Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Tempat favorit


__ADS_3

Ayuna mersa risih melihat tatapan aneh Aldo, yang terus tertuju pada lehernya, sehingga dia menundukkan kepalanya malu. berusaha memperbaiki pakaian.


“Kenapa kamu menatap istriku, seolah-olah ingin memakannya.” Tiba-tiba Ziko sudah berdiri disamping Ayuna dan melayangkan tatapan tajam kearah Aldo.


Qanita ikut penasaran, lalu mengikuti arah pandangan mata Aldo, yaitu noda merah dilehernya Ayuna. seketika senyum bahagia mengembang dibibir nya, dia sudah dapat membayangkan apa yang terjadi semalam.


“Senangnya.” Ucap mama Qanita sambil mengulum senyum bahagia.


“Ternyata hubungan mereka tidak seburuk yang aku pikirkan.” papa ikut-ikutan menyela.


“Kenapa ma.” Ucap Ayuna yang belum menyadari hal itu.


“Tidak apa-apa kok sayang, mama dan sicungguk ini saja yang lebai melihatmu pagi ini.” Elak Ziko yang tidak ingin aksinya diketahui Ayuna.


Ayuna yang tidak percaya, dan masih penasaran, sehingga mengambil kamera ponselnya, dan menyoroti wajah dan lehernya. tiba-tiba dia berteriak histeris sambil mengusap-usap lehernya yang masih penuh tanda merah itu.


“Ma, leher Ayuna kenapa, kok bisa seperti ini.” Teriaknya ketakutan.


“Itu tidak apa-apa sayang, Cuma tanda merah doang. Nanti juga bakal hilang dengan sendirinya." bujuk mama mencoba menenangkan, dia paham Ayuna masih remaja dan sangat polos, bahkan belum pernah pacaran. dan baru Ziko laki-laki pertama yang dekat dan langsung menjadi suaminya.


“Tanda apa ma?”


“Tanda, jika kamu harus hati-hati jika hendak tidur, karena kamu sedang diincar oleh drakula yang harus darah.” Canda Aldo ikutan bersuara sambil menatap sinis Ziko yang merasa menang.


“Apa, benarkah ma.”


“Tidak sayang, kamu tidak perlu khawatir, nanti kamu bakal tau sendiri penyebab nya.” Ucap mama mulai menyendok sarapannya.


“Ayuna, jika kamu pengen tahu penyebab. Kamu minta Tante Qanita untuk memasang cctv dikamar tidur mu. Pasti ketahuan drakula nya berbentuk seperti apa.” ucap Aldo yang langsung mendapatkan pplototan tajam dari Ziko.


“Sudah....sudah jangan bahas ini lagi, kita lanjutkan lagi sarapannya. Yuk sayang, ini nasi goreng spesial lo, sengaja mama masak khusus untukmu” ajak Qanita mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, ma."

__ADS_1


Ayuna yang lapar langsung memulai makannya, dan tidak membahas lagi, sedang kan Ziko tersenyum penuh kemenangan kerarah Aldo. yang terlihat kesal.


Selesai sarapan, Ziko mengajak Ayuna untuk pulang ke apartemen, Mereka pun pamit pada mama dan papa, sementara Aldo sengaja menjaga Jarak. Hatinya terasa terluka dan mulai cemburu. mengingat Ziko telah menikmati tubuh Ayuna terlebih dahulu, meskipun gadis itu tidak menyadari nya.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen mereka, Ayuna lebih banyak diam.


“Tumben jadi pendiam.” goda  Ziko menarik sebelah tangan Ayuna, lalu mengelus secara perlahan. Ayuna tersenyum manis, tanpa bersuara, membuat Ziko terpesona kembali dengan senyuman nya itu.


***


"Ayuna, kita singgah keperusahaan ku dulu ya. ada beberapa berkas yang ingin aku ambil dan bawa pulang."


"Oke."


Ayuna mengikuti langkah Ziko, sebelah tangannya tanpa sadar bergelayut manja. Layaknya seorang adik yang takut terlepas dari sang kakak. Mereka memasuki lift khusus CEO.


Sebagian karyawan perusahaan yang sengaja dilemburkan hari Minggu ini , sudah banyak yang mengenal sosok Ayuna. Karena Ziko sudah beberapa kali mengajak Ayuna datang ke perusahan besar itu.


