
Qanita tercekat, dia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Aldo. karena pernikahan Ziko dan Ayuna sangat mendadak dan tertutup, meskipun itu pada keluarga terdekat mereka.
"Sebaiknya, aku berterus terang saya pada Aldo, toh dia masih keluarga terdekaku, tidak ada salahnya dia mengetahui nya." gumam Qanita.
“Aldo, Ayuna itu gadis yatim piatu. anak salah satu sahabat om dan Tante yang sangat Baik. sehingga saat ke-dua orang tuanya meninggal, kami merasa bertanggungjawab untuk menjaga Ayuna.”
“Jadi, apa hubungan kedekatan Ayuna dengan Ziko yang terlihat begitu intim?”
“Sebelum meninggal, papa Ayuna ingin melihat anaknya segera menikah, disaat-saat terakhir nya. Sehingga Ziko menikahi Ayuna dirumah sakit waktu itu, dan sangat mendadak sekali."
“Pantas, Tante tidak memberi tahukan keluarga besar kita yang lain, bahkan tanpa pesta mewah sekalipun.”
“Iya Al, karena waktunya benar-benar terdesak.” Ucap Qanita mengingat kembali momen sakral pernikahan Anak semata wayangnya tersebut.
“Apa mereka saling menyukai, Tante?” Aldo bertanya penuh harap, karena dia mulai tertarik saat pandangan pertama melihat Ayuna.
“Entahlah Al, awal-awal nya Tante merasa ragu. tapi sekarang tatapan mata Ziko dan Ayuna, sama-sama memancarkan kasih sayang yang besar, meskipun mereka terlihat masih mencoba untuk menutupinya. karena masih belum menyadari jika mereka saling membutuhkan satu sama lain.” Terang Qanita.
“Syukurlah Tante.” Jawab Aldo.
“Maksud mu?”
“Maksudku, semoga mereka bisa bersama, dan saling menyadari perasaan masing-masing.” Ucap Aldo sambil tersenyum getir, karena dia sudah mulai tertarik dengan Ayuna.
“Aku selalu kalah satu langkah dari Ziko. demoga saja hubungan mereka bisa berakhir, atau Khanza segera kembali. Aku yakin, Ziko dan Khanza pasti akan balikan lagi, dan aku dengan senang hati mendekati Ayuna.” Gumamnya tersenyum sinis.
***
“Ayuna, badanku terasa remuk semua. mengingat kesibukanku akhir-akhir ini.” Ziko pura-pura menepuk pundaknya dan mengernyitkan wajahnya, memasang wajah kesakitan dan pegal-pegal.
“Terus gimana dong, mas."
"Pijitin lagi ya "
__ADS_1
“Aku capek, mas Ziko sekarang aneh. minta dimandiin, rambutnya dikeringkan. makan dikamar. sekarang minta pijitin lagi. setelah ini mas pasti minta yang lain lagi. Ayuna ngak mau."
“Mas ngak akan minta yang lain, jika kamu belum siap, apa kamu ngak kasihan melihat mas yang kecapean seperti ini, tiap hari kerja hingga lembur.” Ziko memasang wajah memelas nya.
“Tapi mas.”
"Please Ayuna."
Ayuna akirnya, memijid tubuh Ziko dengan perlahan, meskipun hatinya mulai nyaman bersama Ziko, namun jika teringat Khanza, rasa takut kehilangan Ziko membuat Ayuna berusaha untuk mencoba membentengi perasaan nya, agar nantinya dia tidak terlalu sakit saat mendapati Ziko kembali pada Khanza.
“Ayuna, jangan takut. aku tidak akan macam-macam padamu, karena Aku akan melakukannya jika perasaan ku sudah yakin untuk mu.” Ucap Ziko tersenyum lembut.
“Baiklah.”
Ayuna yang sudah mulai ngantuk, mengambil guling dan meletakkannya ditengah-tengah, sebagai pembatas bagi mereka berdua.
Melihat Ayuna yang sudah tertidur pulas, tapi tidak dengan Ziko. Dia menatap wajah Ayuna dengan jarak yang begitu dekat. semakin mendekat bibir mereka sudah hampir bersatu.
“Mas Ziko mau ngapain?” menatap kearah Ziko yang langsung pura-pura tidur.
