo gitu mana sarapannya, aku sudah lapar karena marah-marah pada Khanza barusan. aku heran kenapa dia masih ngejar-ngejar aku, apa dia belum puas dengan sepupu brengsek ku itu." umpat Ziko sambil mengajak Ayuna duduk di sofa.
"Mas, yang penting bagiku. kamu tidak balik lagi padanya. sudah cukup membuatku bahagia." balas Ayuna.
"Terimakasih sayang, atas kepercayaan mu." Ziko tersenyum menatap Ayuna, dia merasa beruntung mendapatkan wanita yang sangat pengertian seperti Ayuna.
"Tentu mas, karena dalam rumahtangga itu. kepercayaan merupakan faktor utama. jika kepercayaan dalam pasangan sudah tidak ada lagi, maka rumahtangga tidak akan bertahan dan hancur." terang Ayuna yang sempat membuat suami nya tercekat.
"Ayuna, aku senang. kamu sekarang sudah jauh lebih dewasa dan bijak.
Setelah selesai sarapan bareng, mau tidak mau Ziko harus segera bersiap Menuju ruang rapat. sehingga meninggalkan Ayuna sendirian diruang kerjanya.
"Mas rapatnya lama ya?"
"Lumayan, kamu tiduran aja disita atau nonton televisi, biar ngak bosan." bujuk Ziko.
"Tapi aku kawathir, gimana jika Khanza tiba-tiba masuk kedalam ruangan mu lagi."
__ADS_1
"Tidak akan, karena aku sudah meminta security dan resepsionis. untuk menahan dan mengusir setiap kali Khanza datang keperusahaan ini."
"Baiklah mas, tapi pintu ruangannya dikunci saja ya." punta Ayuna.
"Terserah kamu sayang, yang penting kamu nyaman." ucap Ziko sambil mengusap sayang rambut Ayuna yang panjang bergelombang.
Ayuna tiduran di sofa empuk, sambil memainkan ponselnya. cukup lama dia memainkan game, sampai berseluncur dikedua sosial. bahkan perutnya semakin dibuat kenyang, karena asisten Tia selalu mengabulkan dan membeli beberapa macam makanan dan minuman segar kesukaan Ayuna.
"Mas Ziko lama juga ya." Ayuna menguap beberapa kali, hingga akhirnya tertidur begitu saja.
Ziko yang batu selesai rapat, segera pergi keruangan nya. dia tersenyum melihat tingkah lucu dan imut Ayuna yang tertidur pulas.
"Sayang, ayo bangun." menguncang pelan lengan Ayuna.
"Mmmmm...masih ngantuk mas."
"Sudah sangat sore, sebaiknya kita segera pulang." bujuk Ziko sambil menggelitik telapak kaki Ayuna agar terbangun.
"Mas, geliii..."
"Ngak papa geli, biar melek lagi." goda Ziko yang semakin gemes melihat istri imutnya. Ziko mendekat kan wajahnya, memiringkan sedikit sehingga tidak ada jarak lagi, tinggal beberapa centi lagi bibir mereka hendak bersentuhan. suara ponsel Ziko membuyarkan keromantisan mereka.
"Siapa sih yang telpon?"
"Khanza kaki mas."
"Tidak mungkin, karena aku sudah memblokir nya." jawab Ziko mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Dari mama."
"Cepat angkat mas."
"Hallo assalamualaikum, ma."
"Waalaulikumsallam nak, mama cuma mau nyampein. jika besok kalian berdua harus menemui pihak wedding organizer, sekalian viiting baju pengantin."
"Ya ma."
"Mas, tidak sabar rasanya untuk pengantin." ucap Ayuna antusias setelah Ziko menutup ponselnya.
"Iya sayang, tidak tanggung-tanggung. aku ingin yang terbaik dipernikahan kita ini. karena Bagiku menikah hanya satu kali dan untuk selamanya."
__ADS_1
"Terimakasih mas, aku bahagia mendampingi mu." Ayuna terharu, dia memeluk tubuh Ziko dari samping