“Mas, kalau diperhatikan secara seksama, bibirku kelihatan bengkak. Seperti manisnya telah dihisap oleh  lebah yang sangat berbisa.” ucap Ayuna saat melihat pantulan wajahnya di pintu kaca ruangan Ziko.


"Tapi kenapa aku masih tidak terima, penjelasan mas Ziko tapi." Ayuna kembali meraba bibir nya.


"Apa ucapan Aldo ada benarnya, jika ini perbuatan drakula, yang akan beraksi jika korbannya sedang lengah atau tidur." gumam Ayuna.


“Sebaiknya, ntar malam sebelum tidur. aku harus mengolesi tubuhku dengan minyak telon dengan bau yang menyengat. Biar drakula itu kapok mengigitku.” gumam Ayuna.


“Mas Ziko, nanti kita beli minyak telon ya.” ucap Ayuna antusias. tidak ada jawaban dari Ziko, dia memilih fokus dengan tumpukan berkas proyek baru mereka.


Melihat kerja keras suaminya, meskipun ini hari libur. membuat Ayuna tersenyum kagum, dia terus memperhatikan sambil duduk manis disofa, yang terdapat diruangan kerja Ziko, dia menyalakan televisi berukuran besar itu. kemudian sibuk mencari Chanel siaran yang cocok.


Ziko sesekali melirik Ayuna, yang tertawa menyaksikan acara televisi.  Dia menutup berkas itu, dan berjalan mendekati Ayuna. Rasanya Ziko mulai tidak tenang berjauhan dengan Ayuna.


“Ayuna, nonton acara apa sih?”  Ziko duduk disebelahnya.

__ADS_1


“Acara humor.” Tanpa menoleh Asyik tertawa sendiri.


Merasa dicuekin, Ziko mengambil remot dan menekan off. Yang membuat layar televisi berukuran besar itu tiba-tiba mati.


“Mas, kok dimatiin sih? ngak suka ya lihat aku senang?" Rengek Ayuna memonyongkan bibirnya kedepan.


“Kita pulang yuk.” Ucap Ziko.


"Apa mas sudah siap kerjanya?"


"Sudah, sekarang kita mau kemana dulu, pulang keapartemen atau pergi jalan-jalan kepusat perbelanjaan."


"Boleh nggak mas, kalau kita pergi pemakaman mama dan papa ku dulu.” Pinta Ayuna.


“Tentu saja boleh Ayuna.”


Ziko mulai menghidupkan mesin mobil dan melaju menuju pemakaman umum. Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya Ayuna berceloteh. mengungkap isi hatinya yang tengah bahagia. mengingat impian nya akan segera terkabulkan, bisa kuliah nantinya ditempat terfavorit semua siswa disekolah nya.


"Aku akan mengajak Rara, untuk kuliah ditempat yang sama denganku, nantinya."


Ayuna membeli bunga untuk nyekar, lalu mereka masuk. terlebih dahulu Ayuna mengambil sebuah Alquran kecil. yang sering dipinjamkan oleh penjaga makam untuk peziarah.


Sampai dimakam kedua orang tuanya, air mata Ayuna kembali tumpah. Dia teringat kasih sayang kedua orang tuanya, yang sekarang sudah tiada, meninggalkan nya seorang diri.


“Mama, papa. Ayuna kangen.” Ucap Ayuna menangis dan memeluk nisan itu.


Ziko ikut duduk disamping Ayuna, mengelus-elus pelan punggung Ayuna yang bergetar menahan isakan tangis.


“Om, Tante. kami datang kesini. Ziko berjanji akan menjaga dan menyayangi Ayuna. Semoga om dan Tante tenang disana.” Ucap Ziko.


Mereka menaburkan bunga mawar, Ayuna membaca beberapa ayat suci Alquran, setelah itu mereka berdoa agar untuk kedua orang tuanya agar tenang disana.


“Mama, papa. Ayuna pulang dulu ya, lusa Ayuna datang kesini lagi,” mengusap batu nisan tersebut lalu mencium nya.

__ADS_1


Berat bagi Ayuna, melepas kepergian kedua orang tua yang sangat disayanginya, namun itu sudah jalanya. bagaimana pun juga Ayuna harus ikhlas menerima segala ketentuan yang diatas.


“Ayuna, aku tahu sekarang kamu pasti sudah lapar. Kita makan dulu ya.” Ziko meluncur menuju restoran kesukaan nya. tempat yang sering didatangi nya bersama Khanza dulu.


__ADS_2