“Ngak ngapa-ngapain kok Ayuna, tadi mas melihat seperti nyamuk hingga di pipi sebelah kananmu itu, namun setelah diperhatikan dari jarak yang begitu dekat. Ternyata Cuma tai lalat.” Elaknya padahal semula dia ingin mencium bibir Ayuna yang terlihat begitu seksi, Ziko ketagihan menjadi pencuri mencumbui Ayuna secara diam-diam.
Ayuna tidak mersa curiga sedikit pun pada Ziko, dia percaya saja dan kembali melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.
"Kenapa aku terus beraksi, setiap berduan dengan Ayuna."
Ziko tidak bisa memejamkan matanya, dia sesekali melirik Ayuna yang sudah pulas, sambil menoel dagu Ayuna, untuk memastikan jika Ayuna sudah benar-benar tertidur. lalu Ziko menyingkirkan guling pembatas mereka dan melemparkan nya sembarangan.
Perlahan Ziko memeluk Ayuna dari samping, aroma tubuh Ayuna yang wangi, membuat nya merasa betah dan nyaman sekali memeluk dan tidur satu selimut. Kehangatan tubuh itu, membuat gairah nya kembali menggebu-gebu.
“Ayuna, aku tidak bisa diam melihat mu sayang.” Bathin Ziko.
Dengan perlahan dan hati-hati dia mencium lembut jidat, kedua pipi Ayuna. Masih tidak puas. Ziko terus kebibir yang tersa kenyal dan manis itu.
__ADS_1
Ziko seperti lupa diri, dia terus kebawah, sehingga meninggalkan banyak tanda kemerahan dileher Ayuna yang putih mulus itu.
Dalam tidurnya Ayuna seperti merasakan mimpi yang tersa begitu nya. Namun dia tidak berani membuka matanya. Ayuna takut jika mimpi indahnya itu segera berakhir, jika dia terbangun dan membuka matanya.
Ziko kalah dengan permainan nya sendiri, sekarang dia menyadari jika dia telah jatuh cinta pada istri kecilnya itu, namun gengsi nya masih terlalu tinggi untuk mengakui dan jujur pada Ayuna. Dia termakan omongannya sendiri jika tidak akan jatuh cinta selain pada Khanza.
“Bagaima ini, semakin aku mencium dan mencumbui nya. Gairahku semakin kuat, sesuatu yang belum pernah aku rasakan pada wanita manapun.” Gumam Ziko, sambil lari menuju kamar mandi. Disana dia melanjutkan menuntaskan hasratnya yang tidak tersalurkan. Sepenuhnya.
Setelah selesai, Ziko kembali menuju ranjang, dia memasang hati-hati kancing piyama tidur Ayuna yang dilepasnya barusan dan membatasi kembali tidur mereka dengan guling. Senyum kepuasan mengembang disudut bibir Ziko, dia sudah menikmati tubuh dan gunung kembar Ayuna, meski tidak sepenuhnya.
“Aku merasa seperti pencuri, tapi tidak masalah Karena dia istriku sekarang” Gumam Ziko tersenyum puas dan merasa bangga karena sudah berhasil melampiaskan hasratnya.
***
Paginya Ayuna terbangun, tubuhnya tersa berat. sebuah tangan kekar melingkar dipinggang nya. Ayuna menyingkirkan tangan itu secara perlahan. Agar Ziko tidak terbangun.
Dia langsung menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya dengan tergesa-gesa, mengingat dia sangat mersa lapar. Dengan memakai pakaian santai dan mengoles wajah nya dengan bedak tipis, Ayuna segera turun kebawah.
“Ternnyata anak mama sudah bangun.” Sapa mama yang sedang menyusun Bunga yang baru dipetik dari taman belakang.
“Pagi ma.” Sapa Ayuna lembut
“Yuk sayang kia sarapan bareng.” Ajak mama.
Dimeja makan sudah ada Aldo yang asik bermain ponsel, sambil menunggu yang lain untuk sarapan bareng. Ayuna duduk disebelah mama.
“Ziko pasti masih molor sekarang, kebiasaannya setiap hari Minggu seperti ini.” Ucap Mama.
Aldo tersenyum sambil melirik Ayuna. Namun matanya tiba-tiba melotot kearah leher jenjang Ayuna yang putih bersih itu sekarang terdapat banyak nya stempel berwarna kemerah-merahan. yang merupakan tanda kissmark, yang diyakininya itu adalah perbuatan Ziko.
__ADS_1